AMHAR: BAKAT DAGANG TERPENDAM(OTOBIOGRAFI)


Oleh: Amhar Rasyid
Jambi, Jumat 5 Juni 2026

Assalamu’alaikum wr,wb Bapak2/Ibuk2/Adik2 muda semuanya baik Muslim maupun non-Muslim di mana saja berada. Semoga kita sehat2 saja. Kadang2 tulisan ‘ringan’ lebih disukai oleh banyak pembaca saya. Jumat kemaren kita membicarakan biografi seorang Kiyai asal Tapanuli (Kiyai Lohot Hasibuan), kini kita membicarakan Otobiografi (sekelumit sejarah hidup saya). Dari ketulusan hati yang paling dalam, timbul keinginan saya untuk berbagi pengalaman hidup dengan pembaca semuanya, terutama untuk adik2 kawula muda yang sedang mencari jati diri sendiri. Mungkin secuil dari kisah hidup saya akan berguna juga bagi adik2, inspiratif, meskipun masih terselip unsur subjektif di dalamnya. Biografi menceritakan sejarah hidup orang lain, sementara otobiografi menceritakan Riwayat hidup diri sendiri. Biografi Ayahku oleh Hamka, Biografi Bung Karno oleh Cindy Adams dan Otobiografi Bertrand Russell, setelah saya baca, semuanya nampak mengobjektifkan pengalaman hidup, tetapi bagi Gadamer, itu semua masih masih subjektif bahkan ‘menyembunyikan’ banyak kebenaran. Menyadari hal tersebut, saya kini berusaha menceritakan kebenaran dalam pengalaman pribadi dan memang hanya sedikit. Dalam perjalanan hidup saya selama hampir 70 tahun dan menuntut ilmu agama di dalam dan di luar negeri, bakat dagang saya tetap tak kunjung padam. Ada2 saja ‘kiat bisnis’ saya yang mungkin anda tersenyum membacanya. Bagaimana alur kisahnya? Saya akan mulai dari masa kecil, masa remaja dan meningkat dewasa, hingga masa tua kini. Mari kita santai membacanya dengan secangkir kopi bila anda tidak sibuk.

Masa kecil di bangku SD (Sekolah Dasar) Tanjung Pati, Payakumbuh tahun 1964-1970. Bapak saya dulu seorang Polisi tetapi kami punya warung kecil yang menjual kebutuhan harian. Pada suatu sore, panas terik Matahari masuk ke dalam warung, tiba2 Bapak saya dengan suara keras menyeret tangan saya untuk keluar warung. Dia bilang: “Lihat ikan asin yang sudah kering itu, katanya. Kita beli ikan masih agak basah di pasar, lalu kita jual sudah kering kepanasan, ditimbang, lalu laba jualannya di mana?” Kuping saya dijewernya hingga merah, pedih. Rupanya cara berjualan seperti itu merugi. Ini Pelajaran I. Ia membekas seumur hidup bagi saya.

Masa Remaja. Setelah meningkat remaja duduk di bangku PGAN Payakumbuh 1971-1974, otak dagang saya mulai ‘encer’. Sambil bermenung jualan menunggui warung di siang bolong, saya berbisik pada diri sendiri: Pikir2 punya warung harian begini, lalu saya dapat apa? Tahun 1974, saya sudah dapat surat dari Yogya dari teman saya Zefrizal Nurdin (sekarang Guru Besar di Fak. Hukum UNAND, Padang) yang sangat merekomendasikan saya untuk datang ke Yogya dan masuk sekolah menengah PHIN (Pendidikan Hakim Islam Negeri). Ini satu2nya sekolah Menengah Atas (Hakim Agama) milik Departemen Agama di Indonesia di mana dulu saya pernah duduk satu kelas dengan Mahfud MD. Karena sudah ada rencana mau sekolah di Yogya, jauh dari kampung halaman, saya berpikir, nanti di Yogya punya modal dagang dari mana? Karena sering duduk sendirian berjualan di warung, sambil bermenung, maka timbullah ide buruk saya untuk ‘mencuri’ sedikit demi sedikit uang warung dari kotak biscuit tempat menyimpan duit warung. Tiap hari ‘mencuri’ sedikit, sedikit (mungkin Rp 200), dengan sedikit tangan gemetar saya sembunyikan uang kertas tersebut dalam lipatan kain sarung yang saya pakai, lalu esoknya uang tersebut ditabungkan di TASKA BRI Payakumbuh. Setelah sekian lama dan dirasa cukup banyak uang tabungan, lalu saya belikan ke cincin emas. Disimpan dimana cincinnya? Takut kalau ketahuan oleh Ibu dan Bapak serta adik2, cincin emas tersebut saya sembunyikan di lereng pematang sawah, dalam tanah, jauh di belakang rumah. Biar jangan lupa lokasinya, di pematang sawah, maka saya tandai khusus dengan kayu kecil di bawah naungan pohon petai, dibungkus dengan kotak film kodak, sebab saya khawatir emasnya nanti bisa karatan? Setelah sekian lama tibalah saatnya berangkat ke Yogya diantar ke terminal bis Bukittinggi oleh Ibu-Bapa dan adik2. Semua cincin itu sebelumnya telah saya gali sore2, dan saat tidur malam hari pra keberangkatan ke Yogya saya sudah punya 3 cincin emas dalam kantong disembunyikan, dan Ibupun tak tahu. Aman, kata saya dalam hati, di Yogya nanti saya sudah punya modal dagang. Meskipun Bapak saya polisi intel (reserse dan criminal) yang banyak menangkap maling, copet, ternyata anak kandung kesayangannya yang sering digendong dan diciumnya malah tak ketahuan ‘mencuri’, padahal saya sering tidur di samping Bapak. Pernah jatuh uang kertas malam hari, tercecer dari lipatan kain sarung saya karena digendong dan diciumi oleh Bapak dan pagi2 ketemu uang Rp 100 jatuh di lantai oleh Polisi itu, tetapi yang tertuduh adalah adik perempuan saya yang juga sering keluar-masuk warung. Ternyata Alibi saya kuat. Hingga Bapak saya meninggal tahun 1975 kasus itu tak pernah terbongkar, tetapi kepada Ibu kandung dan adik2 saya akhirnya saya mengakui. Itu mungkin termasuk dalam hukum Islam ‘Illaa maa qad salaf: yang berlalu biarlah berlalu, malah kini ia menjadi lelucon dalam keluarga.

Karena sudah punya modal tiba di Yogya, pada suatu hari saya main ke Malioboro, nampak banyak turis asing menyandang tas rotan dibeli mereka di toko. Saya tanya ke pemilik toko, “Yuk, kalau saya punya tas rotan ini 3 kodi, Ayuk beli berapa nanti perbijinya?’ Dia bilang Rp 800. Ok. Sayapun pulang kampung ke Payakumbuh naik kereta api dari Yogya-Jakarta, dan naik bis Jakarta-Lampung-Payakumbuh selama 5 hari 5 malam. Setelah 1 Minggu bersama Ibu dan adik2 di kampung (Bapak saya sudah meninggal setelah 3 bulan saya di Yogya Maret 1975), sayapun kembali naik bis Bukittinggi-Yogya dengan memboyong 3 kodi tas rotan, semua disimpan di bawah tempat duduk bis ALS menuju Lampung dari Bukittinggi. Modal tas rotan hanya Rp 400/biji di pasar Payakumbuh. Sesampai di Yogya saya jual Rp 800 x 60 biji =Rp 48.000 (aduh…. itu laba sangat banyak di Yogya tahun 1970an karena makan di warung saat itu hanya Rp 25/piring). Mewah saya. Jualan tas seperti itu dilakukan berulangkali, sehingga sering pula mondar-mandir pulang kampung, bahkan saya saat di bangku Sekolah Menengah tersebut sudah mulai menerima upah menerjemahkan buku2 Inggeris milik mahasiswa Fak. Hukum UGM. Saya bekerja sama dengan tukang ketik skripsi dekat Stasiun Tugu. Menerjemah dengan tulisan tangan dilakukan di tempat kost di Terban dan tukang ketik mengetik ulang di dekat Statsiun Tugu, biaya terjemah Rp 100/lembar (RP 75 untuk saya dan Rp 25 untuk tukang ketik) x sekian puluh lembar hampir tiap hari. Bakat dagang saya makin menyala, duit melimpah, setiap hari Jum’at sore saya sering nonton film India dengan sdr. Zefrizal Nurdin di Yogya Theater (tiket nonton Rp 500, full ac dan belederu merah). Artis India Dharmendra dan Hemamalini adalah dua pujaan kami. Karena kisah cerita dalam film sangat dihayati, kadang2 ia muncul lagi dalam mimpi2 indah di malam hari. Meskipun film India mengandung ajaran Hindu ‘Dharma dan Karma’ tetapi sentuhan seni India ternyata mampu menggugah rasa naluri bathin kita yang terdalam, apalagi di usia remaja.

Tamat PHIN di Yogya akhir tahun 1975, lalu ikut ujian masuk Fak. Syari’ah IAIN Yogya dan ternyata diterima. Tetapi saya tak mau mendaftar ulang, lalu pulang kampung. Dua tahun mencari biaya dan menjual sawah di kampung, saya akhirnya berangkat kuliah ke Mesir awal 1978. Masih remaja di Mesir tahun 1979 (saat Khomeini menggulingkan Syah Iran), saya disuruh berangkat kerja ke Negeri Belanda oleh kakak senior di Mesir yaitu Uda Ridha Muhammad (sekarang tinggal di Depok). Saya tinggal di Den Haag 6 bulan kendatipun visa hanya 1 bulan (sebagai pendatang haram). Di Negeri Belanda sudah timbul niat saya untuk menetap selamanya di sana dan membuka Restoran Padang, tetapi tiba2 datang surat panggilan dari Uda Ridha supaya pulang lagi ke Cairo. Saya kembali ke Cairo via Rotterdam, naik kereta api malam melalui Belgia dan masuk ke Perancis. Dari Paris terbang ke Cairo naik pesawat cantik Air France dan kuliahpun berlanjut di al-Azhar hingga sarjana muda (lisence/Lc). Minat untuk berniaga di Negeri Belanda pupus sudah.

Rupanya di Mesir, minat dagang sayapun semakin menggebu dan ingin berangkat Naik Haji tahun 1980. Uda Ridha menikah dan dia pindah ke Jeddah dari Cairo dan saya sering bersama teman2 dari Cairo diberi tempat menginap di rumahnya dekat Asrama Haji Jeddah. Selama di Asrama Haji itu banyak sisa2 uang Riyal oleh Jamaah Haji ingin ditukar kembali dengan Rupiah, artinya Rupiah banyak dibutuhkan. Suatu malam, terdengar bisik2 di antara teman yang sedang main domino di rumah Uda Ridha bahwa Rupiah dari Indonesia banyak dibawa oleh Jama’ah Haji di Medinah. Saya simpan rahasia itu dalam hati lalu tidur duluan. Dalam otak saya terbayang Kota Madinah sedang banjir Rupiah karena ditukar oleh Jamaah Haji dengan Riyal Saudi terutama oleh orang2 kaya dan artis2 dari Jakarta. Diam2 waktu teman masih tidur tengah malam, saya bangun cepat2, saya berangkat naik bis ke Medinah sendirian sekitar 400km dari Jeddah. Sesampai di Medinah, usai solat subuh di Mesjid Nabawi, saya beli Rupiah banyak sekali dari Money Changer Arab, masih fresh diikat2 oleh Bank Indonesia. Pedagang Arab tanya:” Kam milyun tibgha?’ (Kau mau berapa juta?) Saya bilang 50juta (Khomsin milyunat): saat itu sangat banyak. Setelah dapat uang Rupiah, lalu cepat2 saya masukkan ke dalam tas, dan saya kembali lagi usai solat subuh naik bis ke Jeddah sekitar 400 km.

Ketahuan saya ke Medinah cari Rupiah dinihari, teman2 Di Jeddah rupanya sudah menunggu saya. Mereka adalah pengecer rupiah2 ke Jamaah Haji yaitu teman2 mahasiswa Indonesia dari Mesir juga. Mereka membeli Rupiah dari saya. Saya hanya distributor, bukan pengecer, saya dapat untung berlipat ganda, hasil memburu rupiah malam2 ke Medinah. Besok paginya usai duit ditukar semuanya, saya sudah berangkat lagi ke Medinah, ini terjadi sering kali. Teman2 ada yang takut pergi ke Medinah sebab ada cek point (pemeriksaan) oleh Polisi Saudi di perbatasan, untuk menghidari itu sekali2 saya numpang naik ambulans Indonesia duduk di samping sopir ke Medinah dari Jeddah dan ternyata lolos. Bakat dagang saya semakin kental, perkuliahan di al-Azhar Mesir sudah mulai tapi saya masih belum pulang ke Mesir, rezeki masih melimpah di Saudi. Setiap kali pulang dari Jeddah, dunia remaja saya gembira karena banjir duit, sementara Mesir negeri miskin, serba murah. Pulang ke Cairo, naik taxi dari Bandara ke asrama Azhar rasanya seakan sudah ½ pulang ke tanah air. Beberapa alat elektronik murah pula harganya di Jeddah, mahal di Mesir…maka saya beli dan bawa pula ke Mesir untuk dijual lagi, dapat untung banyak lagi. Bahkan seorang diplomat/atase perdagangan, alm. Pak Ramlan Zoebir yang dulu tinggal di Pondok Indah Jakarta Selatan, sangat baik dengan saya selama di Cairo. Bilamana dia mau berangkat ke Jeddah untuk tugas diplomatik, dia menawarkan diri pada saya untuk membantu menukarkan Pound Mesir saya dengan dollar Amerika yang nanti akan dibeli di Jeddah. Jadi duit pound Mesir dibawa masuk ke Saudi untuk ditukar dengan dollar di Jeddah. Kenapa beli dollar Amerika di Jeddah? Sebab nilai tukar dollar Amerika di Black Market di Cairo sangat tinggi bedanya dengan kurs resmi di bank2 Mesir, maka dibeli dollar di Jeddah. Dari selisih pertukaran duit semacam itu saja untung laba berlipat-lipat.

Pada waktu naik haji, saya di Mekkah banyak dapat duit. Saya tak mau menjadi tenaga musiman mengurusi paspor Jamaah haji di KBRI. Saya memilih hidup usaha sendiri (single fighter). Seringkali saya bertetamu mampir mengetok pintu2 kamar hotel untuk ngobrol dan menemui orang2 kaya dan artis dari Jakarta, menanyakan apa yang bisa saya bantu? Suatu kali seorang Pengacara terkenal dari Jakarta di kamar hotelnya di Mekkah beserta isteri ingin pindah kamar, dia minta tolong pada saya untuk mencarikan kamar kosong di lantai bawah, sebab lift hotel kurang lancar, sering rebutan, dan kakinya sakit bila naik ke lantai 7. Maka saya pergi menemui manager hotel, dengan bahasa Arab saya tanyakan apakah ada kamar di lantai dasar? Katanya ‘ada’ tetapi harus menambah 3000 Riyal Saudi. Ok, sayapun naik kembali ke lantai 7 memberitahu Pengacara tersebut. Dia senang sekali. Dan kamipun turun sama2 menggotong kopor ke dalam lift untuk pindah ke bawah. Usai semuanya, dia gembira dapat kamar baru, saya pamit, tetapi saya dipanggilnya….$US 100 (Seratus dollar Amerika) diberinya dari ikat pinggang hijaunya. Anda tahu kursnya kini? 100 x Rp 18.000 = Rp 1.800.000 hanya untuk jasa memindahkan kamar? Pulang ke Mesir, mewah sekali hidup saya sebagai mahasiswa al-Azhar disamping terus dapat bea siswa tiap bulan dari Lembaga Pemberi beasiswa namanya Majlis A’la. Mungkin kini anda akan senyum sambil membaca kisah saya ini: ‘Orang Padang diajak berdagang…….. mirip melepaskan ikan ke air…..memang sudah bakatnya’.

Apakah anda sudah letih membaca kisah ini? Ada lagi cerita yang lebih menarik masih di Cairo. Suatu kali datang berita dari Kedutaan Indonesia (KBRI) bahwa sejumlah jama’ah Umrah Indonesia mau ke Cairo ingin melihat Pyramid dan mummi Fiar’aun. Saya ditunjuk oleh Kedutaan untuk mengurusi mereka sebagai guide. Saya tanya: Berapa Orang? Kedutaan bilang ada sekitar 30 orang yang terdiri dari Ketua MUI alm. KH. Hasan Basri, Bapak Hetami (Pendiri Koran besar Harian Merdeka di Semarang), Ibuk/Isteri Kapolda Sumatera Utara, dan lain2nya. 30 orang lebih? Kata saya dalam hati. Sayapun langsung memutar otak, memikir sendiri. ‘Apa dan bagaimana kiat untuk menghadapi mereka nanti? Apa dagangan yang jitu? Maka saya pergi ke pabrik souvenir Mesir, memborong piring2 kuningan, tembaga yang diukir dengan gambar2 Fir’aun. Bukan main, saya borong, beli murah sebanyak 3 koper besar2 penuh dan berat, jumlahnya sekitar 200 keping beli langsung di pabriknya, milik orang Mesir, bukan beli di toko eceran. Tibalah hari H. Tatkala tamu2 Indonesia telah datang, 2 bis travel cantik2 dan besar masih kosong, datang menjemput saya ke asrama Azhar pagi2 karena saya Guide, maka 3 koper2 itupun saya bawa ke dalam bis travel, suruh masukkan ke bagasi bawah, sopir bis travel pun heran. Sopir bis Mesir itupun bertanya :’Syantha dih bita’ min? (Koper ini punya siapa?}.’Bita’ iy (Punya saya), saya bilang, bawa saja ke bandara! Setelah sampai bis di bandara sekitar jam 11 pagi, koper2 jama’ah Umrah Indonesiapun banyak dimuat masuk bis, dan 3 koper saya sudah bercampur aduk dengan koper2 tamu. Sesampai di hotel, semua koper2 Jema’ah dimasukkan ke hotel, dan sopir Mesirpun bertanya lagi pada saya:”Yang ini?’ Saya bilang bawa masuk! Masuk! Sopir Mesir itu tak tahu bahwa ini adalah kiat saya agar nanti jangan dicurigai oleh Receptionist Hotel. Petugas hotel membawa masuk semua koper2. 3 Koper milik saya juga dibawa masuk dan aman disimpan di dalam kamar hotel ibuk2, saya titipkan, lalu mereka semua istirahat dan makan siang. Usai solat ashar di hotel, sayapun datang ke kamar Ibuk2 dan mulai memberitahu bahwa 3 koper ini milik saya dan menawarkan pada Ibuk2 Indonesia itu bahwa ada souvenir Mesir yang bagus2 di dalam koper, piring2 bergambar Fir’aun dan Pyramid Mesir. 3 koper itupun saya buka, dan ibuk2 pada berebut memilih, Souvenir itupun langsung habis, diborong oleh lbuk2 semuanya, dan dompet saya…..PADAT! tak ketahuan oleh pegawai hotel ada mahasiswa yang berdagang dalam kamar hotel. Sorenya sebagai guide, saya bawa ibuk2 dan Bapak2 jama’ah Umrah tersebut jalan2 keliling kota melihat tempat2 souvenir Mesir, tetapi …..saya bawa mereka ke tempat souvenir yang harganya sangat mahal, agar dagangan saya tadi di kamar hotel dianggap lebih murah, sebab biasanya ibu2 Indonesia tersebut membuat perbandingan harga. Otak bisnis saya encer waktu itu.

Apakah anda sudah capek membaca? Ini ada lagi cerita lebih menarik di Montreal, Canada tahun 1993-1994 waktu kuliah S2. Jangan senyum dulu. Suatu kali di campus Univ. McGill nampak pamphlet, iklan wisata ke New York dari Canada yang ditempel di tiang2 telepon oleh sebuah perusahaan travel, bosnya orang Quebec berbahasa Perancis. Melihat iklan itu, otak dagang saya langsung ‘mutar’. Saya catat alamatnya, saya cari sendiri, lalu saya temui bos/direkturnya di tengah kota Montreal, di lantai II Gedung bertingkat 17. Mulailah si Amhar (orang Padang) bercakap bahasa Perancis dengan bos bule pemilik wisata travel yang ganteng itu: ”Bonjour Monsieur, Je m’apelle Amhar, Indonesien. Je suis etudiant a l’universite McGill. Si j’avais environ quarante (40) personnes d’etudiant Indonesiens a partir a New York, combien pour moi?” (Selamat pagi Bos, nama saya Amhar, Indonesia, saya mahasiswa McGill. Kalau saya punya 40 mahasiswa Indonesia berangkat ke New York, berapa persen untuk saya?). ‘Dix percents’ (10%) jawabnya. ‘D’accord’ (OK) saya bilang. Sayapun pulang ke apartemen saya, dulu belum ada HP, maka mulailah saya kampanye via telepon di apartemen untuk memberitahu mahasiswa2 Indonesia di kota Montreal untuk membujuk mereka wisata ke New York. Saya bilang, kita umumnya PNS di Indonesia, kalau sudah pulang ke tanah air nanti, mana mungkin akan melihat New York lagi…kota terbesar di dunia…gaji kecil, bumi akan kiamat, New York akan dihancurkan Tuhan. Maka semua teman2 pada bertanya, dimana alamat biro travelnya pak Amhar? berapa ongkosnya? Saya bilang itu ada di halaman kampus iklannya, tengoklah di situ ada biaya dan alamat kantornya, pergilah bayar sendiri! Maka berduyun2lah teman Indonesia pergi mendaftar kesana termasuk teman sekamar saya (Dr. Zaim Rais) dan teman2 akrab dari Aceh (Prof. Hasbi Amiruddin), Dr. Siti Qomariyah (mantan Bupati Pekalongan) serta teman2 lain dari Jakarta, Bandung, Yogya, Surabaya, Malang, Makasar padahal mereka sekarang sudah banyak menjadi Guru Besar di tanah air. Malu saya kini bila teringat bakat dagang saya dulu di Canada sehingga saya ‘tutup mulut’ hingga Otobiografi ini ditulis: ia terpaksa kini ditulis demi objektivitas. Tetapi itulah cerita yang sebenarnya, cerita yang memang terjadi di lapangan. Sebelum berangkat ke New York pada hari H, Bos travel itupun menepati janjinya membayar saya komisi 10% x sekian warga negara Indonesia (dilihat dari paspor), dia memberi saya dollar Canada banyak sekali, mungkin lebih dari 40 mahasiswa Indonesia yang ikut waktu itu, plus tiket pp Canada- New York-Canada, plus Hotel gratis, saya tetap ‘tutup mulut’ meskipun naik bis bersama mereka. Dan saya berangkat ke New York itu 2x, dapat komisi juga 2x. Kali yang ke 3 saya ke Florida, lebih jauh dari New York naik bis bersama anak2 Israel. Itulah Sejarah Yang Terjadi (Histoire Realite) meskipun sekarang dinarasikan ulang dengan Histoire Ecrire. Itulah Otobiografi..walaupun vested interest dan unsur2 subjektif tak diingkari masih ada terselip dalam tulisan ini. Apakah anda tersenyum membaca ini? Otobiografi Amhar si orang Padang.

Terakhir di Jambi setelah pulang dari S2 Canada (1994) hingga pensiun dari PNS (2022) dan meraih S3 dari UIN Yogya (2024), bakat dagang saya masih tak kunjung padam. Tabungan dari sisa belanja harian yang berasal dari beasiswa di Canada masih puluhan juta dibawa pulang ke tanah air dan bisa saya beli mobil bekas di Jakarta. Bahkan hingga kini sudah ratusan mobil bekas saya bawa ke Jambi dan terjual bahkan ada yang dibeli di Jepara dibawa nyetir sendiri ke Jambi. Untung bisnisnya bisa untuk membiayai kuliah S3 di Yogya, membeli rumah dan membuat ruko. Pada suatu kali saya pergi bertetamu ke rumah alm. Buya Syafi’i Ma’arif di Nogotirto Yogyakarta, karena sudah terbiasa dari sama2 di Canada. Mungkin beliau tak tahu saya jualan mobil dan iba kasihan melihat saya datang naik ojek dan jalan kaki ke rumahnya, dan beliau sempat bertanya pada saya:”Apakah Amhar punya sawah di Jambi?”. Kata ‘sawah’ dalam pertanyaan orang Minang bermakna punya penghasilan sampingan selain gaji PNS, dan saya ‘senyum saja’ sambil pamit pulang ke Jakarta. Sebab dalam rekening saya masih ada tersimpan puluhan juta untuk membeli mobil dagangan nanti di Jakarta untuk dibawa nyetir sendiri ke Jambi. Demikianlah lika-liku hidup saya: dagangan motor, tetapi meraih titel Doctor……molooor.

Kesimpulan dan hikmah. 1. Hidup saya dari Yogya-Cairo dan Canada penuh dengan pengalaman mandiri, wiraswasta, jauh dari orang tua, diasah oleh lingkungan, inilah yang kemudian nampaknya menyebabkan saya sebagai PNS kurang suka memangku jabatan structural di kampus UIN Jambi. Saya tidak punya bakat ‘membeo’ pada atasan, apalagi tentang kiat cari duit. 2. Kalaupun saya diajak masuk system, bekerja sama, mungkin atasan akan agak ‘risih’ dengan saya: pengalaman lapangan saya sangat luas, internasional, menguasai banyak bahasa asing. Boleh jadi dixi yang digunakan Amhar bila dibawa dalam rapat, atau pertemuan dengan pejabat/tokoh2 lain, akan membawa resiko/benefit yang unpredictable bagi atasan, dalam filsafat Gadamer disebut ‘di luar Horizon/Vorverstandnis’, rentan komersialisasi walaupun saya sadar ada KPK. 3. Bagi adik2 muda, baik yang sudah jadi PNS atau masih mahasiswa, sebenarnya peluang di dunia luar Indonesia sangat banyak menunggu anda untuk kuliah, bekerja, dan mengadu nasib, baik adik2 laki2 maupun perempuan. Hanya saja masalahnya mungkin anda belum punya akses untuk itu. Bukalah Medsos. Cari beasiswa, cari peluang mengajar di luar negeri.

Banyak peluang emas di luar negeri. Buktinya banyak doctor2 hasil kiriman Habibie dulu ke Jerman lari ke luar negeri, entah dimana mereka kini, kenapa? Karena mereka tidak berminat berebut kursi di jabatan2 struktural di Indonesia ini. Saya juga mendengar bahwa banyak guru besar UNPAD Bandung bila ditawari jabatan Dekan…..masih mengelak, sebab proyek penelitiannya di luar negeri lebih menggiurkan. Maka bilamana anda sudah professor dan masih muda, juallah ilmu anda ke luar negeri! Di Australia, New Zealand, Canada masih banyak peluang untuk berkembang. Di negara2 petro dollar, Saudi, Qatar, Kuwait, Dubai jabatan guru besar umumnya masih didominasi oleh orang2 dari Mesir. Bakat dagang saya mungkin sulit anda copy karena konteks zaman kita berbeda, tetapi ilmu dan title kesarjanaan anda akan sangat berharga di luar negeri. Kenapa adik2 saya, bahkan sudah bertitel Guru Besar, masih bergulat dan berebut ‘kursi’ di dalam Kampus yang Kecil? Kita adalah bangsa Indonesia yang harus merobah nasib. Innallaha laa yughayyiru maa bi qawmin hatta yughayyiru maa bi anfusihim (Allah tidak akan merobah nasib suatu bangsa bilamana bangsa itu tak mau merobahnya). Berpikirlah terbuka, dan berjuanglah di level internasional! Masih terkendala oleh bahasa Inggeris? Biar saya bantu anda 2x seminggu di kampus UIN Jambi tercinta.

Demikianlah Bapak2/Ibuk2 dan adik2 semua. Terlalu panjang kisah hidup saya, tetapi itu belum semuanya: baru secuil bakat bisnis. Terimakasih telah membaca hingga capek/letih. Wassalam. Amhar Rasyid, Jambi.

*Silakan Share