Oleh: Agus setiyono*)
AXSI: (Ajang eXpresi Syi’ar Islami) di Masjid Istiqomah PCM Jambi Timur
Ramadhan selalu datang dengan dua wajah: hening dan riuh. Hening dalam munajat, riuh dalam kegembiraan. Di banyak sudut negeri, bulan suci ini disambut dengan aneka perayaan yang kadang lebih meriah dari pesta ulang tahun kota—bedanya, yang dirayakan bukan usia, melainkan kesempatan memperbaiki diri.
Di kawasan PCM Jambi Timur, tepatnya di Komplek Masjid Istiqomah, kegembiraan itu menemukan bentuknya yang paling konkret melalui sebuah kegiatan bertajuk AXSI (Ajang eXpresi Syi’ar Islami). Nama yang modern, namun ruhnya klasik: menghidupkan syiar, menumbuhkan kader, dan meneguhkan identitas keislaman sejak dini.
Sejak pagi hingga siang, bahkan mungkin berlanjut hingga malam, AXSI menghadirkan lomba-lomba bernuansa Qur’ani: tilawah, adzan, dan da’i cilik. Panggung kecil di pelataran masjid berubah menjadi laboratorium peradaban—tempat suara-suara muda diuji, bukan hanya dalam ketepatan tajwid, tetapi juga dalam keberanian tampil dan keteguhan niat.
Sekitar 500 peserta memadati area kegiatan. Angka yang bukan sekadar statistik, melainkan indikator bahwa kesadaran kolektif akan pentingnya pendidikan spiritual masih menyala. Anak-anak datang dengan busana terbaik, orang tua mengantar dengan doa terbaik. Ada yang berlatih berminggu-minggu, ada pula yang baru berani tampil hari itu—karena seringkali keberanian adalah lomba paling sunyi yang harus dimenangkan.
Ramadhan: Antara Seremonial dan Substansi
Secara sosiologis, AXSI bukan sekadar festival musiman. Ia adalah ekspresi budaya religius yang memperkuat kohesi sosial dan menjadi ruang kaderisasi dini, khususnya dalam lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah. Di tengah era digital yang lebih akrab dengan konten viral daripada konten moral, menyaksikan ratusan anak berlomba melantunkan ayat suci adalah semacam ironi yang indah.
Namun di sela-sela kemeriahan, terselip pertanyaan filosofis yang patut direnungkan: apakah syiar akan berhenti pada panggung lomba? Apakah semangat hanya menyala ketika mikrofon menyala?
Catatan reflektif ini penting—agar AXSI tidak berhenti sebagai akronim yang hanya menarik perhatian, melainkan benar-benar menjadi poros pembinaan yang berkelanjutan. Karena syiar yang sejati bukan tentang suara yang merdu saja, melainkan karakter yang kokoh.
Dibuka dengan Harapan, Dikuatkan dengan Komitmen
Kegiatan AXSI secara resmi dibuka oleh Ketua PDM Kota Jambi, Dr. Sarmadan Harahap, yang menegaskan pentingnya kaderisasi sebagai investasi peradaban. Turut hadir Ketua PCM Jambi Timur, tokoh masyarakat, perangkat desa, Lurah, serta para Ketua RT—menandakan bahwa pendidikan generasi adalah tanggung jawab kolektif.
Lokasi kegiatan yang berada di Komplek Masjid Istiqomah semakin bermakna karena di dalamnya berdiri SMK Muhammadiyah Kota Jambi, yang dalam hal ini Kepala Sekolahnya, Essy Susilawati, menjadi salah satu penyokong utama acara. Sinergi antara masjid dan sekolah menghadirkan pesan simbolik: iman dan ilmu tidak boleh dipisahkan.
Dalam sambutannya, para pimpinan—baik dari PDM, PCM, pihak sekolah, maupun pemerintah setempat—memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya AXSI. Namun mereka juga mengingatkan agar kegiatan ini tidak berhenti pada seremoni. Jangan sampai anak-anak hanya pulang membawa trofi, lalu semangatnya menguap bersama euforia.
Karena sejatinya, kader tidak lahir dari lomba semata—ia tumbuh dari pembinaan yang konsisten, dari mentoring yang sabar, dari ekosistem yang mendukung.
Menjaring Kader, Menanam Cahaya
Bagi Persyarikatan Muhammadiyah, AXSI adalah langkah strategis dalam menjaring kader penerus. Anak-anak yang hari ini melantunkan ayat, esok bisa menjadi imam, pendidik, dai, bahkan pemimpin yang berintegritas.
Ketua Panitia, Ustadz Idris, S.Sy., MH., menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung, khususnya PCM, PDM, hingga PWM yang memberikan arahan strategis. Apresiasi juga disampaikan kepada SMK Muhammadiyah Kota Jambi yang turut menopang suksesnya kegiatan ini.
Di tengah dunia yang sering kali lebih sibuk memperdebatkan identitas daripada membangun kualitas, AXSI hadir sebagai jawaban yang tenang namun tegas: membangun generasi tidak cukup dengan slogan, tetapi dengan ruang ekspresi dan pembinaan yang nyata.
Ramadhan memang datang setiap tahun. Tetapi generasi tidak selalu datang dua kali.
Jika hari ini mereka berdiri di panggung AXSi, melantunkan ayat dan menyerukan adzan, sesungguhnya yang sedang dipersiapkan bukan hanya juara lomba—melainkan penjaga cahaya.
Dan cahaya, sebagaimana kita tahu, tidak pernah lahir dari tepuk tangan semata. Ia tumbuh dari kesungguhan yang dirawat, bahkan setelah gema takbir perlahan mereda.
