SENANDUNG RINDU, LIMPAHAN ILMU Rabindranath Tagore:Kiat Menulis untuk Adik2 Muda

Oleh: Amhar Rasyid
Jambi, 2 Oktober 2026

Assalamu’alaikum wr,wb Bapak2/Ibuk2 dan adik2 muda tunas bangsa di mana saja berada, baik Muslim maupun non-Muslim. Salam sejahtera. Semakin lama saya menulis tiap hari Jum’at, semakin banyak pula adik2 pembaca tulisan saya yang tertarik ingin menulis karangan lalu mereka bertanya ‘kiat’nya bagaimana? Sebagian adik2 itu mengatakan bingung tatkala hendak menulis, hendak mulai dari mana, judul belum ada, persoalan juga tak terbayang dalam kepala mereka, lalu mau menulis apa? Mendengar ‘jeritan’ keinginan adik2 itu saya ingin mejawabnya dengan Senandung Rindu, tali pengikat kasih, tetapi dalam Limpahan Ilmu, dalam keinginan untuk sama2 maju. Saya bantu dengan ikhlas apa2 yang membuat adik2 merasa bingung. Contoh yang saya akan berikan di bawah ini bukan karya ilmiah murni tetapi cenderung bercorak prosa. Kenapa prosa? Justru memulai menulis dengan prosa menurut saya akan lebih mudah sebab ia menceritakan pengalaman se hari2, pengalaman dari diri sendiri. Maka terimalah tulisan berikut dalam kejernihan akal pikiran dan kebeningan jiwa yang terinspirasi oleh sastrawan besar dunia bernama Rabindranath Tagore. Bahannya saya ambil dari berbagai sumber, kemudian diulas di sana sini dengan menggunakan pendekatan empiric disertai dengan contoh aktual dalam konteks sosial politik Indonesia. Siapa Rabindranath Tagore? Bagaimana kiatnya dalam menulis? Perlu dikatakan bahwa bagi saya mengajari adik2 muda untuk menulis bukan dengan cara menggurui, bukan pula mendikte tetapi dengan menyelinap ke dalam qalbu insani, merasakan apa yang dirasakan. Mirip dengan mengajari berenang, saya bukan tegak berdiri di atas tebing sendirian sementara adik2 tenggelam dalam air, tetapi saya ikut terjun ke dalam air, ikut basah2 bersama dan ikut merasakan apa yang sedang dirasakan (ilmu penelitian menyebutnya participative). Mari kita mulai!

Siapa Tagore? Rabindranath Tagore (1861-1941) adalah penulis terkenal dari Bengali, India, seorang tokoh pertama dari Asia yang meraih hadiah Nobel Sastra tahun 1913. Tagore pernah mengunjungi Albert Einstein tahun 1930 di Berlin, Jerman, dan Tagore juga pernah dekat dengan Mahatma Gandhi. Kiatnya, pertama, Alam Terkembang bukan Jadi Guru tetapi sumber inspirasi. Alam ini indah dan nampak benar karena adanya keterhubungan rasional dan sensoris dengan subjek manusia (dalam filsafat disebut realisme subjektif). Maksudnya? Ikuti ritme alam, katanya, agar alam mempengaruhi ritme tulisan kita. Nyanyian alam menemukan ekspressinya dalam untaian kata2 yang kita pilih. Contohnya menurut saya, pergilah berjalan keluar rumah atau kantor anda, cari suasana alami yang syahdu, air yang mengalir, dedaunan yang melambai, burung2 yang bernyanyi, kupu2 yang bercumbu mesra atau semut2 yang seolah bertanya ‘sedang apa kau di sini?’ Menunggu pacarku’ mengutip lirik lagu Chrisye. Jadi alam itu dibahasakan dengan logika kita dan penglihatan kita agar ia nampak benar dan cantik. Maka menulis karangan itu tak mesti selamanya di atas meja, boleh jadi cari inspirasi ke dalam kebun sawwit, ke tengah sungai, ke tengah taman lalu dengarkan bisikan alam dan lukiskan perasaan bawah sadar anda dengan memilih kata2 romantis yang sedikit didramatisir. Yusril Ihza Mahendra saya dengar, apakah ini benar atau tidak, menulis skripsinya waktu sedang ikut berjalan dalam rombongan orang banyak. Jadi kita dalam menulis bebas tempat, tulis langsung apa yang terekam dalam ingatan, yang membekas di hati kita, ….apapun hasilnya…sekali lagi apapun hasilnya, dan usahakan memakai bahasa perasaan di mana alam dianggap sebagai bernyawa, seolah alam itu hidup. Misalnya, dalam memilih kalimat, coba anda pertimbangkan mana yang lebih sentimentil antara dua kalimat berikut: ‘Pohon nyiur ditiup angin’ atau ‘Pohon nyiur melambai’? Akan lebih terasa sentimentil menurut saya kalimat Pohon nyiur melambai. Artinya, pohon kelapa disamakan dengan manusia hidup (melambai), jadikan ia aktif bukan pasif, padahal maksud kedua kata itu sama saja. Ini contoh cara memilih kosa kata agar ia indah dan logis dalam mengarang meniru Tagore dalam pemahaman saya.

Kiat kedua bagi Tagore ialah berpikir bebas dan bertumpu pada jiwa. Goreskan tulisan anda menurut cara berpikir anda yang murni, jujur, tidak ikut2an orang lain, jangan takut menyatakan pikiran terdalam yang betul2 anda yakini. Menurut saya, bila pikiran anda dalam menulis terbelenggu misalnya oleh ideologi NU atau oleh ideologi Muhammadiyah atau ormas lain akibatnya tulisan anda tak bernyawa. Tulisan anda akan bernuansa dakwah, bukan seni. Tulisan anda akan menampakkan dikotomi kebenaran ‘hitam-putih’ yang berdalilkan ayat dan Hadis. ‘Hitam-putih’ artinya yang benar ya benar (mutlak), yang salah ya salah (jangan samar2), sementara menulis prosa bukan demikian caranya. Apalagi tulisan2 yang anda TERUSKAN (Forward) di Medsos, di HP anda, banyak yang bernuansa ‘hitam-putih’ seperti itu, berbau kebencian dan kritik, jelas ia tidak menampakkan originalitas karya anda sendiri, tidak bertolak dari pengalaman yang anda hayati. Akibatnya orang kurang tertarik membacanya. Singkat kata, menulis prosa itu merangkai bahasa alam demi bahasa hati.

Jadi bagaimana caranya pak Amhar? Coba tengok ke sekeliling kita, ada banyak kasus sosial, hukum, politik, budaya, agama yang membuat hati kita miris: misalnya Pungli di Penjara Cibinong atau ‘kabar Risywah’ di Muktamar NU. Kita tidak membahas data2 mentah di dalamnya tetapi bukankah di situ ada aspek perasaan manusia yang terganggu? Maka caranya jangan mempromosikan program Pemerintah, atau program NU atau Muhammadiyah secara terang2an tetapi lebih mempromosikan perasaan terdalam anak manusia, sehingga semua orang akan tersentuh batinnya dengan tulisan anda. Maka kita cari di dalam ideologi NU dan dalam ideologi Muhammadiyah nilai2 manusiawi yang terdalam, ajaran2nya yang simpati pada kasih sayang sesama, kepedulian kepada alam dan lingkungan, sesuatu yang sangat menyentuh perasaan orang2 yang akan membaca tulisan kita nanti apapun agamanya, apapun ormasnya. Diulangi, kita bukan bicara soal management organisasi atau aturan2 yang dibuatnya tetapi kita bidik aspek manusiawinya. Dengan kata lain, dalam Muhammadiyah, yang kita bidik bukan putusan2 hukum yang dirumuskan dari metode bayani atau burhani tetapi lebih membidik hasil dari penerapan metode ‘irfani. Sebab metode ‘Irfani itu terkait dengan zawq qalbu. Zawq qalbu, kata Google, adalah ‘rasa hati’, kemampuan bathiniah untuk mengecap dan merasakan kelezatan spiritual. Demikian pula dalam NU, kita intip putusan hukum Bahtsul Masa’il yang pro pada suara hati, pengalaman hidup religius warga Nahdhiyyin. Pesan2 religius tersebut kita dramatisir dengan bahasa2 alam. Mungkin putusan hukum yang berdasarkan metode istishlahi/maqasidi akan bisa digunakan sebab di situ dikatakan ada pencapaian kemaslahatan umum sesuai hasil Muktamar NU ke 33 di Jombang (2015). Kemaslahan umum tentu juga termasuk lingkungan dan satwa. Contohnya apa pak Amhar? Contoh aktual: Bilamana hutan Sumatera yang menjadi paru2 dunia ini terbakar di musim kemarau akibat ulah tingkah anak manusia yang serakah membabat hutan demi uang, dan orang2 Muhammadiyah serta NU, cucu Nabi Adam, berbondong2 melaksanakan solat Istisqa (minta hujan) kepada Tuhan, lalu cucu2 monyet di hutan yang katanya punya ikatan genealogis dengan Darwin ramai2 pada ngomel sambil berlinang air mata. Kata monyet, ‘Kemarau lama sekali, pohon2 di hutan kehausan, daunnya rontok berjatuhan ke tanah bagaikan air mata ibu, lalu si jago merah datang dengan penuh sombong dan amarah, asap dan abunya masuk ke dalam paru2 adik2 kecil dari semua species, rumah2 kami yang hangus terbakar, kalian malah ramai2 pergi solat minta hujan dan dijanjikan sorga, lalu kami satwa serba bingung: mau berlindung dimana bila panas, dan mau berteduh di mana bila hujan?’. Itu sekedar contoh dari saya. Bagi Tagore, menurut analisa saya, untaian kalimat di atas menemui kebenaran dan keindahan karena adanya hubungan rasional dan sensoris antara alam dengan manusia.

Agar jangan teoritik saja, saya ingin membuat sebuah kisah sedih akibat korban MBG yang saya ambil inspirasi untuk menulisnya dari ilmu Rabindranath Tagore. Tetapi anda jangan menangis bila membacanya nanti ya. Ini cerita fiktif (tidak terjadi) tetapi ORIGINAL karangan saya agar adik2 muda lebih dapat mencontoh tentang bagaimana cara mengarang dan menyentuh perasaan manusia lintas agama. Selamat membaca!

KAIN KAFAN di Piring MBG
Oleh: Amhar Rasyid

Pagi itu di desa Harau, di kota Jambi hari hujan rintik2, genangan air di parit2 mulai naik sebagai pertanda bahwa air Sungai Batanghari akan meluap, anak2 sekolah SD mulai berangkat ke sekolah, ada yang diantar dengan mobil mewah oleh orang tuanya dari jauh dan ada pula yang berjalan kaki meskipun sudah diberlakukan system rayonisasi. Anak orang kaya turun berpayung dari mobil mahal, sementara anak orang miskin basah kuyup. Demikianlah nasib Siti, seorang gadis cilik anak Mak Sinah juga berjalan kaki sendirian di trotoir, tidak berpayung sambil menyandang ransel lusuh berisi buku di punggungnya. Siti adalah putri satu2nya Mak Sinah yang dibesarkan sejak bayi karena suaminya sudah lama meninggal yang dulu pedagang asongan. Karena hidup serba tak kecukupan, Siti tak disiapkan oleh Maknya sarapan pagi dan juga tak diberi uang jajan, badannya lunglai, matanya cekung layu tetapi hatinya tetap berdoa kepada Allah sebagai siswi yang taat. Dia sempat melambaikan tangannya pada Maknya sebelum berangkat ke sekolah di hari itu, mungkin untuk yang terakhir kali. Sedih hati melihatnya.

Seperti biasanya, setelah jam makan pukul 12 siang, nasi MBG dibagikan di sekolahnya dan anak2 SD mulai menyantap dengan lahapnya demikian pula Siti yang duduk sendirian di belakang di sudut lokalnya. Kebetulan hari itu lauknya adalah daging ayam tetapi warnanya, pada beberapa piring sudah mulai menghijau meskipun tidak bau. Beberapa ekor lalat hijau beterbangan di sekitarnya, tetapi yang tersisa hanyalah tulang2 ayam yang berserakan di atas piring2 MBG yang disebut siswa dengan Ompreng tertumpuk banyak di sudut kelas. Karena lapar, anak2 sejak dari awal tidak mempedulikannya dan mereka terus melahapnya hingga habis tak tersisa, yang penting perut kenyang. Anak orang kaya dan anak orang miskin sama saja seleranya meskipun ada yang manja naik mobil plat merah. Bukankah urusan perut bagi manusia adalah persoalan nomor satu?

Namun setelah jarum jam dinding di sekolah mendekati pukul 3 sore, beberapa siswa mulai mengeluh kepada buk guru karena perut mereka terasa agak mulas. Guru2 mulai gelisah dan berlarian mencarikan obat untuk murid2nya. Tiba2 Siti yang duduk di bangku paling belakang langsung terjungkal dari kursinya dan muntah2. Buk guru panik, guru2 yang lainpun pada datang melihat dan kepala sekolah juga diberitahu. Siti diangkat badannya. Ambulan segera dipanggil, ruangan sekolah menjadi sibuk, suasana jadi kacau, anak2 pada menangis, guru2 berteriak minta tolong, tangis dan pekik mengisi ruangan sekolah, seakan taqdir Tuhan sudah menemui saatnya. Untunglah Anak Krakatau tidak ikut pula ‘muntah’. Beberapa orang tua siswa rupanya sudah dapat bocoran bahwa di sekolah itu siswa sedang keracunan usai menyantap MBG, mereka datang tergesa-gesa mencari anak masing2 dengan muka pucat sambil menangis mungkin setelah diberitahu oleh beberapa siswa lewat Hp kepada orang tua mereka. Bahkan seorang ibuk pejabat turun mencari anaknya, matanya merah karena menangis mirip warna plat mobilnya yang memakai BH warna merah. Hujan turun semakin deras, air hujan masuk ke dalam ruangan kelas karena ditiup angin kencang, atap kelas banyak yang bocor, listrik padam, dan suasana semakin panik. Atap kelas bagaikan ember bocor.

Di saat itulah Buk Hester, seorang pemeluk Kristen yang kebetulan sudah berada di sekolah membawa mobil pribadi sendiri, dia tampil dan sigap membantu menyelamatkan anak2. Bahkan karena sibuk, Buk Hester sampai lupa pada anaknya sendiri di sekolah yang sama. Cepat2 Siti langsung diangkatnya ke mobilnya, digendong sendirian di tengah hujan lebat. Siti diselimutinya dengan bajunya, dengan berpayung langsung dilarikannya Siti ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Buk Hester sendiri yang menyetir mobilnya meskipun bukan lagi memakai BH warna merah. Tetapi sayang, ajal manusia di tangan Tuhan, nafas Siti tak tertolong dan putri semata wayang Mak Sinah itupun melayang. Buk Hester menangis sedih di luar kamar rawat Rumah Sakit, tertunduk memegang kepalanya sendirian, dia bingung mau menelpon kemana, mau menelpon siapa? Meskipun tak pandai menyebut Innaa lillahi wa Innaa ilaihi roji’un, namun itulah jasa baik buk Hester. Dia seorang ibu, dia juga manusia, dia juga punya hati. Rupanya ada saja makhluk berhati mulya yang datang membantu, meskipun non-Muslim tetapi dia punya rasa kemanusiaan yang mendalam, sudi menolong Siti dengan sukarela bagaikan anak kandungnya sendiri. Seakan dunia ini takjub pada kepribadiannya dan disitulah rasa2 empati manusiawi bertemu, di saat hati manusia merasa iba pada sesama. Saat2 dimana manusia lupa beda agama.

Sementara itu ibu kandung Siti, Mak Sinah, tak tahu kejadian yang memilukan di sekolah itu. Dia juga tak tahu bahwa anaknya telah dilarikan oleh buk Hester ke rumah sakit untuk diobati. Setelah dekat sore Siti tak kunjung jua pulang dari sekolah, jalanan mulai sepi, Mak Sinah baru sadar untuk pergi ke sekolah mencari putrinya. Rupanya sekolah sudah pada tutup, hanya penjaga sekolah bernama Joko (tanpa wi) yang tinggal menyapu sendirian di kejauhan. Mak Sinah berlari mengejar si Joko dan menanyakan (bukan ijazahnya) tetapi apakah Joko melihat anaknya. Hari masih gerimis, lampu padam. Tiba2 sebuah ambulan masuk ke halaman sekolah, pintu gerbang sekolah dibukakan, lampu ambulan kelap2 kelip, sirene berbunyi pertanda membawa jenazah. Lalu beberapa orang pria wanita turun dari belakang mobil ambulan, salah seorang di antaranya ialah buk Hester. Kepala sekolah sudah menunggu berdiri di depan kantor, lalu Mak Sinah datang menghampiri Kepala Sekolah dan bertanya dimana anaknya. Kepala sekolah diam, air matanya berlinang dan wajahnya menunduk, diam seribu bahasa, dia tak mau bicara karena memikirkan bagaimana nanti respon orang tua si Siti. Kepala sekolah sudah dapat info jauh sebelumnya bahwa Siti adalah anak tak mampu, tidak punya Bapak lagi.

Karena tak mendapat jawaban, tiba2 Mak Sinah menoleh kepada seorang wanita di belakangnya yaitu buk Hester, dia memberanikan diri bertanya pada buk Hester yang belum dikenalnya. “Buk, itu jenazah siswa di sini ya, siapa namanya?” tanya Mak Sinah. ‘Laki2 atau perempuan?’ tanyanya lagi ….mendesak dengan tangis air mata. Buk Hester yang tak mengenal Mak Sinah lalu menjawab dengan nada sangat lembut, seakan berbisik hampir tak terdengar :”S…i….t…i” katanya. “Siti, anakkuuuuuuuuuu? langsung menjerit Mak Sinah dengan suara tinggi’. ‘Itu anakkuuuuuu’ katanya. Mak Sinah mengejar dan melompat masuk ke dalam ambulan sambil menangis histeris. ‘Aduh Naaak, kau tinggalkan Makmu sendirian Naaaak di dunia ini, kenapa kau meninggal Naaaak? Sitiiiiiii, Siti…..kenapa Mak tak tau kau dibawa kerumah sakit nak? Siti…..anakkuuuu. Rupanya tadi pagi,… hari terakhir kita bersama Naaak…kau melambaikan tangan buat yang terakhir kali, kau tinggalkan Mak sebatang kara….pagi tadi kau ucapkan salam pada Mak lalu kau menundukkan muka dan kau pergi buat selamanya….Mak tak buatkan kau sarapan dan tak diberi jajan….malang nasibmu Sitiiiiii”. Mak Sinah terus merangkul jenazah anaknya, masih di dalam ambulan bersama jenazah putrinya, menangis menjerit hingga tak seorangpun yang mampu menghentikannya. Sore itu hujan terus mengguyur halaman sekolah, bumi Jambi meratap bersedih, awan mendung turut berkabung, lampu2 jalanan kota Jambi menandai pergantian malam, dan Sungai Batanghari seakan jadi saksi bisu, airnya membanjir bersiap untuk memandikan jenazah Siti…. korban MBG.

Lalu bagaimana cerita seterusnya pak Amhar? Entahlah saya juga kehabisan ide. Ia belum selesai. Bila selesai dikarang mungkin bisa menjadi novel. Belum dijelaskan bagaimana akhir persahabatan antara Mak Sinah dengan Buk Hester. Eloklah saya akhiri fiksi ini hingga di sini agar jangan terlalu panjang. Saya yakin dengan contoh di atas adik2 muda sudah sedikit memperolah inspirasi bagaimana kiat mengarang fiksi sejauh kemampuan saya. Yang terpenting ialah bagaimana tulisan kita agar tidak menyalahkan, tidak mengeritik, pihak lain secara hitam-putih, tidak menghakimi orang lain menurut kaca mata keyakinan kita secara eksplisit tetapi akan lebih bijak secara implisit (seperti contoh tulisan korban MBG saya di atas yang menolak program Prabowo), dan ajak alam untuk aktif terlibat dalam cerita tersebut, dengan menggunakan gaya bahasa pilihan (diksi) yang metaphoric, hindari istilah2 ‘keren’ yang sulit dipahami orang. Satu hal yang paling penting ialah tulisan kita harus membidik perasaan TERDALAM manusia walaupun filsafat Hegel meremehkannya, gunakan bahasa hati, sebab perasaan manusia itu sama, hindari menggurui orang lain, menceramahi orang secara terang2an…cara seperti itu namanya dakwah bukan karangan, tetapi biarkan pikiran pembaca berdialog sendiri berkecamuk dalam kepalanya untuk mempertanyakan budaya yang mengunci pandangan hidupnya. Yang kita dialogkan dalam karangan adalah ‘Kehidupan Yang Dialami (Lebenswelt menurut Schleiermacher). Ibarat secangkir kopi dalam gelas, kita aduk kopi itu, diputar2 dengan sendok, lalu kita benamkan sebungkah gula petak ke dalam kopi tersebut.biarkan ia berputar sendiri. Demikian pula kisah cerita kita, kita dialogkan satu aspek kehidupan manusia ini, kita dramatisir dengan kata2 sentimentil, lalu ‘benamkan’ pembaca ke dalamnya, kita biarkan pembaca merenunginya sendiri, tanpa membuat garis demarkasi teologis yang super ketat. Itulah kiasannya. Kita sebagai pengarang hanya sebagai ‘aktor’ di balik layar, penggerak di balik kisah sastera yang ‘bercerita’, di situ pesan Rabindranath Tagore diwujudkan menurut pemahaman saya. Sekian. Terimakasih sudah membaca. Wassalam, Amhar Rasyid, Jambi. Kalau ada adik2 muda di UIN Jambi atau di Univ. Jambi yang ingin praktek langsung berlatih mengarang prosa 1 x sebulan (gratis), WELCOME !

*Silakan Share