Oleh: Agus setiyono*)
Di ufuk pagi yang mulai menguning di langit Kota Jambi, sekitar enam ratus siswa SMP Ahmad Dahlan Kota Jambi tumpah ke jalan dengan langkah teratur dan wajah yang berseri. Mereka tidak sekadar berjalan; mereka membawa gema harapan, mengusung syiar, dan menebarkan kabar gembira tentang tibanya bulan yang dinanti—Ramadhan al-Mubarak.
Kegiatan yang diberi tajuk “Tarhib Ramadhan Mencerahkan” itu digelar dalam bentuk pawai keliling di seputaran Kantor Balai Kota. Dari barisan terdepan hingga paling belakang, seluruh siswa dan para staf pengajar turut serta tanpa kecuali. Tidak ada yang absen dari sukacita menyambut bulan suci; sebab Ramadhan bukan hanya peristiwa kalender, melainkan momentum spiritual yang menggerakkan jiwa.

Dalam balutan busana muslim yang rapi, lantunan shalawat dan takbir menggema lembut, menyatu dengan denyut kehidupan kota. Pawai itu menjadi wajah pendidikan yang tidak hanya mengasah intelektual, tetapi juga menumbuhkan kesadaran transendental. Di tengah hiruk-pikuk modernitas, para pelajar ini hadir sebagai pengingat bahwa spiritualitas tetap menjadi fondasi peradaban.
Secara teologis, tarhib bermakna penyambutan penuh kegembiraan. Ia adalah ekspresi iman yang bersifat kolektif, bukan sekadar seremoni, melainkan deklarasi batin bahwa umat Islam bersiap memasuki madrasah ruhani selama sebulan penuh. Ramadhan adalah bulan berkah, ampunan, dan limpahan rahmat dari Allah SWT; bulan ketika langit lebih dekat, doa lebih mudah menembus batas, dan hati lebih lapang menerima cahaya Ilahi.
Karena itu, Tarhib Ramadhan yang dilaksanakan SMP Ahmad Dahlan bukan hanya perayaan simbolik. Ia adalah bentuk syiar Islam yang mendidik. Dalam perspektif pedagogis, kegiatan ini menanamkan nilai disiplin, kebersamaan, tanggung jawab sosial, serta kecintaan terhadap syariat. Anak-anak diajak memahami bahwa ibadah tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan pembentukan karakter dan akhlak mulia.
Ramadhan sejatinya adalah momentum transformasi. Ia mengajarkan pengendalian diri melalui puasa, menumbuhkan empati melalui zakat dan sedekah, serta mempererat ukhuwah Islamiyah melalui kebersamaan dalam shalat dan tilawah. Maka, menjadikan Ramadhan sebagai ruang pembinaan diri berarti menjadikannya sebagai laboratorium akhlak: tempat manusia belajar jujur, sabar, disiplin, dan peduli.
Dalam sambutan pelepasan pawai, Kepala Sekolah SMP Ahmad Dahlan, Ardiansyah, S.Pd., menyampaikan rasa syukur dan terima kasih yang mendalam atas kerja sama seluruh staf dan dewan guru. Ia menegaskan bahwa keberhasilan kegiatan ini merupakan buah dari kolaborasi dan semangat kebersamaan keluarga besar sekolah. Pendidikan, menurutnya, bukan sekadar transfer ilmu, tetapi juga penanaman nilai dan keteladanan.
“Kita ingin anak-anak tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara spiritual dan berakhlak mulia. Ramadhan adalah kesempatan emas untuk membentuk pribadi yang lebih disiplin, lebih peduli, dan lebih dekat dengan Al-Qur’an,” ujarnya penuh harap.
Pawai Tarhib Ramadhan itu pun menjadi pesan terbuka bagi masyarakat Kota Jambi: bahwa generasi muda Islam tengah dipersiapkan bukan hanya menjadi insan terpelajar, tetapi juga insan yang tercerahkan. Mereka belajar bahwa menyambut Ramadhan berarti menata niat, membersihkan hati, dan memperbaharui komitmen kepada Allah SWT.
Di tengah dunia yang sering riuh oleh kepentingan, barisan pelajar itu menghadirkan kesunyian yang bermakna—sunyi yang mengajak merenung, sunyi yang mengingatkan bahwa manusia adalah hamba sebelum menjadi apa pun di dunia.
Dan ketika langkah-langkah kecil itu kembali ke halaman sekolah, sesungguhnya yang pulang bukan hanya tubuh-tubuh muda, tetapi juga tekad yang diperbarui: menjadikan Ramadhan sebagai jalan pulang menuju fitrah, menuju cahaya, menuju kedekatan yang lebih intim dengan Sang Pencipta.
Semoga Tarhib Ramadhan Mencerahkan ini benar-benar menjadi cahaya, bukan hanya di jalan-jalan Kota Jambi, tetapi juga di relung hati setiap siswa yang kelak akan menjadi penentu arah masa depan bangsa.