PENSIUN: ROMANTIKA HIDUP DEKAT AJAL

Oleh: Amhar Rasyid
Jambi, 6 Nov 2026

Assalamu’alaikum wr,wb Bapak2, Ibuk2, Adik2 muda baik Muslim maupun non-Muslim di mana saja berada. Salam Bahagia, meskipun pejabat2 negara saat ini sedang sibuk dengan kasus penyadapan Presiden (Illegal Tapping)! Berikut ini adalah cerita orang PNS (Pegawai Negeri Sipil), atau ASN (Aparatur Sipil Negara) bukan singkatan dari Ahrie Sonta Nasution (Irjen Pol), yang diduga terlibat penyadapan. Pensiun mungkin ‘akhir’ dari sebuah perjalanan hidup di masa tua. Pensiun terasa bagaikan menikmati sisa umur sambil menunggu maut datang. Jadi pensiun adalah akhir dari berkarir di dunia dalam masa hidup pertama, tetapi bukan akhir dari fase hidup kedua. Cerita tentang pensiun ibarat cerita orang pulang dari perjalanan jauh, maka agak rumit bila ia diukir dengan kata2. Bagaimana caranya? Agar lebih menarik, data tulisan ini saya ambil dari beberapa hasil interview dengan orang2 pensiun yang pernah bekerja di tingkat daerah. Metodenya saya contoh kepada Leo Tolstoy di mana ‘ruh’ tulisan itu menyentuh lapisan terdalam dari budaya. Tujuan saya membuat tulisan ini agar adik2 muda yang masih aktif bekerja sebagai PNS dapat mengambil pelajaran hidup dari kami orang2 yang telah pensiun. Maka pertanyaannya ialah apa defenisi pensiun? Bagaimana romantika hidup di saat2 pensiun? Apa pelajaran yang akan bermanfaat bagi adik2 PNS yang mana pada suatu saat nanti juga akan pensiun? Silahkan dibaca tulisan ini bila anda tidak sibuk. Mari kita diskusikan!

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diperoleh arti pensiun adalah kondisi ketika seseorang berhenti bertugas secara permanen, baik karena batas usia, atau karena masa kerja habis atau karena permintaan sendiri. UU No. 11/1969 mengatur tentang pensiun PNS yang telah diperbarui dengan UU no. 20/2023 ditambah dengan PP no. 8/2024. Bagi saya, pensiun adalah akumulasi riwayat hidup menuju titik2 akhir.

Apa yang berbeda Romantika Hidup di saat pensiun? Sebagian orang pensiun nampak mulai agak rajin ke masjid/rumah ibadah. Dulu waktu aktif bekerja, masjid jarang didatangi atau minimal 1x di hari Jumat. Peralihan dari aktif sibuk bekerja ke masa pensiun, seakan membawa kesadaran baru dimana kehidupan PNS yang telah dilewati sekian puluh tahun seolah penuh penyesalan, ingin diperbaiki kembali, tetapi zamannya telah lewat, ‘Nasi telah jadi Bubur’ (Point of no Return). Sering2 ke rumah ibadah setelah pensiun seakan menyingkapkan tabir kebenaran spiritual, bukan karena mengharap pahala saja, tetapi juga karena disadari bahwa dunia masjid adalah ‘Rumah Berlimpah Pahala’, sementara dunia tempat bekerja sebagai ‘Rumah Bergelimang Dosa’. Jangan marah, ini pengalaman sebagian orang pensiun. Mungkin anda yang sedang membaca tulisan ini termasuk orang2 saleh yang dari dulu jujur sebagai PNS dan aktif sering ke masjid.

Orang pensiun biasanya sesekali ingin mendatangi rumah anak dan menantu diperantauan dengan alasan rindu mau melihat cucu. Ya, kadang2 bertahan nginap hingga sebulan lalu pulang lagi ke kampung atau ke rumah sendiri. Boleh jadi datang dengan penuh harap, pulang dengan penuh ‘ucap’ (ngomel sendiri). Kadang2, kata orang pensiun, tinggal bersama anak dan menantu di rantau tak selamanya mesra. Mungkin cara berpikir anak dan menantu terasa berbeda. Kadang2 juga tetangga di rantau (di perkotaan) terasa sangat individualis, materialistic, dan lingkungan yang bising. Maka sebagai orang tua, banyak orang pensiun tak betah lama2 tinggal di rantau, apalagi orang tua tak terbiasa menciptakan kesenangan baru di alam baru dengan budaya baru. Bila berkunjung ke rumah anak di Jakarta, atau Bandung atau Medan, ya paling2 duduk seharian dekat TV sambil ngopi. Tidak ada ide untuk melihat Pameran di Kemayoran, atau pertandingan sepak bola Persib atau menghadiri pameran2 bisnis lainnya.

Di masa pensiun juga ada Romantika hidup baru boleh jadi harta warisan orang tua mulai dilirik. Dulu waktu aktif bekerja banyak proyek bisa mendatangkan duit, tunjangan jabatan juga lumayan ‘kenyang’, apalagi isteri juga aktif bekerja dan memperoleh gaji bulanan. Orang menyebutnya punya ‘double gardan’ (punya dua sumber ekonomi). Hidup masih bergelimang harta, maka lupa memperhitungkan harta orang tua. Setelah pensiun, harta warisan bisa jadi proyek baru. Sesama adik kakak sering bertemu. Yang dibahas yaitu terkait harta warisan. Dan faktanya memang harta warisan itu di banyak tempat di Indonesia hanya bertahan hingga satu generasi. Bilamana orang tua telah meninggal, anak kandung jarang yang mau mengurusnya, kalaupun ditunggui dan diurusi, nikmatnya tidak seenak dikala orang tua masih hidup dulu. Menurut beberapa orang pensiun, sanak keluarga yang di rantau saling berkirim WA lewat HP, mereka gossip tentang tanah warisan orang tua, sementara saudara yang mengurusi dan menungguinya merasa kurang nyaman dengan gossip, diurus susah, dibagi susah, maka solusinya dijual saja. Singkat kata, tanah milik orang tua umurnya biasanya satu generasi.

Di segi lain, pensiun PNS biasanya menjadi pelanggan tetap BPJS kecuali beberapa mantan pejabat. Berbagai penyakit tua lengket dengan orang pensiun dan perlu BPJS untuk berobat: Stroke, Asam Urat, Sakit Jantung, Migren, Asam Lambung, Gangguan Mata, Gangguan Pendengaran, Rheumatik, Darah Rendah, Darah Tinggi, dan sebagainya. Maka Kesehatan sangat prioritas di masa tua. Orang pensiun umumnya seringnampak pergi ke Puskesmas, ke Rumah Sakit, Ke Toko Kaca Mata…tidak pergi ke dokter spesialis, mereka ingin sehat tetapi isi kantong terbatas. Kadang2 mereka terpaksa duduk antri lama hingga mengantuk di Puskesmas atau di Rumah Sakit, bila pulang yang dibawa hanya obat generic. Meskipun Google menyebutkan bahwa Obat Paten dan Obat generic memiliki zat aktif yang persis sama, tetapi kok harga jauh beda? Saya gak percaya. Maka di saat itu mulailah kita mempertanyakan Sila ke 5: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia? Apakah adil dapat obat generic bagi pensiunan PNS yang sudah puluhan tahun bekerja?

Maka di ujung diskusi kita ini, bila dikenang di masa pensiun, mungkin banyak hal di masa lalu sebenarnya membuat hati remuk, hingga meneteskan air mata. Kini ia disesali tapi ‘Nasi Sudah jadi Bubur’. Ada orang pensiun yang menyesali kenapa dulu sampai menyogok untuk masuk kerja, bahkan keluar duit banyak untuk setiap naik pangkat, atau untuk menduduki kursi jabatan baru, Uang Pelicin dan Orang Dalam jadi andalan: ini gara2 TAKHTA. Sibuk dengan mencari takhta, setelah pensiun takhta roboh orang pada mencela. Ada pula orang mungkin menyesali kenapa dulu berselingkuh sesama teman sejawat atau dengan bawahan, jatuh hati pada bini orang hingga heboh gossip seisi kantor: ini gara2 WANITA. Sibuk dengan Wanita, setelah pensiun timbul insaf, berdoa agar anaknya sendiri jangan mengulangi skandal yang sama. Ada pula yang menyesali kenapa dulu sampai masuk jeruji besi, terlibat korupsi, kasus ini mungkin banyak menimpa pejabat dan bagian keuangan: ini gara2 HARTA. Gila harta, tetapi setelah pensiun tak punya rekening gendut. Jelas orang pensiun adalah orang yang banyak penyesalan: Takhta, Wanita dan Harta. Romantika hidupnya penuh dengan liku-liku yang tak bisa dihapus lagi. Arang hitam sudah tercoreng di mukanya. Kata Pepatah Melayu: ‘Sesal Dahulu Pendapatan, Sesal Kemudian tak Berguna’! banyak dukanya.

Lalu apa Sukanya? Yang membuat hati Suka ialah tatkala dilihatnya putra atau putrinya telah berhasil menjadi ‘Orang’. ‘Orang’ maksudnya di sini ialah anak kandung yang telah sukses dalam batas tertentu berkarir, punya pekerjaan tetap, dan bahagia kehidupan keluarganya secara material dan non-material. Selain duka, banyak juga orang pensiun merasa suka dan bahagia di masa tuanya. Tetapi itulah pengalaman hidup. Kata Gadamer (filosuf Jerman), pengalaman kita selalu memiliki unsur ‘pembalikan’ mengutip Hegel. Pembalikan artinya apa yang telah dialami selalu tak dirasa puas maka ia ingin diulangi, diperbaiki kembali, tetapi akan tetap saja hasilnya tak akan puas. Kenapa tak puas? Itulah namanya ‘Pembalikan’, bagi saya pengalaman itu mirip membentangkan tikar pandan. Selalu saja ujung tikar tersebut menggulung kembali walaupun sudah dibentangkan luas. Orang pensiun boleh jadi terperangkap dalam Romantika pengalaman hidup seperti itu. Mudah2 an anda yang membaca tulisan saya ini termasuk istimewa: Bahagia di hari tua!

Apa yang sebaiknya dipersiapkan oleh adik2 muda menjelang pensiun? Apa pelajaran yang dapat dipetik oleh adik2 PNS dari tulisan ini? Sekurangnya ada 3 pelajaran. 1. Sebaiknya pada waktu aktif dinas bekerja, jauh2 sebelum masa pensiun, adik2 muda jagalah harmonisasi hubungan internal kantor antara atasan dan bawahan dan antara teman sejawat. Bilamana di masa menjabat berbagai kebijakan kita sangat kaku, sok ‘jadi boss besar’ serasa dari keturunan Fir’aun, sehingga merugikan banyak bawahan, akibatnya setelah pensiun kita akan kehilangan ‘penghargaan’ dari bawahan yang masih aktif, kita kurang dihargai, kurang disapa, kurang dikenang oleh orang banyak. Tali kasih telah putus. Social Solidarity itu asset psikologis di masa pensiun. Sekalipun waktu menjabat dulu kita beralasan segala keputusan yang kita buat dikatakan telah sesuai dengan aturan yang berlaku, namun ‘timbang rasa’ (raso pareso, kata orang Minang) perlu juga dipikirkan. Bila tidak dipikirkan, maka yang akan rugi diri sendiri setelah pensiun. Negara tak peduli lagi dengan resiko sosial yang kita derita di waktu pensiun. Dunia birokrasi ternyata punya logika sendiri, di waktu menjabat Kearifan Lokal perlu disadari kata Mahfud MD.

  1. Sebaiknya ……Sedia payung sebelum hujan, sedia biduk sebelum berlayar. Artinya jauh2 hari sebelum masa pensiun datang, mungkin 8-10 tahun, mulailah merintis usaha2 luar dinas agar biaya hidup setelah pensiun nanti tak tergoncang drastis. Misalnya mulailah punya Rumah2 Kost, Kebun Sawit, Peternakan, Perikanan atau usaha2 mikro yang akan dapat menunjang ekonomi di hari tua. Adik2 jangan terlena dengan kesibukan harian ditempat kerja sehingga masa pensiun sudah dekat. Usahakan semua kredit bank tutup lunas sebelum pensiun.
  2. Ingatlah, betapapun anda penuh dedikasi bekerja, mengabdi pada negara, pergi pagi pulang malam, titik keringat bercampur bau badan, semuanya nanti akan hilang lenyap jarang dikenang, sebab semua orang selalu melihat peluang ke masa depan, bukan menoleh ke jasa masa lalu. Teman2 se kantor akan hilang, bawahan yang biasanya ‘merunduk patuh ala feodal’ nanti mungkin tak pernah akan datang lagi, bahkan dipanggil ke rumah lewat HPpun banyak alasan. Hanya mungkin ada dua ‘tali pengikat kasih’ yang bakal lestari di masa anda pensiun: Rasa kasih sayang sesama rekan kerja waktu dulu berdinas, dan persiapan usaha sampingan di luar uang pensiun. Dengan kata lain, yang pertama tali ikat kasih, yang kedua tambahan gaji bersih. Tanpa dibangun kedua hal tersebut, masa pensiun anda nanti mungkin jadi sepi. Anda akan dilupakan orang. Bahkan Bingkisan Lebaranpun tak pernah dikirim lagi dari kantor tempat anda mengabdi dulu puluhan tahun, mungkin mereka lupa atau ‘pura2’ lupa?

Cukuplah 3 hal kita sebutkan di sini, namun bagi saya pribadi ada hal yang ke 4: Apa itu pak Amhar? Akan saya usahakan tetap rutin menulis setiap Jum’at semampu saya, sebab tulisan ini bagaikan sekuntum bunga yang saya hadiahkan kepada anda di mana saja berada: sebagai tali pengikat kasih antara kita, polos tanpa pamrih di masa pensiun. Dalam hal ini jasa Pak Marzuki Arsyad (dosen UIN Jambi) sangat besar dalam mendorong saya untuk terus menulis.

Adik2 calon pensiun di masa datang…izinkan saya mengutip lirik lagu di akhir cerita: Bukan perpisahan yang ku tangisi tetapi perjumpaan yang ku sesali. Bukan pensiun yang ku tangisi, tetapi jadi PNS yang ku syukuri. Kenapa disyukuri? Kata kanda alm. Rifyal Ka’bah bergurau (Mantan Hakim Agung), jadi PNS di Indonesia seakan sudah dapat ‘Tuhan kedua’, gantungan hidup, Umur panjang, rezeki dibatasi. Dulu waktu dia hidup sebelum jadi Hakim Agung dan kami sedang sarapan pagi di rumahnya di Jl. Percetakan Negara, Jakarta, saya dengan bangga mengatakan padanya bahwa SK PNS saya sudah keluar dari Dep. Agama, langsung melompat dari guyonannya kata2 Tuhan Kedua. Sekarang saya sudah pensiun, kenangan saya tentu beda. Tak pernah ada kenangan yang sama, sebab pengalaman hidup kita bersifat personal. Bagi teman2 yang sudah pensiun, semoga sehat selalu dan panjang umur, seandainya kita tak jumpa lagi dalam hidup ini….doa saya menemani anda!

Kesimpulan. Itulah di antara Romantika Hidup bagi pensiunan PNS sebelum ajal datang menjemput. Masa pensiun penuh dengan memori, penuh dengan kenangan, manis dan pahit. Masa pensiun ibarat sudah terdampar di seberang pulau, tidak ada kesempatan kedua untuk kembali. Bila menoleh ke belakang, di saat aktif bekerja dulu, banyak kenangan yang terlupakan, banyak teman yang telah tiada. Bila anda kini seorang pensiunan PNS, dan nasib anda tersangkut cerita di atas, maka ketahuilah bahwa tulisan yang anda baca ini, di layar HP ini, adalah teman yang sudi datang di hari tua anda untuk membuat anda tak sepi sendirian. Amhar melambaikan tangan dari jauh. Maka senyumlah! Syukurlah kita masih sempat berjumpa di dunia, meskipun di dunia maya. Saya yakin, nasib anda mungkin lebih baik dari Aristotel Onasis, dia bukan pensiunan PNS tetapi si raja kapal dari Yunani, yang punya lebih 100 kapal di laut, pesawat jet pribadi, kamar mandinya berlapis emas, dan isterinya Jacqueline Kennedy, janda mantan Presiden Amerika, tak berada di sampingnya saat2 Onasis menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit di Paris. Tak disangka dari semula. Nasib manusia di hari esok masih misteri, nasib anda dan nasib saya. Memang benar al-Qur’an mengatakan bahwa tak seorangpun tahu pasti di mana dia akan mati nanti (Q. S Luqman, 34). Pensiun adalah hari2 mendekati ajal, saat2 mengenang rasa suka dan duka pernah hidup di tengah keluarga. Kata Leo Tolstoy dalam Novelnya Anna Karenina: Semua Keluarga yang Bahagia itu sama, hanya mereka yang tak Bahagia caranya beda2.

Demikianlah Bapak2, Ibuk2 dan Adik2 semua. Terimakasih telah membaca, Wassalam, Amhar Rasyid, Jambi.

*Silakan Share