Oleh: Amhar Rasyid
Jambi, 9 Oktober 2026
Assalamu’alaikum wr,wb. Bapak2/Ibuk2 dan adik2 tunas bangsa baik Muslim maupun non-Muslim di mana saja berada. Salam sukses! Berikut ini adalah CERITA ANAK SEKOLAH, cerita panjang, khususnya Riwayat akademik Ulya Fuhaidah. Siapa Ulya Fuhaidah? Silahkan buka Google untuk melihat fotonya. Perjuangan anak manusia dalam hidup ini memang aneka ragam, di antaranya kuliah ke luar negeri. Bila orang tua tak beruntung sempat kuliah ke luar negeri, mungkin pada anak2 dan cucu akan ada yang sukses. Di masa muda, kita ingin menimba ilmu ke mana saja di seluruh pelosok dunia, bukan hanya ke Cina tetapi sampai ke Roma, karena Hadis Nabi Muhammad juga menganjurkannya, sebab untuk pergi ke Roma, kata orang, ada banyak jalan menuju ke sana. Kadang2 studi di dalam negeri terasa berat dengan biaya kuliah, mungkin terpaksa jual sawah, tanah dan rumah, bahkan kekasih mendesak pula agar cepat2 menikah. Tetapi bila dapat bea siswa studi ke luar negeri, biaya kuliah membuat ‘kantong’ orang tua jadi lega, boleh jadi jumlah sawah, tanah dan rumah akan semakin bertambah, meskipun kekasih hati jangan berobah. Kata orang, tamat dari luar negeri, posisi jabatan ‘duniawi’ nanti akan semakin cemerlang. Namun bagi saya pribadi, bukan kekayaan material yang utama, tetapi kekayaan pengalaman juga akan bertambah dan metode berpikir yang selama ini tanpa disadari ‘terkurung’ oleh tradisi, yang menganggap ‘kita saja yang benar, orang lain salah’, nah sekarang cara berpikir semacam itu mulai dipertanyakan. Ya dipertanyakan. Rupanya ada cara berpikir ‘out of the box’ yang lebih mencerahkan bagi kehidupan kita bersama di masa depan, dan itu biasanya didapat dari cara berpikir orang lain yang mengajari kita di luar negeri. Kita diajari melihat diri kita, dari kaca mata orang lain, di seberang dunia sana.
Tapi bagaimana caranya untuk menyeberang pergi kesana? Apa syarat2 yang harus dipenuhi? Apa saja yang harus dipersiapkan? Berikut saya berikan beberapa ‘kepingan’ pengalaman untuk kedua kalinya dalam tulisan saya tiap Jumat, bahan2nya saya ambil baik dari pengalaman saya pribadi dalam meraih S2 di McGill University, Canada maupun dari wawancara langsung dengan saudari Ulya Fuhaidah yang tamat dari Coventry University, Inggeris plus dari Google. Tujuannya agar adik2 dan para orang tua, yang punya anak, cucu, ponakan, menantu, pegawai, akan semakin mendapat gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana CARAnya untuk kuliah S3 ke luar negeri. Boleh jadi pengalaman teman2 lain jebolan luar negeri akan berbeda, dan mungkin lebih istimewa dari pengalaman kami berdua, tetapi sayang mereka belum sempat menuliskannya. Izinkan kami untuk mewakili mereka. Maka terimalah cerita saya berikut dengan segala kejernihan hati demi kemajuan generasi muda sekarang untuk masa mendatang. Selamat membaca!
Hj. Ulya Fuhaidah, S.Hum., M. Si., Ph.D. dilahirkan di Wonosobo (Jawa Tengah) tanggal 14 Agustus 1982, anak bungsu dari 3 bersaudara, genealoginya mulai dari kakek buyut termasuk keluarga pesantren. Sekarang Ulya sudah punya satu anak, sementara suaminya H. Ali Mubarak M.Si adalah juga dosen di Fak. Ushuludiin UIN Jambi. Menurut penuturan Ulya, mereka ‘kecantol’ di UIN Yogya, sama2 kuliah di kota Gudeg boleh jadi PDKTnya di Malioboro atau di Parang Tritis. Who knows? Akhirnya setelah menikah diboyong oleh suaminya ke Jambi, karena suaminya punya darah Banjar asal Kuala Tungkal, Jambi bagian Timur. Sejak kecil, katanya, Ulya sudah akrab dengan kitab2 Arab gundul seperti kitab Safinah, Aqidatul Awam, Jurmiyah, dan lainnya. Ulya ternyata adalah salah seorang adik almamater saya di MAN I Yogyakarta, karena saya dulu alumni PHIN (1977) yang akhirnya berobah nama menjadi MAN I. Dia mungkin tak tahu bahwa saya adalah salah seorang kakak kelasnya yang telah lebih dulu lulus tahun 1977 di sekolah yang sama dengan Mahfud MD: saya sudah tamat di sekolah itu 5 tahun sebelum Ulya lahir. Waktu saya di PHIN Yogya dulu (1975-1977), tidak ada cewek yang sekolah di sana kecuali ditahun 1976 masuk seorang cewek cantik bernama Merry Tobing, sekarang mungkin dia masih menjabat sebagai Hakim Tinggi di Bengkulu. Rektor UIN Yogya sekarang, Prof. Noorhaidi juga alumni MAN I Yogya. Bahkan ada juga saya ketemu sopir bis Putra Remaja jurusan Yogya-Jambi bernama Hanafi juga alumni MAN I Yogya katanya. Setelah tamat MAN I Yogya, Ulya masuk kuliah dan menamatkan S1 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (Fak. Adab) tahun 2000, dan kemudian melanjutkan S2 di Pascasarjana UIN Yogyakarta juga dan tamat pada tahun 2006, pada saat itu risetnya tentang Syi’ah di Indonesia. Sementara penelitian S3nya di Inggeris, katanya, terkait dengan Gerakan Salafi di Jambi.
Menurut Ulya dia selalu tertarik untuk memilih judul2 penelitian yang sensitive dan menantang seperti itu dengan alasan bahwa Syi’ah sering dianggap punya stigma negative dan dipandang sebagai kelompok sesat dalam Islam, sementara Salafi dipilihnya karena dia tertarik meneliti isu kekerasan dari pihak NU terhadap kelompok Salafi di Jambi katanya. Kenapa pilihannya yang keras2? Entahlah saya juga tak tahu pasti dengan psikologis putri asal Wonosobo ini. Sekedar diketahui, Wono dalam bahasa Jawa artinya hutan. Dan Sobo (sabha) artinya tempat berkumpul. Maka Wonosobo artinya, kata Mbah Google, tempat pertemuan di hutan. Mungkin di situ dulu sering harimau di bully orang dengan penuh kekerasan, ditindas dan Ulya kecil merasa iba, maka setelah dewasa dia ingin meneliti kelompok tertindas dengan memakai ‘pisau’ metode bule (It’s just a joke). Sekarang Ulya sudah berstatus PNS dan menjadi dosen tetap pada Fakultas Syari’ah di UIN Jambi terhitung sejak 1 Januari 2011. Sebelum diterima menjadi dosen di UIN Jambi, Ulya katanya pernah menjadi dosen honorer di IAIN Purwokerto. Dia memang cewek yang hebat, adik yunior yang genius, rajin dan penuh tekad. Alhamdulillah!
Sekarang yang penting untuk kita ketahui ialah bagaimana kisah Ulya selanjutnya dalam meraih S3? Katanya, dia semula ingin kuliah S3 di Monash University, Australia tetapi gagal. Dia kemudian merobah haluan dari Australia di Selatan Indonesia ke Inggeris dan Irlandia jauh di benua Eropa. Caranya? Kebetulan Ulya sudah lama banting tulang, bermandikan keringat, ke sana kemari di kota Jakarta yang macet. Dia sempat, katanya, mendatangi beberapa pameran pendidikan di Jakarta. Dia juga sering membuka Website siang dan malam, mencari informasi kuliah di Medsos. Untunglah katanya, pada suatu hari datang berkunjung perwakilan ‘bule’ dari Universitas Limerick yang berkampus di Irlandia (utara Inggeris) ke tempat pusat pelatihan bahasa Ulya di Jakarta Selatan. Ulya senang sekali dengan kedatangan tamu tersebut karena pada saat itu dia sudah terdaftar sebagai calon penerima beasiswa MORA 5000 oleh Kemenag RI. Anda ingin pula? Mungkin sekarang sudah berobah pula programnya, silahkan cari info di Website Kemenag! Bila ada, lengkapi segera syarat2nya, gerak cepat, jangan terlambat.
Bila anda bertanya, apa itu MORA 5000? MORA 5000 adalah program beasiswa doctor (S3) yang dinisiasi oleh Kemenag (Dirjen Pendidikan Islam) di Jakarta, diperuntukkan bagi 5000 orang calon S3 yang berasal dari dosen2 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam dari seluruh pelosok Indonesia, termasuk staf dan PNS di lingkungan Kemenag. Sebagaimana dikatakan di atas, meskipun sudah mendapat calon professor pembimbing bernama Prof. Julian Millie di Australia, tetapi hasrat Ulya untuk menulis tentang Salafi Movement in Indonesia di bawah bimbingan Millie jadi kandas. Why? Sebab nilai score IELTSnya pada saat itu masih rendah yaitu rata2 nilai 6,5, sementara yang dibutuhkan adalah rata2 nilai 7, meskipun Academic Writingnya sudah mencapai 6. Ulya tak patah semangat. Terkait hal ini mungkin adik2 ingin bertanya, apa itu IELTS? Apa itu Academic Writing? Untuk apa gunanya mencari Professor sebagai pembimbing? Bagaimana sebaiknya rencana objek penelitian S3 kita? Mari kita bahas.
IELTS adalah singkatan dari International English Language Testing System. Di masa saya sebelum S2 ke Canada namanya TOEFL. Ini adalah ujian kemampuan bahasa Inggeris bertaraf internasional bagi siapa saja yang ingin melanjutkan studi di luar negeri biasanya setelah mendapat nilai rata2 7. Susah mendapatkan nilai 7 itu. IELTS juga untuk mereka yang ingin bekerja atau pindah negara (mungkin karena kesal dengan sindiran Presiden Prabowo?). Jadi nilai IELTS perlu untuk kuliah, bekerja, atau menetap selamanya di negara2 yang menggunakan bahasa Inggeris.
Dan apa itu Academic Writing? Ac. Writing disebut juga Proposal atau Thesis Statement. Ini merupakan salah satu syarat penting yang anda harus punyai jauh2 hari sebelum mencari universitas yang akan dituju. Buatlah sekarang! Menulisnya harus dengan gaya formal, bersifat objketif dan terstruktur . Tulisan ini harus jelas dalam menyampaikan ide anda, analisis, serta argument yang berbasis bukti2 empirik atau berbasis hasil penelitian terdahulu. Bahasa yang digunakan dalam Academic Writing haruslah bahasa baku, hindari menggunakan kata ‘saya’; atau ‘kamu’. Setiap klaim atau argument anda harus didukung oleh teori, data empirik serta referensi yang dipercaya. Empiric artinya betul2 berdasarkan hasil panca indera kita, bukan berdasarkan ajaran agama yang bercerita alam baqa. Jangan bercerita tentang keyakinan Islami, tentang ayat2 ta’aqudy dan ta’abbudi: itu semua tidak empiric, tidak bisa dialami oleh semua orang terutama oleh calon2 prof anda yang ‘kafir’. Sebaliknya, ayat2 mu’amalat bisa digunakan bila diperlukan. Academic Writing harus ditulis secara terstruktur dan sistematis. Alur berpikir anda harus ditata secara jelas yang berurutan seperti Pendahuluan, Metode, Hasil, Analisa dan Pembahasan serta Penutup. Jangan lupa menampilkan argument anda sendiri secara logis dan lugas. Nasehat saya? Cukup 1-2 lembar saja dan dibuat mirip segi tiga pyramid terbalik (dari yang umum kepada yang paling khusus).
Lalu bagaimana cerita Ulya bisa sampai ke Inggeris? Dia sering membuka Website di Google Scholar, katanya, untuk mencari nama2 profesor yang mungkin akan sesuai bidang keahliannya dengan judul riset Ulya nanti yaitu tentang Gerakan Salafi di Jambi. Pertama lewat Google dia coba menghubungi seorang professor di Bristol, Inggeris. Kendatipun dia tertarik dengan riset Ulya tetapi dia tak bersedia menjadi professor pembimbing Ulya sebab bidang keahliannya adalah Sosiologi Agama dan dia tidak meneliti tentang Islam di Indonesia. Dalam pengalaman serupa, saya juga dulu pernah menghubungi Prof. Denise Lombart di Universitas Sorbonne, Paris tetapi gagal karena riset saya juga bukan bidang keahliannya. Artinya usaha kita tidak selalu berhasil. Lalu Ulya mencoba lagi. Kali ini Ulya menghubungi lewat email seorang Profesor di Coventry University di Inggeris bernama Prof. Sariya. Diketahui bahwa kajian prof ini terkait dengan gender dan beberapa universitas Inggeris. Setelah membaca, rupanya dia tertarik dengan riset Ulya, dan Email Ulya segera dibalasnya, dan dia menyatakan bersedia menjadi pembimbing dosen muda dari Jambi ini. Senang hati Ulya bukan main katanya, seorang cewek dari Wonosobo mau studi di Inggeris…bagaikan melihat ‘Oase’ di padang pasir kata Ulya. Akhirnya pada bulan September tahun 2022 Ulya Fuhaidah tamat dan meraih S3 (Doktor)/Ph.D dari Inggeris.
Memang tidak mudah mencari calon pembimbing di Barat. Kadang2 prof tersebut tidak tertarik dengan penelitian kita, mungkin juga metode menulis kita masih jelek, kadang2 bidang keahliannya berbeda dari riset kita. Bahkan adakalanya jumlah bimbingannya sudah lebih dari 8 orang mahasiswa dari berbagai negara tentunya. Jika anda belum beruntung, maka ketahuilah ‘Gagal itu kata orang bijak adalah kesuksesan yang tertunda, bukan AKHIR PERJUANGAN! Ya begitulah perjuangan hidup. Adik2 jangan cepat putus asa. Ada pepatah mengatakan: Tidak satu jalan ke Roma! Artinya ada banyak cara untuk mencapai tujuan, Mungkin yang sering pusing adalah Donald Trump karena hanya ada satu jalan untuk keluar minyak dunia yaitu Selat Hormuz. Maka sekarang bagi adik2 yang pingin sekali kuliah ke luar negeri, sujudlah dengan penuh tangis ke bawah telapak kaki ibumu, minta ibumu mendoakan agar kamu sukses ke luar negeri. Cium pipinya, minta ampuni sekalian dosa2mu. Biasanya doa Ibu Kandung sangat makbul. Seandainya legenda Malin Kundang tak durhaka pada ibu, maka akan saya robah legendanya mencium ibu. Apa boleh buat, nenek moyang saya di Minangkabau mengarang legenda dimana Malin Kundang pergi berdagang ke luar negeri akibatnya dia pulang kaya harta kenapa tak kaya jiwa? Malin Kundang jadi durhaka dan tak pernah mencium ibunya. Apakah Ulya juga mencium ibunya? Tanyakan sendiri padanya!
Untuk mencari info studi/riset ke luar negeri, saya pribadi dulu di IAIN Jambi suka ‘usil’ mengintip surat2 masuk di kantor sekeretaris Rektor, pada waktu itu sekretaris Rektor adalah Mukhtar Latif (sekarang Profesor). Rupanya di bawah tumpukan berkas surat2 dari Kemenag Jakarta, di meja kerja Mukhtar, ada nampak sebuah surat pengumuman yang ingin mencari dosen2 muda IAIN sebagai calon2 tenaga riset ke Jerman dari prof. Rhainer Carle (guru besar di Universitas Hamburg). Surat itu mungkin belum sempat ditempel oleh Mukhtar di IAIN Jambi. Saya baca cepat2 surat tersebut sebelum ketahuan oleh Mukhtar yang sedang pergi ke luar kantor dan saya catat alamat emailnya. Kebetulan Prof. Carle punya isteri orang Sulawesi dan sedang libur ke Indonesia, artinya dia sedang berada di Indonesia, maka langsung saya kirim email padanya, waktu itu belum ada HP, bahwa saya ingin ke Jerman. Dia menyatakan setuju. Langsung saya disuruhnya melengkapi semua persyaratan dengan segera dan kami berjanji akan bertemu muka di Jakarta (saya terbang dari Jambi, dia dari Menado). Alhasil dari kontak pribadi tersebut, maka berangkatlah saya ke Universitas Hamburg, Jerman selama 1 bulan untuk Visiting Fellow di bawah bimbingan Prof. Rhainer Carle. Terbang satu2nya dari Indonesia, dosen IAIN Jambi, dari bandara Sukarno-Hatta saat magrib dengan pesawat super besar Lufthansa, Jerman. Tiket pesawat disediakan oleh pihak pemberi bea siswa namanya DAAD yang kini punya perwakilan di Jl. Sudirman, Jakarta Pusat. Tiket pesawat mencakup dari Jambi-Jakarta, Frankfurt, Hamburg, ditambah dengan bea siswa 1 bulan di sana, plus tiket pulang lagi ke Indonesia. Di Hamburg saya banyak dibantu pula oleh keluarga seorang mahasiswa Indonesia bernama JM Muslimin (sekarang Guru Besar di UIN Ciputat, Jakarta). Terimakasih banyak untuk alm. Prof. Rhainer Carle dan juga untuk keluarga Prof. JM). Memang jauh perjalanan banyak dilihat, lama hidup banyak dialami.
Bahkan sebelum ke Jerman, dulu juga saya pernah jumpa alm. Prof. Ayyoub (dari Temple University, USA) saat dia menghadiri seminar internasional di Jakarta. Pada Prof. Ayyoub saya ceritakan bahwa saya ingin sekali S3 di Temple dan dia minta Academic Writing milik saya untuk dipelajarinya, namun gagal, mungkin karena dia Syi’ah. Prof. Ayyoub dulu juga pembimbing alm. Dr. Ahmad Haris di Temple University, sayang sekali Haris (ex mahasiswa saya di Fak. Syariah IAIN Jambi) meninggal dalam usia muda. Artinya, ada banyak cara untuk memperoleh professor luar negeri sebagai calon pembimbing kita. Bahkan baru2 ini saya sudah dapat ‘lampu hijau’ dari Rektor McGill University di Canada untuk melanjutkan Post Doctor di McGill. Saya jumpa dengan Rektor tersebut pada waktu alumni McGill Indonesia diundang suatu malam oleh Dubes Canada di Jakarta untuk hadir dalam suatu acara. Artinya, ada banyak peluang untuk mencari calon pembimbing. Bukan hanya kita yang butuh professor pembimbing, dia juga butuh mahasiswa untuk dibimbing, dia juga ingin mencari kita. Kenapa anda ‘grogi’ bila ngomong dengan professor bule? Yang penting kita sendiri harus berani berkomunikasi dengannya secara sopan, duduk dekat dengannya, dan jelaskan rencana penelitian kita, bila perlu Academic Writing kita telah diketik rapi, cukup 1-2 lembar diketik dengan bahasa Inggeris yang bagus, print, lalu masukkan ke dalam map dan bawa kemana pergi lalu serahkan pada prof. bule saat jumpa muka. Maka adik2 rajin2lah menghadiri seminar internasional di mana saja, baik di hotel2 ataupun di universitas2 termasuk pameran2 di seluruh wilayah Indonesia. Pasang kuping, pasang mata. Jangan hanya melirik cewek cantik di sana, tetapi liriklah profesor2 bule yang botak2 itu dan dekati, ngobrol dengannya, mungkin ada saat2nya kita tak harus mengucapkan Assalamu’alaikum pada mereka. Bijaksana itu perlu dalam pergaulan hidup: janganlah disuguhi anjing makanan dalam botol, dan janganlah disuguhi bangau makanan dalam piring!
Kenapa harus punya calon professor pembimbing? Perlu adik2 ketahui bahwa kuliah S3 di luar negeri berbeda dengan di dalam negeri. Kita di Indonesia biasanya mendaftar lewat jalur formal sesuai ketentuan pendaftaran di kampus masing2. Sementara di luar negeri umumnya kita harus mencari seorang professor yang memiliki keahlian sama dengan bidang yang akan kita teliti, dan dia menyatakan bersedia. Jadi, professor itulah ibarat Bapak Angkat nantinya, dia akan memantau kita selama studi, tempat mengadukan segala kesulitan studi yang ditemui, dan atas rekomendasinyalah nanti Universitas akan menyetujui kita terdaftar sebagai mahasiswa resmi di universitas yang kita tuju. Professor bule itu hanya menunjuki kita tentang metode meneliti, tetapi tidak mendikte pikiran kita. Kita BEBAS berpendapat. Dia se olah2 hanya menunjuki kita metode pergi ke Mekah, tetapi dia sendiri tidak masuk ke Mekah. Maka tentang hasil riset kita, kitalah yang lebih tahu darinya. Ini pernah dialami oleh filosuf besar bernama Gadamer pada gurunya Heidegger. Sayang sekali tradisi berkomunikasi dengan professor bule berbeda jauh dengan tradisi berkomunikasi dengan kiyai. Dengan bule, tidak ada cium tangan, tidak ada menundukkan kepala, tidak ada ‘manut’ bila kita punya argumentasi yang lebih kuat. Professor itu tugasnya membimbing, membesarkan cara berpikir kita, membuat kita berbeda darinya, membuat kita DEWASA sebagai sarjana, bila perlu teorinya kita bantah. Ibarat kacang pohon, professor itu gunanya untuk kita memanjat agar sukses tinggi. Setelah tinggi memanjat, lalu tinggalkan…bye..bye..sayonara. Kapan masanya lagi jumpa dengan professor pembimbing? Ya lewat tulisan. Dalam artikel2 ilmiah, bila dibaca dan diseminarkan, maka buah pikiran kita akan bertemu dengan berbagai professor dari banyak penjuru dunia. Tradisi akademik seperti itu yang tidak ada di pesantren2, bilamana anda berbeda pendapat dengan kiyai secara keras, boleh jadi anda akan kuwalat! Ini juga pernah dialami oleh Washil bin Atha’ (Mu’tazilah) pada gurunya Imam Abu Musa (al-Asy’ari). Apakah sikap ilmiah profesor2 di UIN di Indonesia, terutama di Jambi, sudah seperti sikap professor2 di Barat? Tanyalah pada rumput2 yang bergoyang! Maka sekarang sampailah kita pada penghujung cerita.
Sebagai penutup dari kisah di atas ada beberapa kesimpulan yang bisa dipetik. Bulatkan tekadmu untuk studi ke luar negeri, lupakan dulu kekasih hati, tulis Academic Writing sesuai keinginanmu, pasang kuping dan cari peluang beasiswa di Departemen tempat anda bekerja, cari nilai IELTS, sering2 ke Jakarta mencari info, jangan hanya berzikir dan berdoa di kampung halaman, Ora et Labora kata orang, hubungilah calon professor pembimbing di luar negeri, surati, kirim email padanya…dan yang jauh lebih penting: Sujudlah pada kaki ibumu! Mintalah pada ibumu untuk memaafkan dosa2mu. Izinkan saya bertanya, apakah masih ada kendala adik2 pada bahasa Inggeris dan Academic Writing? Dengan tulus hati saya akan menyediakan waktu dan pikiran untuk membantu adik2 semua, mari kita diskusikan di kampus UIN Jambi tercinta, demi kita maju bersama. SUKSES!
Demikianlah khususnya cerita panjang semangat akademik Dr. Hj. Ulya Fuhaidah, semoga adik2 muda semakin bersemangat untuk meraih cita2, me lang2 buana menjelajahi dunia. Terimakasih pada semua Ibu Bapak yang telah turut membaca tulisan saya. Wassalam, Amhar Rasyid, Jambi.