Oleh: Amhar Rasyid
Jambi, 28 Agust 2026
Assalamu’alaikum wr,wb Bapak2/Ibuk2 dan adik2 semua, baik Muslim maupun non-Muslim di mana saja berada. Selamat Sejahtera. Kemaren hari Kamis 27 Agustus telah berlangsung demonstasi besar2an di Jakarta yang diinisiasi oleh AMPB (Aliansi Masyarakat Pati Bersatu) dengan tuntutan utamanya mendesak DPR RI untuk segera mengesahkan Rancangan Undang2 Perampasan Asset Koruptor. Saya yakin bahwa anda senang membaca dan mendengar berita demo tersebut lewat Media Elektronik, tetapi kualitas berita di medsos biasanya kurang analisis. Meskipun saya tak ikut ke Senayan berdemo, tetapi saya mengajak anda untuk melihat peristiwa demo dengan kacamata ilmiah dari Jambi. Karena saya orang akademik, bukan politikus, maka dalam tulisan Jum’at ini saya tidak akan mengulas peristiwa politik tersebut tetapi mencoba mengkajinya dari sudut pandang Gustave Le Bon (1841-1931), seorang sarjana Perancis yang pertama kali menulis buku tentang ilmu jiwa massa (the Crowd). The Crowd artinya Kerumunan Orang Banyak. Di Barat kata Crowd merujuk biasanya kepada 2 objek: pertama kajian sebuah buku klasik karangan Le Bon (Baca Le Bong) yaitu The Crowd: A Study of the Popular Mind (New York: The Macmillan, 1895) dalam bahasa Perancis berjudul Psychologie des Foules (Paris: Librairie Felix Alcan), dan yang kedua merujuk kepada film drama bisu Amerika legendaris berjudul The Crowd (1928) karya sutradara King Vidor. Sekarang kita focus kepada isi buku Le Bon saja. Pertanyaannya di sini ialah bagaimana jiwa massa menurut Le Bon? Sejauhmana analisis Le Bon bisa dikaitkan dengan peristiwa demo kemaren di Jakarta? Lalu apa relevansi diskusi kita dengan tradisi keagamaan? Pembahasan saya bagi kepada beberapa paragraph singkat semoga anda gembira membacanya sambil minum secangkir kopi.
Pertama, dalam buku the Crowd, Le Bon mencoba menganalisis tatkala jiwa perseorangan terserap ke dalam kerumunan massa lalu ia cenderung menjadi hilang akal sehat, mudah emosi dan bertindak spontan. Menurut Le Bon, dalam kerumunan orang banyak akan sulit lagi melihat individu sebagai perorangan tetapi telah tumbuh semacam entitas psikologi baru, yang dibentuk oleh ‘ke tak sadaran rasial’ dalam kerumunan massa tersebut. Artinya kesadaran individu telah hilang dan berobah menjadi kesadaran massa, kesadaran bersama. Le Bon membuat kiasan:‘An individual in a crowd is a grain of sand amid other grains of sand, which the wind stirs at it will” (Seorang individu dalam kerumunan massa ibarat sebutir pasir di tengah kerumunan (jutaan) pasir lain sehingga angin akan mudah menghembusnya). Nah bila isi rekening Botok (aktivis AMPB) di Bank Mandiri diboikot oleh yang berwenang, maka berita pemboikotan semacam itu mirip dengan sebutir pasir di tengah jutaaan pasir yang dengan mudah dihembus angin apalagi sekarang era digital: era yang belum ada di zaman Le Bon.
Kedua, kata Le Bon, seseorang yang terseret cukup lama ke dalam kerumunan massa boleh jadi dalam keadaan tertentu akan merasa terpengaruh oleh daya magnetic orang banyak, atau oleh pengaruh2 lain yang dia sendiri tak sadari, mirip dengan keadaan seseorang yang terhipnotis. Ia mudah terhipnotis oleh kata2 pimpinan yang sedang berpidato ber api2 atau oleh orang yang mengindoktrinasinya. Menurut saya, dalam kasus demo 27 Agustus kemaren, kata2 Botok akan sangat mudah menyulut emosi pendemo, ucapannya sangat mirip dengan ‘bensin’ yang gampang menyulut kobaran api. Pidatonya jangan sampai menyulut api, membakar massa. Analisa Le Bon ini menjadi pengingat bagi kita bahwa kesetiaan massa pada pimpinannya juga sangat terkait dengan kepercayaan public sebelumnya pada kepribadian pimpinannya. Bila ada pemimpin yang berjanji akan mengejar koruptor hingga ujung Antartika tetapi hanya ‘omon2’, maka pidatonya tak akan bisa menghipnotis massa lagi. Dalam kerumunan massa, logika yang berbicara adalah logika massa.
Ketiga Le Bon membedakan antara kenyataan fisik dan kenyataan non-fisik. Contoh kenyataan fisik, menurut saya, ialah sebuah mobil, nampak jelas bentuk, warna, ukuran dan modelnya. Ia bisa disentuh. Tetapi kenyataan non-fisik tidak kelihatan, tidak bisa disentuh misalnya kenyataan BERITA: ia ada tetapi tidak berbentuk. Bila dikaitkan dengan demo 27 Agustus kemaren, tuntutan perampasan asset koruptor oleh pendemo walaupun DPR RI telah menyetujui Undang2 tersebut, ia masih nampak seperti kenyataan non-fisik. Boleh jadi nanti setelah UU tersebut disahkan tanggal 15 Desember 2026, perampasan asset koruptor memang dilakukan di lapangan tetapi ‘lidah’ penegak hukum di meja hijau ber putar2 dengan seribu alasan sehingga perampasan asset itu hanya akan menjadi kenyataan yang tidak sepenuhnya memuaskan harapan pendemo karena UU perampasan asset tersebut dari semula tidak berwujud nyata (fisik) seperti wujudnya sebuah mobil.
Keempat, kerumunan orang banyak memang tanpa kesadaran, tetapi justru ketidak sadaran semacam itu boleh jadi merupakan RAHASIA KEKUATAN mereka kata Le Bon. Banyak para ahli berpendapat bahwa sebagian besar gerak gerik kita se hari2 terjadi akibat ketidak sadaran yang matang (spontan), sementara jumlah tindakan kita yang betul2 dipikirkan masak2 (mateng2) hanya sedikit. Contoh, menyetir mobil biasanya berdasarkan tindakan refleks. Saat menyetir mobil manual kita tak ingat sepenuhnya, tak ada rencana yang matang dibuat untuk peran tangan kiri dan kaki kiri. Dalam kasus 27 Agustus kemaren, melempari petugas dengan benda2 keras boleh jadi terdorong karena ketidak sadaran massa. Boleh jadi di antara pendemo ada anak, saudara, adik, teman dari petugas keamanan itu sendiri yang seharusnya mereka lindungi secara akal sehat, demikian pula sebaliknya, tetapi apa boleh buat ketidak sadaran massa sedang mengamuk, ia sedang menunjukkan RAHASIA KEKUATANNYA.
Menurut Le Bon setiap KESIMPULAN yang kita ambil setelah observasi masih bersifat premature, sebab di balik fenomena yang kita lihat sebenarnya masih banyak fenomena2 lain yang tak kelihatan, atau bahkan tak terlihat sama sekali. Jadi setiap kesimpulan baik dalam artikel ilmiah atau temuan penelitian akademik, seharusnya kita lihat sebagai sintesis baru menurut saya: sintesis tersebut akan menjadi tesis yang baru dalam dialektika Hegel. Dari sini saya menduga bahwa Undang2 perampasan asset koruptor sebenarnya hanya mengatur apa2 yang tertulis, sementara di lapisan bawah dari semua yang tertulis, masih banyak hal2 lain yang menjadi kebutuhan bangsa untuk diatur. Rumitnya lagi hukum tertulis tak boleh diinterpretasikan. Ini merupakan celah bagi ruang analisa. Coba dengarkan komentar para pemerhati public tatkala mereka berbicara di forum2 resmi mendiskusikan isi pertemuan Botok dengan para Wakil2 Rakyat di DPR seperti acara Indonesian Lawyers Club di TVOne.
Dapat disimpulkan bahwa kerumunan massa (the Crowd) punya dunia psikologis sendiri yang berbeda dari psikologi individual. Gustave Le Bon telah berusaha menunjukkan dalam bukunya bagaimana prilaku manusia tatkala sendirian dan tatkala bergerombol. Maka hati2lah kita menghadapi kerumunan massa. Tindakan mereka kadang2 lebih biadab, lebih anarkis dari cara berpikir mereka dalam kesunyian. Kerumunan massa yang dianalisa oleh Le Bon bukan massa umat beragama tetapi hanya fenomena empiric secara umum. Lalu bagaimana massa umat beragama?
Bagaimana fenomena the Crowd dalam dunia agama? Saya melihat jamaah umat beragama akan mudah terprovokasi bukan oleh aspek psikologis massa dalam analisa Le Bon di atas. Karena di dalam agama ada teologi yang bermain. Teologi semacam itu adalah juga gabungan antara pemahaman ulama2 terdahulu yang diingatnya dan hasil pemahamannya secara individual hari ini. Teologi itulah yang menggerakkan the Crowd. Teologi adalah hasil pemahaman manusia atas ajaran agama yang diyakininya terutama yang bersifat metafisis. Teologi itu berlapis lapis antara ratio dan iman. Seorang juru dakwah biasanya selalu lebih menekankan aspek keyakinan (aqidah) daripada aspek rationalitas kepada jamaahnya tetapi tetap saja penekanannya teologis. Jadi psikologi massa umat beragama boleh jadi bertindak atas nama kesalehan yang akan diimbangi nanti di akhirat dengan pahala, akibatnya massa umat beragama yang berkerumun biasanya lebih mudah mengamuk secara emosional dari pada berdiskusi dengan akal sehat, sebab yang tersinggung itu ialah ISI DADA bukan ISI KEPALA. Analisa ini belum nampak oleh saya dalam buku Le Bon. Wallahua’lam.
Demikianlah Bapak2/Ibuk2 dan adik2 semuanya, terimaksih telah membaca tulisan saya. Wassalam, Amhar Rasyid, Jambi