Oleh: Amhar Rasyid
Jambi, 17 April 2026
Assalamu’alaikum wr,wb Bapak2/Ibuk2/Adik2 semuanya generasi muda harapan bangsa di mana saja berada baik Muslim maupun non-Muslim.
Yuval Noah Harari (Guru Besar Sejarah di Israel) yang sering muncul dalam berbagai forum2 diskusi ilmiah di level internasional, dan juga sering dikutip pendapatnya oleh Prof. Amin Abdullah, mengatakan bahwa 3 agama besar: Yahudi, Kristen dan Islam akan mendapat persaingan ketat dengan AI (Artificial Intelligence/Kecerdasan Buatan), sebab ketiga agama besar tersebut katanya, sangat menekankan Kebenaran dari dalam Kitab yang Tertulis. Mendengar kata ‘Tertulis (written/maktubah)’ tersebut saya langsung tersentak memikirkan bagaimana kira2 dampaknya terhadap dakwah agama? Disaingi oleh AI? Itulah kata kunci ‘key word’ dalam tulisan singkat ini. Apa, bagaimana, dan kenapa terjadi persaingan, lalu apa akibat jauhnya ke depan dalam bidang dakwah agama? Tulisan berikut akan mencoba menghadirkan Refleksi Penulis sebagai Anak Zaman.
Perlu diketahui bahwa tantangan dakwah di zaman kini, mengutip Google, ialah polarisasi di media sosial, hoax, pengaruh negative materialisme dan hedonisme dan pentingnya memikir ulang metode dakwah khusus bagi generasi milenial.
Sebelum membahasnya, penulis ingin menjelaskan bahwa kata ‘dakwah’ di sini artinya ceramah agama lisan, bukan tulisan, yang disampaikan oleh para penceramah, khatib dan buya dari berbagai langgar dan masjid. Dengan adanya perkembangan teknologi AI, dakwah lisan semacam itu, katanya, akan tersaingi dalam banyak hal. Berikut penjelasannya.
Pertama, daya ingat (memory) penceramah sebagai manusia tentu saja terbatas. Sebab daya ingat dalam ilmu psikologi menunjuk kepada daya serap cognitive otak, daya simpan dan daya mengingat kembali peristiwa masa lalu, ia biasa disingkat dengan 3 istilah: encoding, storage dan retrieval. Hafalan yang sudah dikuasai ustaz penceramah sejak di pesantren2, MtsN, atau di bangku Kuliah (Timur Tengah, Malaysia, IAIN/UIN) semakin lama akan semakin lupa. Sementara AI, kata Yuval, akan mampu mengingat detail, rinci tentang hal2 apa yang terjadi sejak ratusan yang lalu. Sebab ingatan AI berbeda dengan manusia. AI mendasarkan ingatannya pada infrastruktur digital, (lapisan konteks dan basis data). AI mampu mengingat obrolan zaman dulu walaupun percakapan antar manusia telah usai. Inilah yang membuat AI selalu lebih relevan dan personal dari waktu ke waktu. Bila ditanya tentang sesuatu pendapat, kata Yuval, AI akan mampu memberikan info misalnya: siapa, dimana, kapan, apa pendapat orang, dalam kitab apa, apa judul kitabnya, bab berapa, halaman berapa, bahkan pada baris keberapa tersembunyinya pendapat tersebut? AI akan sangat ingat itu semua, sementara penceramah tak akan mampu mengingat sedetail itu. Itu salah satu kelebihan AI kata Yuval. Bahkan AI terbaru seperti Spiking Brand 1.0 memang sengaja dikembangkan dengan cara meniru cara kerja system syaraf manusia hidup (SNN/Spiking Neural Network). AI tidak pernah merasa lelah berpikir dan ia mampu menggunakan 100% sumber daya dan data yang ada padanya, sementara manusia karena makhluk biologis cepat lelah dan hanya mampu menggunakan sebagian kecil sel neuron. Coba saja sekarang ulik HP anda! Tanyakan misalnya sejarah Imam Bukhari dan siapa nama orang yang pernah menantangnya di masa hidup dan AI akan menjawabnya. Memang orang bilang AI itu ‘Otak Kedua’.
Kedua, karena teknologi berkembang terus, saya lalu membayangkan boleh jadi seorang ustaz, penceramah atau da’i yang sedang membaca ayat atau Hadis suatu saat merasa salah/terlupa sedikit tentang kelanjutan potongan ayat, maka AI akan spontan bersuara dan membetulkannya. Hal yang sama boleh juga akan terjadi pada Imam yang sedang memimpin solat berjama’ah. Imam boleh jadi lupa sambungan ayat yang akan dibacanya dan salah satu makmum (orang yang berdiri di belakang Imam) juga tak mampu mengingatkan, lalu AI otomatis akan membantu berbisik ‘bersuara’ dari dalam kantong sang Imam, ia membantu mengingatkan sambungan ayat yang harus dibacanya. Ini boleh jadi akan terjadi di masa depan dalam bayangan saya sebagai Anak Zaman.
Pendeta2 Kristen dan Rabbi Yahudi juga akan mengalami hal serupa karena Kebenaran agama (Kristen dan Yahudi) digali dari dalam Kitab Tertulis mengutip Yuval. Dengan kata lain, hafalan Paus di Romapun akan kalah dengan hafalan AI terkait untaian isi ayat Bible. Berbicara tentang hafalan Paus, suatu hal yang membuat saya tersenyum sendirian ialah tatkala Donald Trump baru2 ini kesal di Medsos dengan pernyataan Paus Leo XIV (Robert Francis Prevost) bahwa Paus ini kata Trump telah ikut berpolitik: ikut mengeritik urusan perang AS dengan Iran dan Trump sempat mengungkit adanya jasa peran Amerika dalam pemilihan Paus pada tahun 2025, sementara jawaban Paus ialah bahwa dia hanya ‘Preaching the Gospel’ (Menyebarkan ajaran Bible). Kenapa saya ketawa? Sebab kuantitas memory Trump dan memory Paus tanpa disadari keduanya sebenarnya telah kalah oleh kuantitas memory AI. Pemimpin politik beradu mulut dengan pemimpin rohani: anehnya yang menang adalah teknologi AI. Sebab dalam analisa saya, AI membenarkan slogan hermeneutic oleh Gadamer bahwa apa2 yang dikatakan (misalnya oleh Paus) selalu menyembunyikan lebih banyak apa2 yang TIDAK dikatakannya. Kata2 adalah ‘gunung es’ (muncul sedikit) dari yang apa2 yang banyak dibisukan. Nah, Trump kalah.
Ketiga, dakwah di mata saya adalah penjelasan masalah keagamaan oleh seorang da’i. Tetapi di situlah letak persoalannya. Menjelaskan sesuatu kepada orang lain sangat tergantung atas kualitas wawasan ilmu pengetahuan orang yang berdakwah dan ilmu pengetahuan jama’ah yang didakwahi. Saya yakin suara da’i yang bersuara lantang ber api2 di langgar/masjid, tak akan ada terdengar sekeras itu bila dia berceramah di depan petinggi negara, atau di Istana. Suara lantang, keras, itu untuk orang2 …………ya kelas kita2 orang awam ini. Dengan adanya teknologi AI nanti, boleh jadi suara sang penceramah agak pelan nada bicaranya, sebab AI dapat mengoreksinya, da’i agak berhati2 untuk mendakwahi jama’ah sebab AI akan dapat dirujuk oleh jama’ah kapan saja untuk bertanya, bahkan akan bersuara bila audionya diaktifkan.. Di sini wawasan penceramah dan wawasan yang diceramahi akan saling beradu kuat. Da’i terpaksa akan semakin memperluas wawasannya bila tidak mau ketinggalan informasi dan kecanggihan teknologi. Misalnya ketika seorang da’i menjelaskan tentang Keluarga Berencana (KB). Bilamana da’i masih ‘ngotot’ mengatakan bahwa KB itu pada hakekatnya membunuh manusia, boleh jadi AI nanti akan ‘bergeming’, kok membunuh manusia? Mana mungkin pertemuan sperma dan ovum dalam beberapa menit langsung bernyawa? Maka akan banyak informasi2 baru dan kritis sesuai kemajuan ilmu pengetahuan yang akan dihadapi oleh da’i, sebab anak2 muda sangat piawai menggunakan HP dan mengulik AI. Ini dugaan saya.
Keempat, dakwah di zaman modern sudah biasa disampaikan dengan bahasa Inggeris. Khotbah Jum’at di Mesjid kampus UIN Yogya, dan mungkin di mesjid2 kampus lain, sudah biasa bergantian menggunakan bahasa asing: Arab dan Inggeris. Tetapi di beberapa desa, mendengar khutbah dengan bahasa Inggeris boleh jadi dicap sudah ke ‘barat2’an, sebab di mata mereka bahasa Inggeris adalah bahasa milik orang kafir. Nah, ini persoalan cakrawala, persoalan wawasan umat. Mungkin akan muncul dugaan oleh sebagian orang desa bahwa bila khutbah disampaikan dalam bahasa Inggeris tidak akan mendapat pahala di akhirat. Bahasa Arab dikategorikan sebagai bahasa suci. Coba dengar kata2 Ustaz Somad di YouTube yang menyerukan agar dalam card Undangan Pernikahan jangan ditulis kalimat Bismillah dengan huruf Arab, tetapi cukup ditulis dengan huruf Latin. Somad khawatir nanti kertas undangan itu berserakan dan boleh jadi digunakan untuk sesuatu hal yang ‘merendahkan kesucian ayat’, tetapi kata AI, ‘Bismillah’ dalam tulisan Arab juga telah lama digunakan DALAM bangunan gereja2 Kristen di Lebanon, Syria dan Jordan, bahkan Kristen Copti di Mesir juga menggunakan bahasa Arab. Bagaimana menurut anda? Apakah dalam hal ini memory ustaz Somad kalah dengan memory AI?
Kesimpulan. Dakwah, ceramah agama, kajian agama sebagian besar disandarkan kepada memory ustaz penceramah. Memory (ingatan) itu sekarang diungguli oleh ‘makhluk baru, pendatang baru’ yang bernama AI. Kita boleh ragu dengan kebenaran info yang dikatakan oleh AI, tetapi kita mungkin harus mengakui kelebihan kekuatan memory AI dari memory kita.
Persoalannya kemudian ialah tatkala memory manusia yang terbatas berhadapan dengan memory non-manusia AI, Otoritas agama (da’i) meyakini apa2 yang keluar dari ceramahnya telah full, sesuai dengan nilai2 Islami, padahal di balik kata ‘sesuai’ tersebut sebenarnya banyak yang terlupakan karena memang begitulah daya ingat manusia yang terbatas. Mungkin salah satu factor timbul perbedaan mazhab atau aliran Sunni-Syi’ah, NU dan Muhammadiyah bisa dilacak juga kepada kurangnya kemampuan memory manusia atas khazanah klasik tertulis. Sebab bila memory manusia mirip memory AI yang mampu mengingat hal2 yang sangat detail, yang tersuruk sekalipun dalam lipatan buku, ensiklopedi, halaman, baris atau titik manapun akan mampu diingatnya, maka PERBEDAAN pendapat mungkin akan mudah dijembatani. Ingat, kuantitas informasi mempengaruhi kualitas memory.
Kesimpulan di atas juga berimplikasi lebih jauh dalam analisa saya. Dalam dakwah2 agama yang muncul sebatas kemampuan memory manusiawi tersebut sebenarnya telah berperan paradigma2 tertentu yang membentuk cara memahami kebenaran keagamaan oleh si penceramah, ini bila kita kutip pendapat Thomas Kuhn. Artinya kebenaran keyakinan transcendental, diobjektivasi, lalu dijelaskan oleh para da’i dengan paradigma yang telah ‘nongkrong’ dalam kepalanya, paradigma semacam itu memang tidak dimiliki oleh AI. Tetapi paradigma semacam itu membuat memory penceramah lebih unggul dibandingkan dengan memory AI. Paradigma memang berada dalam kepala da’i dan kemudian ditimbangnya dalam qalbu, sedangkan algorithma Deep Learning dijumpai dalam AI (misalnya dalam GPT) tetapi sayangnya ia hampa pertimbangan ‘qalbu’. Bila AI terus melejit maju, lalu sebagai Anak Zaman saya bertanya: apakah dakwah lisan akan terganggu di masa depan karena ‘dihantui’ oleh AI yang serba tahu? Ustaz, pendeta dan Rabbi masa depan siap2 untuk menghadapinya.
Sekianlah Ibu2/Bapak2 dan Adik2 semua semoga bermanfaat. Terimaksih telah membaca tulisan saya. Baarakallah.
Wassalam, Amhar Rasyid, Jambi.
Hikmah: Mungkin akan muncul AI versi Islami.