Oleh: Amhar Rasyid
Jambi, 25 April 2025
Assalamu’alaikum wr,wb
Yth, Bapak2/Ibuk2/Adik2 generasi muda serta mahasiswaku di mana saja berada. Indah terlihat gambar Soekarno-Hatta pada lembaran uang kertas Rp 100.000, indah bukan karena nilainya dalam transaksi ekonomi, tetapi indah pada hasil karya seni yang menampakkan kepada public bahwa seperti itulah sosok kedua Proklamator. Keindahannya terletak pada pengakuan bangsa Indonesia: memang foto dalam uang kertas tersebut persis seperti sosok Proklamator kita. Di sini seniman berhasil, ia sukses.
Namun filosuf Jerman, Hans-Georg Gadamer (1900-2002) nampaknya akan mempunyai cara pandang yang berbeda dengan kita dalam hal melihat karya seni. Dan perbedaan tersebut juga berlaku tentunya tatkala melihat gambar sang Proklamator tersebut. Apa bedanya? Bagaimana cara Gadamer melihat gambar tersebut sebagai sebuah karya seni? Bagaimana pula bila cara pandang Gadamer bila dikaitkan dengan masalah keislaman? Ini yang akan kita bahas. Mudah2an anda tertarik dengan diskusi ini dan rela melapangkan waktu untuk memikirkannya. Uraian tentang filsafat Gadamer ini saya kutip dari buku Richard. E Palmer berjudul Hermeneutika (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005). Mari kita mulai, mudah2 an saya tak salah memahami Gadamer.
Pertama, gambar Soekarno-Hatta pada uang kertas Rp 100.000 tersebut adalah hasil image (bayangan) yang berhasil ditangkap oleh si pelukis gambar dan dituangkannya di atas kertas. Hasil tangkapannya tersebut berlaku abadi. Generasi milenial akan mengakui bahwa sosok kedua Proklamator memang seperti itu, dan bahkan generasi tahun 3000 an nanti juga akan mengikuti pendapat generasi milenial sekarang bahwa itulah sosok Proklamator yang benar. Jadi, kebenaran image oleh seniman itu bersifat abadi (das bleibende Wahre) p. 199.
Sekarang kita tanya Gadamer: bagaimana kira2 cara melihat gambar Proklamator tersebut secara filosofis? Sebagai suatu karya seni, bila disimak pendapat Gadamer, gambar Proklamator tersebut harus menginspirasi kita. Menginspirasi, misalnya, dalam upaya untuk memahami suatu persoalan yang kita bahas bersama. Misalnya, dalam Sila ke 5 Pancasila disebutkan: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Bagaimana memahami konsep ‘Keadilan’? Ini contoh persoalan yang dapat menginspirasi kita, dan inspirasi yang akan muncul bersama antara foto yang dilihat (objek) dan kita sebagai yang melihat (subjek). Objek (foto) punya pengalaman tentang ‘keadilan’ tetapi masih tersembunyi (dalam sejarah), subjek juga punya pengalaman tentang keadilan, tetapi nyata di zaman kini. Gambar Soekarno, sebagai karya seni, bercerita pada kita bagaimana keadilan di zamannya dulu, bagaimana yang diharapkannya, apa rintangannya, apa factor pendukungnya, apa solusi yang ada pada masa itu, apa contoh2 bukti keadilan yang telah diterapkan pada masanya? Gambar Soekarno bukan lagi bermakna Rp 100.000 saja, bukan pula gambar seorang tokoh Proklamator, tetapi lebih sebagai ‘pembangkit inspirasi’ kita untuk berdialog tentang masa lampau. Ini dimungkinkan kata Gadamer karena linguistikalitas bahasa. Maka Understanding antar sesama anak manusia dimungkinkan karena terjadinya fusi (peleburan) antara masa lalu dan masa kini berkat bahasa. Dialog dengan foto Bung Karno-Hatta sebagai karya seni akan meluaskan cakrawala pandangan kita tentang cakrawala zaman di masa kedua tokoh tersebut hidup dulu. Foto itu bercerita, bercerita tentang kebenaran (tentang keadilan di masanya), kebenaran yang menyingkapkan diri, bukan kebenaran yang diobjektivasi, diobjektivasi dengan menggunakan metode.
Kedua, apakah foto bisa bercerita? Iya, menurut Gadamer, sebab Bung Karno-Hatta dan kita di zaman kini sama2 punya pengalaman. Sama2 hidup di atas bumi, di Indonesia. Pengalaman kita di zaman Presiden Prabowo sekarang untuk membagikan beras Raskin, memberi makan bergizi untuk siswa (MBG), pelayanan BPJS (asuransi Kesehatan), subsidi BBM (bahan bakar), THR dan Gaji ke 13 menjelang Lebaran, semua pengalaman kita ini memungkinkan untuk ‘didialogkan’ dengan pengalaman Bung Karno. Dimana titik temu ‘rasa adil’ yang dialami antara prakteknya di zaman Bung Karno dan prakteknya di zaman Prabowo? Dimana kendalanya di zaman Bung Karno dan dimana kendalanya di zaman Prabowo? Jadi dua pengalaman saling berdialog atas suatu persoalan (adil) akibat kita melihat foto Bung Karno-Hatta. Artinya, foto tersebut dinamis, bukan pasif seperti biasanya. Lebih jauh dikatakan bahwa yang berdialog itu adalah dua entitas cakrawala sejarah bukan cakrawala perorangan, cakarawala sejarah pemahaman yang saling membukakan diri, saling bertanya, saling menjawab, akhirnya akan melahirkan satu pemahaman baru yang fresh (produktif). Ini disebut qira’ah al-muntijah dalam bahasa Arab.
Ketiga mempertegas yang kedua di atas, apakah ini bisa dilakukan? Ya bisa kata Gadamer, sebab kita sama2 punya bahasa untuk berkomunikasi, bukan bahasa particular yang diatur oleh gramatika tetapi bahasa universal anak manusia. Menurut saya, foto tokoh Proklamator pada uang kertas Rp 100.000 yang merah tersebut juga dapat membangkitkan kesadaran estetis kita. Sama halnya dengan melihat foto anda waktu menikah dulu akan membangkitkan kesadaran estetis anda dan di situ ada pengalaman yang bercerita. Demikian pula bila melihat foto2 lawas sewaktu bersekolah dulu akan membangkitkan pengalaman, pengalaman yang bernostalgia. Maka kesadaran estetis merupakan konstruksi refleksif atas dasar metafisika subjektivis (p. 205). Singkatnya seni itu meruang dan mewaktu (p. 201).
Terakhir, hermeneutika Gadamer di atas sebetulnya ingin mengeritik tradisi keilmuan umumnya di Timur dan di Barat, tentu juga tradisi keilmuan Muslim. Yang dikritiknya ialah tradisi keilmuan yang memperlakukan sama metode pencarian kebenaran pada ilmu alam dengan kebenaran pada ilmu sosial. Meneliti kebenaran rahasia2 logam dan kimia secara metodologik di laboratorium misalnya tidak bisa disamakan dengan meneliti kebenaran dalam pengalaman Rasul saw. Sementara kepustakaan Muslim khususnya telah dipenuhi hari ini dengan jutaan buku2, kitab2, artikel2 yang dulu menggali kebenaran secara metodologik mirip meneliti logam dan kimia. I (saya) menundukkan Thou (kamu) dengan kaca mata ilmiah Rene Descartes. Sayang Gadamer terlambat memperkenalkan hermeneutika filosofisnya, mengoreksinya, sehingga metode Cartesian semacam itu telah merasuk umumnya universitas2 ternama di dunia. Beberapa tokoh intelektual Muslim telah menyadari hal ini. Maka agenda utama dalam memahami, menurut Gadamer, ialah bagaimana kiat untuk menemukan satu cara guna membalikkan horizon seni dan sejarah secara bersamaan (p. 201). Muhammed Arkoun nampaknya terinspirasi oleh kegelisahan intelektual Gadamer di atas dan ia membawanya pula masuk ke dalam hermeneutika al-Qur’an.
Kesimpulan: Inspiratif. Melihat gambar tokoh Proklamator dalam pecahan uang kertas Rp 100.000, sebagai karya seni, secara hermeneutic, bukan lagi sekedar persepsi inderawi, atau sebagai alat tukar, tetapi lebih sebagai ‘pengetahuan’ (p. 197). Horizon (pandangan) kita diperluas oleh foto tersebut kepada suatu pandangan yang baru, sebab foto tersebut, sebagai karya seni, dulunya punya ‘dunia’nya sendiri, punya pengalaman sendiri, punya cara berpikir sendiri, punya pengalaman rasa tidak puas Bung Karno dan Hatta atas kinerjanya dalam mewujudkan keadilan di masanya. Rasa tidak puas itu tentu sekarang ingin kita rehabilitasi di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, ingin kita usahakan agar puas seluruh bangsa, tetapi kata Gadamer, akan tetap saja ‘tak puas’, tak lengkap, tak terwujud maksimal apa2 yang kita inginkan, ya begitulah hakikat pengalaman katanya mengutip filsafat Hegel.
Significance of Issue (Hikmah yang bisa diambil). Sadarilah, terutama adik2 dosen muda, bahwa umumnya penelitian akademik kita hari ini masih Cartesian. Kerangka Teori, Tujuan dan Perumusan Masalah, Metode Kuantitatif dan Kualitatif, Pendekatan Sosiologis dan lainnya semuanya Cartesian, termasuk kajian keislaman. Masalah Riba, salah satu contoh, di dalam al-Qur’an seyogyanya jangan diobjektivasi, ditafsirkan menurut pengetahuan si penafsir, sebagaimana ditemui pada kitab2 tafsir yang telah ada, termasuk seperti yang sedang digarap oleh Proyek Tafsir al-Qur’an oleh Muhammadiyah yang sedang berjalan saat ini.
Sebab cara menafsir seperti itu, diulangi, adalah mencontoh metode ilmiah Cartesian: makna ayat ditundukkan, konsep Riba ditafsirkan sejauh wawasan penafsir. Pada hakekatnya, kebenaran dalam metode ilmiah tersebut sebenarnya sudah implisit di dalam objek yang diteliti, tegas Gadamer, peneliti hanya menemukan saja, bukan membukakan cakrawala baru. Bila ia diikuti pula dalam menafsir, maka akibatnya kebenaran objek yang diteliti dalam al-Qur’an dan Hadis akan ‘dibatasi’ oleh wawasan si penafsir (misalnya wawasan tamatan pesantren, tamatan UIN, tamatan Timur Tengah, alumni Malaysia, Kader Ulama Tarjih dan lainnya), tafsir mereka belum tentu mampu menyelami pengalaman Rasul tatkala menghadapi masalah Riba di zamannya. Sebab di zaman Rasul ada perbudakan, ada mata uang Persia dan Romawi, ada anak yatim dan janda2, ada Muhajirin dan Anshor yang butuh modal untuk niaga, kemusyrikan adalah musuh utama, masyarakat masih banyak buta huruf, rentenir menguasai permodalan: semuanya boleh jadi menjadi pertimbangan Rasul saw untuk mewujudkan ‘Uswatun Hasanah’ (L’example par excellence) di balik ayat ‘Wa ahalllalu al-bay’a wa harrama al-riba’. Unsur pengalaman ini yang mungkin belum terlihat oleh umumnya tokoh cendekia dan ulama.
Maka konsep ‘Riba’ bukan sekedar menunjuk kepada ‘adh ‘afun mudha afah’ (berat lagi memberatkan), bukan pula l’exploitation l’homme par l’homme sebagai ‘illat atau ratio legis, tetapi di balik konsep tersebut ada unsur pengalaman Nabi di jazirah Arabia pada abad ke 7 Masehi yang kita yakini bersama dibimbing oleh sumber transcendental, di mana umat Islam dapat pula menghayatinya (dengan cakrawala zaman now), sebab pengalaman Nabi dipandang sebagai cakrawala sejarah zamannya. Selanjutnya, foto Proklamator pada pecahan uang Rp 100.000, secara hermeneutis akan menampakkan cakarawala sejarah Indonesia di mana di dalamnya terdapat prinsip2 universal. Double Movement Fazlur Rahman telah menyebut adanya General Principles, dan kini saya mencoba pula dengan menjadikan foto Proklamator pada uang kertas Rp 100.000 untuk menginspirasi anda ‘mengintip’ General Principles yang implisit pada dua zaman Presiden Indonesia yang berbeda. Mudah2an anda akhirnya semua bergembira walaupun kini di ‘ujung bulan’ tidak punya Rp 100.000 dalam dompet.
Demikianlah pembaca Budiman. Terimakasih telah meluangkan waktu untuk membaca filsafat yang sulit ini, mohon maaf bila ada kata2 yang salah, pamit, Wassalam, Amhar Rasyid, Jambi.