ITULAH AGAMA, ITULAH TEKNOLOGI

Oleh: Amhar Rasyid
Jambi, 8 May 2026

Assalamu’alaikum wr,wb Bpk2/Ibuk2/Adik2 muda baik Muslim dan non-Muslim di mana saja berada. Semoga kita semua sehat2 saja dan bahagia dalam hidup. Bilamana kita hanya punya HP dan Laptop rupanya kita masih ketinggalan canggih, apalagi belum tahu perusahaan apa yang menggerakkan operasional HP dan Laptop kita tersebut. Saya baru tahu bahwa ada sekurangnya 5 perusahaan teknologi raksasa dunia yang sekarang beroperasi, menguasai, merajai, dan mengelola Media Sosial (Medsos) yaitu: 1. Google, 2. Nvidia, 3. Meta, 4. Microsoft, dan 5. Amazon. Saya bukan ahli teknologi dan mengaku lemah dalam penguasaan istilah2 computerisasi, namun saya ingin menyumbang sedikit kepada pembaca2 setia yang belum tahu banyak tentang teknologi komunikasi. Izinkan saya membicarakannya dan tolong dikoreksi bila salah. Pembahasan berikut saya batasi hanya pada Amazon dan Nvidia, ia ditujukan khususnya untuk para da’i senior dan yunior yang sering pada saat berceramah dan berdakwah Islam ‘menyenggol’ dunia Medsos, tetapi mungkin kurang memahami ‘pemain utama’ yang ada ‘di belakang layar’ Medsos, dan apa pelajaran yang mungkin bisa dipetik bila dipikir secara filosofis. Bahksn ini saya kira juga penting bagi kita semua untuk diketahui dan dipikirkan apalagi untuk adik2 dosen2 agama umumnya serta para santri yang mana pesantrennya saya lihat di bangun terisolir jauh di dalam hutan. Mari kita mulai!

Pertama Amazon. Amazon adalah perusahaan teknologi berskala dunia yang bergerak di antaranya di bidang e-commerce (perdagangan berbasis elektronik/toko Online), dan Kecerdasan Buatan (AI). Ia didirikan pada tanggal 5 Juli 1994 oleh Jeff Bezos di Washington, USA. Dengan toko Online, Amazon menjual ber-macam2 produk seperti alat elektronik, kebutuhan se hari2 dan fashion (busana). Amazon terkenal sebagai toko Online tanpa kasir. Apa produk Amazon? Perusahaan ini memproduksi barang2 seperti Echo, Fire Tablet, Fire TV dan Kindle. Echo adalah lini speaker pintar dan perangkat asisten virtual dengan menggunakan perintah suara berbasis cloud melalui asisten Kecerdasan Buatan. Di antara produk Echo ini dinamainya Alexa. Contoh kegunaan Alexa, misalnya bilamana anda jauh dari rumah anda, sedang ke luar kota dan rumah anda kosong, anda tak usah cemas tetapi cukup mengatakan lewat HP dari kejauhan: ‘Alexa, hidupkan lampu hari udah sore!’, maka lampu rumah anda akan menyala. Atau anda memerintahkan :”Alexa, beri makan anjing dan kucing!’, dan langsung Alexa akan menunaikan tugas tuannya, maka hewan piaraan anda tak akan mati kelaparan di saat anda jauh. Atau ibu2 yang akan menyuruh Alexa untuk memberi makan bayi yang ditinggal sendirian di rumah sementara ibunya sedang bekerja di kantor atau berbelanja/shopping. Mungkin yang belum bisa Alexa lakukan ialah bilamana anda perintahkan : Alexa, solatkan saya! kalau saya sudah mati. Sekali lagi Alexa adalah salah satu produk perusahaan Amazon. Canggih kan?

Produk Amazon lain bernama Kindle? Ini adalah buku elektronik, ia mirip laptop tetapi tidak mempunyai keyboard untuk mengetiknya, ya mirip ‘Batu Tulis’ kami di zaman Sekolah Dasar tahun 1960an dulu, tetapi dengan Kindle ini kita bisa memilih ribuan judul buku di seluruh dunia dan membacanya boleh jadi hingga tanpa disadari minuman kopi kita sudah kering di gelas. Dengan memiliki Kindle di tangan kita akan bisa menjelajahi, membeli, mengunduh, membaca buku elektronik, membaca majalah tanpa kertas, dan mendengar buku2 audio (cuma dengar saja) umumnya buku2 berbahasa Inggeris. Singkat kata, Kindle itu adalah BUKU tetapi tintanya elektronik, tahan mata hari, bisa dibaca di ruang gelap, berbeda dengan membaca di layar HP kertasnya putih tetapi tak silau di mata, bisa dibawa ke mana2 dalam tas, maka ribuan judul buku di dunia sekarang ada di tangan anda dan tak perlu pergi ke perpustakaan. Kuncinya? Kuasai bahasa Inggeris! Saya yakin banyak diantara anda sudah mengenal Kindle. Adapun tentang Fire Tablet dan Fire TV, agar tulisan ini jangan terlalu panjang, silahkan anda baca sendiri di Google.

Jumlah pelanggan Amazon, kata FaceBook, hari ini dikabarkan mencapai 310 milyar orang di dunia yang hidup di 58 negara termasuk kita di Indonesia. Bila Amazon tutup hari ini, boleh jadi dalam 72 jam ke depan akan putus seluruh rantai jaringan komunikasi sedunia. Sementara Microsoft digunakan oleh 1.4 billion pengguna aktif perangkat Windows ini setiap hari. Demikian pula, Meta mempunyai jaringan pelanggan terluas, dimana jumlahnya mencapai 3.9 billion perbulan: Meta adalah sebuah perusahaan raksasa jaringan komunikasi yang tengah menguasai dunia kita.

Yang lebih dahsyat lagi adalah Invidia yaitu perusahaan tempat bergantung beroperasinya chips AI (Artificial Intelligence/Kecerdasan Buatan), bila perusahaan Nvidia stop, maka ‘gelaplah’ dunia info kita terutama info2 yang sering anda baca dalam HP ketika anda bertanya kepada AI. Dan No.1 yang paling ‘Raksasa’ adalah Google. Bila kelima perusahaan tersebut disebut raksasa, lalu apa nama perusahaan yang tidak raksasa? Mungkin salah satunya perusahaan Telkom di Indonesia.

Nvidia didirikan tahun 1993 di USA sebelum adanya Amazon. Pendiri Nvidia salah satunya bernama Jensen Huang. Mula usahanya di bidang pembuatan kartu grafis (VGA) untuk Gaming seperti GeForce. Apa itu GeForce? Ini adalah kartu grafis yang ditanam di dalam laptop anda. Guna GeForce ialah untuk membantu proses grafis dan visual saat menjalankan laptop. Seiring berlalunya waktu, produk GeForce milik Nvidia juga semakin canggih, maka hati2 anda di saat membeli laptop baru, tanyakan jenis GeForce Nvidia yang ditanam di dalam laptop anda. Ini bilamana anda suka bermain gaming atau suka mengedit video di laptop maka anda memerlukan GPU khusus produk Nvidia yang bernama RTX atau GTX tetapi bilamana hanya untuk mengetik saja di laptop maka cukuplah dengan GPU terintegrasi, kata (Mbah) Google. Sebab harga RTX 3050/3060 saja pada bulan May 2026 di Indonesia bisa berkisar antara Rp 2,7 juta di luar harga laptop tentunya. Sedangkan RTX termahal di Indonesia berjenis RTX 5090 32 GB harganya bisa berkisar Rp 66 juta hingga Rp 143 juta termasuk PC Build kata Google. Apalagi jenis Leadtek Quadro Nvidia RTX 6000 48 GB GDDR6 harganya, kata Google, mencapai Rp 166. 479.000,- Perangkat inilah yang ditanam di dalam laptop, apakah laptop anda sudah memilikinya? Untunglah saya belum beli RTX jenis ini, saya masih dengan laptop harga murah Rp 8.000.000, mengingat laptop saya pernah dicuri dalam perjalanan dari Lebak Bulus Jakarta di dalam bis sleeper Sinar Jaya ke Yogya sekitar tanggal 13 July 2024 semalam sebelum ujian tertutup S3 di UIN Yogya. Bagaimana kalau Nvidia berhenti memproduksi GeForce? Seluruh anak2 muda yang suka game dan para insinyur yang perlu membuat grafis di laptop akan ‘kal’angkabut’ (kacau).

Selain memproduksi GeForce, Nvidia juga berkembang merajai dunia dalam bidang pembuatan mesin AI (Kecerdasan Buatan) yaitu dalam hal merancang system dan perangkat lunak AI tersebut. Sekali lagi perangkat lunak untuk AI adalah produk Nvidia. Jadi sekarang bilamana anda bertanya pada AI di HP anda, apa rahasia bumbu masakan rendang Padang? Maka AI akan membuka rahasianya kepada anda, tetapi ‘nyawa/roh’ AI adalah hasil bikinan perusahaan Nvidia sementara rahasia bumbu rendang Padang masih misteri. Bila dicabut nyawa AI oleh Nvidia, AI tak bisa bekerja. Itu analisa saya.

Dapat disimpulkan bahwa dunia memang ‘bisu’ tanpa komunikasi, tetapi perusahaan pembuat perangkat komunikasi nyatanya telah mendominasi dan mengalahkan dunia kita, cara pandang dunia kita, tradisi kita, dunia anak2 kita, dakwah agama kita, bahkan fiqh kita. boleh jadi pada suatu hari nanti, walaupun kini masih berbahasa Arab, Kitab2 Kuning di pesantren, al-Qur’an 30 juzz, Shahih Bukhori berjilid2, Tafsir al-Qurthubi 14 jilid, dan banyak buku2 di perpustakaan akan menjadi ‘tumpukan kertas’ sementara sebuah Kindle kecil tipis akan bisa digenggam hanya dengan sebelah tangan kesana kemari. Saya yakin ulama2 kita akan terbiasa dan nanti terpaksa pintar membaca Kindle. Kehadiran Kindle akan mempengaruhi dunia dakwah Islamiyah, persoalannya sekarang terletak pada penguasaan bhs Inggeris oleh para da’i. Bahkan Amazon juga memproduksi metode jual beli Online tanpa kasir (cashier less). Di sini ajaran Fiqh Syafi’iyyah tentang syarat sah jual beli ‘yadan bi yadin’ (serah terima jual beli barang dari tangan ke tangan secara tunai dalam satu akad) terutama dalam ‘item’ ribawi seperti emas, perak dan mata uang akan dan bahkan telah dihadang oleh produk Amazon di atas, yaitu jual beli modern tanpa kasir, tanpa ijab qabul, tanpa ‘yadan bi yadin’ dan umat Islam, termasuk anda dan saya, sama2 terperangkap di dalamnya. Itulah Agama, Itulah Teknologi.

Lalu bagaimana bila diskusi di atas kita tarik kepada ranah filsafat? Apa pelajaran yang bisa dipetik? Perusahaan2 raksasa di atas jelas mempekerjakan tenaga manusia yang mengerti sains. Apa itu sains? Sains ialah ilmu manusia tentang rahasia Sunnatullah. Apa itu Sunnatullah? Sunnatullah adalah hukum2 ketetapan Allah yang telah melekat dalam alam sejak kejadiannya, misalnya api sifatnya membakar minyak, kayu dan lainnya, garam asin, cabe pedas, perempuan hamil dan melahirkan anak, bukan laki2 yang hamil, kullu nafsin dzaiqotul maut. Ini semua ketetapan Allah dalam alam. Rahasia2 dalam ketetapan alam inilah yang ditemukan oleh manusia sehingga ia menjadi sains, dan dari sains berkembang menjadi teknologi. Apa itu teknologi? Teknologi adalah hasil kepandaian manusia akibat memanipulasi Sunnatullah. Memanipulasi artinya ‘mempermain-mainkan’ Sunnatullah dalam alam agar tercapai maksud manusia. Teknologi maju pesat sehingga berdirilah perusahaan2 raksasa di atas seperti Nvidia dan Amazon termasuk Google. Mereka rajin riset rahasia Sunnatullah, banyak temuan baru penelitian di bidang ilmu2 alam, sementara pesantren2 kita di dalam hutan, jauh dari kehidupan kota, masih diajari Fiqh klasik yang nyatanya sebagian ajarannya telah dihadang oleh teknologi e-commerce produk Amazon. Kata lagu: Nasiib yaa nasiib …..kenapa jadi begini? Mirip negara2 Arab Sunni yang dihadang oleh dominasi Amerika, demikian pula Fiqh klasik kita dalam mu’amalat dihadang oleh produk2 perusahaan raksasa dari Amerika. Nasiib yaa nasiiib..kenapa jadi begini? Lalu filosuf Ibnu Rusyd datang dengan logat Betawi: ‘Ape gue bilang dulu?

Terkait ‘penyesalan’ Ibnu Rusyd, dalam tradisi Islam dikenal sebuah Atsar (perkataan Sahabat Nabi): Tafakkaru fi khalqillah, wa la tafakkrau fii dzatillah (Pikirkanlah olehmu tentang ciptaan Allah, jangan dipikirkan tentang zat Allah). Perintah (amar) dalam ‘Fii khalqillah’ di atas menyuruh kaum Muslimin berpikir causalitas (sebab akibat) tetapi cara berpikir causalitas tersebut telah ‘dibunuh’ di zaman klasik katanya oleh Imam al-Ghazali, maka Ibnu Rusyd dalam kitabnya Tahafut al-Tahafuth mengatakan bahwa tanpa adanya kaum Muslimin berpikir causalitas maka ilmu pengetahuan akan padam di dunia Islam. Inilah yang telah berakibat jauh. Ternyata benar Ibnu Rusyd. Hingga kini perusahaan raksasa Nvidia dan Amazon telah membuktikan ‘kelirunya’ roda sejarah epistemologi umat Islam di zaman klasik. Bahkan hingga kini, menurut saya, metode pembacaan teks ‘burhaniyah’ usulan al-Jabiri tersebut oleh para ulama masih digunakan pada batas2 menjaga agar jangan sampai produk2 teknologi modern melanggar/transgress moral Islamiyah atau bila ada produk yang disinyalir mengandung unsur2 yang diharamkan, bila dinilai tidak melanggar atau tidak haram maka diberi ‘stemple’ misalnya Label Halal oleh MUI, tetapi mereka belum sampai menukik untuk menfilsafati ‘causalitas to be inherent’ dalam Sunnatullah sebagaimana yang dianjurkan oleh Atsar di atas sejauh ia terkait Natuurwissenschaften. Nampaknya kini Syi’ah Iran lebih dulu membenahi diri di bidang teknologi daripada Sunni Arab dan Syafi’iyah Indonesia. Itulah Agama, Itulah Teknologi, dan Itulah Agama (yang menyejarah). Semoga adik2 kawula muda memahami ‘kemelut’ epistemico-teologis Islam masa klasik di samping canggih menggunakan HP dan laptop setiap hari.

Demikianlah Bapak2/Ibuk2 dan Adik2 semuanya, terimaksih telah membaca tulisan saya, mohon dikoreksi bila saya salah dan dimaafkan. Wassalam, Amhar Rasyid, Jambi.

*Silakan Share