Oleh: Amhar RasyidJambi, 7 Agustus 2026
Assalamau’alaikum wr,wbBapak2/Ibuk2 dan Adik2 terhormat semuanya, baik Muslim maupun non-Muslim di mana saja berada. Selamat Sejahtera buat kita bersama. Menarik bila kita juga ikut menyimak kegelisahan tokoh2 pemikir kondisi kekinian Indonesia terutama setelah munculnya era digital dan Post-Truth. Era digital artinya zaman serba tekan2 tombol pakai jari, dari kata digit = jari. Pada era ini teknologi informasi menjadi yang utama dalam banyak kegiatan. Kegelisahan para tokoh sekarang ini terkait terutama dalam bidang ekonomi dan politik. Dalam tulisan Jumat ini saya akan menghadirkan hasil diskusi Majalah Basis di YouTube dengan sedikit perobahan pada gaya bahasa dan contoh2 dari saya sendiri, dengan nara sumber antara lain Mantan Gubernur Lemhanas (2022-2023) dan juga mantan Ketua Pemenangan Kampanye beberapa Capres yaitu Andi Widjajanto. Apa masalah dalam diskusi tersebut? Masalahnya ialah apa arti dari Post-Truth dan kaitannya dengan Kampanye, bagaimana cara kerja algoritma, apakah kita harus tunduk pada algoritma, dan bagaimana cara mencounter berita2 bohong (Hoax) di Dunia Maya yang serba canggih? Saya yakin makna dari diskusi ini akan berguna juga bagi para akademisi seperti anda yang membaca ini dan bagi tokoh2 agama. Diskusi kita bagi kepada beberapa paragraph singkat dan diakhiri dengan pelajaran apa yang bisa diambil darinya.Pertama, apa itu Post-Truth dan apa kaitannya dengan Kampanye? Post-Truth artinya secara harfiyah ialah Post (Sesudah) dan Truth (Kebenaran). Tetapi apa yang dimaksud dengan Post-Truth dalam filsafat sebenarnya bukan masalah waktu (Sesudah) tetapi Kebenaran yang dikaburkan, dibiarkan membusuk, sehingga kebenaran itu tidak relevan lagi (Lee McIntyre, Post-Truth, Cambridge: Massachussetts Institute of Technology, 2018:5). Maka dikatakan orang bahwa Hoax itu adalah anak kandungnya Post-Truth. Post-Truth ini sangat menjadi perhatian termasuk di dunia Pilpres. Contoh, kata Andi, ada tertulis 5 kata2 dalam dunia maya beriringan tetapi pakai koma: Pasangan Ganjar-Mahfud berjanji akan menghapus semua hutang petani, Kecelakaan pesawat di Jepang, Tabrakan mobil di Boyolali dst….kalimat ini dibuat berjejer dan dibatasi dengan koma, koma, tetapi semua berita itu benar bukan hoax. Hanya saja rentetan berita semacam itu nanti akan membuat emosi pembaca terpancing, akhirnya kebenaran dalam urutan kalimat tersebut membusuk. Ini contoh cara kerja Post Truth: membusukkan berita yang semula BENAR. Maka Team Pemenangan sebelum Pilpres harus mengawasi ini kata Andi karena ia akan berdampak negative pada popularitas sang calon. Kedua, algoritma punya logikanya sendiri dan bisa berujung pada Post-Truth. Apa itu algoritma? Algoritma dalam istilah platform digital, kata Google, ialah kumpulan aturan computer yang otomatis menyortir, memilih dan memberi peringkat konten. Menurut saya, algoritma ini ialah cara kerja otak mesin computer. Sekarang, kata Andi, Team Kampanye harus bekerja keras untuk mampu memahami cara kerja algoritma ini berpacu dengan waktu, berpacu dengan tangkas. Contoh, boleh jadi suatu pasangan pada Pilpres menyebut suatu kata yang mana arti kata tersebut bermakna lain bagi pendengarnya. Lain yang dimaksud oleh sang calon, lain pula yang dipahami oleh calon pemilih. Contoh kata ‘Bipang’ oleh Jokowi pada bulan Mei 2021 dalam acara Hari Bangga Buatan Indonesia. Ini menuai kontroversi sebab Jokowi mempromosikan juga Bipang Ambawang (Babi panggang Ambawang dari Kalimanatan Barat) sebagai pilihan oleh2 lebaran. Padahal istilah Bipang secara tradisional ada yang terbuat dari beras ketan atau jagung manis berkaramel. Akibatnya emosi calon pemilih meningkat negative karena disampaikannya di saat larangan mudik lebaran. Maka Team Pemenangan harus siap siaga 24 jam memonitor respon pendengarnya. Harus piket. Bila telat merespon dalam 2 jam sejak kemunculannya respon negative dari banyak pendengar, maka Team kampanye harus menerima kekalahan karena tak terbendung dan emosi negative itu biasanya akan mulai redup setelah 2 hari berlalu kata Andi. Algoritma punya logikanya sendiri. Lalu saya teringat kata2 Prabowo yang akan mengejar koruptor hingga ke ujung Antartika, di masa kampanye kalimat tersebut adalah janji…emosi rakyat meningkat positif, tetapi di masa sekarang? No bukti…..emosipun menurun negatif. Lalu bagaimana kiat Team Kampanye Prabowo pada 2029 nanti karena emosi menurun negative sementara algoritma dikatakan juga mendikte? Bukan hanya janji Prabowo, janji2 manis pada saat Andre Rosiade (Politikus Gerindra) berkampanye dulu pada masyarakat Sumatera Barat sering diulang dengan sinis di Face Book hari ini.Ketiga, algoritma mendikte kita? Boleh jadi, kata Andi, seorang anak muda kaget waktu bangun tidur karena tidak melihat followersnya muncul di Hashtagnya. Mungkin sebagian anda bertanya apa itu Hashtag? Hashtag ialah istilah di dunia maya yaitu kata atau frasa tanpa spasi yang dimulai dengan symbol pagar (#) untuk pengelompokkan konten berdasarkan topik anda. Kenapa tidak muncul di Hashtag? tanya anak muda tersebut. Sebab algoritma di platformnya menginginkan agar si anak muda ini mennggunakan Hashtag yang banyak peminatnya, luas pemasarannya. Boleh saja agar banyak followers memakai Hashtag nama2 terkenal, misalnya #Jakarta atau #Rumah Makan Terkenal. Ini akan lebih menguntungkan bila diikuti algoritma. Tetapi bukankah dengan cara begitu kita sudah didikte oleh algoritma? Dunia pertahanan militer juga didikte oleh algoritma, dan Andi beserta Teamnya mengaku tak bisa berbuat lain. Lalu saya membayangkan bagaimana repotnya dan tekunnya cara2 Iran sekarang menguasai algoritma di dunia maya, yang juga mendikte, untuk mempertahankan negaranya dari ancaman cyber Israel dan Amerika. Saya menduga Post-Truth telah dimainkan oleh Amerika dan Israel untuk melestarikan pangkalan militernya di negara2 Arab, di mana Iran secara implisit dikonfrontasikan dengan negara2 Arab. Maka sekarang pemahaman kita atas pertahanan Iran harus berobah dari hanya segi persenjataan militer saja kepada kecanggihan cyber juga. Lalu bagaimana ke depan? Diskusi di atas menceritakan bagaimana dunia kini dan dunia masa depan akan serba tak menentu. Akan selalu ada muncul hal2 tak terduga. Buktinya telah ada makhluk jenis baru (AI) yang mampu berpikir melebihi otak manusia. Bahkan Elon Musk sudah memprediksi pula bahwa pada tahun 2035 nanti duit tidak diperlukan lagi sebab robot2 berbentuk manusia akan menggantikan tugas2 manusia, robot tak perlu makan, tak perlu tidur, tak perlu DUIT. Bila cerita2 kampanye di atas terjadi pada algoritma sebelum tahun 2019, sementara pada tahun 2024 sudah lahir pula si makhluk lain bernama AI (Kecerdasan Buatan) yang punya IQ istimewa. Bilamana IQ orang2 normal sekitar 110-120, maka IQ AI sudah mencapai 181-182 mengutip kata2 Andi. Cerdas luar biasa. Kini AI bisa digunakan pula untuk sarana membuat algoritma dan Prompt di tahap2 awal suatu tulisan misalnya. Dengan kata lain, menurut pemahaman saya, bila algoritma adalah cara berpikir otak computer, maka AI berdiri lebih depan untuk mengatur cara2 berpikir tersebut. Kita nanti hanya tinggal membuat query dan key-words kata Andi, maka dalam satu kedip mata saja hasilnya sudah selesai. Dunia Pertahanan, kata mantan Gubernur Lemhanas ini, sangat perlu mengontrol dan menguasai perkembangan teknologi digital ini.Meskipun Post-Truth dinilai negatif, Dr. Haryatmoko (dalam satu paket acara dengan Andi Widjajanto di Basis) masih optimis bila kita mampu menguasai teknologi digital melalui etik. Caranya? Ada 2 cara katanya. Pertama, etik itu dimasukkan ke dalam platform. Ini namanya Ethics by Design. Selama ini kebiasaan kita, etik datang belakangan, selalu menyalahkan apa2 yang sudah terjadi, mirip “Pemadam Kebakaran’ yang selalu datang terlambat bila api telah menyala. Sekarang ini dirobah kata Haryatmoko. Masukkan etik itu ke dalam platform, sehingga bila seseorang bertanya pada Google, kata Haryatmoko, bagaimana cara berselingkuh agar tak diketahui isteri? Maka platform akan menjawab ‘Kami tidak akan memberikan jawaban atas cara2 tidak etis seperti itu’. Ternyata setelah saya coba buka Google (Model AI), rupanya memang terbukti sekarang jawaban Google sangat etis menasehati anda agar jangan berbuat demikian. Ini namanya Ethics by Design bukan Etik ala Pemadam Kebakaran, ala Bomba bahasa Malaysianya. Dan yang Kedua? Sering2lah menghapus History Cookies pada Gadget anda, sebab ia meninggalkan jejak dalam HP anda dan akan berbahaya bila dibuka orang kata Haryatmoko. Anda mungkin punya banyak ‘intip2’ di HP selama ini? Ini namanya jejak atau History Cookies. Apa sebenarnya History Cookies dan bagaimana cara menghapusnya? Tanyakan saja pada Google walaupun sudah terlanjur dicatat semua ‘intip2’ dalam HP anda oleh Malaikat!Dapat disimpulkan bahwa Post-Truth adalah zaman dimana Kebenaran rational-empiric dipermainkan dengan berbasis algoritma sehingga kebenaran akan membusuk, berputar arah kepada informasi yang menaikkan emosi. Dalam pandangan saya, Post-Truth berlawanan arah dengan hermeneutic. Post-Truth ke hilir merobah kebenaran ke arah emosional, sementara hermeneutic mencari Kebenaran ke hulu secara rational (Ontologi Heideggerian). Kita sebagai anak zaman menjadi ‘korban’ Post-Truth, sementara masa depan tidak bisa diprediksi secara akurat. Entah makhluk apa lagi yang akan lahir di masa depan. Memang ayat mengatakan Laqad khalaqnal Insana fi ahsani taqwim (Sungguh Kami telah jadikan manusia sebaik-baik kejadian), tetapi BAIK dalam arti apa? Dalam menjangkau luasnya medan informasi? Ternyata cara kerja otak manusia kalah cepat dengan otak AI. Teknologi AI mulai digunakan sekitar tahun 1980an dan sekarang sudah tahun 2026 (hampir setengah abad). Di balik teknologi AI dan platform digital, seperti Face Book, TikTok, IG, YouTube, sebenarnya ada perusahaan2 besar (Korporasi Bisnis Dunia) yang mencari untung dan kita adalah konsumen yang tanpa sadar setiap detik dipotong quotanya. Di samping dunia Pertahanan, dunia agama juga mau tak mau harus berhadapan dengan teknologi tersebut. Isi Kitab Kuning bila anda hafal seperti tradisi belajar selama ini di pesantren2, dan di al-Azhar Mesir, nanti anda akan ketinggalan, sebab AI ternyata kini telah mampu merangkum jutaaan pendapat Imam2, Kitab2nya, Halaman2nya, Baris2nya, Dalil2nya…siap ditanya kapan saja, sementara anda dan saya jelas tak mampu. Memory kita terbatas dan IQ kita lebih rendah dari AI. Maka kuasailah teknologi digital! Bukan hanya menguasai dalam arti mampu mengoperasikannya, tetapi juga mengerti algoritmanya. Sebab agama2 yang mempunyai Kitab Suci tertulis (Yahudi, Kristen dan Islam), kata Yuval Noah Harari, isi kitabnya sudah dikuasai alias sudah ada dalam otak AI. Mau bukti? Tanyakan pada AI dalam Google huruf apa yang berada di posisi paling tengah di dalam al-Quran? Maka jawabannya ialah huruf ‘ta’ pada ayat ‘walyatalaththaf’ (al-Kahfi 19). Itulah huruf paling pertengahan dalam semua huruf2 al-Qur’an, tetapi jangan tanya Google ‘cara berselingkuh agar tak diketahui isteri’, sebab algoritmanya juga punya etika.Sekian dulu Bapak2/Ibuk2 dan adik2 muda semuanya. Teriamakasih telah membaca tulisan saya. Wassalam, Amhar Rasyid, Jambi.