Batang Hari– Desa Ladang Peris seperti sedang memulai babak baru. Dalam dua hari, 15–16 November 2025, desa kecil yang dikelilingi hamparan hijau itu berubah menjadi ruang belajar yang ramai, hidup, dan penuh ide. Pelatihan pemberdayaan masyarakat yang digagas Pro-IDe BEM UNJA, GAPOKTAN, dan tim pengabdian masyarakat dosen kehutanan bukan hanya soal teknik mengolah limbah melainkan tentang membangunkan potensi yang selama ini diam.
Hari Pertama: Ketika Desa Belajar Melihat Limbah dengan Cara Baru
Posko Pro-IDe BEM UNJA pagi itu riuh oleh suara warga yang berdatangan. Ada bapak-bapak yang penasaran dengan pembuatan briket, ibu-ibu yang membawa buku kecil untuk mencatat, hingga pemuda desa yang datang dengan rasa ingin tahu besar. Pelatihan dibuka dengan pesan sederhana dari Ketua GAPOKTAN dan Ketua
Pro-IDe: “Limbah bukan sekadar sampah. Ia bisa jadi peluang.”
Kalimat itu rupanya langsung menghidupkan ruang.
Di sesi pembuatan pupuk organik, peserta berebut mencoba mencampur bahan. Pada praktik briket, tangan-tangan yang awalnya ragu berubah mantap. Sementara di sudut lain, ibu-ibu tampak tekun menganyam piring dari bahan bekas, menciptakan bentuk yang rapi dan bernilai estetis.
Suasana terasa seperti pasar gagasan. Warga bertanya, mencoba, berdiskusi, dan tertawa ketika percobaan mereka belum sesuai harapan. Namun yang paling penting: mereka belajar.
Menjelang senja, setiap peserta pulang membawa bingkisan pupuk, briket, dan piring anyam. Bukan sekadar oleh-oleh, tetapi bukti bahwa mereka bisa menghasilkan hal yang sama.
Kegiatan hari pertama diakhiri dengan penanaman pohon bersama. Satu per satu bibit ditanam, seolah menjadi tanda bahwa desa ini tidak hanya belajar mengolah limbah, tetapi juga belajar merawat masa depan.
Ihsan dari Pro-IDe menuturkan,
“Kami ingin warga benar-benar paham bahwa limbah bisa jadi peluang. Selama dua hari ini, kami melihat antusias mereka luar biasa. Semoga keterampilan yang didapat bisa berkembang menjadi usaha mandiri.”
Hari Kedua: Pesantren Jadi Pusat Kreativitas Baru
Hari kedua menghadirkan suasana yang tak kalah menarik. Lokasi berpindah ke Pondok Pesantren Al-Islam Ladang Peris, tempat para santri menyambut pelatihan dengan energi muda yang khas.
Ibu-ibu kembali terlihat dominan di sesi piring anyam—kali ini lebih luwes, lebih percaya diri. Sementara para santri sibuk bereksperimen dengan bahan-bahan pembuatan pupuk dan briket. Ada yang langsung berhasil, ada pula yang tertawa saat percobaan mereka kurang tepat. Namun semangat belajar tak pernah padam.
Setelah semua materi selesai, peserta bersama tim dosen kehutanan kembali menanam bibit pohon di area pesantren. Dari kejauhan, terlihat barisan bibit kecil itu seolah menandai tekad bersama: menjaga lingkungan bukan tugas satu hari, melainkan perjalanan panjang.
“Ladang Peris bukan hanya tempat kami mengadakan pelatihan. Desa ini adalah bukti bahwa masyarakat punya potensi besar jika diberi ruang dan pendampingan. Dua hari ini kami melihat betapa cepat warga memahami teknik mengolah limbah menjadi produk bernilai. Ini harus jadi gerakan bersama. Pro-IDe akan terus turun ke desa-desa untuk memastikan ilmu ini tumbuh dan berkelanjutan.” tutup Clara Yang juga Anggota pro ide
Dari posko desa hingga halaman pesantren, dari tangan warga hingga tangan santri, pelatihan ini menyulut semangat bahwa perubahan bisa dimulai dari hal sederhana. Limbah yang dulu dianggap tak berguna kini dilihat sebagai bahan baku peluang.
Dan Ladang Peris, dalam dua hari itu, bukan hanya belajar mengolah sampah ia belajar mempercayai kemampuannya sendiri.