AMHAR: OTOBIOGRAFI IV (AL-AZHAR-McGILL)


Oleh: Amhar Rasyid
Pekan Baru, 26 Juni 2026

Assalamu’alaikum wr,wb
Yth Bapak2/Ibuk2 dan adik2 semuanya baik Muslim maupun non-Muslim di mana saja berada. Semoga kita sehat2 saja. Dalam tulisan berikut izinkan saya dari Riau mengisahkan tentang riwayat hidup saya khususnya terkait Kuliah di al-Azhar, Mesir dan di McGill, Canada. Apa pelajaran yang bisa diambil dari otobiografi ini? Di mana letak beda metode Pendidikan di Timur Tengah dengan di Barat? Apa yang diharapkan oleh Pemerintah Indonesia, khususnya oleh Departemen Agama, dengan mengirim putera-putri Indonesia studi Islam ke Barat? Pembahasan berikut saya bagi kepada dua bagian: pertama kuliah di Mesir, dan kedua, kuliah di McGill.

Kuliah di Universitas al-Azhar, Mesir. Pada bulan Juli 1978, sebagaimana telah saya ceritakan pada Otobiografi III yang lampau, saya pertama kali menginjakkan kaki di Tanah Fir’aun yang penuh sejarah tua tersebut. Turun dari pesawat Pakistan International Airlines (PIA) di Bandara Cairo hati saya gembira luar biasa dan air mata haru lalu menetes di pipi. Cita2 ingin kuliah di Mesir akhirnya tercapai juga, walaupun Bapak sudah meninggal dan Ibu serta adik2 ditinggalkan di kampung halaman dalam keadaan ekonomi yang sulit. Keinginan saya untuk kuliah di al-Azhar tetap menyala.

Bagaimana system kuliah di al-Azhar? Perlu diketahui lebih dahulu bahwa al-Azhar didirikan oleh Daulah Fathimiyah di Mesir sekitar tahun 972 M pada waktu itu Pemerintahannya berhaluan Syi’ah. Dan juga penting diketahui di masa saya kuliah di atas posisi Rektor al-Azhar, masih ada posisi tertinggi namanya Syaikh al-Azhar setingkat jabatan Meneteri. Universitas al-Azhar bukan hanya mengajarkan ilmu2 keislaman, tetapi juga ilmu2 umum seperti ilmu Kedokteran dan lainnya. Kampus al-Azhar untuk mahasiswa laki2 terletak di tengah kota Cairo, sementara kampus mahasiswi jauh letaknya di luar kota sekitar 7km. Semua dosen2 dan Guru Besar di kampus Mahasiswa terdiri dari laki2.

Tidak ada pada masa itu jadwal waktu pendaftaran mahasiswa baru seperti di tanah air. Bilamana sudah sampai di al-Azhar siapa saja boleh ikut kuliah, boleh masuk kelas, tidak ada absen kelas, tidak pernah dosen bertanya tentang identitas mahasiswa. Kuliah selalu berlangsung dan tersedia buat siapa saja yang hadir meskipun anda turis satu hari di Cairo juga boleh masuk.

Dosen al-Azhar banyak yang berpakaian Arab mirip jubah besar tinggi, tutup kepala mirip serban, putih sekeliling kepalanya dan merah pada puncak atasnya. Bilamana dosennya tuna netra, dia biasanya dibimbing oleh seorang anak kecil (setingkat SMP) masuk lokal kuliah, memakai tongkat dan berkaca mata hitam. Kuliah diberikan biasanya dengan bahasa Mesir pasaran (‘ami). Artinya bilamana anda dari Indonesia telah fasih berbahasa Arab yang tepat secara qawa’id, nahwu sharaf, bahasa resmi ala kitab2, maka sesampai di Al-Azhar, bila dipraktekkan kefasihan anda, mungkin akan ditertawakan oleh teman2, dan boleh jadi teman2 akan sinis sambil mengucapkan ‘Shadaqallahul ‘azhim… sebagai penutup omongan anda. Untuk memahami bahasa ‘ami (populer) juga memerlukan waktu yang lama untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial.

Kuliah di al-Azhar gratis. Tidak pernah mahasiswa membayar uang kuliah. Sejauh yang saya dengar, al-Azhar banyak mendapat dana zakat dari negara2 Arab kaya minyak, dan al-Azhar dikabarkan juga memiliki banyak sumber financial di luar kota Cairo. Diktat kuliah dicetak biasanya di atas kertas kuning, distensil, belum pula dijilid dan keluarnya dari percetakan tidak pula sekaligus, hingga membuat dahi saya mengkerut bila membacanya, yang lebih rumit lagi bilamana tak jelas beda antara huruf ba dan ta sebab titik2 huruf sudah kabur tak mudah dibaca. Sering kesal hati saya kalau sudah membaca diktat kuliah.

Bagaimana system ujian di al-Azhar? Biasanya anak2 Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Thailand/Pattani dan Brunei) diwajibkan menghafal 3 juz al-Qur’an setiap semester. Masing2 mahasiswa dipanggil ke depan kelas untuk membaca al-Qur’an di luar kepala di depan dosen penguji yang biasanya buta dan berkaca mata hitam. Bilamana dosen telah memulai menyebut pangkal ayat, maka mahasiswa yang diuji harus meneruskannya hingga distop oleh dosen penguji. Boleh jadi hingga setengah halaman harus dibaca di luar kepala. Apakah anda berani coba? Sementara ujian tulisan biasanya diadakan di bawah tenda2 militer di tanah lapang terbuka. Pernah dihadirkan mahasiswa tahanan politik (Tapol). Dia mungkin dijatuhi hukuman pidana subversive atau makar sekian tahun, tetapi hak2nya untuk kuliah di perguruan tinggi tetap dijamin negara. Pernah suatu kali di bawah tenda militer, di sisi saya, terlihat seorang mahasiswa tangan kirinya diborgol ke kaki meja, dan tangan kanannya menulis jawaban ujian, sementara CPM berdiri pakai pistol di kiri dan kanannya selama dia ujian. Usai ujian, dia dimasukkan lagi ke dalam mobil tahanan yang mengantarnya. Waktu berlangsungnya ujian tertulis di al-Azhar sangat ketat. Pergi ke wc diawasi, pintu wc harus tetap terbuka, diintai oleh pengawas yang mengantar dari kejauhan. Tidak ada kesempatan untuk nyontek, sangat ketat, semua penjaga ujian terdiri orang laki2 berbadan besar, peserta ujian duduk sangat berjauhan satu sama lain. Bila ketahuan membawa catatan, dirampas, dikoyak koyaknya kertas ujian, maka habislah gugur tahun itu. Anak2 Mesir penuh ketakutan, tetapi otak mereka sangat kuat untuk menghafal kalimat perkalimat. Sangat jarang jawaban yang bersifat analisis, yang menjelaskan sebab-akibat. Nalar tidak diprioritaskan, tetapi yang penting daya hafal.Bagaimana ujian disertasi Quraysh Shihab di al-Azhar sekitar tahun 1980an saya tak sempat melihatnya walaupun saya sempat melihat ada tanda pengumuman tertulis di luar Gedung Rektorat bahwa bakal ada Ujian Terbuka Doktor bagi Quraysh Shihab. Mungkin Najwa Shihab saat itu masih gadis kecil di Indonesia.

Pernah suatu kali saya terlambat pulang ke Mesir dari Saudi, dan waktu untuk ujian semester sudah dekat untuk mata kuliah Ushul Fiqh yang sangat sulit. Maka apa kiat saya? Saya ambil diktat kuliah di asrama, saya pilih satu paragraph saja, yakin 1 alinea saja yaitu tentang dalil2 dari Imam al-Baydhawi (ahli Ushul Fiqh), selebihnya isi diktat yang tebal itu tak saya baca dan tidak dihapal. Setelah tiba waktunya untuk ujian tertulis, langsung saja saya nekad menulis di atas kertas jawaban dari hafalan yang 1 alinea itu saja, tak peduli entah apa soal ujiannya, saya tak baca sedikitpun. Yang penting jawabannya apa yang telah saya hafal baris perbaris persis mirip pantun. Eee ternyata setelah nilai ujian Ushul Fiqh keluar, nilai saya Jayid Jiddan (Very Good)…alhamdulillah lulus..tapi saying sekali saya tak dapat ilmunya. Mungkin dosennya mengira waktu memeriksa berkas ujian bahwa si Amhar (Indonesia) ini salah memahami soal, tetapi anaknya pintar dan jawabannya persis sama dengan isi diktat yang dikarangnya tanpa salah sedikitpun. Itulah kiat di saat saya kepepet. Itulah kisah kuliah di al-Azhar yang mementingkan hafalan mahasiswa.

Dan bagaimana pula system kuliah di Universitas McGill di Montreal, Canada? Kuliah Islam di Barat umumnya masih dipandang negative, dicurigai oleh banyak kaum Muslimin. Masih banyak orang yang mempertanyakan untuk apa belajar Islam ke Barat? Apa yang dipelajari di sana? Kenapa belajar Islam kepada orang non-Muslim atau Orientalis? Kenapa tidak belajar Islam ke Timur Tengah saja? Untuk menjawabnya, saya akan berikan sesuai pengalaman saya.

Belajar Islam ke Barat memang jauh berbeda dengan belajar ke Timur Tengah khususnya di al-Azhar, Mesir. Dosen bule bila mengajar, dia berusaha untuk mengasah daya kritik mahasiswanya. Jangan hanya menghafal, meniru saja bunyi kalimat, dan mengiyakan saja isi buku. Dosen bule memberikan kuliah terutama untuk membuka ruang diskusi, memperdebatkan isi kuliah, mempertanyakan isi buku, mendiskusikan teori2 para ahli. Bila kita menerima teori/pendapat seorang pakar, lalu apa alasan kita? Kenapa kita menerimanya atau kenapa menolaknya? Di mana segi lemahnya teori tersebut atau di mana segi kuatnya? Jadi dosen mengajar mahasiswanya berpikir bebas, mandiri, tidak terkurung oleh cara berpikir Tradisi, berani berbeda tetapi argumentative. Cara mengajar seperti itu akan membuat mahasiswa semakin dewasa, semakin berpikir mandiri, bertanggung jawab. Nalar kita dipaksa jalan, dan memang itulah yang diharapkan oleh Pemerintah (Departemen Agama) bila telah pulang ke tanah air nanti: jangan menjadi Muslim fanatic, kaku, yang benar pendapat sendiri, orang lain salah semua, pokok ee begitu bunyi ayat dan Hadis..tamatlah semua yang berbeda dengannya. Ini contoh sikap yuang ingin dikikis dari pergaulan antara umat beragama.

Apa mata kuliah yang dipelajari di Barat? Di Barat bukan menghafal al-Qur’an seperti di al-Azhar tetapi menganalisa isi ajaran al-Qur’am sejauh ia logis dan empiric. Apa maksudnya? Logis maksudnya masuk akal, dan empiric artinya bisa dialami di alam nyata oleh semua orang. Maka kuliah Islam di Barat tidak mempertanyakan masalah keimanan kepada yang ghaib2, bukan meragukan Rukun Iman yang 6, bukan mempersoalkan ‘aqidah, tetapi mempelajari persoalan2 duniawi seperti Hukum Islam non-ubudiyah mahdhah, Pendidikan Islam, ekonomi Islam, politik Islam, Historiografi, Tafsir dan Hermeneutic, Tasawwuf, Sejarah Islam, Inter Cultural-Studies, Seni Islam, Kaligrafi, Hikayat, anthropologi Islam, Sekte2 dalam Islam, Islam versus Kolonialisme, Imperialisme, suku2 Minoritas Muslim dan Feminisme, Islam di Eropa dan di Amerika dan lainnya. Ini ditunggu hasil studinya oleh Pemerintah RI bila telah tamat dari Barat. Jadi bilamana alumni Barat diajak membicarakan persoalan umat di Indonesia dalam suatu rapat nanti, alumni ini tidak berpikiran kaku, sudah terbiasa menerima pendapat orang lain yang berbeda, tidak selalu berdasar kebenaran harfiah kata al-Qur’an, kata Hadis, kata Imam Mazhab…tidak mencap orang lain SALAH dan Kafir. Cara berpikir ini nampaknya yang diinginkan oleh Departemen Agama khususnya: sikap toleran menghadapi perbedaan.

Terakhir untuk apa belajar Islam kepada non-Muslim? Sekarang dunia ilmu pengetahuan sudah semakin terbuka. Banyak sarjana2 non-Muslim yang mahir menguasai bahasa Arab, sangat dalam ilmu pengetahuannya tentang hukum Islam. Mereka sangat mendalami pola pikir dan teori2 besar dalam pemikiran Islam baik yang klasik maupun yang kontemporer. Ini perlu bagi kita dalam melihat berbagai persoalan umat Islam. Kata sejarawan Prof. Taufik Abdullah, pendapat non-Muslim perlu bagi kita, sejauh ia bisa membantu kita mempertajam cara kita dalam melihat persoalan2. Jadi mahasiswa Indonesia di Barat berguru kepada Orientalis, bukan belajar mengaji al-Qur’an, belajar solat, belajar halal-haram, belajar Rukun Iman dan Rukun Islam, tetapi belajar cara menganalisa, cara melihat persoalan dengan spektrum yang lebih ilmiah, agar dapat melihat persoalan2 umat dengan scope yang lebih luas, dengan cara berpikir yang argumentatif.

Kesimpulan. Studi Islam di Timur dan di Barat sama2 mengandung manfaat, hanya saja di Barat lebih diutamakan cara berpikir ilmiah, filosofis, argumentative, daya nalar kritis, berani mempertanyakan kebenaran2 yang ada dalam Tradisi sendiri. Akibatnya mahasiswa2 Indonesia dari Tradisi NU, setelah tamat dari Barat mulai memeprtanayakan kebenaran2 dalam Tradisi NUnya. Demikian pula yang Muhammadiyah. Oleh2 belajar ke Barat, ialah memboyong pulang ‘pisau analisis’ ala Barat. Sedangkan oleh2 belajar Islam ke al-Azhar adalah cara belajar normative yang memboyong pulang ke tanah air cara berpikir ‘yang sulit terbantahkan’. Umumnya begitu yang dirasakan. Maka teori Integrasi-Interkoneksi oleh Amin Abdullah adalah contoh bagus dari hasil studi ke Barat dan ia merupakan salah satu terobosan, ‘jalan keluar’ untuk ‘mendobrak’ truth-claim (benar sepihak) bagi mereka yang masih gigih mempertahankan metode bayani. Bila anda bertanya pada saya yang pernah kuliah di al-Azhar dan di McGill: Pilih yang mana? Keduanya sama2 berguna tetapi al-Azhar berguna ketika umur masih mud abelia remaja yang memerlukan ‘Pembinaan Iman, akhlaq dan mental’, sementara McGill juga diperlukan bilamana setelah dewasa di mana cara2 berpikir yang logis dan argumentative lebih diprioritaskan.

Significance of Issue (Hikmah). Mungkin karena kurang dilatih berpikir futuristic di al-Azhar, sehingga Uda Ridha Muhammad (di Depok) seorang alumni al-Azhar tahun 1980an, pernah mengatakan bahwa alumni2 al-Azhar tidak pernah diarahkan dari Cairo agar nanti setelah pulang ke tanah air, sebaiknya berjuang di Pusat, di DKI, rebut posisi2 strategis, kembangkan bakat dan minat Azhariyah masing2. Arahan futuristic ini yang tidak ada dari kakak2 senior. Akibatnya suara keilmuan dan peran alumni al-Azhar kurang ‘terdengar’ di pelosok tanah air.

Terimakasih pada Bapak2/Ibuk2 dan adik2 semuanya yang telah membaca tulisan saya dalam Otobiografi IV ini. Mohon maaf bila ada kesalahan. Pamit, Amhar Rasyid, Jambi.

*Silakan Share