BERPIKIR VISUAL, BERPIKIR KONSEPTUAL

Oleh: Amhar Rasyid

Jambi, Jum’at 13 Februari 2026

Assalamu’alaikum wr,wb
Sudilah Bapak/Ibuk/Adik2 generasi muda untuk meluangkan waktu membaca tulisan saya berikut agak sebentar walaupun saya tahu anda sibuk. Ada cerita menarik tentang dua manusia yang berbeda cara berpikirnya. Ketika seorang bayi melihat sebotol susu berwarna putih lalu dia menangis memintanya untuk diminum. Gambar susu dalam botol sudah cukup baginya untuk menentukan keputusannya. Bayi ini kita katakan berpikir visual. Namun ada lagi seorang dewasa ketika melihat sebotol susu lalu dia berpikir bahwa susu putih dalam botol itu adalah zat cair yang mengandung diantaranya Casein dan Whey, Karbohidrat dan Laktosa, yang bagus untuk pertumbuhan bayi. Orang dewasa ini kita sebut berpikir konseptual. Persoalannya, masih banyak diantara kita yang berpikir visual atas dasar bentuk, gambar, pola agar mengerti dan paham pada sesuatu. Tanpa melihat gambar agak susah baginya memahami banyak hal. Ini kita golongkan pada cara berpikir orang awam. Masih sedikit diantara kita yang memahami sesuatu berdasarkan konsep2 ilmiah yang telah ada dalam dunia ilmu pengetahuan: level berpikir kita masih banyak yang rendah. Kira2 anda masuk kelompok yang mana? Berikut kita coba mendiskusikannya dalam beberapa paragraf untuk mengeritik cara berpikir kita sendiri baik di bidang keseharian, pendidikan dan keagamaan.

Pertama, kita ulangi lagi. Apa yang dimaksud dengan berpikir visual dan apa masalahnya? Ketika melihat HP cantik lalu kita tertarik untuk memiliki dan menggunakannya, bila keluar model HP baru, beli lagi. Ketika melihat makanan lezat lalu kita ambil dan santap tanpa pikir panjang atas resikonya bagi kesehatan sendiri. Gambar visual, bentuk yang nampak, itu yang menjadi dasar pertimbangan untuk bertindak. Ini namanya berpikir visual. Sementara berpikir konseptual adalah berpikir berdasarkan konsep. Apa itu konsep? Konsep adalah ide atau gagasan abstrak tentang fenomena. Berpikir konseptual ialah berpikir dengan cara menghubungkan ide kepada teori2, defenisi2, istilah2 ilmu pengetahuan yang sudah banyak digunakan di dunia akademik dan penelitian ilmiah. Jadi cara berpikir konseptual itu sudah ilmiah, bukan lagi cara berpikir orang awam. Cara berpikir orang awam masih sederhana, pengetahuannya ber keping2 tetapi tak pandai mengaitkan keping2 itu satu sama lain untuk menjadi satu informasi umum yang utuh. Contoh, bila tukang bangunan melihat semen, dia tahu bahwa semen bila dicampur dengan air akan membeku, tetapi tukang itu tak mampu menjelaskan ‘WHY’? Dia belum mampu menjelaskan bahwa kandungan klinker yang berisi Kalsium Oksida, Silika, Alumina plus Gypsum bila dicampur dengan air akan menjadi keras bagai batu. Ini namanya informasi yang utuh, dijelaskan secara kait berkait dan teruji di lapangan. Orang awam terutama tukang bangunan tak pandai menjelaskan seperti ini.

Persoalan yang lebih rumit dari cara berpikir orang awam ialah bilamana ia terkait dengan cara berpikir mahasiswa dan dosen serta cara berpikir umat beragama umumnya. Dalam memberikan kuliah di kampus, dosen biasanya mengajarkan berbagai defenisi, konsep dan teori ilmu pengetahuan kepada mahasiswa tetapi baru sekedar tahu untuk mengisi materi kuliah dan untuk diuji di akhir semester, tetapi ia belum diintegrasikan, belum dijadikan dasar berpikir bagi mahasiswa atau mungkin bagi dosen itu sendiri. Dosen seyogyanya mengarahkan mahasiswa kepada cara berpikir konseptual, yaitu berpikir berdasarkan ilmu pengetahuan yang telah berkembang, ilmu yang diperbincangkan orang di universitas2 terkemuka didunia, yang membuat maju peradaban dunia. Kuliah seyogyanya merobah cara berpikir mahasiswa agar meningkat dari level visual ke level konseptual karena mayoritas mahasiswa nyatanya berasal dari komunitas berpikir visual. Sekarang cara berpikir konseptual hendaknya dijadikan budaya, dijadikan sifat melekat dalam cara berpikir mahasiswa dan dosen.

Lalu pertanyaannya kenapa harus konseptual? Karena umumnya bangsa Indonesia ini melihat tujuan sekolah/kuliah utamanya untuk mencari kerja, mencari rupiah agar hidup senang nanti. Mulai dari para orang tua, cara berpikirnya pragmatic, yaitu bagaimana agar anaknya sukses, lulus, cepat dapat ijazah, bertitel, bekerja dan berumah tangga….ujung2nya kalau bisa setelah anaknya bekerja bantulah orang tua secara ekonomi dan bayarkan ONH (Naik Haji). Banyak yang berpikir VISUAL begitu tapi belum banyak yang berpikir Konseptual.

Bagaimana berpikir konseptual yang ingin kita wujudkan? Dibiasakan mahasiswa berpikir yang berdasarkan ilmu pengetahuan. Sekurangnya bila menghadapi masalah, mahasiswa terbiasa mengajukan pertanyaan dalam kepalanya: 5W 1 H: What, Where, When, Who, Why and How? Jangan lagi berpikir dengan ‘membeo’ pada orang banyak, ikut cara berpikir leluhur, sesepuh, ikut kiyai taqlid buta, tuo tengganai, percaya pada mitos, Asal Bapak Senang (ABS), mereka tidak punya cara berpikir konseptual yang telah di’kunyah’nya sendiri, tidak mandiri berpikir. Ilmu2 di bangku kuliah belum membudaya, baginya kuliah masih sebatas cepat lulus dan dapat ijazah. Kita ingin agar mahasiswa yang telah lulus kuliah sebaiknya punya cara berpikir mandiri, berani berbeda pendapat dengan dosen dan professor selama argumentasinya berdasarkan konsep2 ilmu pengetahuan, tetapi ya susah. Bahkan saya juga ingin bertanya pada dosen2 muda, apakah setelah menjadi dosen sekarang anda sudah punya cara berpikir konseptual? Ini pertanyaan serius.

Bagaimana pula di bidang keagamaan? Umumnya masih banyak digunakan cara berpikir visual dalam memahami agama. Misalnya, Neraka dikatakan oleh para da’i dan diyakini oleh umat sebagai visual ‘api yang membakar’. Betul ayat al-Qur’an mengatakan begitu di banyak tempat, tetapi bukankah ada ayat ‘Wa maa adroka ma hiyah? Naarun haamiyah.’ (Apa itu Neraka? Api yang membakar). Bagi Qurthubi: hamiyah adalah 70x lipat dari panas api di dunia (masih empirical). Menurut Quraysh Shihab yang sependapat dengan Ibnu Abbas, arti Narun Hamiyah adalah api yang membakar fisik dan mental. Artinya beyond empirical. Singkat kata, semua penafsiran masih visualisasi, belum meningkat ke level konseptual beyond empirical (pengertian yang melampaui pengalaman inderawi). Sementara kenyataannya api laser sangat panas bisa memutus besi baja jembatan dalam beberapa saat, ia jauh melebihi 70 x panas yang ada dalam tafsir Qurthubi, dan juga belum sepanas api bom atom Hisrosyima. Panas api laser dan panas bom Hirosyima itupun masih visual…. Namun Neraka (Hamiyah), dalam keyakinan saya, jauh lebih dari itu, lebih dari panas api, jauh lebih dari apa yang bisa anda bayangkan kini, bahkan lebih jauh panas dari tafsir Qurthubi karena di masanya dulu belum ada laser dan bom Hirosyima sebagai pembanding panas. Jangankan Qurthubi, mungkin anda juga belum tahu apa itu Plasma Quark-Gluon (QGP) yang memiliki panas sekitar 9 trilyun derjat Fahrenheit? Neraka dalam keyakinan saya, bukan sekedar lebih panas tapi jauh lebih dahsyat, dari Plasma Quark-Gluon dimana proton dan neutronnya ‘meleleh’ karena dahsyat tenaganya sangat, sangat ultra tinggi. Ini pemahaman saya sekarang secara konseptual, buat sementara, dan suatu saat nanti akan berobah lagi menunggu temuan fisika yang lebih maju lagi. Isi dakwah Islamiyah kita sebaiknya diJELASKAN dengan perkembangan dunia ilmu pengetahuan, bukan diBENARKAN sebatas temuan ilmu pengetahuan. Kata DIJELASKAN dan DIBENARKAN itu sangat berbeda implikasinya, nanti kita diskusikan di lain tempat dan waktu.

Atas dasar uraian di atas, bolehkah saya beragumnetasi bahwa pola pikir visual itu masih rendah levelnya? Buktinya, Arab Jahiliyah dulu meyakini tuhan2 mereka berbentuk visual (patung) Latta, Uzza, Manat, dan lainnya. Kemudian datang wahyu: Iqra’ bismi Robbikalladzi khalaq. Khalaqal insana min ‘alaq (Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menjadikanmu, Yang menjadikan manusia dari segumpal darah). Artinya cara berpikir manusia diarahkan dari level visual ke konseptual. Tuhan yang semula berupa NAMPAK gambar, dirobah kepada Tuhan yang TAK nampak. Dari visual ke konseptual. Dari materi ke immateri. Dari fisika ke metafisika. Manusia yang selama ini dipandang Arab jahiliyah berdasarkan kepercayaan nenek moyang, mitos, dan budaya suku, sekarang dirobah, dikatakan bahwa manusia sebagai ‘terbuat dari al-‘alaq (embrio yang menempel di dinding Rahim). Ini bukti cara berpikir konseptual, lebih maju.

Setelah 15 abad sejak turunnya wahyu, sekarang mahasiswa seharusnya memahami al-‘alaq sebagai hasil bertemunya sperma dan ovum, yaitu bertemunya ‘kandungan zat cair yang berisi fruktosa (gula dan energi), enzim (protease dan hyaluronidase), mineral (zinc, kalsium, magnesium), dengan ovum yang berisi 23 kromosom yang akhirnya membentuk zygot setelah bertemu dengan 23 kromosom lain dari sperma sehingga membentuk 46 kromosom….lalu ‘ngeaaaak…lahir bayi ke dunia’ dan berangsur2 punya cara berpikir VISUAL ketika melihat botol susu. Kapan dia akan berpikir konseptual? Entahlah..mungkin setelah berusia 30 tahun nanti (tamat dari UIN?)…atau masih belum juga seperti….siapa ya contohnya? Bukan seperti anda, tetapi seperti orang lain yang kebetulan sedang membaca tulisan saya ini.

Jadi cara berpikir Visual itu masih pada tahap rendah, ini cara berpikir orang awam. Saya minta maaf pada saudara2 kita non-Muslim, bukan saya mempersoalkan gambar Tuhan anda, tetapi saya ingin mengatakan bahwa pola pikir visualisasi itu masih pada level rendah. Bukankah dibalik material ada immaterial? Bukankah di balik fisika ada metafisika? Bukankah di ujung akhir pembelahan atom nampak energi partikel (foton) yang diskret, bukan hanya gelombang, yang disebut ‘quantum’ (satuan diskrit terkecil dari energi atau materi seperti foton dan electron) menurut Einstein? Meskipun akhirnya pendapat yang banyak diakui benar oleh fisikawan adalah mekanika quantum probabilistic. Artinya, dilihat dari kenajuan ilmu pengetahuan, cara berpikir visual kita di bidang keagamaan khususnya masih jauh tertinggal. Tetapi pak Amhar, dalam al-Qur’an sering disebutkan bahwa Neraka adalah api, sorga adalah kenikmatan, berinfaq dan berwaqaf digambarkan dengan peningkatan hitungan kuantitas padi/gamdum, sebutir, setangkai dan 100 x lipat. Pahala solat di Mesjdil haram 10.000 x solat di masjid biasa. Iya..tetapi itu cara berkomunikasi kepada orang2 yang masih punya pola pikir pada tahap visual, memahami sesuatu sekedar yang nampak, sementara orang sufi yang sudah level tinggi tidak Takut pada Neraka, tidak ingin sorga….tapi mereka memilih RIDHA Allah. Terserah Allah nanti mau di’jebloskan’ ke neraka atau ‘welcome’ di sorga..yang penting RIDHA Allah lebih utama dari segalanya. Sufi tidak memahami ukhrowi dengan Visual, dengan empiri. Sementara cara berpikir bagsa Arab Jahiliyah yang ditemui al-Qur’an dulu masih pada taraf Visual, apakah tidak wajar bila kita kini maju berpikir konseptual setelah 15 abad umur Islam? Mari maju berpikir! Cobalah baca buku2 ilmu pengetahuan sebelum bermu’amalat dengan ramah. Cobalah bertanya sedikit kepada Google, kepada AI (Artificial Intelligence) sebelum berdakwah. Dan cobalah buka ensiklopedia sebelum memulai kuliah!

Kesimpulannya, cara berpikir visual masih banyak, cara berpikir konseptual masih sedikit. Baik dalam kehidupan sehari2, di dunia kampus maupun di bidang pemahaman keagamaan kita masih banyak berpikir Visual. Pembangunan Sumber Daya Manusia memnag berat dilakukan, tetapi kita tak boleh pesimis. Masih ada peluang untuk merobah cara berpikir selama kita seiring bersama, sepakat untuk maju berpikir. Sadarilah cara berpikir visual semacam itu, dan berusahalah meningkat ke level konseptual.

Siginificance of Issue (Hikmah):

  1. Menafsirkan al-Quran dan Hadits dengan metode bayani (menjelaskan arti kata demi kata dan menarik kesimpulan) itu apakah sudah pada level Konseptual atau masih berada pada level Visual ya? Saya takut berkomentar di sini karena ceramah, khutbah dan pengajian2 nampaknya masih ‘setia’ pada level Visual. Ha…allegori2 pada saat kebhaktian di gereja juga masih visual kedengarannya. Untuk naik ke level konseptual, tak ada salahnya bila anda memikir ulang hermeneutika Rudolf Bultmann tentang Demitologisasi. Anyway, ‘Dalem mboten pirso’ (bahasa Jawa Kromo Inggil).
  2. Setelah saya menyelesaikan S3 di usia pensiun banyak teman bertanya: Untuk apa ijazah Doktor itu?’ Rupanya cara berpikir mereka masih visual, sertifikasi harus diimbali isi rekening, pangkat dan title hanya untuk duit, bilamana sertifikasi sudah tak dibayar lagi lalu pulang kampung bertani? Ini bentuk berpikir visual, yaitu berpikir materi tetapi belum sampai kepada immateri. Setelah pensiun ini saya sadar rupanya pengetahuan kita ini bertahap dari eksoterik ke esoteric (khawash). Setelah saya tahu suatu kepingan pengetahuan, rupanya ada orang yg lebih tahu dari pada saya. Pengetahuan saya belum seberapa. Ibarat masuk kamar tidur yang ber bilik2. Setelah masuk kamar ini, ada bilik lagi di sebelah sana. Setelah masuk bilik kecil ini rupanya ada bilik kecil lagi….bilik kecil lagi…begitu seterusnya…ada lorong2, gelap.. tetapi ada lampu kecil hidup di ujung jauh sana… dan rupanya orang2 sudah ada yang lebih duluan menghuni bilik itu: saya orang belakangan dan rasanya saya tak akan mampu masuk ke bilik yang sangat…sangat..sangat ‘sempit’ itu..sebab di situ sudah ada MBAHnya. Di atas bintang, masih ada bintang rupanya, kata Inul Daratista. Namun Inul tak pandai memberitahu cara melihat bintangnya bukan visual tetapi konseptual.

Demikianlah Bapak2/Ibuk2 dan adik2 muda semuanya, baik Muslim maupun non-Muslim. Jangan marah ya! Selamat Puasa Ramadhan. Maaf. Terimakasih, Amhar Rasyid, Jambi.

*Silakan Share