AMHAR: OTOBIOGRAFI II (HOBBY B. INGGERIS)


Oleh: Amhar Rasyid
Jambi, 12 Juni 2026

Assalamu’alaikum wr,wb Bapak2/Ibuk2 dan adik2 semua baik Muslim maupun non-Muslim di mana saja berada. Semoga kita sehat2 selalu. Ternyata tulisan Jum’at kemaren (Biografi) banyak penggemarnya, banyak dapat apresiasi, baik di dalam dan luar negeri. Dalam biografi II ini ini diskusi kita bergeser tentang pelajaran umum, khususnya tentang minat belajar bahasa Inggeris. Dulu pernah waktu saya kecil, sebelum masuk SD tahun 1963, suatu kali serombongan turis bule kakek2 dan nenek2 dari perusahaan minyak Caltex milik Amerika di Riau lewat di dekat rumah saya di Tanjung Pati Payakumbuh dan mereka mampir turun dari mobil rombongannya. Rupanya mereka tertarik ingin melihat benda aneh ‘lesung’ yaitu alat untuk menumbuk padi yang diinjak dengan kaki. Melihat banyak bule berkerumun, saya sebagai bocah dan kawan2 lalu menghampiri mereka, dan seorang nenek bule mengusap rambut kepala saya dengan tangan kirinya sambil senyum…entah apa yang diucapkannya waktu itu di bawah sorotan bola mata biru. Ingin saya bercakap dengan bule itu tapi apa yang mau diucapkan? Mungkin usapan kepala saya oleh bule itulah yang kemudian menjadi bibit bagi berkembangnya minat hobby bahasa Inggeris saya. Bagi Sigmund Freud, hobby dilihat sebagai wujud sublimasi, di mana agresi atau libido sebagai komponen dorongan bawah sadar tatkala ia tidak dapat diterima secara sosial lalu dialihkan kepada aktifitas kultural. Apakah memang demikian dengan hobby bahasa Inggeris saya? Dalam diskusi berikut diharapkan anda dapat melihat aspek psikologis semacam itu. Alur cerita ini akan saya bagi kepada masa2 di bangku SD, di PGA. di PHIN Yogya, di al-Azhar, Cairo dan pra keberangkatan ke Canada.

Mulai mengenal pengetahuan umum. Generasi Muslim yang lahir tahun 1950an, terutama di pedesaan Minangkabau, umumnya diajarkan pelajaran umum di sekolah di siang hari dan mengaji al-Qur’an di malam hari. Bapak saya, ex Polri, berasal dari keluarga ‘Orang Surau’ (ta’at beragama, pakai kopiah dan sarung), ternyata setelah dia memutuskan untuk mendaftar semula menjadi Mobrig (Brimob) di Kayu Aro, Kerinci di mana Pamannya dulu punya rumah makan Padang, banyak pihak saudaranya keberatan bila dia menjadi tentera dan mengejeknya sebagai ‘kodok hijau’ (pakaian dinas Militer). Terlepas dari itu tradisi Bapak berlanjut kepada anak. Sejak dari kecil saya harus berangkat ke Sekolah Dasar di pagi hari, berjalan kaki 1 km dari asrama Polri, dan mengaji al-Qur’an di surau di malam hari. Artinya sejauh 4 km saya harus mondar-mandir tiap hari pada arah yang sama. Dulu menulis pelajaran di SD menggunakan batu tulis, bukan dengan buku, apalagi dengan laptop dan HP. Tetapi saya tak ingat apakah waktu itu sudah diajarkan pelajaran ‘Ini Budi, Ini Ibu Budi’?

Setelah saya duduk di kelas IV SD, seorang ibu guru gadis cantik lulusan SPG (Sekolah Pendidikan Guru) baru saja dapat SK (Surat Keputusan) diangkat mengajar di kelas saya: namanya Buk Nurmiati. Saya bertanya padanya :’Buk, apa bahasa Inggerisnya ‘Saya’? karena dia gadis dia hanya tersenyum manis, tak ada jawaban sedikitpun, sementara rasa keinginan tahuan saya sangat luar biasa ingin pandai berbahasa Inggeris…memang jujur ingin tahu. Hanya Ibu kandung saya yang sering sambil bergurau di rumah mengucapkan ‘I go to school’ tetapi tak jelas pronounciationnya. Setelah saya dewasa tamat dari PHIN Yogya dan ibuk guru tersebut sudah menikah, selalu saya omeli dia bilamana berjumpa…saya bilang: “Kenapa tak diajari saya dulu bahasa Inggeris….I go to school saja tak pandai? Dia tetap senyum manis saja, dan sekarang jasadnya telah dikubur di Tanah Kusir Jakarta. Hobby bahasa Inggeris saya memang ‘mendarah daging’.

Tetapi lucu waktu di surau. Suatu malam saat magrib tiba, saya terlambat datang dan solat berjama’ah telah selesai. Lalu saya solat sendirian dilihat oleh teman2 dan itulah solat Magrib yang pertama kali dalam hidup saya hingga kini tak pernah absen hingga berusia 70 tahun. Bagaimana cara solat saya? Satu raka’at pertama saya berdiri lalu duduk langsung tasyahud akhir dan salam. Lho kenapa begitu? tanya teman. Saya bilang: Kan begitu diajari guru agama di SD. Kalau solat magrib itu harus 3 x tegaknya kata teman2 di samping saya sambil ditertawakan. Sejak dinasehati teman2 (dari tahun 1964 hingga tahun 2026 ini) x 3 raka’at (magrib saja) totalnya 62 tahun x 365 hari = 22.630 hari x 3 raka’at = mungkin jumlahnya sudah 67.890 raka’at. Lha kenapa dihitung begitu? Sebab ada ayat Haasibu qabla an tuhasabu.. (Hitung2lah (amalanmu) sebelum kamu dihitung). Mudah2an quantitas rakaat tak berbanding lurus dengan qualitas solat saya.

Bagaimana setelah sekolah di PGAN Payakumbuh? Hobby bahasa Inggeris saya semakin menggebu. Suatu kali masuk ibuk guru bahasa Inggeris bernama buk Aniwarna yang mana kemudian hari menjadi mertua saya sendiri. Dia mulai menulis di papan tulis dengan kapur :” Use the following words”….saya langsung bertanya : Buk apa artinya u s e itu? Bukan u s e bacanya itu katanya, tetapi ‘yuuzs’. ‘O….yuuzs…saya bilang’. Sejak tahun 1971 hingga kini tak pernah lupa lagi, kata ‘use’ membekas sangat dalam ke dasar memory saya. Kemudian lanjut sekolah menengah ke PHIN Yogya tahun 1975 dan saya ikut kursus bahsa Inggeris di Chan Institute, dekat Tugu Yogya, di samping Pasar Kranggan. Gurunya Mr. Chan (Chinese), pintar sekali mengajar, masuk kelas habis magrib, sangat menarik, sangat tepat waktu, pakai kemeja putih, celana hitam sepatu mengkilat, lincah, energetic, mondar mandir dari depan kelas hingga belakang, dan kepala saya sering diusapnya mungkin karena saya dilihatnya sangat antusias duduk di bangku paling depan. Ternyata setelah tamat kursus, saya sudah bisa menerima upah menerjemahkan buku2 kuliah fakultas hukum mahasiswa UGM. Sikap, kepribadian dan gaya mengajar Mr. Chan itulah yang saya ‘copy paste’ di UIN Jambi hingga kini. Ex mahasiswa saya sudah banyak kini yang bertitel Profesor, dan mereka adalah saksi hidup yang bisa bercerita bagaimana ketatnya disiplin waktu bila pak Amhar masuk mengajar, selalu pakai kemeja putih, celana abu2/hitam, berdasi dan sepatu mengkilat. Hobby dan peluang belajar bahasa Inggeris membuat saya sukses belajar.

Yang menarik lagi tatkala sudah kuliah di al-Azhar, Mesir. Walaupun kuliah banyak disampaikan oleh dosen2 dengan bahasa Arab Mesir (lughah ‘ammiyah), namun mahasiswa diwajibkan juga menhgambil mata kuliah asing (Inggeris atau Perancis). Sayapun mengontrak mata kuliah English. Pada suatu kali masuklah dosen Mesir mengajar bahasa Inggeris, dia sedang menuliskan kata ‘Refrigater’ (huruf e) (Kulkas/Peti sejuk) di papan tulis. Saya yang duduk di bangku paling depan langsung berdiri dengan hormat dan berkata dengan bahasa Mesir sambil menunjuk ke papan tulis: ‘Law samahtu ya Duktur, dah mungkin gholat syuwayya…mus refrigeratEr lakin refrigeratOr’ (Permisi Doktor, mungkin itu keliru sedikit..bukan huruf e tetapi o’) …apa yang terjadi? Dia menoleh kepada saya di belakang dan saya dibentaknya sambil menunjuk dengan tangan kanan:”Ithlaq barroh” (Gerrrrrrr out)…keluar kamu katanya. Kasar sekali ! kata saya. Sayapun keluar. Sejak diusir itu, saya pindah mengontrak mata kuliah bahasa Perancis di Universitas al-Azhar: ternyata dengan modal bahasa Perancis itu kemudian saya bisa gunakan 3 x pergi ke Paris, naik Menara Eiffel dan kuliah di milieu Quebec, Canada.

Bagaimana respon teman2 sekelas di al-Azhar pada saya? Banyak mahassiswa Mesir malah menyalahkan saya. Mereka bilang:”Amhar, enta mus quwayyis zay dah” (Amhar, kau tak baik macam gitu). Tak boleh mengeritik dosen, walaupun dia keliru. Tetapi teman2 Mesir banyak yang heran dengan cara saya menulis catatan kuliah. Menulis dari kiri ke kanan (huruf Latin) sama saja cepatnya dengan menulis dari kanan ke kiri (huruf Arab). Seorang anak Mesir melirik kepada saya dan akhirnya berkata: ‘Amhar, enta syaithan…Amhar kamu setan katanya. Le? Saya tanya (Kenapa?). ‘Taktub minal yamin was syimal zay ba’dhu (Kau menulis dari kiri dan kanan sama saja cepatnya). Saya dicap sebagai ‘setan’ di Univ. al-Azhar tak apalah.

Banyak Uda2 dan Uni2 yang telah berjasa membantu perkuliahan saya di Cairo, tetapi yang membantu untuk kemajuan bahasa Inggeris dan merobah cara pandang saya di Cairo terhadap buku2 adalah Uni Yusra Dalimi dan Uda Rifyal Ka’bah. Setiap ada Book Fair (Bursa Buku) di Cairo dia sering membelikan saya buku2 bahasa Inggeris yang saya minati. Yusra sudah seperti kakak kandung. Walaupun dia tak pandai berbahasa Inggeris, tetapi saya sering belajar sendiri memperdalam bahasa Inggeris di rumahnya di Cairo. Dengan bantuan kamus Inggeris-Indonesia karangan Hassan Shadili dan John M. Echols, saya terus menerjemah sendirian berbagai buku2 keagamaan dan filsafat: tekun, ulet, hingga pedih mata di larut malam. Rupanya miracle/keajaiban terjadi pada diri sendiri tatkala pulang dari Tanah Suci, terasa sekali peningkatan kemampuan memahami paragraf demi poaragraf buku bahasa Inggeris dibandingkan dengan sebelum berangkat haji. Suatu kali tiba2 masuk ke kamar saya di asrama al-Azhar Uda alm. Prof. Rifyal Ka’bah (Mantan Hakim Agung yang meninggal di Singapura tahun 2013), dia melihat dalam kamar saya banyak buku2 Arab klasik yang telah saya beli dari hasil berdagang di Saudi, berjejer di rak2 dalam kamar asrama seperti kitab al-Majmu’ karangan al-Nawawi yang 40 jilid, Badha’i Shana’i, Mughni Muhtaj, dan lain2. Lalu Uda Rifyal berkomentar dengan nada rendah penuh wibawa:”Bukan itu buku yang harus kamu beli Amhar, katanya. Belilah buku2 kecil, tipis, terbitan terbaru yang mengupas isi buku2 klasik tersebut. Disitu kita belajar cara berpikir orang, pola pikir, cara melihat permasalahan, cara mendiskusikannya’ katanya. Lalu saya termenung, saya sangat kagum dengan kepribadian dan ilmu Uda Rifyal. Sejak saat itu berobahlah cara pandang saya atas kitab2 kuning. Semua kitab2 kuning ratusan jilid akhirnya saya jual kembali di Mesir kepada teman2 asal Madura dan Tapanuli. Akibat dikritik Rifyal, buku2 yang saya beli kemudian memang seputar pemikiran keagamaan tetapi bukan berbahasa Arab melainkan berbahasa Inggeris seperti The Reconstruction of Religious Thought in Islam oleh Iqbal. Anehnya, setelah melihat buku itu di tangan saya, Rifyalpun berkomentar sinis :”Kalau itu buku yang kamu baca, ‘Bapilin cirik ang dek inyo’. Apa artinya pak Amhar? Tanyalah Google!

Akibat bahasa Inggeris persahabatan saya semakin luas. Pada suatu kali Uni Yusra sempat memperkenalkan saya di Kedutaan Indonesia (KBRI) di Cairo dengan seorang ibuk Kristen asal Menado bernama Carla Hoopper, suaminya orang Amerika asal Florida yang bekerja di Badan Pangan PBB di Mesir. Tatkala saya sudah kuliah di McGill (1993), ibuk Carla ini saya telpon dari Canada, dan dia senang mendengar saya sudah ada di Canada lalu mengundang saya untuk datang ke Florida. Jarak antara kota Montreal di Canada dan Florida (Selatan Amerika Serikat) mungkin sekitar 2500 km, 25 jam naik bis. Sayapun berangkat kesana ikut bersama rombongan dua bis tour siswa2 Israel dan sempat menginap di rumah Carla selama 1 minggu. Di Florida tidak ada bis kota, tidak ada taxi bahkan tidak ada grab atau Ojek, maka Carla terpaksa menjemput saya ke hotel dengan mobilnya sendiri nyetir, ke tempat bis kami berhenti sejauh 40 km dari rumahnya di Tampa. Setelah istirahat beberapa hari saya sempat diantar oleh suaminya (Jim) dan putra-putrinya Andrew dan Laelani berwisata melihat tempat wisata terbesar di dunia Disney Land yang luasnya mungkin lebih 5 x Ancol, plus serba-serbi wahana permainan yang sangat menakjubkan. Setelah melihat Disney baru saya tahu bahwa Ancol itu banyak ‘mencontoh’ Disney dengan wahana permainan terbatas dan harga tiket terjangkau. Ternyata masih banyak wahana permainan seru ala Disney yang belum ada ditemui di Ancol. Ini akibat belajar bahasa Inggeris dan suka bergaul meskipun dengan non-Muslim.

Jim dan Carla keduanya sangat baik dan ramah. Bahkan Jim pernah mengajak saya untuk ikut ke gereja di hari Minggu. Saya lama pikir2 di rumah untuk ikut. Lalu saya ingat, Umar bin Khattab juga pernah masuk gereja di Palestina tetapi dia tidak solat di dalamnya, ah kenapa saya takut ke gereja? kata saya dalam hati. Sayapun ikut Jim dan dalam gereja saya tegak saja berdiri lurus di pinggir dinding mirip patung bisu, lirik kiri-lirik kanan bagaikan TURIS bengong, memandang bule2 Amerika. Banyak sekali jamaah gereja bule2 yang hadir, ganteng2, cantik2, harum2 wangi, pria pakai jas dan dasi, lalu saya berbisik dalam hati ‘Kenapa jamaah di mesjid2 di kampung halaman saya banyak yang pakai sandal jepit, baju bau keringat tidak diseterika, kumis tidak dicukur, dan batuk kakek2 sahut bersahut?’ Dengan pengalaman menyaksikan acara keagamaan di gereja di Amerika lalu saya dapat cermin perbandingan: ternyata orang lain lebih rapi, lebih necis pakaiannya dari kita, sementara para ustaz dan ‘da’i terus berdakwah ‘Innallaha jamiilun wa yuhibbul jamal’ (Allah itu indah dan Dia suka keindahan)! Kita nampaknya belum banyak menyentuh indah. Ternyata dakwah kita baru pada das Sollen belum menyentuh banyak pada das Sein. Karena pengalaman lapangan yang luas semacam ini, perkembangan bahasa Inggeris saya semakin meningkat apalagi saya pernah hidup dalam lingkungan rumah tangga orang asli (native) Amerika. Karena sikap toleran kepada non-Muslim, saya sekarang menganjurkan agar tetangga non-Muslim juga sebaiknya diundang bersama untuk acara Halal-bi Halal di langgar/mesjid. Lagi pula Halal bi Halal itu adalah ciptaan Bung Karno bukan dari Nabi Muhammad saw. Perlu diketahui bahwa di Mesjid al-Azhar di Cairo dan Mesjid Istanbul di Turki turis non-Muslim dibolehkan masuk, kenapa di langgar2 kecil tidak boleh?

Terakhir, kegiatan belajar bahasa Inggeris saya yang sangat efektif ialah ketika di Pembibitan di IALF Denpasar, Bali. Sebelum diberangkatkan kuliah S2 di Canada, kami dosen2 muda tahun 1990an dididik, dibina, ditingkatkan kemampuan bahasa Inggeris (membaca, menulis, mengarang, berpidato, dan lainnya) atas biaya McGill-Indonesia Project. Tempatnya adalah gedung berlantai empat milik IALF (Indonesia Australia Language Foundation) di Bali. Kami di sana diajar, dibina oleh guru2 bahasa Inggeris khusus di datangkan dari Amerika dan Inggeris. Dua orang guru yang sangat kental dalam hati kami adalah Steve Cassanova (Amerika) dan Jule (Inggeris). Dalam kelas biasanya terdiri dari 9 siswa duduk di kursi berjejer dan gurunya di depan. Suatu kali tiba2 datang team penilai dari Jakarta yang terdiri dari Direktur McGill Project Celine Boudoin dan dua orang pejabat dari Departemen Agama Pusat. Mereka tiba2 berdiri di pintu kelas menatap kami sambil memegang buku catatan dan Direktur IALFpun masuk mendadak sambil menulis di papan tulis berita dari potongan koran Kompas. Melihat situasi ‘GENTING/TEGANG’ seperti itu, mulailah muncul sikap antisipatif saya seperti bakat dagang di Cairo dulu. Cepat2 saya ambil kertas dan langsung saya terjemahkan apa yang ditulis oleh bule tersebut ke dalam bahasa Inggeris, sebab saya yakin dia pasti akan menyuruh. Usai menulis di papan tulis, diapun menoleh ke belakang kepada kami sambil berkata : Can you translate it into English? Katanya (Bisakah anda terjemahkan itu ke dalam bahasa Inggeris?) Sayapun langsung angkat tangan sambil menyerahkan kertas :”Here you are’ (Ini ah) saya bilang. Teman2 lain masih mencari2 kertas dan pena, sementara saya sudah siap duluan. Nomor 1. Nomor 1. Itu KUNCI SUKSES! Maka tercatatlah nama saya (dari Jambi) oleh pejabat2 yang berdiri di pintu kelas tadi dan berangkat ke Canada. Demikianlah kisah hidup saya gabungan hobby dan ketekunan belajar bahasa Inggeris. Rupanya Ali bin Abi Thalib memang benar menyuruh kita mempelajari bahasa asing dan saya telah membuktikannya dalam hidup.

Kesimpulan. Bakat dan keberanian saya berpetualang untuk menuntut ilmu terbukti didukung oleh zaman dan tempat. Ada bakat ada peluang. Berpindah2 dari kampung, terus ke Yogya, terus ke Mesir dan Canada ternyata diiringi dengan dunia pergaulan yang kontributif bagi pengembangan bakat saya. Maka dapat ditarik pelajaran dari diskusi di atas bahwa perkembangan pengetahuan anak2 kita sebaiknya disesuaikan dengan bakatnya, bukan dengan bakat bapaknya. Namun sejak dari usia pra baligh setiap anak harus diajari sendi2 pokok ajaran agama, selanjutnya terserah si anak mau kuliah di mana, sebab masa depan mereka bukan lagi masa depan kita. The world is changing fast. Al-‘alam mutaghayyar kata orang Arab. Ternyata bagi saya sublimasi oleh Sigmund Freud berbeda (impuls bawah sadar saya diterima oleh masyarakat).

Demikianlah Bapak2/Ibuk2 dan adik2 sekalian. Terimakasih telah membaca tulisan ringan ini. Mohon maaf bila ada kesalahan. Pamit, Amhar Rasyid, Jambi.

*Silakan Share