Podcast NU ONLINE:POST-MODERNISME DAN MASA DEPAN INDONESIA

Oleh Amhar RasyidJambi, 20 Februari 2026Assalamu’alaikum Bapak2/Ibuk2/Adik2 generasi muda harapan bangsa di mana saja berada baik Muslim maupun non-Muslim. Selamat Berpuasa Ramadhan. Ada sebuah Podcast menarik dalam YouTube yang baru saja saya dengar antara Prof. Bambang Sugiharto (Narasumber) dan sdr. Ivan Aulia Ahsan (Moderator) yang berjudul ‘Post-Modernisme (Post-Mo) dan Masa Depan Indonesia’. Ini adalah edisi yang terbaru dan baru saja ditayangkan pada bulan Februari 2026 ini dalam judul ‘Menjadi Indonesia’, yang dapat juga anda tonton sekarang dalam canal YouTube NUONline (Episode ke 37). Sejauh tangkapan saya, mereka berdua mula2 mendiskusikan tentang Latar Belakang Akademik Prof. Bambang, Kenapa dia tertarik pada Post-Modernisme, bagaimana Filsafat Heidegger dan apa pengaruhnya, apa sifat2 Keunikan Perkembangan Sains, serta sejarah awal Katholik. Pertanyaan yang sangat utama ialah bagaimana hubungan Post-Mo dengan Masa Depan Indonesia di mata Prof. Bambang? Saya akan mencoba merangkumnya dengan bahasa saya sendiri dan diperjelas dengan informasi dari Google AI. Semoga diskusi berikut akan memperkaya khazanah pemikiran adik2 kawula muda. Pertama, siapa Prof. Bambang Sugiharto, mengapa dia tertarik pada Post-Mo, dan apa judul disertasinya? Prof. Dr. Ignatius Bambang Sugiharto Lph dilahirkan di Tasikmalaya 6 Maret 1956. Dia menamatkan S1 di Fakultas Filsafat Universitas Katholik Parahiyangan, Bandung, S2 dan S3 di Pontifica Universita San Thomaso (Angelicum) Roma, Italia. Prof. Bambang sekarang bertugas sebagai Kepala Program Studi ‘Studi Humanitas’ (Integrated Arts). Dia juga mengajar Hermeneutika di UIN Bandung. Guru Besar ini dipandang sebagai pemikir Postmodernisme di Indonesia, yang menelusuri hermeneutika sebagai cara memahami hidup (Lebenswelt), sebagai proses menafsir yang tanpa henti, dan dia juga tertarik menekuni hubungan antara filsafat dan seni serta agama. Mengapa dia tertarik pada Post Mo? Sejauh yang saya pahami katanya dia anti kemapanan. Sejak kecil hobbynya suka melukis, kadang menari, kadang2 juga membuat sesuatu yang lain dari biasanya. Suka berpindah-pindah. Sehaluan dengan hobby tersebut, muncullah dalam aliran filsafat apa yang disebut dengan Post Modernisme. Post artinya ‘sesudah’. Jadi Post Mo artinya sesudah Modernisme. Ini ditandai dengan munculnya banyak istilah2 dan buku2 yang berjudul ‘The End of….’ Kedua, tentang konsep Post Modernisme. Konsep ini adalah cara atau kerangka berpikir. Ia mempertanyakan asumsi2 yang selama ini diyakini benar dalam era Modernisme. Dulu pada awal abad ke XX, katanya, muncul fenomenologi Husserl. Dalam pandangan filsafat ini yang realita ialah yang kita alami dalam kehidupan nyata ini sebagai pengalaman konkrit (Lebenswelt), bukan seperti dalam ilmu alam dimana pengalaman manusia sudah diabstraksi. Kemudian muncul filsafat Heidegger dimana dikatakan bahwa manusia itu manfasir. Tidak ada aspek kehidupan yang sepi dari penafsiran. Artinya bila anda sedang membaca tulisan say aini sekarang, maka anda sedang menafsir juga. Dengan datangnya Heidegger, maka hermeneutic sejak dari zaman Yunani dipahami sebagai ‘Metode’ (memikirkan makna penafsiran) sekarang berobah kepada Ontologi. Pandangan Heidegger ini kemudian mempengaruhi bidang2 lain terutama bidang yang digeluti ahli2 ahli biologi Chili seperti Humberto Maturana (1928-2021) penggagas teori cybernetic second-order. Menurut Maturana, autopoesis hanya terapat dalam kehidupan molekul dan tidak setju bila dikaitkan dengan sosiologi. dan Francisco Varela (1946-2001) yang memperkenalkan konsep autopoiesis dalam biologi yaitu tentang struktur yang berkembang mandiri dan struktur yang menjaga diri sendiri dalam system makhluk2 hidup. Karya Maturana berpengaruh pada system berpikir dan Varela menulis disertasi Harvard dengan judul Insect Retinas: Information Processing in the Compound Eye. Dalam pandangan mereka setiap organisme (makhluk hidup), misalnya lalat, kadal dan lainnya juga menciptakan dunainya sendiri. Dengan demikian, apa arti objektivimse? Cybernetika. Lebih jauh filsafat baginya memiliki dua dimensi yaitu sebagai khazanah pemikiran besar para filosuf dan juga sebagai cara berpikir mendasar. Keduanya saling terkait, sebab hanya dengan mempelajari khazanah pemikiran besar masa lalu kita akan dapat berpikir mendalam dan mendasar secara rasional. Filsafat mencoba merenungkan pertanyaan2 di luar kapasitas sains. Persoalan bagi bangsa Indonesia kini ialah tidak berkembangnya budaya tulisan sebagai akar pemikiran kritis. ‘Begitu bangun kita menjadi modern, kita terjepit dengan budaya lisan’. Dari budaya lisan langsung pula melompat ke budaya visual yang dipercepat oleh perkembangan teknologi indormasi tanpa melewati budaya tulisan. Akibatnya? Banyak terjadi budaya komentar ‘ngawur’ terutama di Medsos katanya. Banyak muncul argument dari orang2 yang hanya bisa mematahkan pendapat orang lain, tetapi dia tak mampu membangun kembali jawaban argumennya sendiri yang utuh. Saya ingin bertanya, dimana posisi anda dalam kritik Guru Besar ini? Adapun pernyataan2 filosofis yang patut didengar dari berbagai Podcast Prof. Bambang di antaranya: 1. Betatapun brilliannya anda, anda hanya akan menemukan ide anda melalui ide orang lain. Betapapun jenius anda,’ anda hanya akan ‘jeblok’. ‘You only find yourself through the others’. Ketiga, bagaimana hubungan disertasinya dengan klaim kebenaran? Google AI rupanya tak mampu memberitahu informasi tentang judul disertasi Prof. Bambang dulu di Roma. Coba anda cek sendiri di Google AI. Tetapi saya mendapatkan info langsung dari NUOnline. Judul disertasinya ialah ‘The Primacy of the Metaphore in the PostModernism’. Tatkala Prof. Bambang mengutip kata2 Francisco Varella dikatakan bahwa hampir semua hasil peradaban kita terutama pada bidang sains dan teknologi dan semua klaim kebenaran hanyalah metafor2 yang tidak kita ketahui kebenarannya secara hakiki. Dengan bahasa yang sederhana: semua hanyalah ‘akal2an’, atau rekayasa kita saja. Misalnya dikotomi subjek-objek. Siapa yang menentukan subjek, dan mengapa sesuatu dianggap sebagai objek? Patut diduga bahwa setiap klaim kebenaran yang dibuat oleh manusia terdapat unsur politis di dalamnya. Yaitu utamanya siasat unsur untuk mengatur kehidupan orang banyak. Ah…disini saya lalu teringat claim kebenaran dalam menentukan awal Ramadhan, kenapa dua organisasi bertikai? walaupun sdr. Ivan dan Prof. Bambang tidak menyinggungnya.Keempat, bagaimana pula dengan sifat2 perkembangan sains? Sains di dunia modern terus bergerak maju katanya. Kenapa ia begitu maju? Sebab sains adalah satu2nya disiplin ilmu yang mau membuka diri, mau mengoreksi kesalahannya, dan terukur. Sementara ilmu2 selain sains; bersifat tertutup, tidak mampu menjelaskan dirinya sendiri dan tak terukur, misalnya ilmu2 orang Timur, Silat, Feng Shui, Jamu2an, dan lainnya. Saya bertanya dalam hati: bercermin kepada sains, apakah ilmu untuk penentuan awal Ramadhan juga belum saintifik? Apakah mau metode Rukyah dan metode Hisab mengoreksi kesalahannya masing? Apakah metode2 tersebut sudah bersih sama sekali dari ideologi keormasan yang menanunginya? Keilmiahan metode2 tersebut diukur dengan cara2 positivistik semacam itu menurut saya, sejauh ia dapat dijelaskan secara burhani.Kelima, Prof. Bambang juga ditanya soal sejarah Kristen oleh Ivan. Kata Prof. Bambang, walaupun dia mengaku bukan ahli sejarah agama2, tetapi secara ringkas dapat dikatakannya bahwa peristiwa Yesus itu kan ‘sekte’ (bid’ah) dalam kontek agama Yahudi. Yahudi menganggap Kristen sebagai ‘menyimpang’ dari ajaran Yahudi. Sementara Romawi menanggap Yesus itu ‘pemberontak’ (subversive) maka dia disalib kata Bambang. Sebagaimana diketahui dulu di sekitar Timur Tengah, di Antioch, Alexandria dan Parsi sebelumnya telah beredar Hellenisme (yang mengandalkan Logos) kemudian masuk Kristen, maka timbullah upaya untuk mengartikulasikan peristiwa Yesus dengan Logos. Nah perpaduan antara Yahudi, Romawi, dan Hellenisme semacam inilah yang kemudian menjadi ‘DNA’ Katholik tegasnya. Ini cara memahami agama Kristen secara diakronik. Last but not least yang paling penting, ialah bagaimana hubungan Post-Mo dengan Masa Depan Indonesia? Karena berkembangnya pengaruh konsep Post Modernisme, muncul pula di Indonesia konsep Post tradisionalis (dalam NU) kata Ivan sambil senyum. Menurut Prof. Bambang kita bangsa Indonesia ikut modern masih dalam ‘fashion’, dan belum mendalam kepada sikap mental apalagi kerangka berpikir. Fashion dalam gaya hidup, HP mahal, kendaraan mahal, tas branded dan lainnya. Tetapi bila konsep modernitas dikaitkan dengan nation-State, katanya, maka perlu dilihat di situ konsep ‘kesadaran’, baik kesadaran individual maupun kesadaran kolektif. Kesadaran yang membangkitkan rasa harga diri. Semangat anti-kolonialisme adalah salah satu contohnya. Walaupun Kenichi Ohmae telah menulis buku The End of the Nation State (1995) namun Indonesia, kata Prof. Bambang, masih punya rasa kesamaan (pernah dijajah) dan punya cita2 bersama untuk ke depan. Dalam bukunya Ohmae berargumen bahwa negara2 konvensional telah kehilangan relevansinya dalam ekonomi global, ia bagaikan dinosaurus yang menunggu kematian karena tidak lagi efisien dalam mengelola kekayaan di era ekonomi global dan lalu digantikan oleh ekonomoi regional yang melampaui batas2 negara. Maka sdr.Ivan dan Prof. Bambang sama2 setuju bahwa untuk Nation-State diperlukan paham Utilitarian. Sebab Utilitarinisme, di saat2 chaotic kata mereka, diperlukan untuk mencari patokan …….? Maka untuk Indonesia maju ke depan, kata Bambang dan Ivan yang juga pernah bertanya pada sejarawan J.J. Rizal, yang perlu bagi bangsa Indonesia kini ialah ‘Sikap Kritis’. Bagaimana aplikasi sikap kritis tersebut? Sayang sekali Wawancara mereka berdua (warga NU dan warga Katholik) nampaknya mendadak diakhiri karena terdengar kumandang adzan zhuhur di sekitarnya. Kesimpulan dan Significance of issue. Saya kagum dengan cara sdr. Ivan menggiring diskusi: terstruktur dan hidup. Maklum dia adalah Editor-in-Chief NU Online. Dalam akun FaceBook sdr. Ivan ada tulisan ‘Manusia modern secara anatomis, hominin kuno secara genetis, kera yang hebat secara intelektual’. Anda juga bisa membacanya di Face Book. Dari sekian banyak topik yang dibicarakan di atas nampak bahwa kehidupan modern kita di Indonesia khususnya tak bisa lagi ‘mengunci diri’. Dunia sudah semakin terkoneksi, saling terhubung, saling terkait. Suatu entitas bukan hanya sebagai sebab semata, tetapi juga sebagai sebab dan akibat sekaligus. Maka diperlukan semangat Kritis’ dalam berpikir, sekaligus mau berkaca diri pada orang lain, pada bangsa lain, pada agama lain, pada ras lain, bersikap terbuka untuk ditanya dan bertanya, sebab hidup sudah saling terkoneksi. The Other bukan lagi diperlakukan sebagai objek tetapi sebagai subjek juga. Maka sudah saatnya diperlukan sikap terbuka, berdialog, untuk mendengarkan YANG LAIN berbicara dengan segala kelainananya kata Gadamer. Dengan dialog akan terjadi Peleburan Cakrawala. Maka di bulan suci Ramadhan ini adalah momen yang tepat untuk memeriksa kembali asumsi2 kita di bidang non-aqidah dan non-ibadah. Perlu ditinjau ulang Asumsi2 yang melekat dalam warisan Islam Sejarah yang kiranya hari ini akan membelenggu untuk saling keterbukaan pada The Other. Baik bacaan doa usai solat maupun acara2 keagamaan non ubudiyah mahdhah, menurut saya, sebaiknya diarahkan kepada semangat HIDUP BERSAMA lintas agama, lintas ras, dan lintas bangsa. Kita tidak ‘mengungkit’ kesalahan orang lain, tetapi mencari ‘titik temu’ pada hal2 apa yang bisa kita buat bersama untuk disumbangkan kepada kemanusiaan. ‘Fal yaqul khayron aw liyashmut’. Dalam kontek The Aesthetic of Existence oleh Foucault kita artikan (Mencari titik temu atau diam).Demikianlah Bapak2/Ibuk2/Adik2 semua. Terimakasih telah membaca tulisan saya walaupun agak filosofis. Wassalam, Amhar Rasyid, Jambi.

Podcast NU ONLINE:POST-MODERNISME DAN MASA DEPAN INDONESIAOleh Amhar RasyidJambi, 20 Februari 2026Assalamu’alaikum Bapak2/Ibuk2/Adik2 generasi muda harapan bangsa di mana saja berada baik Muslim maupun non-Muslim. Selamat Berpuasa Ramadhan. Ada sebuah Podcast menarik dalam YouTube yang baru saja saya dengar antara Prof. Bambang Sugiharto (Narasumber) dan sdr. Ivan Aulia Ahsan (Moderator) yang berjudul ‘Post-Modernisme (Post-Mo) dan Masa Depan Indonesia’. Ini adalah edisi yang terbaru dan baru saja ditayangkan pada bulan Februari 2026 ini dalam judul ‘Menjadi Indonesia’, yang dapat juga anda tonton sekarang dalam canal YouTube NUONline (Episode ke 37). Sejauh tangkapan saya, mereka berdua mula2 mendiskusikan tentang Latar Belakang Akademik Prof. Bambang, Kenapa dia tertarik pada Post-Modernisme, bagaimana Filsafat Heidegger dan apa pengaruhnya, apa sifat2 Keunikan Perkembangan Sains, serta sejarah awal Katholik. Pertanyaan yang sangat utama ialah bagaimana hubungan Post-Mo dengan Masa Depan Indonesia di mata Prof. Bambang? Saya akan mencoba merangkumnya dengan bahasa saya sendiri dan diperjelas dengan informasi dari Google AI. Semoga diskusi berikut akan memperkaya khazanah pemikiran adik2 kawula muda. Pertama, siapa Prof. Bambang Sugiharto, mengapa dia tertarik pada Post-Mo, dan apa judul disertasinya? Prof. Dr. Ignatius Bambang Sugiharto Lph dilahirkan di Tasikmalaya 6 Maret 1956. Dia menamatkan S1 di Fakultas Filsafat Universitas Katholik Parahiyangan, Bandung, S2 dan S3 di Pontifica Universita San Thomaso (Angelicum) Roma, Italia. Prof. Bambang sekarang bertugas sebagai Kepala Program Studi ‘Studi Humanitas’ (Integrated Arts). Dia juga mengajar Hermeneutika di UIN Bandung. Guru Besar ini dipandang sebagai pemikir Postmodernisme di Indonesia, yang menelusuri hermeneutika sebagai cara memahami hidup (Lebenswelt), sebagai proses menafsir yang tanpa henti, dan dia juga tertarik menekuni hubungan antara filsafat dan seni serta agama. Mengapa dia tertarik pada Post Mo? Sejauh yang saya pahami katanya dia anti kemapanan. Sejak kecil hobbynya suka melukis, kadang menari, kadang2 juga membuat sesuatu yang lain dari biasanya. Suka berpindah-pindah. Sehaluan dengan hobby tersebut, muncullah dalam aliran filsafat apa yang disebut dengan Post Modernisme. Post artinya ‘sesudah’. Jadi Post Mo artinya sesudah Modernisme. Ini ditandai dengan munculnya banyak istilah2 dan buku2 yang berjudul ‘The End of….’ Kedua, tentang konsep Post Modernisme. Konsep ini adalah cara atau kerangka berpikir. Ia mempertanyakan asumsi2 yang selama ini diyakini benar dalam era Modernisme. Dulu pada awal abad ke XX, katanya, muncul fenomenologi Husserl. Dalam pandangan filsafat ini yang realita ialah yang kita alami dalam kehidupan nyata ini sebagai pengalaman konkrit (Lebenswelt), bukan seperti dalam ilmu alam dimana pengalaman manusia sudah diabstraksi. Kemudian muncul filsafat Heidegger dimana dikatakan bahwa manusia itu manfasir. Tidak ada aspek kehidupan yang sepi dari penafsiran. Artinya bila anda sedang membaca tulisan say aini sekarang, maka anda sedang menafsir juga. Dengan datangnya Heidegger, maka hermeneutic sejak dari zaman Yunani dipahami sebagai ‘Metode’ (memikirkan makna penafsiran) sekarang berobah kepada Ontologi. Pandangan Heidegger ini kemudian mempengaruhi bidang2 lain terutama bidang yang digeluti ahli2 ahli biologi Chili seperti Humberto Maturana (1928-2021) penggagas teori cybernetic second-order. Menurut Maturana, autopoesis hanya terapat dalam kehidupan molekul dan tidak setju bila dikaitkan dengan sosiologi. dan Francisco Varela (1946-2001) yang memperkenalkan konsep autopoiesis dalam biologi yaitu tentang struktur yang berkembang mandiri dan struktur yang menjaga diri sendiri dalam system makhluk2 hidup. Karya Maturana berpengaruh pada system berpikir dan Varela menulis disertasi Harvard dengan judul Insect Retinas: Information Processing in the Compound Eye. Dalam pandangan mereka setiap organisme (makhluk hidup), misalnya lalat, kadal dan lainnya juga menciptakan dunainya sendiri. Dengan demikian, apa arti objektivimse? Cybernetika. Lebih jauh filsafat baginya memiliki dua dimensi yaitu sebagai khazanah pemikiran besar para filosuf dan juga sebagai cara berpikir mendasar. Keduanya saling terkait, sebab hanya dengan mempelajari khazanah pemikiran besar masa lalu kita akan dapat berpikir mendalam dan mendasar secara rasional. Filsafat mencoba merenungkan pertanyaan2 di luar kapasitas sains. Persoalan bagi bangsa Indonesia kini ialah tidak berkembangnya budaya tulisan sebagai akar pemikiran kritis. ‘Begitu bangun kita menjadi modern, kita terjepit dengan budaya lisan’. Dari budaya lisan langsung pula melompat ke budaya visual yang dipercepat oleh perkembangan teknologi indormasi tanpa melewati budaya tulisan. Akibatnya? Banyak terjadi budaya komentar ‘ngawur’ terutama di Medsos katanya. Banyak muncul argument dari orang2 yang hanya bisa mematahkan pendapat orang lain, tetapi dia tak mampu membangun kembali jawaban argumennya sendiri yang utuh. Saya ingin bertanya, dimana posisi anda dalam kritik Guru Besar ini? Adapun pernyataan2 filosofis yang patut didengar dari berbagai Podcast Prof. Bambang di antaranya: 1. Betatapun brilliannya anda, anda hanya akan menemukan ide anda melalui ide orang lain. Betapapun jenius anda,’ anda hanya akan ‘jeblok’. ‘You only find yourself through the others’. Ketiga, bagaimana hubungan disertasinya dengan klaim kebenaran? Google AI rupanya tak mampu memberitahu informasi tentang judul disertasi Prof. Bambang dulu di Roma. Coba anda cek sendiri di Google AI. Tetapi saya mendapatkan info langsung dari NUOnline. Judul disertasinya ialah ‘The Primacy of the Metaphore in the PostModernism’. Tatkala Prof. Bambang mengutip kata2 Francisco Varella dikatakan bahwa hampir semua hasil peradaban kita terutama pada bidang sains dan teknologi dan semua klaim kebenaran hanyalah metafor2 yang tidak kita ketahui kebenarannya secara hakiki. Dengan bahasa yang sederhana: semua hanyalah ‘akal2an’, atau rekayasa kita saja. Misalnya dikotomi subjek-objek. Siapa yang menentukan subjek, dan mengapa sesuatu dianggap sebagai objek? Patut diduga bahwa setiap klaim kebenaran yang dibuat oleh manusia terdapat unsur politis di dalamnya. Yaitu utamanya siasat unsur untuk mengatur kehidupan orang banyak. Ah…disini saya lalu teringat claim kebenaran dalam menentukan awal Ramadhan, kenapa dua organisasi bertikai? walaupun sdr. Ivan dan Prof. Bambang tidak menyinggungnya.Keempat, bagaimana pula dengan sifat2 perkembangan sains? Sains di dunia modern terus bergerak maju katanya. Kenapa ia begitu maju? Sebab sains adalah satu2nya disiplin ilmu yang mau membuka diri, mau mengoreksi kesalahannya, dan terukur. Sementara ilmu2 selain sains; bersifat tertutup, tidak mampu menjelaskan dirinya sendiri dan tak terukur, misalnya ilmu2 orang Timur, Silat, Feng Shui, Jamu2an, dan lainnya. Saya bertanya dalam hati: bercermin kepada sains, apakah ilmu untuk penentuan awal Ramadhan juga belum saintifik? Apakah mau metode Rukyah dan metode Hisab mengoreksi kesalahannya masing? Apakah metode2 tersebut sudah bersih sama sekali dari ideologi keormasan yang menanunginya? Keilmiahan metode2 tersebut diukur dengan cara2 positivistik semacam itu menurut saya, sejauh ia dapat dijelaskan secara burhani.Kelima, Prof. Bambang juga ditanya soal sejarah Kristen oleh Ivan. Kata Prof. Bambang, walaupun dia mengaku bukan ahli sejarah agama2, tetapi secara ringkas dapat dikatakannya bahwa peristiwa Yesus itu kan ‘sekte’ (bid’ah) dalam kontek agama Yahudi. Yahudi menganggap Kristen sebagai ‘menyimpang’ dari ajaran Yahudi. Sementara Romawi menanggap Yesus itu ‘pemberontak’ (subversive) maka dia disalib kata Bambang. Sebagaimana diketahui dulu di sekitar Timur Tengah, di Antioch, Alexandria dan Parsi sebelumnya telah beredar Hellenisme (yang mengandalkan Logos) kemudian masuk Kristen, maka timbullah upaya untuk mengartikulasikan peristiwa Yesus dengan Logos. Nah perpaduan antara Yahudi, Romawi, dan Hellenisme semacam inilah yang kemudian menjadi ‘DNA’ Katholik tegasnya. Ini cara memahami agama Kristen secara diakronik. Last but not least yang paling penting, ialah bagaimana hubungan Post-Mo dengan Masa Depan Indonesia? Karena berkembangnya pengaruh konsep Post Modernisme, muncul pula di Indonesia konsep Post tradisionalis (dalam NU) kata Ivan sambil senyum. Menurut Prof. Bambang kita bangsa Indonesia ikut modern masih dalam ‘fashion’, dan belum mendalam kepada sikap mental apalagi kerangka berpikir. Fashion dalam gaya hidup, HP mahal, kendaraan mahal, tas branded dan lainnya. Tetapi bila konsep modernitas dikaitkan dengan nation-State, katanya, maka perlu dilihat di situ konsep ‘kesadaran’, baik kesadaran individual maupun kesadaran kolektif. Kesadaran yang membangkitkan rasa harga diri. Semangat anti-kolonialisme adalah salah satu contohnya. Walaupun Kenichi Ohmae telah menulis buku The End of the Nation State (1995) namun Indonesia, kata Prof. Bambang, masih punya rasa kesamaan (pernah dijajah) dan punya cita2 bersama untuk ke depan. Dalam bukunya Ohmae berargumen bahwa negara2 konvensional telah kehilangan relevansinya dalam ekonomi global, ia bagaikan dinosaurus yang menunggu kematian karena tidak lagi efisien dalam mengelola kekayaan di era ekonomi global dan lalu digantikan oleh ekonomoi regional yang melampaui batas2 negara. Maka sdr.Ivan dan Prof. Bambang sama2 setuju bahwa untuk Nation-State diperlukan paham Utilitarian. Sebab Utilitarinisme, di saat2 chaotic kata mereka, diperlukan untuk mencari patokan …….? Maka untuk Indonesia maju ke depan, kata Bambang dan Ivan yang juga pernah bertanya pada sejarawan J.J. Rizal, yang perlu bagi bangsa Indonesia kini ialah ‘Sikap Kritis’. Bagaimana aplikasi sikap kritis tersebut? Sayang sekali Wawancara mereka berdua (warga NU dan warga Katholik) nampaknya mendadak diakhiri karena terdengar kumandang adzan zhuhur di sekitarnya. Kesimpulan dan Significance of issue. Saya kagum dengan cara sdr. Ivan menggiring diskusi: terstruktur dan hidup. Maklum dia adalah Editor-in-Chief NU Online. Dalam akun FaceBook sdr. Ivan ada tulisan ‘Manusia modern secara anatomis, hominin kuno secara genetis, kera yang hebat secara intelektual’. Anda juga bisa membacanya di Face Book. Dari sekian banyak topik yang dibicarakan di atas nampak bahwa kehidupan modern kita di Indonesia khususnya tak bisa lagi ‘mengunci diri’. Dunia sudah semakin terkoneksi, saling terhubung, saling terkait. Suatu entitas bukan hanya sebagai sebab semata, tetapi juga sebagai sebab dan akibat sekaligus. Maka diperlukan semangat Kritis’ dalam berpikir, sekaligus mau berkaca diri pada orang lain, pada bangsa lain, pada agama lain, pada ras lain, bersikap terbuka untuk ditanya dan bertanya, sebab hidup sudah saling terkoneksi. The Other bukan lagi diperlakukan sebagai objek tetapi sebagai subjek juga. Maka sudah saatnya diperlukan sikap terbuka, berdialog, untuk mendengarkan YANG LAIN berbicara dengan segala kelainananya kata Gadamer. Dengan dialog akan terjadi Peleburan Cakrawala. Maka di bulan suci Ramadhan ini adalah momen yang tepat untuk memeriksa kembali asumsi2 kita di bidang non-aqidah dan non-ibadah. Perlu ditinjau ulang Asumsi2 yang melekat dalam warisan Islam Sejarah yang kiranya hari ini akan membelenggu untuk saling keterbukaan pada The Other. Baik bacaan doa usai solat maupun acara2 keagamaan non ubudiyah mahdhah, menurut saya, sebaiknya diarahkan kepada semangat HIDUP BERSAMA lintas agama, lintas ras, dan lintas bangsa. Kita tidak ‘mengungkit’ kesalahan orang lain, tetapi mencari ‘titik temu’ pada hal2 apa yang bisa kita buat bersama untuk disumbangkan kepada kemanusiaan. ‘Fal yaqul khayron aw liyashmut’. Dalam kontek The Aesthetic of Existence oleh Foucault kita artikan (Mencari titik temu atau diam).Demikianlah Bapak2/Ibuk2/Adik2 semua. Terimakasih telah membaca tulisan saya walaupun agak filosofis. Wassalam, Amhar Rasyid, Jambi.

*Silakan Share