Jambi — Kabut yang menyelimuti sejumlah wilayah di Jambi dalam beberapa hari terakhir tidak semestinya dipandang sebagai fenomena alam biasa. Di balik langit yang berubah kelabu dan menurunnya jarak pandang, terdapat persoalan lingkungan yang lebih besar dan membutuhkan perhatian serius dari seluruh pihak.
Kondisi ini menjadi perhatian Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Provinsi Jambi, khususnya Bidang Lingkungan Hidup. Bagi pelajar, persoalan kualitas udara bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga menyangkut hak untuk belajar, beraktivitas, dan tumbuh dalam lingkungan yang aman dan sehat.
Ketua Bidang Lingkungan Hidup PW IPM Jambi, Ade Kurniawan, menyampaikan bahwa kabut asap yang kembali dirasakan masyarakat harus menjadi momentum untuk melakukan evaluasi terhadap tata kelola lingkungan di Provinsi Jambi.
“Bagi kami, ini bukan sekadar persoalan kabut. Ketika kualitas udara memburuk, yang dipertaruhkan bukan hanya lingkungan, tetapi juga kesehatan dan aktivitas masyarakat, termasuk pelajar. Sekolah, ruang publik, dan aktivitas pendidikan semuanya ikut terdampak,” ujar Ade.
Menurutnya, kemunculan kabut asap harus dilihat sebagai bagian dari persoalan ekologis yang lebih luas. Penanganan tidak cukup hanya dilakukan ketika titik api telah muncul. Pencegahan, pengawasan, penegakan hukum, restorasi ekosistem, serta edukasi kepada masyarakat harus berjalan secara berkelanjutan.
IPM memandang bahwa pelajar tidak boleh ditempatkan hanya sebagai pihak yang menerima dampak dari krisis lingkungan. Pelajar merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki peran dalam membangun kesadaran ekologis. Karena itu, pendidikan lingkungan harus diperkuat, tidak hanya melalui teori di dalam kelas, tetapi juga melalui gerakan nyata di lingkungan sekolah dan masyarakat.
“Pelajar hari ini adalah generasi yang akan mewarisi kondisi lingkungan Jambi di masa depan. Kalau hari ini kita membiarkan persoalan lingkungan terus berulang tanpa penyelesaian yang mendasar, maka generasi mendatang yang akan menerima dampaknya,” lanjut Ade.
Dalam konteks tersebut, PW IPM Jambi mendorong agar persoalan karhutla dan kualitas udara tidak hanya menjadi agenda penanganan darurat. Pemerintah bersama masyarakat, dunia pendidikan, dunia usaha, serta organisasi kepemudaan perlu membangun kolaborasi yang lebih kuat dalam menjaga lingkungan.
IPM juga menilai pentingnya keterbukaan informasi mengenai kualitas udara dan perkembangan karhutla kepada masyarakat. Informasi yang mudah diakses akan membantu masyarakat, khususnya pelajar dan satuan pendidikan, mengambil langkah yang tepat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Di sisi lain, kesadaran masyarakat juga menjadi bagian penting dalam menghadapi persoalan lingkungan. Upaya menjaga lingkungan tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah. Masyarakat memiliki peran untuk mencegah pembakaran lahan, menjaga ekosistem, serta melaporkan aktivitas yang berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan.
“Kami ingin ada perubahan cara pandang. Jangan sampai kita baru bergerak ketika asap sudah memenuhi udara. Lingkungan harus dijaga sebelum krisis terjadi, bukan hanya ditangani setelah dampaknya dirasakan masyarakat,” tegas Ade.
Bagi IPM, krisis lingkungan juga merupakan persoalan keadilan antargenerasi. Pelajar hari ini berhak mendapatkan udara yang bersih dan lingkungan yang layak, sebagaimana generasi berikutnya juga memiliki hak yang sama.
Karena itu, kabut asap yang menyelimuti Jambi harus menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan membutuhkan perhatian bersama. Langit yang kelabu bukan hanya persoalan pemandangan, tetapi merupakan tanda bahwa ada sesuatu yang perlu dibenahi.
IPM Jambi melalui Bidang Lingkungan Hidup mengajak seluruh pelajar untuk menjadi bagian dari gerakan menjaga lingkungan—mulai dari membangun kesadaran, mengurangi perilaku yang merusak lingkungan, hingga berani menyuarakan persoalan ekologis yang terjadi di sekitar kita.
Sebab, menjaga lingkungan bukan sekadar tentang hari ini. Ia adalah tentang memastikan bahwa generasi pelajar hari ini dan generasi yang akan datang masih memiliki hak untuk menghirup udara yang bersih, belajar dengan nyaman, dan hidup di Jambi yang sehat dan berkelanjutan.