Oleh: Agus setiyono*)
“Sesungguhnya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah: 11)
Nama lengkapnya kini tak lagi sekadar dua kata pendek. Ia telah memuat serangkaian kehormatan akademik yang tak bisa disematkan sembarangan: Prof. Erwin Akib, S.Pd., M.Pd., Ph.D.
Ia bukan sekadar nama di balik buku atau daftar hadir seminar ilmiah, tetapi sosok nyata yang menghidupkan makna keilmuan dalam gerak dan jejak.
Lahir di tanah Bugis-Makassar, dari masyarakat yang dikenal dengan falsafah “siri’ na pacce”, Erwin Akib tumbuh di lingkungan biasa, namun dengan mimpi yang tak biasa. Ia bukan keturunan bangsawan akademik atau anak dari guru besar. Ia hanya anak dari keluarga yang meyakini bahwa ilmu adalah kendaraan untuk menuju kemuliaan, dan pendidikan adalah jalan yang tak boleh berhenti di tengah.
Tiga Mahkota dalam Hitungan Hari
Tak semua perjalanan hidup manusia bisa disarikan dalam hitungan hari. Namun dalam pekan terakhir yang lalu, Prof. Erwin Akib memperoleh tiga mahkota prestasi dalam waktu yang hampir bersamaan—sebuah narasi langka yang tak sering muncul di jagat akademik tanah air.
Pertama, ia diangkat sebagai Direktur Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar, tempat ia meniti karier akademik sejak awal. Ini bukan sekadar jabatan administratif, tetapi kepercayaan untuk mengarahkan orientasi keilmuan sebuah institusi yang sedang tumbuh menuju keunggulan.
Kedua, ia dipercaya menjadi Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Jambi, memperluas tapak kontribusinya dalam dunia pendidikan tinggi lintas pulau. Di posisi ini, ia bukan hanya mengawal tata kelola, tapi juga memperkuat nilai-nilai ideologis keislaman dan kemuhammadiyahan dalam pengelolaan kampus.
Ketiga, dan mungkin yang paling monumental: pengukuhannya sebagai Guru Besar di bidang Pendidikan Bahasa Inggris, menjadikannya salah satu dari sedikit akademisi muda yang mencapai derajat profesor sebelum usia 50 tahun. Ini bukan karunia semata, tetapi buah dari riset, publikasi ilmiah, dan pengabdian panjang yang sering kali tak tampak oleh mata publik.
Humble, Merakyat, dan Mendunia
Ironi zaman kita adalah ini: banyak orang ingin terlihat besar, namun sedikit yang bersedia bertumbuh dalam keheningan. Di tengah maraknya “profesor instan” dan “gelar tempelan”, Prof. Erwin tampil seperti oase. Ia tidak suka menonjol, tidak suka gaduh, dan tidak pernah memamerkan pencapaiannya di atas podium ego. Ia lebih memilih menjadi pohon ilmu yang merunduk, walau buahnya lebat dan akarnya menjalar ke mana-mana.
Dengan gelar Ph.D. dari University of Malaysia, Erwin Akib telah melampaui batas geografi akademik. Ia aktif dalam kolaborasi riset internasional, menjadi pembicara pada forum-forum keilmuan di luar negeri, dan mengangkat derajat keilmuan Indonesia tanpa perlu teriak nasionalisme semu.
Namun yang membuatnya benar-benar menonjol adalah kesederhanaannya. Ia dikenal sebagai dosen yang mudah didekati, pemimpin yang tidak membangun jarak, dan intelektual yang tetap menunduk walau namanya sering dipanggil di forum-forum bergengsi.
Jejak Ilmu dalam Khidmat Muhammadiyah
Dalam konteks gerakan dakwah Muhammadiyah, Prof. Erwin Akib adalah salah satu potret cemerlang kader persyarikatan yang menjaga kesetiaan ideologis, sambil membuka diri pada modernitas dan globalitas.
Ia tak hanya sibuk menulis jurnal dan duduk dalam seminar, tetapi juga aktif membina organisasi, memberi kuliah penguatan ideologi, hingga menguatkan arah pendidikan di banyak Amal Usaha Muhammadiyah. Di Universitas Muhammadiyah Makassar, beliau pernah memimpin Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), mengelola ribuan mahasiswa dan dosen dalam nuansa Islam berkemajuan. Di Jambi, sebagai Ketua BPH, beliau menjadi jembatan antara nilai, struktur, dan arah masa depan.
Dalam usia yang relatif muda, Prof. Erwin telah melampaui harapan banyak orang seusianya. Namun yang menarik, ia tidak merasa selesai. Ia justru percaya, bahwa semakin tinggi gelar yang disandang, semakin berat amanah yang dipikul. “Guru besar bukanlah puncak, melainkan pintu masuk untuk memperbesar manfaat,” ucapnya suatu kali dalam forum internal.
Antitesis Zaman Kosong
Kita hidup di zaman ketika orang bisa viral karena sensasi, bukan kontribusi. Di tengah generasi yang lebih akrab dengan konten daripada kontemplasi, kehadiran seorang Erwin Akib adalah teguran halus bagi intelektual yang malas membaca, dan pemimpin yang suka bicara tapi tak berbuat.
Ia adalah antitesis zaman kosong, di mana banyak orang menjual “narasi palsu” untuk membeli “kursi palsu”, sementara ia membangun pondasi akademik dengan waktu, karya, dan pengabdian nyata. Ia tak mengejar panggung, tapi justru panggung yang mencarinya.
Sebuah Teladan, Bukan Sekadar Cerita
Prof. Erwin Akib bukan mitos akademik, bukan pula tokoh buatan narator. Ia nyata, bisa disentuh, dan bisa ditiru. Bukan karena ia tanpa cela, tapi karena ia menyatu dengan etika ilmu dan spiritualitas perjuangan.
Dalam sebuah era yang sering memperlakukan guru besar seperti selebritas dan ilmu seperti kosmetika panggung, kehadiran sosok seperti Erwin Akib memberi harapan baru: bahwa masih ada orang yang meraih kehormatan karena ilmu, bukan karena lobi-lobi kekuasaan; bahwa masih ada guru yang tak hanya besar pada gelar, tapi juga besar dalam sikap dan pengaruhnya.
Maka kepada generasi muda, kepada calon-calon cendekiawan Muslim masa depan, kisah Prof. Erwin Akib bukan sekadar cerita motivasi, tapi nashihat kehidupan: bahwa ilmu yang digali dengan niat yang suci, kerja yang keras, dan sikap yang rendah hati, akan membawa bukan hanya derajat dunia, tapi juga kemuliaan akhirat.
“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim)
*) Pegiat dakwah Online Jambi