Oleh: Amhar Rasyid
Jambi, 29 may 2026
Assalamu’alaikum wr,wb Bapak2/Ibuk2 dan adik2 muda baik Muslim maupun non-Muslim di mana saja berada. Semoga kita semua sehat2 saja. Di Sumatera, beda provinsi menampakkan beda suku/etnis, beda logat/dialek, beda budaya dan beda alam. Ternyata nampak berbeda antara Aceh, Melayu Deli, Melayu Riau, Tapanuli, Minang, Jambi, Sumsel, Bengkulu, dan Lampung. Sejak zaman Hindia Belanda, orang Sumatera khususnya melihat suku Batak sinonim dengan Kristen, makan babi dan anjing: ini biasanya merujuk kepada etnis Batak Karo di utara Tapanuli. Gus Durpun pernah berkelakar bahwa pada suatu hari seekor anjing hitam tak mau diperintah tuannya, tiba2 tuannya bilang: Awas ada Batak di belakangmu, maka anjing itupun langsung melompat lari ketakutan. Pada umumnya, orang Minang, Jambi dan Sumsel memandang orang Tapanuli, walaupun sebangsa, adalah orang Utara yang masih Tanda Salib. Anggapan semacam itu makin lama makin bergeser terutama karena masyarakat semakin mengenal nama2 tokoh Tapanuli, tokoh politik dan intelektual yang beragama Islam di pentas nasional seperti alm. Jend. Abdul Haris Nasution, Prof. Harun Nasution tokoh ternama di UIN Jakarta khususnya dan seluruh Indonesia umumnya, Ray Rangkuti, dan sekarang orang bilang K.H. Abdul Somad Batubara/UAS (kiyai/penceramah kondang). Ternyata hari demi hari, suku etnis Tapanuli, Batak secara umum, nampaknya semakin dekat di hati, kami di Sumatera saling membaur, saling bertegur sapa. Karena membaur, bahkan kini sudah nampak pula berdiri Gedung Pertemuan Karo Muslim di Mayang Ujung/Jl.Lingkar Barat kota Jambi.Tulisan ini sengaja dibuat dari pendekatan sosiologi keagamaan bukan untuk tujuan diskriminatif tetapi lebih kepada curahan pengalaman penulis bersama seorang kiyai asal Batak di Jambi, dia terkenal dengan nama Lohot Hasibuan, perokok berat, berwatak polos dan humoris. Semoga pembaca senang membacanya dan diharapkan persahabatan antar suku dan antar agama semakin akrab.
Terdengar khabar pada suatu hari bahwa Kiyai Lohot sakit, maka saya cepat2 datang ke rumahnya, alhamdulillah masih sehat, masih suka ceria bergurau dan rokoknya tak pernah padam sejak puluhan tahun. Ini adalah ringkasan dan ulasan atas hasil wawancara antara saya dengan Kiyai Lohot pada tanggal Sabtu 23 May 2026 di rumahnya di belakang Mesjid Ibu, Lorong Gotong Royong, Sipin, Jambi. Lohot adalah seorang ulama terkenal di Jambi, penceramah kondang, dekat di hati rakyat jelata, dikenal oleh Ibu2, pedagang kecil, PNS, Petani, hingga Pejabat di kantor2 Bupati dan kantor Gubernur Jambi.
Dia dilahirkan mungkin sekitar tahun 1947 di Sibuhuan. Sibuhuan adalah ibu kota Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara, dekat dengan Padang Sidempuan, Tapanuli Selatan. Lohot lulus Sarjana Muda di UNUSU (Univ. NU Sumatera Utara di Sidempuan) sebab masa itu belum ada jenjang S1 di Medan katanya. Jenjang S1 hanya di IAIN Aceh dan IAIN Padang.
Lohot mengembara ke Jambi waktu usia muda naik bis Sibual Buali, bekerja semrawutan, menikah dengan gadis Jambi, pernah menjadi dosen IAIN Jambi dan sekarang pensiun. Sekian puluh tahun menetap di Jambi, tiada hari tanpa berdakwah Islamiyah baginya. Sekarang dengan semakin terkenalnya nama Kiyai Lohot Hasibuan di Jambi, anggapan negative atas etnis Batak semakin bergeser. Dia ibarat Matahari dari utara.
Rambut Gondrong. Lohot berkisah. Mula2 ke Jambi naik bis Sibual Buali dari kampungnya selama 3 hari/malam, 4 x naik pelayangan menyeberang sungai, tak tahu tujuan, tidak punya sanak saudara dan tidak punya teman. Mula2 tiggal di terminal bis Kebun Jahe, Jambi bersama preman terminal. Karena tak cocok dengan kehidupan terminal, Lohot lari ke Nipah Panjang (kota kecil di pinggir pantai Timur Sumatera), bekerja di kapal mengangkut beras ke Tanjung Pinang. Setelah lama berselang, Lohot tidak merasa cocok pula dengan cara kehidupan anak2 kapal: ada yang suka mabuk minum alcohol, perempuan, dll. Lohot ingin kembali lagi ke Jambi, dari Jambi Lohot terus ke desa Tenam, Batang Hari, di Tenam katanya telah lama ada beberapa orang Tapanuli yang bekerja di perkebunan getah/karet. Lohot bergabung dengan mereka.
Kendati sudah bergabung dengan teman2 asal Tapanuli di desa Tenam tetapi Lohot mengaku tak tamat SD sebab takut tak dibawa berteman nanti bila ketahuan bertitel Sarjana Muda. Ketika suatu saat Lohot sedang mandi di sungai, katanya, tasnya ditinggalkan di pinggir sungai, ee rupanya salah seorang teman Tapanulinya mengintip isi tas Lohot, rupanya ijazah Lohot sudah Sarjana Muda. Maka kemudian Lohot disuruh mengajar agama di sekolah2 di desa Tenam. Antara desa Tenam dan desa Malapari dulu hanya terdapat jalan tikus, tiap hari dilalui bolak-balik jalan kaki, juga sambil dakwah/ceramah agama. Karena pintar berdakwah, nama Lohot semakin tersohor di seantero kampung. Anehnya, kata Lohot sambil tertawa kepada saya, Kepala Dusun/Pasirah Desa Tenam masih meragukan dengan keislaman Lohot dan bertanya, dia ingin memeriksa apakah Lohot betul2 telah bersunat/belum?
Penduduk desa semakin mengagumi Lohot. Lohot pernah suatu kali dipasangkan berceramah dengan Kiyai Jalal seorang ulama terkenal di desa Terusan, Jambi. Ini terjadi pada acara Maulid Nabi yang berlangsung hingga sampai tengah malam. Katanya acara Maulid berlangsung sangat meriah, berjubel, penuh masjid, bahkan karena lamanya Panitia harus sampai 3x menambah minyak lampu petromaks. Nama Lohot sebagai pendakwah semakin tenar meskipun badan masih kecil dan rambut masih gondrong hingga bahu katanya.
Walaupun sudah mulai terkenal di pedalaman desa Jambi, Lohot ingin juga pulang kampung halamannya di Sibuhuan. Diapun pulang kampung. Tetapi di kampung dia malah bertani menanam kopi. Selama tinggal di kampung, katanya, sering hal magis terjadi. Lohot pernah 3 x sehari ketemu ular di kebun, di perjalanan pulang dan di sekitar rumah. Suatu kali Lohot sakit demam di rumahnya di kampung, seekor ular besar tiba2 terasa berat tidur melingkar di atas selimutnya. Lohot terbangun dan kaget, ditariknya selimut tersebut, dan ular itupun lari masuk lobang lantai papan rumahnya. Aneh.
Lalu kemudian Lohot dinasehati oleh Bapaknya: ‘Lohot, memang tanah kelahiranmu di Sibuhual ini Nak, tetapi tanah hidupmu nampaknya di bagian Selatan Sumatera’, kata Bapaknya. Hal yang sama juga dikatakan oleh ulama besar di Sidempuan. K.H. Abdul Qadir Pardede: Pimpinan UNUSU: ‘Lohot, rezeki hidupmu adalah di Selatan Sumatera’ katanya. Atas nasehat dari Bapak dan ulama besar tersebut, akhirnya Lohotpun kembali meninggalkan kampung halamannya menuju Jambi untuk kedua kalinya, dan kebun kopinya tak tahu nasibnya lagi, kata Lohot. Lalu saya memberanikan diri bertanya: ‘Kapan Bapak ketemu gadis Jambi?’
Ceritanya begini katanya. Setelah kembali lagi ke Jambi, ada keinginan untuk masuk IAIN Jambi Fak. Syariah di tahun 1971? Saat kuliah itulah Lohot lalu menikah. Sambil kuliah Lohot juga bekerja mencari nafkah. Sempat dia dimarahi oleh Rektor IAIN Pak Munir S.A. Lohot dimarahi oleh Rektor karena kuliah hanya 2 minggu hadir dua minggu absen. Ditanya oleh Rektor:”Kenapa kamu sering absen kuliah?” Jawab Lohot: “Kalau Bapak adalah dosen terbang, sayapun ‘mahasiswa terbang’, kalau tidak demikian bagaimana saya akan membiayai rumah tangga saya?’ Mendengar jawaban itu, Rektor akhirnya mengizinkan Lohot hadir kuliah tetapi sering absen. Kemudian pak Munir tersebut dipindahkan/diangkat oleh Gubernur Tambunan menjabat Kepala Kantor Wilayah Agama Prov. Jambi. Sementara Rektor IAIN yang menggantikan Pak Munir ialah Prof. HMO Bafadhal. Pak HMO ingin agar Lohot menjadi dosen IAIN karena langkanya calon dosen pada waktu itu. Kata Lohot, Pak Munir memanggil Lohot ke Kannwil Agama: Lohot, katanya, kalau kau mendaftar jadi hakim Agama, nanti saya yang akan tanda tangan SKmu, tetapi kalau kau melamar jadi dosen IAIN Jambi maka HMO yang akan tanda tangan SKmu. Lohot memutuskan tak mau jadi Hakim. Saya tanya ‘Kenapa?’ Karena kerjanya menceraikan orang laki-bini….kata Lohot penuh guyon. Itulah cerita lucu Lohot yang tak pernah habis2nya.
Lalau kapan kenal dengan gadis Jambi? Lohot akhirnya kenal dengan anak gadis Muazzin dan kebetulan sang calon isteri juga murid Lohot disekolah tempat dia mengajar, sebelum sang calon melanjutkan studinya di Sekolah Menengah Muhammadiyah di tengah kota Jambi. Sebagaimana diketahui, Lohot sebagai guru dan juga penceramah serta Imam solat dan sering menyuruh tukang azannya (mu’azzin) untuk azan. Tukang azan inilah yang bakal menjadi mertua Lohot. Dia punya anak perempuan 4 orang bersaudara. Yang paling besar sudah menikah. Yang nomor 2 inilah yang dijodohkan dengan Lohot. Sementara adik2nya 2 perempuan lagi masih kecil2. Mertua Lohot katanya punya darah keturunan Tionghoa. Dulu Kakek Mertuanya adalah seorang toke China yang sudah lama bermukim di desa Tenam sebagai pedagang karet terkenal dan kaya raya. Jadi darah keturunan Tionghoa masih ada hingga kini pada isteri dan anak2 Lohot. Salah seorang puteri Lohot bernama Pakina Herliani Hasibuan (Butet), mahasiswa saya di fak. Syari;ah IAIN Jambi pada tahun 1990an? sekarang sudah menjadi ibu rumah tangga dan mengelola pesantren di Kota Muara Bulian Jambi. Kiyai Lohot sekarang juga punya besan di kampung saya di Payakumbuh yaitu alm. Jon Afri (ex. PNS/dosen Univ. Jambi), salah seorang kakak kelas saya di PGAN Payakumbuh pada tahun 1974. Itulah lika-liku kisah hidup Kiyai Lohot.
Bagi saya pribadi, ada sebuah pengalaman yang sangat ‘menyentuh hati’ dengan Kiyai Lohot. Sekitar tahun 1988/1989, sebagai PNS baru, saya ditugaskan IAIN Jambi jauh ke desa Pauh, Sarolangun untuk menemani Kiyai Lohot mengantar mahasiswa KKN (Kuliah Kerja Nyata) jauh di luar kota. Kami naik motor berdua milik Kiyai Lohot, saya bonceng di belakang sebagai yuniornya. Tiba2 dalam perjalanan, di bawah panas terik, dihentikannya motornya di atas rumput di pinggir jalan aspal, lalu dari dalam kantong bajunya dibukanya amplop putih di pinggir jalan, rupanya itu adalah amplop berisi honor supervisor KKN. Dia bicara dengan logat Bataknya:” Kita bagi duit ini dulu…”. Saya sebagai Yunior sangat terkejut, duit apa itu sebab saya pegawai baru diangkat belum pernah terima duit, tersentuh hati saya yang paling dalam, heran, kagum, kenapa seorang senior mau membuka amplop, memperlihatkan isinya, transparent, polos, tulus, dan berbagi dengan saya, padahal karyawan kecil seperti saya biasanya hanya diberi duit sekedarnya oleh atasan. Bensin motor dia yang beli, makan siang dia pula yang traktir. Kiyai Lohot memang punya kepribadian yang menarik…menyentuh hati…tetes air mata saya bila teringat kepolosan hatinya.
Lohot juga suka berbagi rezeki dengan atasannya. Pernah katanya dia masuk ke ruang Rektor IAIN Jambi (Dr. H. M. Chatib Quzwain) di masa itu ketika selesai mendapat duit banyak sambil menawarkan: ‘Bapak mau uang gak?’ katanya. Rektorpun heran bertanya: ‘Dapat duit dari mana itu Lohot?’ Diberi pak Bupati Batang Hari kata Lohot. Rektorpun senyum menerimanya dan mereka berbagi duit. Ternyata Lohot tidak cari kaya.
Namun ada saja cerita miring. Lohot dan seorang temannya di fak. Tarbiyah IAIN Jambi bernama Muntholib (sekarang Profesor) juga pernah dicurigai korupsi uang KKN, katanya, oleh beberapa pejabat di IAIN Jambi. Lohot dipanggil oleh Rektor untuk menghadap. Tetapi Rektor mengajak Lohot naik mobil dinas bersamanya dari fak. Ushuluddin ke kantor Rektor. Selera humor Lohotpun muncul sambil duduk dalam mobil di samping Rektor: ‘Hebatlah aku ini, kata Lohot. Kenapa? tanya Rektor. ‘Sopir akupun Rektor IAIN’…lalu tertawalah mereka berdua dalam mobil terbahak-bahak. Setelah masuk ke ruang Rektor, Lohotpun menjelaskan rincian uang masuk dan uang keluar, mulai dari catatan keuangan/honor pembagian untuk Rektor, PR I, PR II, PR III dan Dekan2 serta dosen2 pembimbing..semua jelas, tuntas. Akhirnya Rektorpun sambil senyum bilang..kalau begitu ya sudahlah..teruslah! Lohotpun lega, ternyata tak ada bukti korupsi, itu hanya tuduhan tak berdasarkan bukti.
Perokok berat. Rokoknya sejak lama Gudang Garam bungkus kertas, banyak cengkeh. Hingga bajunyapun bolong2 kena api rokok. Sekarang setelah lama pensiun dari PNS, rokok tak pernah padam di ruang tamunya bermerk Sampoerna Mild, Evolution…tanya2 rupanya harga 1 pak/10 bungkus mencapai Rp 430,000…(hampir setengah juta)…aduh mahalnya rokok Kiyai Lohot.
Pengalaman di rumah Dinas Pejabat. K. Lohot katanya pernah ditahan oleh security di depan Rumah Dinas Bupati Batanghari, karena pakai sepeda motor tua, sendal lapuk, baju lusuh, dalam rangka mengantar mahasiswa KKN. Tetapi di Pintu Gerbang tiba2 muncul mobil dinas. Pak Bupati kaget melihat K. Lohot ditahan oleh Satpam, maka langsung Bupati turun dari mobil dinas dan menyalaminya di pintu gerbang…Lalu si Satpam? Kabur menghilang..malu. Bupati kemudian mempersilahkan K. Lohot masuk ke rumah dinas, dijamu makan dan setelah itu Bupati bilang: sekarang tinggalkan sajalah sepeda motor tua itu di tempat parkir (Rumah Bupati)…maka selanjutnya Kiyai Lohot diantar dengan mobil dinas Bupati ke mana2 selama KKN.
Bagaimana kiat dakwah Lohot. Dia tidak nampakkkan ‘warna’ (Batak). Dia Membaur. Polos, rendah hati, mengenal audiens apakah orang desa, petani, PNS, Pejabat, ibuk2 pejabat, atau ormas. Lohot sebagaimana telah dikatakan tidak mata duitan, tidak pernah pasang tarif, selalu humoris, bahasanya sederhana dan jelas tradisinya NU. Akhir2 ini telah muncul dai2 muda dari Tapanuli di kota Jambi misalnya Ustaz Dr. Samin Batubara. Bahkan tetangga saya juga seorang dai bernama Landong rangkuti. Walau bagaimanapun, wajah etnis Batak bagi mayoritas umat Islam Sumatera bagian Selatan semakin bergeser dari semula sangat kekristenan sekarang semakin berangsur keIslaman. Bintang Utara semakin menampakkan dirinya.
Apa pelajaran yang dapat dipetik? Banyak hikmah yang dapat dipetik dari perjalanan hidup Kiyai Lohot. 1. Rupanya persoalan duniawi jangan terlalu melilit pemikiran kita…biarlah yang berlalu tetap berlalu. Lohot memang pensiunan PNS, tetapi dia tak pernah memangku jabatan structural internal IAIN 2. Humoris itu menyehatkan. 3. Dalam dinas, jangan terlalu ambisius untuk mencari kekayaan, bahkan uang pribadi yang sudah masuk kantongpun sebaiknya dibagi-bagi untuk orang lain. Akibat kepribadiannya yang tidak duniawi akhirnya Lohot disayangi oleh banyak orang dan pejabat. Secara sosiologis, pandangan negative atas etnis Batak mulai bergeser. 4. Masyarakat Jambi umumnya mempunyai pandangan mulia kepada orang2 yang banyak mengaji agama Islam. Ada tradisi unik di sekitar wilayah daerah Jambi. Bila seorang anak muda baru saja tamat dari sekolah agama, maka status sosialnya naik…biasanya, di daerah Muara Bungo, anak muda tersebut pada waktu acara2 pesta pernikahan di kampung disuruh duduk rapi berjejer dengan pakaian Islami di atas lantai papan rumah yang letaknya agak ditinggikan di tengah rumah (mirip etalase) agar terlihat dan dapat diintip oleh calon2 mertua yang punya anak2 gadis yang kebetulan sedang mencari calon menantu. Unik bukan? Apakah anda berniat menjadi calon menantu orang Jambi? Silahkan datang ke Jambi.
Sekianlah pembaca setia. Kisah Kiyai Lohot ini semoga menjadi tauladan bagi adik2 muda. Ketahuilah nasehat orang2 bijak yang mengatakan bahwa ‘di mana bumi diinjak, di situ langit dijunjung’..Kiyai Lohot telah mempraktekkannya dari tanah Batak ke tanah Melayu Jambi. Kita berdoa semoga Kiyai Lohot panjang umur dan kembali aktif berdakwah. Wassalam. Amhar Rasyid, Jambi.