AMIEN RAIS dan HERMENEUTIKA

Oleh: Amhar Rasyid
Jambi, 15 May 2026

Assalamu’alaikum wr,wb
Yang terhormat Bapak2/Ibuk2 dan adik2 kawula muda baik Muslim maupun non-Muslim dimana saja berada. Semoga kita sehat2 selalu. Telah banyak beredar beberapa waktu yang lalu berita mengejutkan di Medsos tentang ‘cerita aneh di Istana’, katanya ada hubungan sangat pribadi antara Presiden dengan Sekretaris Kabinet (laki2) hingga ada yang menjulukinya ‘Ibu Negara’: entah seberapa akurat kebenarannya saya juga tak tahu pasti tetapi Komdigi dikatakan telah menghapusnya dari Medsos. Sekurangnya berita tersebut jelas diutarakan dengan gamblang oleh seorang tokoh politisi senior/Mantan Ketua MPR/Ketua Majlis Syuro partai Ummat Amien Rais. Dalam tulisan berikut, sebagai dosen, saya tidak akan terlalu membahas persoalan tersebut tetapi akan lebih focus kepada aspek hermeneutika. Di dalam berita yang beredar tersebut kita perlu mempertanyakan: apa makna dari ucapan Amien Rais tersebut, mengapa dia mengutarakannya, dan apa pelajaran yang bisa dipetik khususnya bila ditarik diskusi ini kepada teks keagamaan? Ini saya tujukan terutama untuk adik2 kawula muda, bukan untuk meng’gosip’kan aib orang tetapi untuk meluaskan cakrawala berpikir yang lebih filosofis.

Apa kata Amien Rais? Dalam kanal YouTube pribadinya tgl 30 April 2026, Amien Rais mengutip kata orang bahwa hubungan antara Presiden dan Seskabnya Teddy telah ‘offside’. Bukan hanya akrab dalam tugas kepresidenan dan Seskab tetapi telah menjalar kepada hubungan pribadi. Amien Rais katanya merasa ikut malu. Bahkan Amien Rais juga mengutip opini masyarakat yang mengatakan bahwa Teddy seorang ‘Gay’ (menyukai sesama lelaki, mirip kaum Nabi Luth). Bahkan Prof. Amien Rais juga mengutip Titiek Prabowo dalam nyanyinya: Cinta Segitiga. Kutipan liriknya begini: Engkau tinggalkan aku demi laki2 bernama Teddy. Ada juga kelakar di tengah public kata Amien Rais yang menyebut ‘Bunda Ted’. Permintaan Amien Rais jelas dan spontan: Jauhkan Teddy oleh Presiden Prabowo, berikan dia jabatan yang layak pada tempat yang lain. Focuslah Presiden bekerja untuk bangsa dan negara. Dan Amien Rais menolak videonya dihapus oleh Komdigi, bahkan mengatakan bahwa Komdigi tak berhak melaporkannya, tetapi si Teddy sendiri yang berhak melaporkan, nanti Amien Rais katanya akan meminta beberapa dokter spesialis untuk menguji kondisi Teddy apakah dia betul2 Gay/bukan. Apa dalih Amien Rais membeberkan berita ini? Demokrasi akan berjalan baik bila kebebasan berpendapat dijamin oleh UU, tidak dibatasi dan tidak diberangus. Menkomdigi Meutia Hafidz mengatakan kepada mass media terpaksa ‘take down’ kasus ini. Sesuai kewenangan dalam UU ITE, disinyalir ada hoax dan Ujaran kebencian, dan pembunuhan karakter kata Meutia. Di pihak lain, Ketua Partai ummat Ridho Rahmadi mengatakan bahwa Amien Rais hanya menyampaikan kegelisahannya, kegelisahan masyarakat, karena kecintaannya kepada teman lamanya Prabowo. Bila ada pihak2 yang merasa dirugikan kata Ridho…silahkan menempuh jalur hukum. Terlepas dari hiruk pikuknya berita tersebut, sekarang mari kita belajar filsafat.

Dalam buku Gadamer yang terkenal Truth and Method disebutkan bahwa ‘Apa yang dikatakan orang jauh lebih sedikit jumlahnya dari apa yang TIDAK dikatakannnya. Demikian pula apa2 yang ditulis orang, jauh lebih sedikit jumlahnya dari apa2 yang TIDAK dituliskan. Lebih jauh dalam buku berjudul Gadamer terj. Ahmad Sahidah (p. 219) yang ditulis oleh Georgia Wranke disebutkan bahwa dalam penggabungan horizon, ada dua pengertian: 1. Kita memahami objek dari sudut pandang asumsi dan situasi kita, dan ke 2. Perspektif akhir kita mencerminkan pendidikan yang kita terima melalui pertemuan kita dengan objek. Membicarakan kasus Teddy, bila didalami secara hermeneutis, akan menggabungkan horizon Amien Rais dan horizon kita. Ini point kita. saya suka membahas ini dan dari sini diskusi kita akan berlanjut.

Jadi secara filosofis, mengutip Gadamer, apa yang dikatakan oleh Amien Rais sebetulnya masih menyimpan apa2 yang TIDAK dikatakannya. Boleh jadi Amien Rais masih mempunyai banyak pertimbangan untuk tidak/belum mengatakannya, belum membeberkan semuanya. Boleh jadi ada pertimbangan moral/agama, pertimbangan politis, dan pertimbangan hukum. Dalam Islam, kita disuruh untuk menutup aib orang lain, tetapi banyak informasi ‘bisik2’ dari beberapa tokoh masyarakat membuat Amien Rais yakin untuk mengatakannya kepada public. Bahkan Sri Bintang Pamungkas mengatakan dia sudah duluan tahu 2-3 tahun sebelum Amien Rais tentang berita sexual menyimpang tersebut dari beberapa petinggi militer katanya. Pertanyaannya bagi saya, kalau memang lebih duluan tahu, kenapa Pamungkas tak berani bicara di depan public seperti beraninya Amien Rais? Amien Rais tahu moral, tahu ajaran Islam, tetapi dia juga punya pertimbangan kemaslahatan bangsa. Dia berani bicara lantang di depan umum di saat orang lain masih pikir2 termasuk Sri Bintang Pamungkas. Tepuk dada sendiri oleh Pamungkas setelah orang lain mendobrak duluan, saya kira itu ‘Pahlawan Kesiangan’. Bangsa Indonesia beruntung punya orang seperti Amien Rais, seandainya beliau telah wafat, adakah tokoh calon pengganti yang berani dan vocal? Secara politis boleh jadi Amien Rais punya pertimbangan strategis untuk mendongkrak partai Ummat guna menyongsong Pemilu 2029 nanti..who knows. Maka kita sebagai anak muda jangan buru2 menyalahkan/membela/mengadili Amien Rais, boleh jadi antara Amien Rais dan Prabowo nanti akan memainkan kartu kesepakatan bersama dua partai..who knows…banyak hal tak terduga bisa terjadi dalam dunia politik. Secara hukum, Komdigi akan menuntut Amien Rais ke meja hijau katanya, tetapi Amien Rais malah berkilah bahwa yang berhak menuntutnya secara hukum bukan Komdigi tetapi pribadi Teddy sebagai objek yang merasa dirugikan. Tapi kenapa nampaknya Teddy hingga kini diam saja? Statement Amien Rais ini mungkin sudah didiskusikan sebelumnya, sudah dipertimbangkan secara masak2 dengan banyak para ahli hukum yang piawai dalam dunia peradilan, yang telah mengkaji resiko dan langkah2 hukum ke depan. Ibarat membangun rumah, Amien Rais telah mempersiapkan dan membangun sendi/fondasi beton, tiang besi, dan anyaman rangka baja sebelum ‘bendera dikibarkan’ di atas atap rumah yang sedang dibangun. Belajar dari Amien Rais.

Lebih jauh hermeneutika mengajarkan bahwa apa2 yang ditulis sebenarnya masih menyembunyikan banyak kebenaran yang belum dituliskan. Artinya, apa2 yang ditulis dalam Medsos atau koran dan majalah sebetulnya masih menyembunyikan banyak kebenaran. Medsos tak berani atau tak mau menuliskan hal2 yang masih samar tetapi diyakini benar adanya. Koran dan majalah masih merasa takut mengulas berita tersebut tetapi pada data yang didapat di lapangan memang banyak kebenaran yang mendukung ucapan Amien Rais. Maka demi pertimbangan hukum dan politik, koran dan majalah serta Medsos tetap ber hati2 untuk tidak/belum memberitakannya. Jadi apa2 yang ditulis masih bagaikan puncak ‘Gunung Es’: ujungnya kelihatan di permukaan laut, tetapi bagian dasarnya dahsyat luar biasa tetapi belum terungkap. Maka pengetahuan kita tentang kasus Teddy di atas jelas lebih sedikit jumlahnya dibandingkan dengan pengetahuan Amien rais yang professor dan tokoh nasional. Di dalam kepala Amien Rais, secara hermeneutis, masih tersimpan segudang info yang mungkin belum saatnya dipublikasinya kepada umum atau berita tersebut sengaja ‘disimpan’ untuk memainkan kartu ‘As’ nanti di saat2 akan Pemilu..who knows.

Sekarang saatnya diskusi hermeneutis kita tarik ke bidang teks keagamaan. Lupakan ‘omon2’ Amien Rais tentang Teddy. Bila anda menulis skripsi atau tesis atau disertasi, sebenarnya kebenaran yang berhasil anda tuliskan hanyalah sedikit. Skripsi atau tesis atau disertasi adalah cerminan hasil penelitian anda sejauh terjangkau oleh wawasan anda. Dan di balik tulisan anda jelas tersembunyi kerangka pikir yang masih terbelenggu oleh paradigma tertentu. Memikirkan kerangka pikir dalam paradigma tertentu adalah persoalan hermeneutis yang sangat mendalam: ia berlapis2. Pada hakikatnya masih banyak di luar sana kebenaran yang masih terkubur, yang belum sempat anda ungkapkan dalam skripsi atau tesis atau disertasi anda. Sebab saya pernah mendiskusikan tesis S2 saya di McGill, Canada dengan seorang professor ternama Issaa J. Boullata di dalam kamar kerjanya. Saya bilang bahwa saya telah yakin mendapatkan kebenaran dengan mengumpulkan semua informasi terkait penelitian saya. Dia bilang: No, no. Amhar..that’s not all..that’s not all, sambil menggerakkan jari telunjuknya. Saya terkejut, why not? Dia bilang dengan bahasa Inggeris gaya Palestinanya: Kebenaran itu tak akan mampu diungkapkan oleh manusia seutuhnya. Masih banyak yang tersembunyi di balik yang tertulis, di balik yang dikatakan, dan di balik yang didiamkan. Demikian pula sekarang tiba saatnya kasus yang dibicarakan oleh Amien Rais. Sebagai insan akademis kita mungkin perlu mempertanyakan: seberapa banyak info2 yang didapatkan oleh Amien Rais dari berbagai sumber? Seberapa akurat data yang dia miliki? Kerangka berpikir macam apa yang sedang dimainkan oleh Amien Rais? Dalam paradigma apa kerangka pikir semacam itu operasional dalam budaya politik Indonesia? Konsekwensi2 dan langkah2 hukum apa yang akan ditempuhnya bila dia diseret ke meja hijau? Seberapa beraninya Amien Rais mengorbankan nyawanya seandainya ada yang ‘nekat’ menembaknya? Hitung2an dan pertimbangan seperti ini hanya ada dalam ‘Kepala’ Amien Rais: ia masih belum/tidak diungkapkan ke public. Ini persoalan hermeneutis.

Kalau begitu, dalam hati saya, bagaimana dengan Kebenaran dalam al-Qur’an? Dalam Hadis? Banyak ulama mengatakan al-Quran sudah mencakup semuanya. Tetapi banyak pula ulama mengatakan bahwa al-Nushush mutanahiyah (Ayat2 itu terbatas jumlahnya). Maka dikatakan ada Waqa’i ghayru mutanahiyah (persoalan tanpa batas). Ini bukan berarti al-Qur’an tidak sempurna, tetapi ia sempurna dalam garis2 besarnya, sementara detailnya masih banyak yang belum disebutkan maka diperlukan ijtihad. Implisit di sini bahwa alam terkembang ini adalah ayat2 Allah meskipun ia tak tertulis harfiyah/qath’iyah dalam al-Qur’an. Demikian pula Hadis Nabi. Kutubus Sittah yang memuat beribu-ribu Hadis, tentunya masih belum mencakup semua Hadis Nabi yang de facto tertulis. Apa contohnya? Dalam berwudhu’ kita pernah mendengar Hadis: Law la an asyuqqa ‘ala ummati laamartuhum bis siwaqi ‘inda kullis sholah (Sandainya tidak akan memberatkan bagi umatku, kata Nabi, nisacaya akan aku suruh mereka bersiwaq (gosok gigi) setiap kali akan menunaikan solat). Artinya, Nabi masih mendiamkan perintah untuk menggosok gigi bagi umat setiap kali akan berwudhu’. Diam tetapi penuh makna. Maka yang benar dalam hati Nabi, yang tidak diucapkan, yang didiamkan, adalah seruan untuk menggosok gigi setiap kali berwudhu’, tetapi ada pertimbangan lain oleh Nabi untuk tidak mengatakannya, dan kita disuruh arif tentang hal tersebut. Ini secara hermeneutis menujuk kepada pernyataan Gadamer di atas bahwa apa2 yang dikatakan sebenarnya masih menyimpan apa2 yang tak/belum dikatakan. Bila al-Quran dan Hadis masih menyimpan banyak kebenaran yang terpendam, bagaimana dengan Injil dan Kitab Suci yang lain? Ceritanya sama saja: masih banyak kebenaran yang belum/tak dituliskan dalam Bible, dalam Taurat dan dalam Zabur. Percaya atau tidak marilah kita pikir dalam2 secara hermeneutis. Anda pembaca non-Muslim juga patut mempertanyakan ‘kelengkapan’ isi Kitab Suci anda.

Demikianlah diskusi kita Jum’at ini Bapak2/Ibuk2 dan adik2 sekalian. Maaf cerita Amien Rais tentang Seskab Teddy sengaja saya tarik kepada filsafat, sebab di sini ada urgensinya bagi kita yang bergelut di bidang ilmu pengetahuan dari pada bidang politik praktis. Akan lebih bijak kita bila ‘Wait and See’ dari pada ikut2an berkomentar di Medsos. Sebab cara kita melihat persoalan tersebut jelas akan berbeda dengan cara Amien Rais melihatnya. Dia dikelilingi oleh para tokoh politik nasional, cendekiawan, ulama, pakar2 hukum, akademisi, yang membuat wawasannya luas, sementara kita berkomentar dalam kesendirian, apalagi dari dalam kamar kost? Objek persoalannya sama, tetapi cara melihat persoalannya berbeda. Dari cerita Amien Rais ternyata ada terkait Hermeneutika. Mengulangi kata Wranke di atas: Perspektif akhir kita mencerminkan pendidikan kita yang kita terima melalui pertemuan kita dengan objek. Sekian. Terimakasih telah membaca tulisan saya, semoga bermanfaat. Wassalam, Amhar Rasyid, Jambi.

*Silakan Share