Oleh: Amhar Rasyid
Jambi, 4 September 2026
Assalamu’alaikum wr,wb Bapak2/Ibuk2 dan adik2 muda baik Muslim maupun non-Muslim di mana saja berada. Semoga kita semua sehat2 saja. Innaalillahi wa Innaa ilaihi roji’un telah berpulang kerahmatullah kiyai kami yang sangat dekat di hati rakyat Jambi bernama Kiyai Lohot Hasibuan. Dia meninggal baru saja 2 hari yang lalu yaitu pada hari Rabu tanggal 2 September 2026 dalam usia sekitar 79 tahun di rumah sakit Tentara di kota Jambi dan dikebumikan pada hari yang sama di dekat Pesantren miliknya di kota Muara Bulian, sekitar 60 km dari kota Jambi. Perlu dijelaskan bahwa tulisan ini sudah pernah dimuat sebelumnya dalam tulisan mingguan saya tanggal 29 May 2026 yang lalu dari hasil wawancara pribadi saya dengan almarhum di rumahnya. Kini sebagai kenang2an hidup bagi saya dan bagi anda di mana saja berada, tulisan tersebut ditayangkan kembali Jum’at ini dengan sedikit perubahan redaksional, mudah2an tulisan ini bermanfaat bagi kita bersama dengan judul In Memoriam yang berarti ‘Untuk Mengenang’.
Di Sumatera, beda provinsi menampakkan beda suku, beda etnis, beda logat beda dialek, beda budaya bahkan beda alam namun ada saja cerita lucu. Secara geografis nampak berbeda antara Aceh, Melayu Deli, Melayu Riau, Tapanuli, Minang, Jambi, Sumsel, Bengkulu, dan Lampung. Sejak zaman Hindia Belanda, orang Sumatera khususnya melihat suku Batak sinonim dengan Kristen, makan babi dan makan anjing: ini biasanya merujuk kepada etnis Batak Karo di utara Tapanuli. Gus Durpun pernah berkelakar bahwa pada suatu hari seekor anjing hitam tak mau diperintah tuannya, tiba2 tuannya bilang: “Awas ada Batak di belakangmu!” maka anjing itupun langsung melompat lari ketakutan, takut disembelih. Itu lelucon tokoh NU yang mana sekarang jenazah sang tokoh menjadi bahan lelucon pula. Kata seorang tokoh NU, setelah sekian tahun dikuburkan, mayat Gus Dur hingga kini dalam kubur belum pernah ditanyai oleh Malaikat. Kenapa? Karena Malaikat diyakini akan mendekati mayat bilamana orang terakhir yang mengantar ke kuburan sudah berjarak 7 langkah menjauh dari kuburan tersebut, sementara kuburan Gus Dur masih ditunggui pengagumnya siang malam, jadi Malaikat tak punya peluang untuk bertanya. Itu cuma guyon. Dalam tradisi NU memang banyak lelucon termasuk lelucon2 dari Kiyai Lohot semasa hidupnya.
Pada umumnya sejak dulu orang Minang, Jambi dan Sumsel memandang orang Tapanuli, walaupun sebangsa, adalah orang Utara yang masih memakai Tanda Salib. Anggapan semacam itu makin lama makin bergeser terutama karena masyarakat Sumatera semakin mengenal nama2 tokoh asal Tapanuli, tokoh politik dan intelektual yang beragama Islam di pentas nasional seperti alm. Jend. Abdul Haris Nasution, Prof. Harun Nasution tokoh ternama di UIN Jakarta khususnya dan seluruh Indonesia umumnya, Ray Rangkuti, dan sekarang orang mengenal K.H. Abdul Somad Batubara/UAS (kiyai/penceramah kondang). Ternyata hari demi hari, suku etnis Tapanuli, Batak secara umum, nampaknya semakin dekat di hati terbukti kami di Sumatera saling membaur, saling bertegur sapa. Karena membaur, bahkan kini di kota Jambi sudah nampak pula berdiri Gedung Pertemuan Karo Muslim di Mayang Ujung/Jl.Lingkar Barat kota Jambi. Atas pertimbangan itu, tulisan ini sengaja dibuat dari pendekatan sosiologi keagamaan bukan untuk tujuan diskriminatif tetapi lebih kepada curahan pengalaman penulis bersama seorang kiyai asal Batak di Jambi, orang umum menyebutnya dengan nama Kiyai Lohot Hasibuan, perokok berat, berwatak polos dan humoris. Dengan In Memoriam ini, semoga pembaca senang membacanya dan diharapkan persahabatan antar suku dan antar agama semakin kokoh.
Beberapa bulan sebelum meninggal, terdengar kabar pada suatu hari bahwa Kiyai Lohot sakit, maka saya cepat2 datang ke rumahnya, alhamdulillah saat itu masih sehat, masih suka ceria bergurau dan rokoknya tak pernah padam sejak puluhan tahun. Lalu kami berdua mulai bercerita kenangan masa silam dan saya aktif mewawancarainya meniru metode Najwa Shihab. Berikut ini adalah ringkasan dan ulasan atas hasil wawancara antara saya dengan Kiyai Lohot pada hari Sabtu tanggal 23 May 2026 silam di rumahnya di belakang Mesjid Ibu, Lorong Gotong Royong, Sipin, Jambi. Lohot adalah seorang ulama terkenal di Jambi, penceramah kondang, dekat di hati rakyat jelata, dikenal oleh Ibu2, pedagang kecil, PNS, Petani, hingga Pejabat di kantor2 Bupati dan kantor Gubernur Jambi. Saya sendiri mengenal almarhum sejak tahun 1985 karena kami sama2 menjadi dosen di Fakultas Syari’ah.
Lohot dilahirkan katanya sekitar tahun 1947 di Sibuhuan. Sibuhuan adalah ibu kota Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara, dekat dengan kota Padang Sidempuan, Tapanuli Selatan. Lohot lulus Sarjana Muda di UNUSU (Univ. NU Sumatera Utara di Sidempuan) sebab pada masa itu belum ada jenjang S1 di Medan katanya. Jenjang S1 hanya ada di IAIN Aceh dan di IAIN Padang, oleh sebab itu dia berkelana dengan ijazah BA (Sarjana Muda).
Dengan bermodalkan ijazah tersebut, Lohot mengembara ke Jambi pada waktu usia muda, dia naik bis Sibualbuali, kemudian bekerja semrawutan lalu menikah dengan gadis Jambi, terakhir menjadi dosen IAIN Jambi dan pensiun. Sekian puluh tahun menetap di Jambi, tiada hari tanpa berdakwah Islamiyah baginya. Dengan semakin terkenalnya nama Kiyai Lohot Hasibuan di Jambi, anggapan negative atas etnis Batak semakin positif. Bagi saya sebagai penduduk Jambi yang berdarah Minang, Kiyai Lohot ibarat Matahari dari Utara. Ia bersinar dari Utara dengan melantunkan ayat2 suci al-Qur’an dan Sunnah Nabi ke bagian selatan Sumatera di mana akhir hayatnya juga diiringi jutaan air mata, seakan ikut membanjiri air Sungai Batanghari. Tidak salah bila orang Jambi bilang: ‘Siapa yang pernah meminum air sungai Batanghari, maka dia kelak akan kembali lagi kesini’.
Waktu saya wawancarai, Lohot memulai kisah hidupnya dengan berlinang air mata. Mula2 datang ke Jambi, katanya, dia naik bis Sibual Buali dari kampungnya Sibuhuan selama 3 hari/malam perjalanan, 4 x naik pelayangan menyeberang sungai, tak tahu tujuan, tidak punya sanak saudara dan tidak punya teman, hidup sebatang kara, numpang sana numpang sini. Mula2 tiba di bumi Jambi, dia tinggal di terminal bis Kebun Jahe (terminal lama) kota Jambi bersama preman2 terminal yang umumnya suka minum tuak dan berjudi. Karena tak cocok dengan kehidupan terminal, Lohot lari ke Nipah Panjang (kota kecil di pinggir pantai Timur Sumatera), dia bekerja di kapal mengangkut beras ke Tanjung Pinang (dekat Singapore). Setelah lama berselang, Lohot tidak merasa cocok pula dengan cara kehidupan anak2 kapal karena ada yang suka mabuk2 minum alcohol, main perempuan, dll. Maka Lohot memutuskan ingin pulang kembali lagi ke Jambi. Dari kota Jambi Lohot terus ke desa Tenam, Batang Hari (sekitar 60 km arah Barat kota Jambi), sebab didengarnya di desa Tenam telah lama bermukim beberapa orang Tapanuli yang bekerja di perkebunan getah/karet. Lohot ingin bergabung dengan mereka sesama orang Tapanuli (dalam bahasa Batak Toba disebut Parhuta-huta=yang meninggalkan kampung halaman).
Kendati sudah bergabung dengan teman2 asal Tapanuli di desa Tenam tetapi Lohot mengaku pada mereka tak tamat SD sebab Lohot takut tak dibawa berteman nanti bila ketahuan bertitel Sarjana Muda. Namun ketika suatu saat Lohot sedang mandi berenang di sungai Batanghari, katanya, tasnya ditinggalkan di pinggir sungai, ee rupanya salah seorang teman Tapanulinya mengintip isi tas Lohot, nampak di dalamnya ijazah Lohot sudah Sarjana Muda dan mereka segan, akibatnya ‘parhuta-huta’ berpisah. Karena sudah ketahuan punya ijazah sarjana muda ilmu agama Islam, Lohot kemudian disuruh oleh Kepala Kampung untuk mengajar agama di sekolah2 di desa Tenam dan desa Malapari (sekitar 60 km arah Barat kota Jambi di pinggir sungai Batanghari). Antara desa Tenam dan desa Malapari dulu hanya terdapat jalan tikus, tiap hari dilalui Lohot bolak-balik berjalan kaki, juga sambil berdakwah/ceramah agama. Karena pintar berdakwah dan fasih menyebut kalimat2 Arab, nama Lohot semakin tersohor di seantero kampung itu. Anehnya, kata Lohot sambil tertawa kepada saya, Kepala Dusun/Pasirah Desa Tenam masih meragukan dengan keislaman Lohot dan sempat bertanya apakah Lohot betul2 telah bersunat/belum? Maklum orang Batak di mata penduduk asli Jambi.
Kian lama penduduk desa Tenam dan Malapari semakin mengagumi Lohot yang berambut gondrong, semakin dekat di hati warga. Lohot pernah suatu kali dipasangkan berceramah dengan Kiyai Jalal seorang ulama terkenal di desa Terusan, Jambi. Ini terjadi pada acara Maulid Nabi yang berlangsung hingga sampai larut malam. Katanya acara Maulid berlangsung sangat meriah, berjubel, penuh masjid, bahkan karena saking lamanya Panitia harus sampai 3x menambah minyak lampu petromaks pada malam itu yang belum dilayani PLN. Nama Lohot sebagai pendakwah semakin tenar meskipun badan masih kecil dan rambut masih gondrong hingga bahu katanya.
Walaupun sudah mulai terkenal di pedalaman desa Jambi, Lohot ingin juga pulang kampung halamannya di Sibuhuan. Diapun memutuskan untuk pulang kampung. Tetapi di kampung dia malah bertani menanam kopi. Selama tinggal di kampung, katanya, sering hal magis terjadi. Lohot pernah 3 x sehari selalu ketemu ular di kebun, di perjalanan pulang dan bahkan di sekitar rumahnya sendiri. Suatu kali Lohot sakit demam di rumahnya di Sibuhuan, tiba2 seekor ular besar terasa berat tidur melingkar di atas selimutnya. Lohot kaget dan terbangun, ditariknya selimut tersebut, dan ular itupun lari masuk lobang lantai papan rumahnya menghilang. Aneh tapi nyata: cerita ini didengar langsung dari sumber utama terpercaya: seorang kiyai tanpa bohong (Data Primer). Hanya saja kalau cerita ini didengar oleh Gus Dur maka ceritanya akan lain. Boleh jadi Gus Dur akan guyon mengatakan bahwa ular itu datang tidur melingkar di atas perut Lohot karena sudah lama rindu berpisah merantau ke Jambi dengan ‘ular kecil’ di bawah pusat Lohot. In Memoriam.
Karena peristiwa ular tersebut, kata Lohot, lalu kemudian dia dinasehati oleh Bapaknya: ‘Lohot, memang tanah kelahiranmu di Sibuhuan ini Nak, tetapi tanah hidupmu nampaknya di bagian Selatan Sumatera’, kata Bapaknya. Daerah di Selatan Sumatera itu tidak dikatakan dengan pasti. Hal yang sama juga dikatakan oleh ulama besar di Sidempuan. K.H. Abdul Qadir Pardede: Pimpinan UNUSU: ‘Lohot, rezeki hidupmu adalah di Selatan Sumatera’ katanya. Atas nasehat dari Bapaknya Lohot dan ulama besar tersebut, akhirnya Lohotpun kembali merantau meninggalkan kampung halamannya menuju Jambi untuk kedua kalinya, dan kebun kopinya tak tahu nasibnya lagi, kata Lohot. Lalu saya dengan senyum memberanikan diri untuk bertanya: ‘Kapan Bapak ketemu gadis Jambi?’
Ceritanya begini katanya. Setelah kembali lagi ke Jambi, timbullah keinginan Lohot untuk melanjutkan kuliah di IAIN Jambi Fak. Syariah di tahun 1971? Saat kuliah itulah Lohot menikah dengan seorang gadis muridnya, anak pedagang getah terkenal di desa itu berdarah Tionghoa. Karena sudah berumah tangga, sambil kuliah Lohot juga bekerja mencari nafkah dan jarang masuk kuliah. Sempat dia dimarahi oleh Rektor IAIN bernama Pak Munir S.A. Lohot dimarahi oleh Rektor karena kuliah hanya 2 minggu hadir dua minggu absen. Pada suatu kali Lohot ditanya oleh Rektor:”Kenapa kamu sering absen kuliah?” Jawab Lohot: “Kalau Bapak sebagai dosen terbang, sayapun ‘mahasiswa terbang’, kalau tidak demikian bagaimana saya akan membiayai rumah tangga saya?’ Mendengar jawaban itu, Rektor akhirnya mengizinkan Lohot hadir kuliah tetapi sering absen. Kemudian pak Munir tersebut dipindahkan/diangkat oleh Gubernur Jambi (Tambunan) menjabat Kepala Kantor Wilayah Agama Prov. Jambi. Sementara Rektor IAIN yang menggantikan Pak Munir ialah Prof. HMO Bafadhal. Pak HMO ingin agar Lohot menjadi dosen IAIN karena langkanya calon dosen pada waktu itu. Kata Lohot, Pak Munir memanggil Lohot ke Kannwil Agama: Lohot, katanya, kalau kau mendaftar jadi hakim Agama, nanti saya yang akan tanda tangan SKmu, tetapi kalau kau melamar jadi dosen IAIN Jambi maka HMO yang akan tanda tangan SKmu. Lohot memutuskan tak mau jadi Hakim. Saya tanya ‘Kenapa?’ Karena kerjanya menceraikan orang laki-bini….kata Lohot penuh tawa. Itulah cerita lucu Lohot yang tak pernah habis2nya.
Lalu kapan awal mula kisah romantis kenal dengan gadis Jambi? Kata Lohot dia kenal dengan anak gadis Muazzin (tukang azan) dan kebetulan sang calon isteri juga murid Lohot disekolah tempat dia mengajar, sebelum sang calon isteri ini melanjutkan studinya di Sekolah Menengah Muhammadiyah di tengah kota Jambi. Sebagaimana diketahui, Lohot sebagai guru dan juga penceramah serta Imam solat yang sering menyuruh mu’azzin untuk azan. Tukang azan inilah yang bakal menjadi mertua Lohot. Dia punya anak perempuan 4 orang bersaudara. Yang paling besar sudah menikah. Yang nomor 2 inilah yang dijodohkan dengan Lohot. Sementara adik2nya 2 perempuan lagi masih kecil2. Mertua Lohot, sebagaimana dikatakan di atas, punya darah keturunan Tionghoa. Dulu Kakek Mertuanya adalah seorang toke China yang sudah lama bermukim di desa Tenam sebagai pedagang karet terkenal dan kaya raya. Jadi darah keturunan Tionghoa masih ada hingga kini pada isteri dan anak2 Lohot. Salah seorang puteri Lohot bernama Pakina Herliani Hasibuan (Butet), mahasiswa saya di fak. Syari’ah IAIN Jambi pada tahun 1990an? sekarang sudah menjadi ibu rumah tangga dan mengelola pesantren di Kota Muara Bulian Jambi dimana pusara ayahnya terbaring buat selamanya. Kiyai Lohot sekarang juga punya besan di kampung saya di Payakumbuh yaitu alm. Jon Afri (ex. PNS/dosen Univ. Jambi), salah seorang kakak kelas saya di PGAN Payakumbuh pada tahun 1974. Itulah lika-liku kisah hidup Kiyai Lohot. Kisah romantis ini saya letakkan di ujung cerita agar anda jangan cepat2 mematikan HP anda agar kita lama berkomunikasi. Saya butuh anda! Anda dibutuhkan karena hakikat SENI, kata Prof. Bambang Sugiharto (UNPAR Bandung), adalah Pemaknaan dari Liku2 Pengalaman Hidup. Dari awal kisah Lohot saya telah menggiring anda masuk ke dalam relung liku2 kehidupan seorang putra Batak yang mana akhir hayatnya di tanah Jambi.
Bagi saya pribadi, ada sebuah pengalaman yang sangat ‘menyentuh hati’ bersama Kiyai Lohot. Sekitar tahun 1988/1989, sebagai PNS baru, saya bersama Kiyai Lohot ditugaskan IAIN Jambi jauh ke desa Pauh, Sarolangun untuk mengantar mahasiswa KKN (Kuliah Kerja Nyata) jauh di luar kota. Kami berdua naik motor tua milik Kiyai Lohot, saya bonceng di belakang sebagai yuniornya. Tiba2 dalam perjalanan, di bawah panas terik matahari di pinggir jalan Ness, diparkirnya motornya di atas rumput di pinggir jalan aspal, lalu dari dalam kantong bajunya dibukanya amplop putih, rupanya itu adalah amplop berisi honor supervisor KKN. Dia bicara dengan logat Bataknya:” Kita bagi duit ini dulu…” katanya. Saya heran. Sebagai Yunior saya sangat terkejut, duit apa itu, sebab saya pegawai baru diangkat belum pernah menerima duit honor sebelumnya. Betul2 tersentuh hati saya yang paling dalam, heran, kagum, kenapa seorang senior mau membuka amplop dengan rela memperlihatkan isinya, transparant, polos, tulus, lalu berbagi duit dengan saya, padahal karyawan kecil seperti saya wajar bila hanya diberi duit sekedarnya oleh atasan. Selama di perjalanan, bensin motor dia yang beli, makan siang dia pula yang traktir di desa Pauh, sebelum Sarolangun. Kiyai Lohot memang punya kepribadian yang menarik…menyentuh hati…tetes air mata saya bila teringat kepolosan hatinya. Apakah anda pernah jumpa dengan orang seperti kepribadian Lohot?
Bukan hanya dengan yunior seperti saya, Lohot juga suka berbagi rezeki dengan atasannya. Suatu kali Lohot masuk ke ruang Rektor IAIN Jambi (Dr. H. M. Chatib Quzwain) di masa itu karena baru saja usai mendapat duit banyak, sambil menawarkan dan memperlihatkan duit kepada Rektor: ‘Bapak mau uang gak?’ tanyanya. Rektorpun heran bertanya: ‘Dapat duit dari mana itu Lohot?’ ‘Diberi pak Bupati Batang Hari’ kata Lohot dengan gembira. Rektorpun tertawa mendengarnya dan mereka berbagi duit di meja Rektor. Ternyata Lohot tidak mencari kaya dan kedua mereka sudah sama2 meninggalkan dunia. Sekarang terserah kepada kita yang masih hidup ini: apakah kita bisa mencontoh kepolosan hati Lohot?
Namun ada saja cerita miring. Lohot dan seorang temannya di Fak. Tarbiyah IAIN Jambi bernama Muntholib (sekarang Profesor) juga pernah dicurigai korupsi uang KKN, katanya, oleh beberapa pejabat di IAIN Jambi. Lohot dipanggil oleh Rektor untuk menghadap dan kebetulan mereka bertemu di Fak. Ushuluddin agak jauh letaknya dari Kantor Rektor. Maka Rektor mengajak Lohot untuk sama2 naik mobil dinas dari Fak. Ushuluddin ke kantor Rektor. Tiba2 dalam mobil selera humor Lohotpun muncul sambil duduk di samping Rektor yang sedang nyetir: ‘Hebatlah aku ini, kata Lohot. Kenapa? tanya Rektor. ‘Sopir akupun Rektor IAIN’…lalu tertawalah mereka berdua dalam mobil terbahak-bahak dan tiba di kantor Rektor. Setelah masuk ke ruang Rektor, Lohotpun menjelaskan rincian uang masuk dan uang keluar, mulai dari catatan keuangan/honor pembagian untuk Rektor, PR I, PR II, PR III dan Dekan2 serta dosen2 pembimbing..semua jelas, tuntas. Tak ada yang patut dicurigai. Akhirnya Rektorpun sambil senyum bilang..kalau begitu ya sudahlah..teruslah! Lohotpun keluar dari kantor Rektor dengan lega, ternyata tak ada bukti korupsi, itu hanya tuduhan tak berdasarkan bukti.
Perokok berat. Rokoknya sejak lama Gudang Garam bungkus kertas, banyak cengkeh. Hingga bajunyapun bolong2 kena api rokok. Sekarang setelah lama pensiun dari PNS, rokok tak pernah padam di ruang tamunya bermerk Sampoerna Mild, Evolution…tanya2 rupanya harga 1 pak/10 bungkus pada waktu tulisan ini dibuat mencapai Rp 430,000…(hampir setengah juta)…aduh mahalnya rokok Kiyai Lohot di masa hidupnya.
Ada pengalaman lain di rumah Dinas Pejabat Daerah. Pada suatu kali K. Lohot katanya pernah ditahan oleh security (Satpam) di depan Rumah Dinas Bupati Batanghari, karena tidak kenal dan memakai sepeda motor tua, sendal lapuk, baju lusuh, dalam rangka mengantar mahasiswa KKN. Sudah lama Lohot ditahan di Post Satpam, tiba2 di Pintu Gerbang Rumah Dinas Bupati muncul mobil dinas. Pak Bupati kaget melihat K. Lohot ditahan oleh Satpam, maka langsung cepat2 Bupati turun dari mobil dinas dan menyalami Lohot di pintu gerbang sambil bertanya kenapa berdiri di sini? tanya Bupati. …Lalu si Satpam? Kabur menghilang..entah kemana…malu. Bupati kemudian mempersilahkan K. Lohot masuk ke rumah dinas, dijamu makan dan setelah itu Bupati bilang: sekarang tinggalkan sajalah sepeda motor tua itu di tempat parkir (Rumah Bupati)…maka selanjutnya Kiyai Lohot diantar dengan mobil dinas Bupati ke mana2 selama KKN. Cerita di atas menampakkan betapa tingginya penghormatan umat pada sosok kiyai.Kiyai yang selalu ‘menyentuh’ hati sanubari umat dalam setiap ceramah agama yang keluar dari kesatuan ucapan dan prilakunya. Kiyai Lohot mampu mewujudkan satu kesatuan mulut dan karya. Dia hebat. Yaa Allah berilah Lohot tempat terindah di sisiMu.
Sebenarnya bagaimana kiat dakwah Lohot hingga dia bersinar? Dalam berdakwah, katanya, dia tidak nampakkkan ‘warna’ (Batak). Dia Membaur. Polos, rendah hati, selalu mengenal audiens apakah mereka terdiri dari orang desa, atau petani, PNS, Pejabat, ibuk2 pejabat, atau ormas. Lohot sebagaimana telah dikatakan tidak mata duitan, tidak pernah pasang tarif, selalu humoris, bahasanya sederhana dan jelas tradisinya NU. Dengan wafatnya Lohot, akhir2 ini telah muncul pula dai2 muda asal Tapanuli di kota Jambi misalnya Ustaz Dr. Samin Batubara. Bahkan tetangga saya juga seorang da’i bernama Landong Rangkuti. Sekarang kita bisa mengatakan bahwa wajah etnis Batak bagi mayoritas umat Islam Sumatera bagian Selatan semakin bergeser dari semula sangat kekristenan sekarang semakin berangsur keIslaman. Bintang Utara semakin menampakkan dirinya dan Legacy Kiyai Lohot tetap menyala.
Apa pelajaran yang dapat dipetik? Banyak hikmah yang dapat dipetik dari perjalanan hidup Kiyai Lohot. 1. Rupanya persoalan duniawi jangan terlalu melilit pemikiran kita…biarlah yang berlalu tetap berlalu. Lohot memang pensiunan PNS, tetapi dia tak pernah memangku jabatan structural internal IAIN, tidak pernah terlibat politik kampus, dan tidak pernah merendahkan almamater 2. Humor itu menyehatkan. Tidak tegang, tidak kaku, jangan membuat perasaan terkunci, cemas. 3. Dalam masa bertugas, jangan terlalu ambisius untuk mencari kekayaan, jangan sampai dengan sesama teman kerja ribut karena DUIT. Kalau bisa uang pribadi yang sudah masuk kantongpun sebaiknya dibagi-bagi untuk orang lain. Itulah Legacy Lohot. Akibat kepribadiannya yang tidak duniawi akhirnya Lohot disayangi oleh banyak orang dan pejabat. Secara sosiologis, pandangan negative atas etnis Batak mulai bergeser. 4. Masyarakat Jambi umumnya mempunyai pandangan mulia kepada orang2 yang banyak mengaji agama Islam.
Karena rasa hormatnya yang tinggi, bahkan ada tradisi unik di sekitar wilayah daerah Jambi. Bila seorang anak muda baru saja tamat dari sekolah agama, maka status sosialnya meningkat naik di mata masyarakat. Konon, di daerah Muara Bungo dulu, anak muda yang baru tamat sekolah agama terkenal, seperti sekolah Nurul Iman di Seberang Kota Jambi, pada waktu acara2 pesta pernikahan di kampung, mereka disuruh duduk rapi berjejer dengan pakaian Islami di atas lantai papan rumah yang letaknya agak ditinggikan di tengah rumah (mirip etalase) agar mereka bisa terlihat dan bisa diintip oleh calon2 mertua yang punya anak2 gadis yang kebetulan sedang mencari calon menantu. Unik bukan? Apakah anda berniat menjadi calon menantu orang Jambi? Silahkan datang ke Jambi bila perlu seperti alm. Kiyai Lohot.
Sekianlah pembaca setia. Kisah Kiyai Lohot ini semoga menjadi tauladan bagi adik2 muda. Ketahuilah nasehat orang2 bijak yang mengatakan bahwa ‘di mana bumi diinjak, di situ langit dijunjung’..Kiyai Lohot telah mempraktekkannya dari tanah Batak ke tanah Melayu Jambi. Kita berdoa semoga arwah Kiyai Lohot mendapat tempat yang mulia di sisiNya. Selamat jalan Kiyai Lohot tersayang dan selalu tabah buat ahli waris yang ditinggalkan. Wassalam. Amhar Rasyid, Jambi.