JAMBI – Rendahnya minat baca dan semakin dominannya konsumsi konten digital instan di kalangan pelajar menjadi tantangan serius dalam pembangunan kualitas sumber daya manusia di Provinsi Jambi. Fenomena ini dinilai berpotensi memengaruhi kemampuan berpikir kritis, budaya diskusi, serta produktivitas intelektual pelajar.
Berdasarkan berbagai temuan di lapangan, banyak pelajar saat ini lebih banyak mengakses informasi melalui media sosial dibandingkan membaca buku, artikel ilmiah, atau sumber pengetahuan yang kredibel. Kondisi tersebut mengakibatkan munculnya budaya instan dalam memperoleh informasi serta meningkatnya risiko penyebaran hoaks dan disinformasi di kalangan generasi muda.
Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan (PIP) PW IPM Jambi, Clara Nur Khoirunnisya, menegaskan bahwa literasi harus menjadi perhatian bersama seluruh elemen pendidikan dan organisasi pelajar.
“Literasi bukan hanya tentang kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami, menganalisis, dan menggunakan informasi secara bijak. Di tengah derasnya arus informasi digital, pelajar dituntut memiliki nalar kritis agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum tentu benar,” ujar Clara.
Menurutnya, tantangan literasi yang dihadapi pelajar saat ini tidak hanya berkaitan dengan rendahnya budaya membaca, tetapi juga menurunnya minat berdiskusi dan mengembangkan gagasan secara mendalam.
“Kita melihat banyak pelajar yang cepat mendapatkan informasi, tetapi belum tentu mampu mengolah informasi tersebut menjadi pengetahuan yang bermanfaat. Oleh karena itu, budaya membaca harus dibarengi dengan budaya berpikir kritis dan budaya menulis,” lanjutnya.
Clara menilai bahwa sekolah, keluarga, dan organisasi pelajar memiliki peran penting dalam menciptakan ekosistem literasi yang sehat dan berkelanjutan. Menurutnya, organisasi pelajar seperti IPM harus menjadi ruang tumbuhnya tradisi intelektual di kalangan pelajar.
“IPM harus hadir sebagai rumah bagi pelajar yang ingin belajar, berdiskusi, menulis, dan berkarya. Literasi perlu menjadi gerakan bersama yang tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi mampu membentuk karakter pelajar yang berilmu, kritis, dan berkemajuan,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mendorong penguatan program-program literasi yang mampu menjangkau pelajar hingga tingkat daerah, seperti kelas menulis, bedah buku, diskusi publik, perpustakaan digital, hingga kampanye literasi digital yang berorientasi pada penguatan kemampuan berpikir kritis.
“Kami ingin membangun generasi pelajar yang tidak hanya menjadi pengguna informasi, tetapi juga mampu menjadi pencipta gagasan dan solusi bagi berbagai persoalan di masyarakat. Literasi harus menjadi fondasi lahirnya pemimpin-pemimpin masa depan yang berintegritas dan berwawasan luas,” katanya.
Sebagai Ketua Bidang PIP PW IPM Jambi, Clara berharap penguatan budaya literasi dapat menjadi agenda strategis yang terus dikembangkan dalam gerakan pelajar Muhammadiyah di Jambi.
“Masa depan daerah dan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas literasi generasi mudanya. Ketika budaya membaca, menulis, dan berpikir kritis tumbuh dengan baik, maka akan lahir generasi yang siap menghadapi tantangan zaman serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat,” pungkasnya.
Melalui berbagai program penguatan literasi yang berkelanjutan, PW IPM Jambi berkomitmen mendorong lahirnya pelajar yang literat, berkarakter, dan mampu menjadi agen perubahan di tengah perkembangan era digital yang semakin dinamis.