Oleh: Amhar Rasyid
Jambi: 13 Maret 2026
Assalamu’alaikum wr,wb Bapak2/Ibuk2/Adik2 semua baik Muslim maupun non-Muslim di mana saja berada. Selamat berpuasa Ramadhan. Perang Iran, Israel dan Amerika kini masih berlangsung, sementara Medsos di Indonesia dan sebagian dunia International nampaknya banyak berpihak kepada Iran, entah kapan perang ini akan berakhir. Suatu kali muncul koleksi lama dalam YouTube, tentu bukan dalam konteks perang saat ini, dimana Prof. Quraysh Shihab, Mantan Rektor UIN Jakarta dan ahli tafsir al-Qur’an terkenal alumni al-Azhar Mesir, membicarakan perbedaan antara konsep Bani Israil, Yahudi dan Israel. Konsep2 tersebut membuat saya tertarik pula untuk menyuguhkannya kepada anda guna menambah wawasan pengetahuan kita bersama. Kenapa tertarik? Sebab ia terkait dengan konteks perang saat ini, di saat umat Islam membayangkan ‘balas dendam’ pada genosida Israel atas bangsa Palestina. Rasa benci membara dalam dada kepada semua kata yang terkait dengan ISRAEL padahal, kata Shihab, kata Israil itu ada sisi positifnya. Di dalam sejarah mereka ada mitos genealogis, teologis untuk menyusun kerangka ideologis. Pertanyaannya ialah: Apa beda antara Bani Israil, Yahudi dan Israel? Apa pelajaran yang bisa dipetik dari membicarakannya? Mari kita mulai membicarakannya sebelum Israel benar2 hancur.
Ada 4 kata dalam al-Qur’an yang menyebutkan terma yang berbeda2 kata Quraysh Shihab: Bani Israil disebutkan lebih kurang 42x dan istilah ini khusus menunjuk kepada keturunan Nabi Ya’qub (SEBELUM) zaman Nabi Muhammad saw. Jadi kata Bani Israil mempunyai batasan historis bagi Shihab. Bani Ya’qub, katanya, ada yang baik dan ada yang jahat sebagai sifat yang melekat dalam prilakunya.
Sementara konsep Yahudi menunjuk kepada keturunan Yahuza yang hidup di ZAMAN Nabi Muhammad bukan menunjuk kepada Bani Israil SEBELUM zaman Nabi Muhammad. Kata di ZAMAN (in the contemporary) Nabi, menurut saya, menyiratkan adanya dialektika sejarah langsung dengan Nabi, ada peperangan, perjanjian, permusuhan dan transaksi mu’amalat dengan Yahudi yang kontra dengan ajaran Tawhid al-Qur’an. Sifat2 Yahudi kata Shihab: egoistis, materialistis, dan kikir (tamak harta) yang kontra dengan ukhuwah Islamiyah sebagaimana diajarkan oleh Nabi. Apa contoh kikirnya orang Yahudi? Sambil tersenyum Prof. Shihab bercerita pengalamannya waktu kuliah di Mesir. Konon suatu kali, kata orang Mesir, ada seorang Bapak (Yahudi) meninggal dan anaknya terpaksa membeli tanah untuk pekuburan Bapaknya sekian meter. Karena harga tanah sangat mahal di lokasi tersebut, si anak rela memutuskan agar jasad Bapaknya cukup dikuburkan dengan posisi tegak berdiri saja (agar tanah yang dibeli sedikit karena sifat KIKIRnya). Saya yang berpuasa Ramadhan juga tersenyum mendengarnya, bagaimana kalau jasad Netanyahu nanti dikuburkan tegak berdiri saja?
Sedangkan konsep Ahlul Kitab dalam al-Qur’an, lanjut Shihab, menunjuk kepada Yahudi dan Nasrani (Kristen) tetapi al-Qur’an mengatakan mereka keduanya tidaklah sama (laysa sawa’). Mungkin ini bukan differensiasi genealogis tetapi teologis, meskipun setiap kali disebutkan kata Yahudi terindikasi ‘celaan’ kata Shihab. Buktinya di antara Ahlul Kitab (keturunan Nabi Ya’qub) ada yang berprilaku baik di zaman Nabi Muhammad, misalnya Abdullah bin Salam, Mukhairik dan isteri Nabi yang bernama Sovia (semuanya Yahudi Ahlul Kitab). Sekarang kata Yahudi telah berobah makna bukan hanya untuk semata2 keturunan Yahudi. Buktinya ada orang2 yang bukan berdarah Yahudi tetapi bisa menganut agama Yahudi. Lalu saya teringat di Tondano, Minahasa (Sulawesi Utara) sekarang ada terdapat synagogue (rumah ibadah) Yahudi bernama Shaar Hasyamayim yang berdiri sejak 2004. Dari sini ternyata agama boleh Yahudi tetapi Keturunan Tidak, sebab orang Yahudi ketat menganut garis keturunan Ibu/materilinial mirip orang Minangkabau.
Apakah boleh orang Yahudi dibela oleh orang Islam? Boleh kata Shihab. Ada kasus di zaman Nabi dimana seseorang kemalingan, orang pada curiga, lalu si pelaku (kebetulan orang Islam) menunjuk kepada si Yahudi yang ada di dekatnya sebagai tertuduh dan Nabi percaya pula (karena insting manusiawinya kata Shihab). Kalau menurut saya, ini bukan insting manusiawi tetapi Stigma mengutip teori sosiolog Golffman. Lalu kemudian turun ayat al-Qur’an: Wa la takun lil khainina khashima (Jangan kamu bela, hai Muhammad, orang yang salah). Karena turunnya wahyu tersebut lalu Nabi percaya bahwa sebetulnya ‘Maling teriak Maling’.
Memang dalam al-Qur’an kata Israil disebutkan 3 x kata Shihab, sementara kata Y’aqub kadang2 dinamai juga Israil sebab dalam Perjanjian Lama, lanjutnya, ada ditemukan kisah pergulatan antara Tuhan dan Ya’qub. Suatu kali terjadi gulat fisik antara Tuhan dan Ya’qub. Tuhan hampir kalah, Ya’qub hampir menang. Maka Ya’qub mengancam Tuhan, bahwa Tuhan harus memberkahinya jika mau dilepaskan dari cengkaman tangannya. Jadi bagi Yahudi, kata Israil bermakna ‘sosok yang mengalahkan Tuhan’. Ini bohong kata Shihab. Yang benar, menurut pendapat banyak ulama klasik, kata ‘IL’ berarti Tuhan, sementara kata ‘Isra’ = kesayangan/hamba. Maka arti Israil = hamba kesayangan Tuhan. Terkait nama ini teman saya di UIN Jambi ada juga bernama Isra’ mungkin dia kesayangan Dekan disamping juga kesayangan istrinya.
Sekarang tibalah saatnya kita membicarakan ISRAEL. Ini nama negara modern. Kata Shihab, pasca perang Nazi Jerman (1942 dst), orang Yahudi terpencar2 ke seluruh dunia. Di sini yang disebutkan adalah pasca perang Jerman bukan Exodus pasca Nabi Musa. Karena sudah berserakan di seluruh pelosok dunia, keturunan Yahudi lalu sadar tak punya tanah air. Waktu Turki Usmani lemah dan wilayahnya jatuh kepada kolonialis Barat, kata Shihab, Inggeris lalu memberikan pilihan 3 daerah untuk bermukim bagi Yahudi: Uganda, Argentina dan Palestina (mungkin juga Afrika Selatan). Zionis Israel (Gerakan Politik) lebih memilih tanah Palestina atas dasar sejarah mereka keturunan Nabi Ya’qub. Ini tidak fair kata Shihab. Sebab bila dalam al-Qur’an disebutkan bahwa Tuhan telah menjanjikan tanah Palestina kepada Nabi Ibrahim, ini tentu juga termasuk untuk orang2 Arab. Yahudi tak mau mengakui Arab sebagai keturunan yang sama sebab Arab, di mata Yahudi, berasal dari isteri Nabi Ibrahim yang berstatus budak (status rendah) mengingat Yahudi menganut system materilinial. Inilah sombongnya Yahudi kata Shihab yang nampak sedikit ‘mendidih’ darah Arabnya.
Lalu apa kesimpulan kita dari cerita di atas? Rupanya peradaban dunia juga dihiasi dengan fictional entity (dalam istilah Yuval Noah Harari, professor sejarah di Yerusalem). Fictitional entity adalah cerita mitos yang dibangun oleh suatu kaum entah berdasarkan genealogi, teologi atau ideologi untuk menunjukkan jati dirinya di dunia sehingga mereka menjadi bersemangat. Israel membangun fictitional entitynya mula2 dari genealogi-teologi terus kepada ideologi. Kelompok orang ini hidup dengan mitos seperti itu dan memang dipertahankannya. Istimewanya kitab suci menjadi bukti, sejarahnya dapat diverifikasi dan fictitional entitynya dari mitos menjadi jati diri. Bukan hanya Israel, Iran juga punya fictitional entity semacam itu: leluhur mereka jago2 perang berdarah leluhur Sasania-Persia, walaupun mereka bukan keturunan Arab tetapi mengklaim diri sebagai penerus misi Ali bin Abi Thalib. Jadi perang Teluk sekarang antara Iran dan Israel, menurut saya, sama2 memiliki mitos yang dijaganya dan banyak orang tak melihat hal itu: sementara Amerika hanya punya kepentingan minyak (perang permainan kata Rocky Gerung). Jadi konsep Bani Israil, Yahudi dan Israel modern ibarat tali berpilin tiga, panjang dan saling mengunci, ia punya akar historis hingga leluhur. Konsep ‘tali berpilin tiga’ semacam itu menjiwai semangat perang bagi Israel dan Iran dengan perspektif yang berbeda pula.
Lalu apa hikmah yang dapat dipetik? Posisi kita Indonesia di mana? Mau dimitoskan Gajah Mada dengan Mojopahit untuk disusun menjadi fictitional entity? Ternyata para pemimpin kita sekarang umumnya pragmatis-opportunis (mencari keuntungan di saat berkuasa). Tak ada ‘tali berpilin tiga’ historis, genealogis apalagi teologis sebagaimana yang dibanggakan oleh Iran dan Israel yang dapat dimitoskan untuk disusun menjadi fictitional entity. Kita rapuh. Rapuh. Ingat peta geopolitik dunia pasca perang ini nampaknya akan bergeser. Kita akan beli senjata kemana? Senjata Amerika ternyata kalah canggih dengan Iran. Lalu duit belanja untuk Alusista trilyunan selama ini menjadi percuma? Hati militer kita boleh jadi mulai lemah melihat kelemahan Alusista yang telah dibeli dari Amerika yang terbukti kalah jauh tak sebanding dengan persenjataan Iran (rudal balistik lintas negara/benua). Semua menjadi terpatahkan pasca perang Teluk ini. Paradigma suporioritas militer Amerika selama ini mulai bergeser (mencontoh teori shifting paradigm oleh Thomas Kuhn), ini seharusnya membuat kita sadar diri terutama sekali karena nasionalisme kita memang tidak berurat berakar secara genealogis, apalagi punya akar teologis tetapi hanya akar ideologis sementara pemimpinnya opportunis-pragmatis. Contoh: MIP di Sulawesi siapa yang diuntungkan? Whoosh siapa yang diuntungkan? MBG terus berjalan siapa yang diuntungkan? Cobalah anda pikirkan di bulan Ramadhan ini!
Demikianlah diskusi kita Jum’at ini dari perspektif keilmuan Prof. Quraysh Shihab ditambah dengan komentar dari saya. Terimakasih telah membaca. Wassalam, Amhar Rasyid, Jambi.