Oleh: Amhar Rasyid
Jambi, 19 Juni 2026
Assalamu’alaikum wr,wb Bapak2/Ibuk2 dan adik2 semua di mana saja berada, baik Muslim maupun non-Muslim. Semoga anda semua sehat2 saja!
Menulis otobiografi (sejarah hidup sendiri) mirip dengan melempar batu kerikil kecil ke tengah samudera. Sudah banyak sejarah hidup ditulis orang (bagaikan Samudera), terutama sejarah hidup tokoh2 ternama, tetapi sejarah hidup saya nampaknya perlu juga ditulis, kalau bukan saya yang menuliskannya lalu siapa lagi? Sebab data empiriknya terletak di dalam memory saya dan terpaksa saya narasikan secara ‘berjenjang’. Anda juga mempunyai Riwayat hidup tetapi mungkin belum dituliskan….sayang bila tidak bisa dibaca oleh anak cucu nanti. Tetapi saya setuju dengan pendapat Popper bahwa membangun teori secara berjenjang, bukan holistic, rentan disusupi oleh mitos (Noeng Muhadjir, ‘Postpositivisme Realisme Metafisik’ dalam Antologi Studi Islam, M. Amin Abdullah, dkk (ed.), (Yogya: Sunan Kalijaga Press, 2000), p. 164. Bila otobiografi ini dimisalkan dengan membangun teori secara berjenjang, lalu di mana unsur mitosnya?
Sudah 2x saya menuliskan otobiografi dalam Medsos ini, sebagai bacaan ringan, tetapi alhamdulillah semakin banyak orang yang senang membacanya baik dari dalam dan luar negeri dan menyarankan agar diteruskan menuliskan pengalaman hidup ini. Mungkin bagi sebagian pembaca, kisah hidup saya menyentuh dan ingin dibagikan dan diteruskan kepada adik2 dan anak2 mereka agar bisa mengambil ‘pesan’ jiwa petualang yang saya miliki. Sementara pengalaman hidup anda, boleh jadi mungkin lebih menarik, lebih bermakna, lebih menyentuh bila ia sempat dituliskan, tetapi mungkin karena anda sibuk atau tak punya bakat menulis, maka kisah hidup anda bagaikan ‘mutiara terkubur dalam Samudera’: sebaiknya kita mulai menulis! Persoalannya mungkin anda punya memory tetapi tak terkatakan, sempat terkatakan tetapi tak tertulis, sudah tertulis tetapi masih berantakan. Ini mungkin persoalan kita. Boleh jadi setelah anda meninggal nanti, biografi anda yang TIDAK tertulis rentan disusupi mitos.
Dalam beberapa paragraf berikut izinkan saya bercerita tentang pengalaman hidup saya yang mungkin akan membuat anda menangis, tertawa, atau mungkin aneh. Untaian kalimat akan saya buat sedapat mungkin dalam alur cerita yang betul2 empiric tetapi berjenjang. Berawal dari masa kecil, kemudian meningkat masa remaja di Yogya dan dewasa di Mesir.
Masa kecil. Saya dilahirkan di Pekan Baru tanggal 24 Januari 1957 di Rumah Sakit Asrama Brimob di Kawasan Sukajadi kata Ibu dan Bapak saya. Sayang sekali saya hingga kini tak mengenal daerah Sukajadi tersebut bahkan lebih mengenal daerah Jambi. Baru berusia 1 tahun (1958), kata Bapak, saya harus dibawa pulang kampung ke Sungai Cubadak, Payakumbuh oleh Ibu saya karena Bapak secara politis memilih untuk ‘membangkang’ pada Bung Karno dengan menjadi tentera PRRI di hutan2: ikut kelompok pemberontak Letkol. Ahmad Husein dibawah pimpinan Perdana Menteri Sjafruddin Prawiranegara. Sesekali Ibu saya sambil membawa lauk pauk pergi menemui Bapak di hutan, di tempat persembunyiannya dekat Suliki. Saya digendong berjalan kaki berkilo2 meter oleh rombongan orang2 perempuan dari kampung saya hingga tempat persembunyian Bapak di hutan di pesisir Barat Sumatera, saya yang masih bayi dikabarkan suatu kali keletihan ‘loyo’ sehingga baju kakak saya yang menggendong kejiprat ‘kuah sate’ (bau sekali) kata mereka sambil menertawakan saya baru2 ini. Menurut sejarah, PRRI di Sumatera Barat ditumpas oleh tentara Siliwangi yang dipimpin oleh alm. Jend. A. Yani, dan sang jenderal ini akhir hayatnya juga dimasukkan ke dalam Lobang Buaya bukan oleh PRRI tetapi oleh PKI. Itulah secuil kisah politik, kemelut anak bangsa yang saya alami di masa kecil sebelum PKI.
Lalu meletuslah pemberontakan G30S PKI tahun 1965 dan Bapak saya yang sudah dipecat dari tentera PRRI diterima kembali menjadi Polri di kota Padang dan sudah mempunyai anak 3 orang. Kami pernah tinggal di asrama Polsek Harau dimana adik2 sayapun bertambah lahir 4 orang lagi. Bapak saya juga sering mengajari saya cara membersihkan senapan panjang AK-47, membongkar pistol, membersihkan peluru2. Sebagai Polisi, Bapak saya sering berangkat malam dan pulang pagi hari untuk menangkap PKI yang lari sembunyi di hutan2, apa yang dibawanya di pagi hari? Kuping2 orang dipotong sebelah kiri/kanan dengan bayonet lalu dijemurnya dipagi hari di atas atap kandang ayam. Di suatu sore saya melihat sendiri bagaimana orang2 kampung yang terlibat PKI setelah tertangkap oleh tentera di hutan, diseret oleh massa dengan motor di jalan aspal, diikat tangannya dengan tali, diteriaki ramai2, PKI..PKI…PKI… Tahun 1965 betul2 keadaan negeri ini sangat kacau dan saya sebagai anak asrama Polri menyaksikannya. Waktu itu saya masih duduk di kelas II SD dan tamat tahun 1970.
Dari tahun 1971-1974 saya sekolah di PGAN Payakumbuh: di sini kisah sedih mulai menyayat hati. Bapak saya terkena penyakit kulit menahun. Hampir sekujur batang tubuhnya dihinggapi kudis (mulai dari ubun2 di kepala hingga ujung telapak kaki, orang kampung menyebutnya sakit ‘Biring’). Bertahun2 lamanya. Kadang2 beberapa bulan sembuh, setelah itu kambuh lagi hingga ajal menjemput nyawanya pada bulan Maret 1975. Saat ajalnya tiba saya sudah jauh di Yogya dan Bapak saya meninggal di Rumah Sakit Umum Payakumbuh di saat Ibu saya pulang ke rumah sekitar jarak 10 km. Menurut Ibu saya, tiba2 datang Polisi ke rumah memberitahunya bahwa Ibu harus cepat2 pergi ke Rumah Sakit Umum. Setelah dilihat Ibu ternyata Bapak sudah diikat dagu dan kedua kakinya dengan kain putih oleh perawat jenazah di Rumah Sakit dan saya tidak menyaksikannya. Setelah dikubur dan diiringi suara tembakan oleh regu kepolisian, kata Ibu, sayapun dikirimi surat dari kampung oleh Paman tentang berita duka. (Di zaman itu belum ada HP tetapi sudah ada telegram). Surat duka via Pos tiba di PHIN Yogya setelah 15 hari meninggalnya Bapak. Rupanya pak guru saya di PHIN Yogya alm. Pak Muhklas sudah tahu duluan isi berita duka dalam surat tersebut. Untuk mengantisipasi resiko menangis lalu saya dibawanya bersama teman sekampung saya Zefrizal Noerdin (kini guru besar ilmu hukum di UNAND Padang) ke rumah sesepuh Minang Yogya yaitu Pak Djamaluddin (Orang kaya, Pemilik Toko elektronik Harapan di Jalan Mangkubumi, Yogya). Di rumah pak Djamal, di Jl. Cik Ditiro depan UII, saya disuruh pak Mukhlas banyak2 minum teh terlebih dulu. Berulangkali dia menyuruh saya minum. Pintar juga siasat pak Mukhlas. Setelah banyak minum teh lalu surat duka mulai dibacakan oleh Zef. Apa isi surat itu? Untaian kalimatnya sangat memilukan hati: ‘Kita tahu nak…kelapa jatuh, umbang (putik kelapa) juga jatuh….Allah berbuat sekehendakNya. Telah berpulang kerahmatullah Bapakmu Abdul Rasyid tanggal 15 Maret 1975 di Rumah Sakit Umum Payakumbuh…entah apalagi yang dibaca oleh Zef saya tak ingat’….. Lalu bagaimana perasaan saya? Mendengar isi surat duka tersebut, saya kaget, lalu tegak dari kursi, memutar badan arah ke dinding rumah, menangiiiis, terbayang kasih sayang Bapak selama ini, dinding rumah terasa berputar, kursi2 terasa bergerak, pusiiiing, air mata bercucuran, dunia ini seakan hampa, remuk perasaan, badan jauh di negeri orang…di tanah Jawa. Bapak tersayang telah berpulang untuk selamanya. Hanya doa yang bisa kukirimkan: ‘Allahumaghfirlahu warhamhu….Allahumaghfir waa li waalidayya warhuma kama Rabbayani shaghira’. Itulah kisah sedih pertama datang di Yogya, kebetulan saya mempunyai firasat buruk di terminal bis Bukit Tinggi sebelum berangkat ke Yogya. Akibat duka ini psikologis saya terganggu.
Beberapa bulan setelah meninggal Bapak nilai ujian saya di PHIN Yogya yang sejak awal bagus2 sekarang merosot. Lalu masuklah seorang guru Fikih kami yang sangat disegani namanya pak Bahron Idris (tinggi besar badannya, bibirnya tebal, duduk di kursi tinggi di depan kelas sambil memegang kitab Fikih, ditakuti seluruh siswa). Tiba2 dia bertanya: ‘Mana tuh Amhar?’ lalu saya menunjuk. ‘Ngempleng tuh anak’ katanya. Lalu Mahfud MD membela dari bangku belakang saya:‘ Bapaknya barusan meninggal Pak’. ‘Mesakake, Ooo kasihan kamu…sing sabharrr yaa…’kata pak Bahron. Ternyata gangguan psikologis pada anak sering mempengaruhi nilai sekolah.
Ada lagi kisah hidup saya yang sangat menyayat hati. Setelah saya memutuskan untuk sekolah di PHIN Yogya tahun 1974, sayapun berangkat dari Bukit Tinggi naik bis Gumarang Jaya hingga Lampung (belum ada saat itu bis langsung nyeberang ke Merak). Karena saya dipandang masih remaja kecil, lalu saya dititipkan oleh Bapak pada seorang Ibuk penumpang bis yang duduk di samping saya, dia lagi menggendong anak bayi. Disuruh jaga selama dalam perjalanan maksudnya. Setelah menyeberang Selat Sunda, kami naik bis lain di Merak menuju ke Jakarta. Seorang calo di atas bis dari Merak selalu mendesak saya untuk membayar tiket bis langsung ke Yogya Rp 3000. Karena calo itu terus membujuk dan mendesak juga dari Merak, akhirnya si Ibuk yang menggendong bayi itupun pasrah dan dia menyuruh saya untuk membayarnya. Setelah dibayar saya diturunkan oleh si calo di Tangerang di loket bis Tasima Expres, hari masih pagi, dan si Ibuk itupun lenyap dari pandangan saya arah ke Jakarta. Tiket yang diberikan oleh calo itupun langsung saya serahkan kepada agen bis Tasima (orang2 Tapanuli) yang sedang ramai duduk2 di sudut loket. ‘Ada apa?’ katanya. ‘Ini tiket ke Yogya Bang’, saya bilang. ‘Tiket apa ini…?’ katanya. Langsung dikoyaknya tiket tersebut …saya kaget..rupanya saya kena tipu. Lalu saya pergi ke pinggir jalan raya, duduk menangis berurai air mata sendirian, si Ibuk tadi telah pergi, awak kena tipu, duit Rp 3000 hilang, lalu bagaimana caranya lagi untuk pergi ke Yogya? Dari pagi hingga sore saya meneteskan air mata melihat ramainya kendaraan di Tanggerang, baru pertama kali ke Jakarta, tiba2 dekat Magrib saya dipanggil oleh si agen Tapanuli itu ke loket. Mungkin dia kasihan melihat saya sendirian duduk bermenung di pinggir jalan sendirian dari pagi hingga sore. Akhirnya disuruhnya saya naik bis Tasima yang akan berangkat ke Solo tetapi duduk di bangku paling belakang. Pagi2 subuh saya tiba di Solo dan menyambung kendaraan kecil ke Yogya. Masih pagi di bulan Januari tahun 1975, sampailah saya di tanah Mataram Kesultanan Yogyakarta.
Sebenarnya ada lagi kisah sedih yang sangat memilukan hati. Ketika bis Gumarang Jaya mulai bergerak, mau berangkat dari Terminal bis Bukit Tinggi, adik saya no.3 (Ulta) lalu bersandar ke pagar besi terminal sambil kaki kanannya bergantung ke besi pagar, merunduk entah memegang apa, tak mau menoleh kepada saya… lalu spontan saya berteriak keras dari atas bis: ‘Mirip anak yatiiiiim…..’ kata saya dengan berlinang air mata… saya berteriak saat bis mulai berjalan dan Ibu Bapak beserta adik2 semua melambaikan tangan kecuali adik yang menyandar tadi. Ternyata apa yang terjadi kemudian? Pekik saya di terminal memang menjadi kenyataan setelah saya 3 bulan sekolah di Yogya…surat dukapun datang ….ada firasat rupanya…ada tanda2…memang nyawa di tangan Tuhan tetapi ada firasat bagi manusia. Hubungan cinta kasih Bapak dan Anak nampaknya tetap kontak sebelum terjadi sesuatu..bilamana akan berpisah buat selamanya. Apakah anda juga pernah mengalaminya?
Setelah tamat PHIN tahun 1977, sebagaimana telah saya katakan pada otobiografi II, saya langsung ikut ujian masuk IAIN Yogya, ee ternyata lulus dan diterima di Fak. Syari’ah dengan nama Amhar tertulis paling atas di Papan Pengumuman di kampus Jl. Solo dan diharuskan mendaftar ulang dan membayar SPP entah mungkin sebanyak Rp 18.000,-? Saya tak kuat bayar SPP IAIN Yogya lalu pulang kampung dan berusaha menjual sawah untuk berangkat ke Mesir.
Darimana ide untuk kuliah ke Mesir? Bilamana dulu untuk sekolah ke PHIN Yogya saya dibantu oleh sdr. Zefrizal Nurdin, maka untuk ke Mesir saya dibantu oleh anak kakek saya namanya dr. Syahrul yang dinas di kota Padang. Suatu kali dia berkesempatan pergi ke London katanya, dalam perjalanan pulang ke Indonesia lalu dia mampir di Cairo dan bertemu dengan kakak2 keluarga Minang yang telah kuliah di sana. Dari hasil percakapan mereka, ada kata2: ‘Kalau ada adik2 kita di kampung yang ingin sekolah ke Mesir, suruhlah dia datang biar kami bantu’, kata mereka. Kutipan kata2 itu ‘terngiang’ di kuping saya, ia teringat kembali. Teringat oleh saya kata2 itu pernah terlompat dari mulut kakek saya, bukan dari mulut dr, Syahrul langsung. Maka saya cari dr. Syahrul itu ke kota Padang, saya minta rekomendasinya untuk kuliah ke Mesir dan dia menyuruh saya mengurus paspor di kantor Imigrasi Padang.
Dengan apa biaya ke Mesir? Saya menjual sawah milik orang tua. Sawah dijual kepada Kepala Agraria Payakumbuh seharga Rp 325.000 seluas 1 hektar. Dari duit jual sawah itu lalu saya urus paspor ke kantor Imigrasi kota Padang sekitar 130 km dari Payakumbuh. Setelah 3 hari mengurus paspor di kota Padang akhirnya saya diinterview oleh pejabat Imigrasi: Buat apa ke Mesir? Saya jawab mau kuliah. Dia bertanya lagi: Mana izin dari Depdikbud (Diknas)? Saya jawab tidak ada Pak. Mendengar itu, lalu permohonan paspor saya ditolaknya. Amhar tak terima, sudah 3 hari capek2 di Padang, lalu saya ngamuk di dalam kantor Imigrasi, kertas2 saya sobek2, saya lempar dari atas meja, bertebaran di lantai, memarahi Bapak2 dan Ibuk2 yang sedang bekerja, semua mata melihat melotot kepada saya dengan keheningan. Diaaaam…sambil terisak menangis sayapun keluar kantor imigrasi Padang dan pulang ke Payakumbuh. Ibu sayapun sedih meneteskan air mata mendengar cerita anaknya yang gagal.
Gagal mengurus Paspor di Padang, lalu saya melapor lagi kepada dr. Syahrul. Dia lalu memberikan alamat seorang keluarga di KBRI Cairo (Pak Djaharuddin) untuk saya hubungi dengan surat dari kampung. Setelah lama menunggu akhirnya datang surat jawaban dari Mesir yang menyuruh saya berangkat ke Jakarta untuk menemui seseorang. Tiba2 Ibu kandung saya bersedih hati pula ketika saya sedang tidur di lantai berjejer dengan adik2 yang masih kecil2. Di pagi2 subuh habis solat, dirangkulnya punggung saya dengan mukenah dari belakang dan dia menangis ter isak2. ‘Tak usahlah berangkat jauh2 ke Mesir naaaak, bawalah duit jual sawah itu semuanya ke Jawa, kuliah lagi di Jawa, kalau kamu berangkat jauh ke Mesir entah kapan kita nak akan berjumpa lagi….? Bapak kamu sudah tiada, adik2 kamu masih kecil2 katanya. Sedih sekali, berlinang air mata, basah punggung saya karena air mata ibu. Setelah hari pagi, saya tetap keras hati berangkat sendirian ke Jakarta karena ada seseorang yang akan membantu saya membuatkan paspor dan mengirim ke Mesir, yaitu saudari dari pak Djaharuddin, namanya Etek Mardini (teman sejawat Ali Shadikin, badannya besar tinggi dan tegas) yang tinggal di komplek cikal bakal STM Pasar Minggu. Semua uang jual sawah di kampung lalu saya serahkan padanya. Selain untuk ngurus paspor, visa dan tiket ke Cairo masih ada sisa duit ditukarkannya dengan dollar Amerika di Halim dan kemudian saya bawa ke Cairo. Untuk mendapatkan paspor di Jakarta, saya dibawanya ke Travel Biro Natrabu di Kebun Kacang, dekat gedung Bursa Effek sekarang. Karena belum punya KTP DKI, suatu pagi saya disuruh agen Natrabu pergi ke Jakarta Kota untuk menemui seseorang laki2 disana. Meskipun belum punya HP, rupanya orang yang saya cari itu sudah tahu maksud kedatangan saya, dia turun dari rumah kayu tua penuh jaringan laba2, pakai topi moris, bawa map hijau, dia menganggukkan kepala dan saya disuruhnya menanda tangani formulir, lalu tanpa banyak ngomong diboncengnya naik motor gde BSA. Saya yang berbadan kecil bonceng di belakang memegang perutnya, kami ngebut, menggok2, menelusuri hingga Jl. Thamrin saat itu belum wajib pakai helm. Rupanya dia mutar masuk jalan ke Natrabu di Jl. Kacang dan kemudian setelah di Natrabu saya difoto dalam kantor travel. Maka keluarlah Paspor dan dapat visa untuk ke Mesir.
Pada bulan Juli tahun 1978 Etek Mardini mengantar saya ke Bandara Halim Perdanakusuma (Belum ada bandara Cengkareng). Hari sudah agak sore. Di situlah saat perpisahan dengan Etek Mardini, kami berdua saja naik taksi dari pasar Minggu ke Halim, dia melambaikan tangan dari luar kaca bandara Halim dan saya masuk ke dalam untuk cek in Garuda ke Singapore. Hari sudah sore dekat magrib take off dari Jakarta ke Singapore. Dari Singapore tukar pesawat Garuda dengan pesawat Pakistan International Airline (PIA) ke Karachi pukul 11 malam dan tiba di Karachi mungkin sekitar jam 2 malam. Nginap transit satu malam di hotel bandara Karachi. Dan esok harinya jam 2 malam dari Karachi pesawat tukar lagi dengan Boeing PIA yang paling besar untuk terbang ke Cairo, Mesir. Setelah terbang lama sekali, melewati angkasa Iran, Iraq dan Saudi, maka sampai jualah akhirnya saya di Tanah Fir’aun itu tahun 1978. Di samping gembira, perasaan sedih masih ada dalam dada. Bapak telah meninggal dunia, Ibu tinggal dengan adik2 yang masih kecil2. Negeri Mesir menyambut saya untuk menuntut ilmu. Setelah tiba Mesir, bukan lagi teringat ‘Kisah Kasih di Sekolah’, ala lagu Chrisye, tetapi ‘Kisah Kasih Muhammad di Mekkah’ yang kemudian menjadi impian.
Demikianlah kisah hidup saya dalam menuntut ilmu. Bagaimana dengan kisah hidup anda? Memang alur hidup kita tidak sama, tetapi suka dan duka dalam hidup kita selalu melekat. Kita bersuka ria bila berjumpa, dan kita berduka bila berpisah. Maka benar juga kata nyanyi :”Bukan perpisahan yang ku tangisi, tetapi pertemuan yang ku sesali”, dan dalam otobiografi ini liriknya berobah menjadi “Bukan salah Bunda mengandung, tetapi anak kandungnya suka mengadu untung”. Otobiografi ini ditutup dengan ucapan terimakasih pada semua pembaca. Semoga bermanfaat terutama bagi adik2 muda.
Sekian dulu Bapak2/Ibuk2 dan adik2 semua, mohon maaf bila ada kesalahan, Pamit, Wassalam, Amhar Rasyid, Jambi.