Oleh: Agus Setiyono*)
Ada kalanya langit tidak perlu berbicara dengan kata-kata. Ia cukup menahan hujan.
Kemarau yang cukup panjang di Provinsi Jambi membuat manusia kembali menyadari bahwa air bukan sekadar kebutuhan, tetapi rahmat yang sering kali baru terasa berharga ketika mulai sulit ditemukan.
Bagi orang beriman, alam tidak pernah benar-benar bisu. Langit, tanah, angin, hujan, dan kemarau adalah ayat-ayat kauniyah yang mengajak manusia membaca kebesaran Allah sekaligus membaca dirinya sendiri.
Pada Jumat, 28 Agustus 2026, kesadaran itu hadir di halaman SMK Muhammadiyah Singkut, Kabupaten Sarolangun. Sekitar 500 siswa dan 50 guru, beserta seluruh staf, berkumpul melaksanakan sholat Istisqa dengan penuh kekhusyukan.
Lapangan sekolah yang biasanya menjadi tempat belajar dan beraktivitas, pagi itu berubah menjadi tempat manusia mengadu kepada Pemilik langit dan bumi.
Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Lukman Arifin, S. Pd, (Kepala SMK Muhammadiyah Singkut), mengajak jamaah memperbanyak istighfar dan taubat kepada Allah SWT, memohon ampun dan berharap agar Allah menjauhkan manusia dari bala dan bencana.
Pesannya sederhana, tetapi dalam: ketika alam berubah, manusia perlu melakukan muhasabah.
Istighfar bukan sekadar ucapan di bibir. Ia seharusnya melahirkan perubahan perilaku. Jika selama ini manusia boros menggunakan air, maka taubat harus melahirkan sikap hemat. Jika alam dieksploitasi tanpa batas, maka kesadaran beragama harus mengajarkan kembali bahwa bumi adalah amanah.
Al-Qur’an dalam Surah Nuh ayat 10–12 mengisahkan seruan Nabi Nuh AS agar kaumnya memohon ampun kepada Allah. Istighfar dikaitkan dengan datangnya rahmat dan hujan.
Karena itu, sholat Istisqa bukan hanya tentang meminta hujan.
Ia adalah tentang mengakui keterbatasan manusia.
Tentang menyadari bahwa sehebat apa pun teknologi dan kekuasaan yang dimiliki, manusia tidak pernah mampu memerintah langit agar menurunkan hujan sesuai kehendaknya.
Di sinilah pendidikan Muhammadiyah menemukan makna pentingnya. Anak-anak tidak hanya diajarkan membaca buku, tetapi juga membaca kehidupan. Mereka belajar bahwa iman, ilmu, dan kepedulian terhadap alam harus berjalan bersama.

Kita berdoa agar hujan turun.
Tetapi setelah hujan datang, kita juga harus menjaga bumi agar tetap mampu menerima dan menyimpan air.
Sebab mungkin yang sedang kering bukan hanya tanah.
Bisa jadi hati manusia juga sedang membutuhkan hujan kesadaran.
Maka ketika langit menahan hujan, jangan hanya bertanya, “Kapan hujan akan turun?”
Sesekali bertanyalah kepada diri sendiri:
“Apa yang harus saya perbaiki?”
Sebab hujan adalah rahmat dari langit, sementara menjaga bumi adalah amanah manusia.
Dan pada pagi yang kering itu, ratusan warga SMK Muhammadiyah Singkut sedang belajar satu hal yang sederhana namun mendalam:
ketika langit menahan hujan, manusia seharusnya tidak hanya menengadah, tetapi juga menundukkan hati.
Wallahu a’lam bishshawab