Oleh: Amhar RasyidJambi, 14 Agustus 2026
Assalamu’alaikum wr,wb Bapak2/Ibuk2 dan Adik2 semuanya, baik Muslim maupun non-Muslim dimana saja berada. Salam Merdeka di Hari Kemerdekaan ke 81. Kita semuanya umumnya umat beragama, apapun itu agamanya. Namun dakwah agama yang terdengar oleh kuping kita kadang2 kurang menarik, hambar, tetapi kita terpaksa mendengarnya, sementara seni (seni suara khususnya) lebih menarik, lebih menyentuh qalbu, lebih didengar oleh tua dan muda, dan kita tidak dipaksa untuk mendengar dan mempercayai liriknya. Why? Dan apa relevansinya dengan dunia kita hari ini? Berikut beberapa analisa saya terkait dakwah agama dan seni (suara) dari sudut pandang yang berbeda dan boleh jadi anda kurang sependapat. Saya hargai setiap perbedaan analisa kita. Mudah2an tulisan ini inspiratif bagi adik2 muda dan berguna untuk perbaikan tradisi dakwah agama kita ke depan. Pertama, apa itu dakwah agama? Dalam Islam dakwah (ceramah/khutbah/kultum) maksudnya menyeru, mengajak kepada yang ma’ruf dan menjauhi yang mungkar utamanya dengan suara. Dan apa itu seni? Seni ialah luapan imajinasi manusia yang mana di dalamnya terkandung keindahan, perasaan jiwa dan gagasan. Sementara seni suara (menyanyi) adalah salah satu cabang seni melalui suara. Kedua, di antara perbedaan antara dakwah agama dan seni ialah 1. Dakwah agama bersifat memaksa, ‘hitam-putih’, orang datang ke rumah ibadah biasanya karena rasa takut (Hisab) di Hari Kemudian, 2. Dakwah bersifat monoton (tema pokoknya diulangi terus, itu…itu saja…mati, akhirat, sorga, neraka, pahala, dosa, dll), 3. Dakwah itu juga sangat menjelaskan Alam akhirat yang jauh dari kehidupan nyata hari ini. 4. Dakwah adalah seruan yang bersifat dogmatik berisi warisan metode ulama2 terdahulu tentang keyakinan, kepastian MUTLAK 5. Mayoritas jamaah dakwah terdiri dari Orang Tua2, 6. Dalam dakwah terselip aliran teologi dan ideologi sang da’i (Sunni, Syi’ah, paham NU dan paham Muhammadiyah, bahkan terdengar pula paham Salafi), maka jama’ah yang kritis dalam berpikir akan bertanya dalam hatinya: apakah ini ceramah orang Muhammadiyh/ceramah orang NU? Apakah dakwah ini berhaluan Salafi atau Hizbut Tahrir? Apakah dakwah ini beraliran ketat interpretasi bayani (literal) atau sudah lebih ‘longgar’? Apakah pendekatannya dalam dakwah akan lebih baik historis dari pada normative? Pertanyaan2 semcam ini boleh jadi muncul dalam kepala sebagian jama’ah. 7. Dakwah agama juga bersifat retorika emosional, emosi yang kuat wajib tanpa ragu2 100%. 8. Indoktrinasi dalam dakwah bersifat satu arah dengan jama’ah (tidak boleh didebat), dan terakhir 9. Menurut saya, kursi penceramah/podium untuk khutbah adalah tempat suci yang telah diberikan otoritas oleh masyarakat. Maka siapa saja yang diizinkan duduk/berdiri di situ, otomatis kata2nya DITERIMA tanpa reserve sebagai KEBENARAN. Bila nanti dia telah turun dari podium atau kursi penceramah, maka lain cerita.Sementara Seni Suara: 1. Bersifat tidak memaksa, tidak mengancam, dan orang datang ke ajang seni dengan gembira. 2. Seni tidak monoton tetapi situasional 3. Seni menyentuh alam nyata dan bisa dialami oleh pengagumnya, 4. Seni biasanya terkait perasaan, menyentuh aspek emosional lintas bahasa, 5. Nada seni yang masuk ke kuping boleh jadi berujung pada sedih, senang, atau damai di batin. Lagu yang sedih penuh nostalgia, lagu gembira membangkitkan semangat. Diantara sekian banyak lagu, ternyata lagu tentang cinta yang paling banyak . Itulah LAGU tetapi menyanyikan lagu kurang mendapat tempat dalam tradisi Islam. Bahkan Abu Bakr diriwayatkan pernah memarahi perempuan2 yang bernyanyi kecil (slow) di rumah Nabi, meskipun Nabi membiarkannya.Dari perbedaan antara dakwah dan seni suara khususnya nampak sekali sasarannya. Dakwah menyasar kepada penguatan iman/’aqidah, sementara seni suara menyasar kepada getaran batin, mengungkit kembali pengalaman hidup manusia baik laki2 maupun perempuan. Adakalanya dakwah menceritakan Padang Mahsyar, Matahari di atas Pundak kepala, Shirotol Mustaqim: ibarat rambut dibelah tujuh (halus sekali), sementara seni suara adakalanya bersenandung tentang romantisnya Teluk Bayur atau Simpang Tiga Rumpun Bambu. Dari contoh di atas nampak dakwah itu kering, keras dan memaksa: pilihannya hanya ada dua bila patuh masuk sorga, bila membangkang masuk neraka (tidak ada di antara2). Dakwah itu Tegas. Sementara seni suara bersifat lembut, gemulai, berbisik ke sanubari. Di segi lain, dakwah sudah tertentu jama’ahnya, hanya satu agama saja (terbatas), sementara seni suara bersifat universal (luas), menyentuh umumnya perasaan manusia, termasuk perasaan anda.Kritik saya atas dakwah. Izinkan saya dengan rendah hati mengeritik beberapa metode dakwah yang mungkin terasa kurang ‘sempurna’. 1. Bilamana tokoh intelektual berdakwah, biasanya mereka tak suka repetitive (mengulang penjelasan). Sementara dakwah tidak bisa disampaikan dengan gaya bahasa tulis, gaya akademik yang serba ringkas, padat dan argumentative. 2. Di segi lain juru dakwah konvensional umumnya nampak kurang memahami perbedaan antara aspek normative dan empiric. Normatif maksudnya sudah sesuai aturan, harus diyakini apa adanya, sementara empiric sesuai dengan pengalaman kita. Contoh, seorang da’i mengatakan bahwa umur/usia manusia telah ditentukan oleh Allah (ini normative). Tetapi dia juga sekaligus memberikan contoh empiric bahwa orang2 dahulu sebelum kita umurnya panjang2 katanya, bahkan dikatakan ada yang sampai 100 tahun dan dikatakan juga dalam dakwahnya bahwa makanan orang2 dulu hanya daun singkong. Tetapi manusia modern yang makan serba instant, siap saji, dikatakan bahwa umur mereka pendek2…yang dijadikan sebagai ‘kambing hitam’ dalam dakwahnya biasanya ‘MSG” (Monosodium Glutamate) seperti penyedap makanan. Maksud saya terasa nampak kontradiksi dalam dakwah ini. Kontradiksinya begini. Bahwa Allah sudah menentukan umur manusia = normative (harus diyakini saja). Tetapi contoh yang diambil oleh penceramah untuk membenarkan pendapatnya terlalu subjektif, contoh yang diambil bukan untuk membenarkan yang normative tersebut tetapi untuk membenarkan argumentasinya. Manusia yang dijadikan contoh dalam dakwahnya dipilihnya manusia yang berusia 100 tahun di masa lalu, dan orang semacam itu memang ada, tetapi kenapa yg tidak berusia pendek untuk dijadikan contoh? Bukankah Nabi Muhammad saw hanya berusia 63 tahun, dan Nabi tidak makan pucuk daun ubi, tetapi dia tidak dijadikan contoh dalam ceramah. Ini namanya dakwah subjektif, dipilih pilih menurut kemauan pendakwah, akibatnya ia kurang ilmiah, kurang bisa diterima contohnya bagi kebanyakan orang yang berpikir. Dalam penelitian di perguruan tinggi cara mengambil contoh (sample) semacam itu dinamakan mengandung ‘bias’.Meskipun kaum intelektual dan para da’i boleh jadi sama2 punya selera pada seni suara, mengapa tokoh2 intelektual kurang pandai, kurang menarik dalam berceramah agama dibandingkan dengan beberapa pendakwah yang disenangi oleh masyarakat? Mungkin penyebabnya 1. Kaum intelektual biasanya hemat kata2. 2. Berpikir logis, causalitas. 3. Bernuansa ilmiah, rational empiric, objektivitas, cenderung melihat kompleksitas masalah dan ragam sudut pandang 4. Intelektual tak suka canda gurau (guyon murahan). 5. Boleh jadi terselip indikasi ragu2 secara keilmuan karena historical criticism menjadikan data historis yang tertulis dalam Kitab Suci sebagai objek.Contoh, Nabi Adam dikatakan dalam Kitab Suci sebagai Manusia Pertama diciptakan Tuhan (ini normative), tetapi data sejarah juga menyebutkan bahwa telah ada beberapa Homo yang hidup pada masa jutaan tahun sebelum keberadaan Homo Sapiens. Homo Sapiens adalah jenis manusia kita modern termasuk anda dan saya. Sementara jenis manusia purba sebelum Homo Sapiens adalah Homo Habilis, Homo Erectus, Homo Heidelbergensis, Homo Neanderthalensis, Homo Denisovan dan Homo Floresiensis. Lalu Nabi Adam itu termasuk Homo yang mana? Penceramah konvensional biasanya tidak hirau dengan jenis Homo2 tersebut, tetapi tokoh intelektual biasanya mempertimbangkannya. Bila dia mengabaikan data2 ilmiah semacam itu akan terasa bagi dirinya bobot intelektualnya dibawa surut/mundur kembali kepada alam kebodohan (unscientific): ini contoh dilemma dalam diri tokoh intelektual. 6. Penyampaian masalah oleh intelektual biasanya rinci dan berlapis, sementara penceramah professional memakai gaya simple, pesan singkat dan mudah dicerna. Alhasil, intelektual memang KALAH BERSAING dalam dakwah agama lisan dengan Penceramah professional meskipun mereka sama2 suka pada nyanyi. Contoh nyata ialah pengakuan atas pengalaman almarhum Prof. Minhaji (mantan Rektor UIN Yogya). Suatu kali, katanya pada saya di Yogya, dia diminta oleh jamaah langgar dekat rumahnya di Giwangan (Yogya) untuk berceramah agama. Setelah lama memberikan ceramah, rasanya sudah padat hingga ke ujung, lalu Prof. Minhaji kembali bertanya pada jama’ah ibuk2:”Apakah Ibuk2 mengerti isi ceramah saya?” tanyanya. Ramai2 Ibuk2 itu menjawab: Mboten (Tidak). Waduh kok GAK ngerti yaaaaa…sambil geleng2 kepala si Prof introspeksi dirinya. Ini contoh tokoh intelektual yang kurang piawai dalam seni berdakwah. Bagaimana dengan diri anda? Dapat disimpulkan bahwa dakwah agama berbeda dengan seni, meskipun di dalam dakwah juga ada seninya. Ada dua bidang keahlian yang mungkin sulit bagi tiap orang untuk dikuasai sekaligus. Sebab semakin ilmiah cara berpikir, semakin kritis dalam berpikir, semakin argumentative, semakin objektif dalam melihat permasalahan beresiko ‘menipiskan’ keyakinan dogmatic, terutama karena historical criticism. Akibatnya cara berdakwah para tokoh2 intelektual, terutama dari dunia akademik, kurang ‘pas’ di hati masyarakat karena kurang emosional dalam menyelami aqidah. Sekali lagi, aqidah itu terletak dalam dunia batin manusia terdalam, mirip gua yang gelap, dan ia harus diselami secara emosional bukan secara rational ala insan akademik. Akibatnya seni suara lebih dekat kepada medan dakwah dari pada kepada medan dunia ilmiah. Maka ceramah agama itu ada seninya, walaupun ia bukan cabang seni (art). Dan kepada masyarakat harap maklum bahwa tidak semua Profesor Doktor itu pintar berceramah agama, dan juga tidak semua dosen UIN itu pintar berceramah agama terutama saya. Tetapi dosen2 IAIN dulu yang pintar berceramah agama, pernah terjadi, malah masuk kelas langsung melanjutkan isi ceramah yang belum tuntas dari pengajian di luar kampus. Mahasiswanya bengong. Aneh tapi nyata. Itu duluuuu. Itulah seni dakwah yang lebih dekat kepada emosional dari pada rational. Bagi da’i yang juga dosen tersebut boleh jadi tidak dibedakan antara kebenaran dogmatic yang wajib diyakini dan kebenaran empiric yang wajib dikeragui. Oleh sebab itu para da’i kita mungkin perlu juga tahu sedikit Filsafat Ilmu sebagai salah satu pintu masuk bagi Inter-koneksi. Menurut saya, seni yang menggabungkan dunia dakwah dan dunia pengetahuan adalah juga SENI. Dalam filsafat Aristoteles boleh jadi ia tergolong kepada ‘Techne’ dimana prinsip untuk menggabungkannya ada dalam kepala si pembuat secara sadar dan terarah bukan dalam objek yang dibuat.Significance of Issue (Hikmah): Dakwah agama Islam sekarang implisit di dalamnya paradigma teologi Sunni yang pernah dikawal oleh Imam al-Ghazali. Itulah jasa besar Imam al-Ghazali dulu (abad 11-12 M) yang membendung filsafat masuk ke dunia Islam sehingga posisi ratio tetap diletakkan hingga kini di bawah teks suci. Bila dibiarkan dulu filsafat bebas masuk, maka teologi Sunni yang kita dengar sekarang melalui dakwah2 saya rasa akan lebih encer, lebih rational mirip di Iran dimana khutbah Jumat dibagi dua: khutbah ke dua bernuansa politis, dakwah agama tidak terlalu monoton, dan pada gilirannya mungkin muncul Islam (Protest….?) termasuk ‘protes’ yang lebih argumentatif kepada kebijakan Pemerintah hari ini. Seni semacam itu yang belum nampak dalam dakwah di negeri kita. Bagi kami yang studi Islam ke Barat, kontroversi theologico-philosophical ini juga menjadi bahan kajian yang menarik.Demikianlah Bapak2/Ibuk2 dan adik2 sekalian, terimaksih telah membaca tulisan saya. Wassalam, Amhar rasyid, Jambi.