Oleh: Amhar Rasyid
Sukabumi, 17 Juli 2026
Assalamu’alaikum wr,wb. Yth Vapaj2/ Ibuk2 dan Adik2 semua, baik Muslim maupun non- Muslim dimana saja berada. Banyak orang pintar dan telah berjasa di dunia ini, namun dimana posisi kepintaran dan jasa kita?
Buya Hamka memang pandai menggugah inspirasi bila kita mau ‘mengintip’nya. Saya ‘intip’ dalam Novel Hamka berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, ternyata ada sebuah kata2 beliau: Gema Kepintaran itu terlihat Setelah Kita Meninggal. Nabi Muhammad saw hanya berumur 63 tahun tetapi lebih dari seribu tahun kemudian Gema jasa dan akhlaqnya selalu dikenang oleh banyak orang. Lalu saya teringat Thomas Alva Edison: diwariskannya lampu listrik hingga kini dan kita jadi terang. Bahkan saya teringat juga Montesqueue, diwariskannya Trias Politica, lalu kita mempunyai Lembaga DPR, kursi Presiden dan Mahkamah Agung. Memang banyak orang2 besar telah berjasa di masa lampau, lalu jasa kita apa? Umur kita yang sudah pensiun tugas ini tinggal berapa tahun? Ini yang akan saya diskusikan di bawah ini, akan saya tulis ringkas saja, sebab banyak kritik pembaca baik dari dalam dan luar negeri ingin agar tulisan saya dibuat singkat saja. Terimakasih atas kritik anda semua.
- Apa yang membuat jasa itu tetap dikenang? Mungkin karena orang2 yang masih hidup memerlukannya. Memerlukan jasa kita. Artinya zaman sesudah kita meninggal, kualitas jasa kita bertahan dalam menampakkan buktinya. Di sini kita bertemu dengan teori Popper: Suatu teori akan terbukti benar selama belum ada yang mampu mengalahkannya. Demikian pula jasa manusia pasca meninggal. Jasa seseorang akan tetap dikenang selama belum ada jasa lain yang mampu mengunggulinya.
- Dimana posisi kita? Di akhir usia tua ini timbul kesadaran, terutama bagi saya pribadi, alangkah kecilnya jasa saya dibandingkan dengan jasa tokoh2 dunia, saya hanya sebagai dosen. Ibarat batu2 di sungai, jasa saya ke atas dunia ini hanya mungkin sebesar kerikil, bila datang air bah, kerikil itupun hanyut. Lalu jasa anda bagaimana? Saya gembira dengan banyaknya adik2 muda, mungkin sudah jutaan orang, yang telah berhasil meraih gelar Profesor, guru besar, tetapi apa jasa anda pasca meninggal nanti yang akan tetap dikenang orang? Tugas rutin seorang Guru Besar? Itu mungkin hanya ‘batas usianya’ hingga di tangan Team PAK dan Asessor Nasional, saya juga tak tahu.
- Faktor2 apa yg membuat Gema Jasa itu lestari? Mungkin nilai2 yg dikandung oleh jasa itu sangat ìnklusif. Boleh jadi juga karena ia ditopang oleh institusi atau oleh negara. Gema jasa Bung Karno bertahan lama karena ditopang oleh nasionalisme lndonesia, oleh lagu kebangsaan, oleh gambar beliau diprint pada uang kertas, atau oleh buku2 pelajaran di bangku sekolah, atau oleh pembacaan teks proklamasi setiap tgl 17 Agustus. Bung Karno dan Bung Hatta memang hidup dan berjuang pada zaman yg monumental. Seandainya Aceh dan Papua melepaskan diri dari NKRI maka gema jasa Bung Karno nampaknya akan hilang.
- Lalu bagaiamana caranya lagi agar jasa kita juga tetap menggema setelah kita meninggal? Mungkin anda punya ide. Yang membuat pertanyaan itu muncul justru karena jasa yg bermakna bagi manusia nampaknya terlupakan, dan kita umumnya sibuk dengan rutinitas harian hingga ajal menjemput kita. Sibuk dengan Rutinitas itulah yg membuat kita bernasib seumur hidup menjadi Wong Cilik.Wong Gde adalah orang yg sangat berjasa bagi banyak orang. Jasa itulah yg menggema di belakang hari, bukan jasa karena menyembunyikan batangan emas di belakang dinding.
- Salut dan hormat seharusnya kita berikan pada mereka2 siapa saja yg telah berjasa bagi peradaban dunia. Ada yg lestari jasanya karena agama, ada yg lestari karena sains dan ada pula karena peristiwa politik. Rupanya tidak semua kita punya peluang untuk menggemakan jasa pasca kematian.
Demikianlah Bapak2 dan lbuk2 semua serta adik2. Renungkanlah apa bentuk jasa kita yg mungkin akan bisa lestari usai kita meninggal?
Wassalam, Amhar Rasyid, Jambi.