(WAKTUPUN BERLALU) BAYI, MUDA, TUA (Ontologis-Ontis-Ontologis)


Oleh: Amhar Rasyid
Jambi, 10 April 2026

Assalamu’alaikum wr,wb Bapak2/Ibuk2 dan adik2 semua baik Muslim maupun non-Muslim di masa saja berada. Bila seseorang bertanya: ”Jam berapa sekarang?” Jam 9.00 pagi (wib) jawab anda. Itu bukan waktu yang sesungguhnya, tetapi kesepakatan manusia untuk mengatakan jam 9.00 pagi khusus bagi orang2 Indonesia bagian Barat. Ia adalah ciptaan dan rekayasa manusia setempat yang bersifat lokal. Apakah memang tepat saat anda bicara jam 9.00 pagi? No, absolutely not. Tidak bisa anda mengatakan jam 9.00 tepat. Sebab di saat anda mengatakan jam 9.00 tepat pada saat itu waktu di jam tangan mungkin sudah bergerak kepada jam 9.01, atau 9.02 menit. Jadi mengatakan jam 9.00 tepat itu hanya kesepakatan yang dibuat2. Ini namanya dalam filsafat disebut waktu Ontis.

Tetapi dalam filsafat ada pula yang disebut waktu Ontologis, apa itu? Waktu Ontologis ialah waktu yang bebas dari pembagian manusia: waktu berjalan yang disadari dalam diri kita tanpa terikat oleh jam tangan atau jam dinding. Kata Immanuel Kant (filosuf) waktu (time), dikatakan ada, sebab ia dipengaruhi oleh category2 yang membentuk cara berpikir kita. Category itu, bagi saya, mirip cetakan batu2 es kecil dalam kulkas anda. Bila dimasukkan air, ditunggu lama, akhirnya air membeku menjadi bungkahan es dari cetakan tersebut. Demikian pula kita berpikir, ada ‘kotak2 kecil’ yang membentuk cara berpikir kita namanya category2. Buah pikiran kita mirip batu es, sementara yang membentuk cara berpikir kita namanya category2. Ada category yang bermain dalam menentukan waktu tertentu. Jadi penentuan jam 9.00 wib itu adalah hasil kesepakatan bersama oleh orang2 Indonesia bagian Barat: siapa yang tidak sepakat dengan takaran waktu WIB tersebut susah hidup bersama, kecuali lari keluar zona waktu WIB. Waktu yang pada hakekatnya bersifat Ontologis, sekarang kita ‘kurung, batasi’ lalu ia dinamakan dengan waktu Ontis. Itulah waktu yang kita beri takaran hingga menjadi 24 jam dan kita sepakati bersama.

Waktu usia bayi, kita ‘bebas’ dari waktu, tanpa sadar waktu, tak peduli dengan apa kata orang tentang waktu (emangnye gue pikirin kata bayi Betawi). Bila marasa haus lalu menangis minta susu. Bila lapar lalu nangis minta makan tanpa mikirkan waktu. Sikap bayi semacam ini namanya sikap ontologis: ia bawaan dari dalam diri sendiri tanpa terpengaruh oleh kata orang, oleh waktu Ontis. Bayi itu bersikap sesuai fitrah manusia.

Namun setelah menginjak usia muda dan dewasa, kebiasaan kita sebagai manusia biasanya kurang Ontologis tetapi lebih Ontis. Apa maksudnya? Di usia muda, setelah dewasa, kita merasa menguasai dunia, hidup dan bekerja dengan waktu Ontis, kita sibuk dengan ‘penilaian orang’. Kita ingin jadi PNS, agar apa? Terpandang di tengah masyarakat, hebat dari petani, lebih hebat dari Mamang Bakso, tetapi bukankah status PNS itu hanya ‘bikinan masyarakat’ yang bersifat Ontis? Kita ingin jadi Camat, jadi Bupati, Gubernur, Menteri, bahkan pingin jadi Presiden, kenapa? Karena kita ‘dibuai, tergiur’ oleh Ontis, oleh ‘kesepakatan masyarakat’ bila perlu untuk jadi Presiden Ijazah dipalsukan! Hebat kan? Tetapi kucing dalam istana juga tak mengerti bahwa anda telah menjadi Presiden. ‘Emangnye gue pikirin kata kucing Betawi). Jabatan Presiden itu adalah bikinan masyarakat, hasil kesepakatan bersama: itu Ontis. Kita ‘gila’ Ontis. Bilamana habis masa jabatan Bapak lalu turun ke anak, karena apa? Ya karena Bapak dan Anak sama ‘gilanya’ dengan Ontis.

Eh, lama-lama semakin tua, pensiun, kita nampaknya semakin kembali Ontologis: perangai orang sudah tua mirip perangai anak2, kata orang. Kita kurang tergiur dengan Ontis dengan duniawi: bila ditawari jadi ketua RT: gak mau, ditawari jadi Gubernur: alasan sudah tua, namun bila ditawari jadi Wakil Presiden, mungkin masih ada yang bersedia di antaranya KH Ma’ruf Amin.

Di saat berstatus pensiun, sebagian kita nampaknya mengalami hal2 yang Ontologis, kurang tergiur dengan duniawi, lebih cenderung ke uhkrowi, pilihan lebih memihak kepada pertimbangan diri pribadi: lebih sering ke langgar, makanan diatur, gula dijauhi, lemak2 dijauhi, pernak Pernik duniawi dijauhi, kurang berhasrat, lebih banyak ingat hidup akan mati…ini namanya kesadaran seseorang kembali Ontologis. Orang yang sudah tua tak berminat baju2 branded, kenapa? karena ia ‘penilaian masyarakat’. Di usia senja, manusia seakan kembali ke fitrahnya kepada Ontologis. Artinya Ontis sudah kurang berpengaruh baginya. Apa pandangan tokoh2 agama tentang Ontis?

Bila ditanyakan pada ustaz, kepada kiyai, kepada tokoh agama, kenapa orang sangat tergiur di masa muda dengan duniawi yang Ontis? Jawaban normatifnya biasanya: itu karena manusia kena godaan setan. Ini jawaban Ontis. Masyarakat mempercayai pernyataan ustaz tersebut karena penafsiran agama. Dan ajaran agama dalam Kitab Suci banyak memberikan keterangan berdasarkan Ontis2 yang sudah ada sebelumnya, misalnya Asathirul Awwalun (kisah2 orang terdahulu) kata al-Qur’an. Kenapa demikian? Ya karena ajaran agama yang sangat Ontologis akan susah dipahami oleh cara berpikir orang awam, maka eloklah ayat2 diturunkan lebih banyak dengan contoh2 Ontis. Buktinya, yang dikutuk dalam al-Qur’an seseorang yang bernama Abu Lahab. Ini contoh ayat dalam bentuk Ontis. Padahal yang sebetulnya dituju oleh al-Qur’an itu bukan hanya Abu Lahab secara pribadi yang telah buruk nama di tengah masyarakat Arab saat itu, tetapi ‘Abu Lahab’ sepanjang masa, sepanjang zaman, seperti Abu Lahab2 yang sudah punya banyak perusahaan2 dan jabatan rangkap di Indonesia saat ini tetapi tak pernah PUAS. Jadi al-Qur’an mengutuk Abu Lahab pada ranah Ontis agar menjadi peringatan bagi manusia umumnya sebab manusia sering lalai pada sifat Ontologisnya, pada sifat bawaannya, fitrahnya.

Kesimpulan. Setelah dipikir ternyata kehidupan kita bergerak dari Ontologis ke Ontis lalu kembali ke Ontologis, mirip naik turun gunung, dari bayi, muda, dewasa, lalu tua dan mati. Kehidupan beragama nampaknya lebih taat di saat Ontologis dibandingkan dengan di saat Ontis. Yang menarik ‘stressing’ atau penekanan dalam al-Qur’an lebih banyak pada ranah Ontis dengan berbagai contoh dan ancaman hukumannya. Masa kanak2 dan masa tua (Ontologis) kurang banyak dijumpai ancamannya. Ternyata sejarah dalam al-Qur’an nampaknya dikisahkan dalam teori ‘Melingkar’ (Cyclus Theory) bukan dalam Linear Theory. Sementara Hegel menganut Linear theory di mana Roh Absolut semakin menampakkan dirinya dalam roda sejarah. Kesadaran ini yang tak nampak dalam ceramah2 agama.

Significance of Issue (Hikmah).

  1. Tulisan ini adalah cara lain untuk menolong menjelaskan isi ceramah agama oleh para ustaz, buya dan kiyai. Ini dakwah agama lewat filsafat. Sebab ceramah2 agama umumnya bersifat mengulang, repetitive, jarang menceritakan hal2 pemikiran yang baru, jarang berijtihad bahkan suka taqlid. Ceramah2 agama itu kebanyakan bersifat Ontis: ia takut berbeda dari kesepakatan ulama, enggan berbicara di luar tradisi, ia lebih Ontis daripada Ontologis, padahal katanya agama itu sesuai Fitrah manusia. Fitrah itu Ontologis bukan Ontis.
  2. Akhirat lebih tepat dipahami sebagai waktu Ontologis. Ia di luar takaran waktu Ontis, di luar takaran waktu bikinan manusia. Akhirat berada dalam waktu yang tak terpengaruh lagi oleh perputaran bumi dan sinar matahari, waktu yang ada setelah kiamat. WAKTU LEPAS. Jadi bilamana dalam ceramah2 agama sekarang penceramah masih menakar waktu ukhrowi dengan takaran waktu duniawi yang Ontis, itu perlu dipikir ulang. Nampaknya sarana untuk memikir ulang waktu Ontis-Ontologis bukan tafsir tetapi hermeneutic.
  3. Bagaimana dengan penentuan awal Ramadhan oleh Muhammadiyah dan NU? Keduanya juga bekerja pada ranah Ontis. Muhammadiyah mendasarkan Hisabnya pada algorithma astronomi sebagai hasil kesepakatan dunia ilmu pengetahuan modern. NU? Ini lebih ‘Ontis’ lagi. Rukyah itu disandarkan pada kebenaran laporan orang2 yang katanya telah berhasil meneropong Hilal dari banyak tempat. Dalam filsafat Bertrand Russell, mereka sebenarnya bukan menangkap hilal, tetapi menangkap ‘bayangan’ gerak hilal berkat adanya sinar. Artinya, kita yang hidup hari ini di bumi Nusantara janganlah terlalu fanatic dengan pendapat tertentu, sebab penetapan tanggal 1 Ramadhan dan 1 Syawal oleh NU dan Muhammdiyah hanyalah Ontis. Yang maha WAJIB kita amalkan ialah berpuasa Ramadhan itu sendiri, sebab berpuasa Ramadhan itu kewajiban Ontologis: Puasa juga telah diwajibkan pada orang2 terdahulu kata al-Qur’an. Maka untuk tahun2 depan, agar umat ini maju, hiduplah dengan keyakinan diri sendiri, mulailah berpuasa Ramadhan sesuai dengan keyakinan hati sanubari anda yang dilandasi oleh cakrawala berpikir yang maju, mandiri, bukan ikut2an orang banyak. Mulailah berpuasa atas dasar ilmu pengetahuan, sesuatu yang Ontologis yang datang dari dalam diri anda. Sekian.

Demikianlah Bapak2/Ibuk2 dan adik2 semuanya, terimakasih telah membaca tulisan saya ini. Wassalam. Amhar Rasyid.

*Silakan Share