Tidak Alpha dalam Berbagi: Jejak Kecil Lazismu Jelutung Menyambut Ramadhan


Oleh: Agus setiyono*)

Ahad pagi, 15 Februari 2026.
Langit Jelutung menggantungkan mendungnya dengan tenang, seakan ikut menyimak langkah-langkah kecil yang bergerak sejak fajar. Rintik hujan turun perlahan, membasahi halaman dan membuat lantai sedikit licin. Namun pagi itu, ada yang lebih kuat dari basahnya bumi: tekad untuk tidak alpha dalam berbagi.

Di sudut kota, Lazismu Jelutung kembali menunaikan satu fragmen kecil dari kerja kemanusiaannya. Tanpa gegap gempita, tanpa panggung yang menjulang, mereka memilih kesederhanaan sebagai bahasa aksi. Sebanyak 120 paket sembako tersusun rapi, menunggu tangan-tangan yang akan menerimanya—bukan sekadar sebagai bantuan material, tetapi sebagai simbol kehadiran dan kepedulian.

Wajah-wajah para penerima manfaat pagi itu sumringah. Senyum mereka seolah mengabaikan gerimis dan licinnya lantai. Dalam kajian psikologi sosial, senyum yang lahir dari rasa dihargai memiliki daya penyembuh yang tak kasatmata. Ia menguatkan harga diri, menumbuhkan harapan, dan menghadirkan kembali keyakinan bahwa mereka tidak sendiri. Di sanalah zakat, infak, dan sedekah menemukan makna terdalamnya—bukan hanya memindahkan harta, tetapi memindahkan rasa peduli dari satu hati ke hati yang lain.

Para pengurus Lazismu tampak sibuk sejak pagi. Ada yang mengatur distribusi, ada yang memastikan data penerima sesuai, ada pula yang membantu mengangkat paket demi paket. Peluh sedikit mengucur, bercampur dengan embun pagi. Namun di sela-sela kerja itu, tawa lepas terdengar. Tawa yang bukan lahir dari kelonggaran, melainkan dari kegembiraan berbagi. Mereka sadar, posisi mereka hanyalah penyalur. Tetapi justru di situlah kemuliaan itu tumbuh: menjadi jembatan antara amanah para muzakki dan kebutuhan para mustahik.

Dalam suasana haru dan penuh syukur itu, terucap pula terima kasih tak terhingga kepada para muzakki yang telah dengan keikhlasan berderma dan berinfak. Tanpa tangan-tangan dermawan yang mempercayakan hartanya untuk dikelola dan disalurkan, tidak akan ada senyum yang merekah pagi itu. Keikhlasan para muzakki adalah fondasi dari seluruh gerak filantropi; ia adalah energi moral yang menggerakkan roda kepedulian sosial. Setiap rupiah yang dititipkan bukan hanya bernilai ekonomis, tetapi juga bernilai teologis—menjadi investasi amal yang pahalanya terus mengalir.

Ramadhan tinggal menghitung hari. Bulan yang oleh para ulama disebut sebagai madrasah ruhani itu sebentar lagi menyapa. Menyambutnya tidak selalu dengan seremonial besar; terkadang ia hadir dalam bentuk sederhana—sebungkus beras, sebotol minyak goreng, sekantong gula, dan doa yang dipanjatkan lirih. Inilah cara berbeda menyongsong bulan suci: memulainya dengan memastikan dapur-dapur kecil tetap mengepul, agar puasa dijalani dengan tenang dan bermartabat.

Dalam perspektif ekonomi sosial Islam, distribusi sembako jelang Ramadhan bukan sekadar respons musiman. Ia adalah bagian dari ekosistem filantropi yang berfungsi menjaga keseimbangan sosial. Ketika kebutuhan pokok cenderung meningkat menjelang bulan suci, intervensi berbasis zakat dan infak menjadi instrumen stabilisasi yang nyata di level akar rumput. Apa yang tampak sederhana sesungguhnya menyimpan dampak yang sistemik.

Acara pagi itu ditutup dengan doa dan ucapan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan. Perwakilan pengurus Lazismu menyampaikan harapan agar Ramadhan kali ini menjadi momentum peningkatan iman, penguatan solidaritas, dan perluasan keberkahan. Kalimat-kalimatnya sederhana, namun sarat makna: bahwa ibadah bukan hanya soal hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga relasi horizontal dengan sesama manusia.

Hujan pun perlahan reda. Paket-paket telah berpindah tangan. Halaman kembali lengang, tetapi jejaknya tertinggal di hati. Lazismu Jelutung pagi itu membuktikan bahwa konsistensi lebih penting daripada kemegahan, dan kebermanfaatan lebih bermakna daripada publikasi.

Jelang Ramadhan, mereka tidak alpha dalam berbagi.
Sebab bagi mereka, Ramadhan bukan sekadar datang untuk disambut—tetapi untuk dipersiapkan dengan cinta, kerja nyata, dan kesadaran bahwa setiap butir beras yang tersalurkan adalah doa yang sedang berjalan.

*Silakan Share