IRAN=SYI’AH. TAQIYAH ITU APA?APA GUNANYA UNTUK DIKETAHUI?


Oleh: Amhar Rasyid
Jambi, 6 Maret 2026

Assalamu’alaikum wr,wb
Bapak2/Ibuk2/Adik2 semuanya di mana saja berada, baik Muslim maupun non-Muslim. Banyak pembaca saya merasa bingung dan bertanya apa arti Muhammadiyah, Syi’ah, Umayyah, Mu’awwiyah…semua kata2 memakai akhiran ‘iyah’ katanya bikin bingung. Apalagi sekarang perang Teluk Persia antara Amerika bersama Israel melawan Iran sedang berlangsung. Mass media banyak memberitakan bahwa Iran itu adalah Syi’ah, lalu Syi’ah itu apa? Syi’ah punya taqiyah, taqiyah itu apa? Apa gunanya untuk diketahui? Dan apa yang nampaknya perlu dipupuk untuk hidup bersama di masa kini dan masa depan? Tulisan berikut saya kira akan berguna bagi saudara2 sekalian lintas agama, terutama kawula muda, yang baru sedikit mengetahui tentang Syi’ah. Saya bukan bermaksud mempromosikan Syi’ah di sini tetapi sekedar untuk menambah wawasan pengetahuan bagi pembaca tercinta. Untuk itu saya akan membicarakan mula2 arti kata dan sejarah Syi’ah, kemudian dalam hal apa ia berbeda dengan mayoritas Muslim Sunni, dan terakhir beberapa manfaat untuk mengetahui Syi’ah.

Mari kita mulai. Arti Syi’ah secara etimologis ialah ‘kelompok, pengikut’. Syi’ah adalah kelompok pengikut Ali bin Thalib (Khalifah keempat setelah wafatnya Nabi Muhammad saw) serta keluarganya yang disebut dengan Ahlul Bayt. Sejarah Islam menyebutkan bahwa setelah wafat Rasul Muhammad saw, kepala pemerintahan Islam di Medinah dipimpin oleh Abu Bakar (Khalifah I) mertua Nabi, kemudian setelah dia wafat digantikan oleh Umar bin Khattab (Khalifah II) juga mertua Nabi, lalu kemudian setelah dia wafat pula digantikan oleh Khalifah Usman bin Affan (Khalifah III) juga mertua Nabi, dan setelah beliau wafat pula maka digantikan oleh Ali bin Thalib (Khalifah IV) ini bukan mertua Nabi tetapi menantu Nabi (isterinya bernama Fathimah putri Nabi dan mempunyai putra dua orang bernama Hasan dan Husein).

Hingga pengangkatan Ali (Khalifah IV ini) umat Islam mulai pecah dan ibu kota Pemerintahan pindah dari Medinah ke Damascus (di utara). Kenapa pecah? Sebab ada kelompok orang Islam yang dituduh bersekongkol dengan Ali untuk membunuh Khalifah III (Usman). Yang menuduh tersebut dipimpin oleh Gubernur Islam di Damascus (Syria) yang bernama Mu’awwiyah bin Abi Sofyan. Mu’awwiyah ini adalah keponakan dari Usman (Khalifah III yang terbunuh): artinya dia menaruh curiga pada Ali atas kematian pamannya yang bernama Usman. Lalu Mu’awwiyah (sang Gubernur) disebutkan tidak mau tunduk pada pemerintahan Ali di Medinah, dia berontak, akhirnya mereka perang. Dalam perang itu pasukan Muawwiyah terdesak, maka seorang politikusnya mengusulkan agar mengangkat dan menusuk al-Qur’an dengan tombak dan mengacungkannya ke udara tanda ingin berdamai. Damai diterima oleh tentera Ali tetapi diperjanjikan akan diadakan perundingan. Dalam perundingan ketua delegasi Ali bernama Abu Musa al-Asy’ari dipersilahkan berbicara duluan dengan alasan dia lebih senior. Abu Musa dalam pidato damainya menurunkan Khalifah Ali, buat sementara dari kursi Khalifah, agar diselenggarakan pemilihan ulang. Maka kemudian tiba saatnya giliran ketua delegasi Mu’awwiyah yang bernama Amru bin Ash untuk berbicara. Mendengar Abu Musa telah menurunkan posisi Ali sebagai khalifah, berarti ada kekosongan pimpinan Islam, Amru bin Ash sang diplomat yang cerdik dan licik lalu mengumumkan pengangkatan Mu’awwiyah sebagai Khalifah defenitif (untuk mengisi kekosongan kursi Khalifah). Pengikut Ali lalu kecewa. Mereka inilah cikal bakal Syi’ah. Namun setelah Mu’awwiyah berkuasa di Damascus dia bukan lagi disebut sebagai Khalifah tetapi telah berobah sebagai raja monarki, sementara intrik politik terus membara. Dua putra Ali dengan Fathimah bernama Hasan dan Husen yang disebut di atas mempunyai banyak pendukung setia terutama di daerah Kufah (Iraq) dekat Iran dan Mu’awwiyah serta keturunannya terus curiga. Di Iran, syi’ah kemudian berkembang subur sementara penduduknya bukan lagi orang asli Arab tetapi orang berdarah Persia keturunan raja2 perang terkenal seperti Cyrus Agung, Cambyses II, Darius Agung dan Xerxes yang dulu ditakuti oleh Romawi. Sayang sekali kedua cucu Nabi tersebut juga akhirnya terbunuh oleh intrik politik Mu’awwiyah. Ributlah dunia Islam maka lahirlah Syi’ah (Kelompok) yang seharusnya meneruskan kepemimpinan dunia Islam yang legitimate menurut mereka. Dari keturunan Hasan dan Husen dipercayai oleh Syi’ah ada hingga 12 Imam. Imam yang ke 12 ini bernama Imam Ja’far Shadiq, karena dia suatu saat terkepung oleh musuh, dia diyakini menghilang dan hingga kini belum muncul2, orang Syi’ah masih menunggu kedatangannya. Sebagian pakar menyebut ini dengan Taqiyah dalam Syi’ah. Sementara arti Taqiyah menurut Google ialah doktrin penting dalam Syiah untuk menyembunyikan identitas guna perlindungan diri, sebagai sikap ke hati2an. Menurut saya, doktrin teologi taqiyah inilah yang kemudian berpadu pula dengan semangat patriotic warisan leluhur Persia yang terbukti ahli perang sejak zaman Byzantium.

Jadi kita orang Islam terbelah menjadi Sunni dan Syi’ah, menurut Prof. Harun Nasution dan pakar2 lain, adalah mulanya karena kisruh politik. Dari kisruh politik akhirnya menjalar kepada perbedaan teologi. Kelompok Syi’ah mengatakan bahwa yang berhak memerintah di dunia Islam hanyalah keturunan Ali bin Thalib, sementara kami kelompok Sunni mengatakan bahwa kelompok yang seyogyanya memegang tampuk pimpinan dunia Islam haruslah orang suku Quraysh (Arabia) dari suku Nabi Muhammad saw: tidak mesti dari keturunan Ali (Ahlul Bayt). Syi’ah tetap ‘ngotot’ bertahan pada pendapatnya sehingga lahirlah ajaran teologi bahwa hanya keturunan Ali yang berhak memerintah dan ditunggu kedatangannya. Datang dari mana? Syi’ah meyakini bahwa dari keturunan Hasan Husen terdapat beberapa keturunan sesudahnya dinamai Imam yang legitimate untuk memerintah tetapi Imam yang terkahir ‘hilang’ di tengah gempuran musuh. Imam yang hilang ini mereka namai dengan Imam Ja’far Shadiq (kira2 702-765 M), dan diyakini akan muncul suatu saat nanti di akhir zaman yang akan menghapuskan segala bentuk ketidak adilan di muka bumi terutama oleh kelompok Syi’ah 12 dan Isma’iliyah. Ini teologi yang dibangun oleh Syi’ah. Sementara menunggu kemunculannya kembali, umat Syi’ah dipimpin oleh Imam2 di zaman modern, maka terkenallah nama Imam Khomeini dan Imam Ali Khomaini (yang terbunuh baru beberapa hari ini bukan oleh tentara Mu’awwiyah tetapi oleh tentara Zionis dan Amerika). Jadi almarhum Imam Ali Khameini ini adalah pemegang kendali SEMENTARA bagi Syi’ah di saat gaibnya Imam yang ditunggu2. Bagi Syi’ah, Teologi telah berpadu kuat dengan politik.

Perlu diketahui bahwa Syi’ah juga memiliki banyak aliran kecil2 di antaranya Syi’ah Imamiyah Itsna Asy’ariyah (Imam 12), Syi’h Ja’fariyah, Zaidiyah, Isma’iliyah, Kisaniyah, dan lainnya. Dalam Isma’iliyah dikenal juga pecahan sub-sekte bernama Qaramithah. Sejarah Islam mencatat bahwa Qaramithah ini pernah mencuri Hajar Aswad dari Ka’bah pada tahun 930 M dan dibawa lari ke Bahrain, tetapi kemudian dikembalikannya. Maka sekarang pengikut Syi’ah bukan hanya di Iran tetapi banyak pula dijumpai di Bahrain, Yaman dan Libanon. Mereka bisa saja menjadi proxy politik Syi’ah dari Iran untuk menghantam Amerika dan Israel.

Yang lebih penting untuk disimak ialah apa dan bagaimana pandangan Buya Hamka tentang Syi’ah? Buya Hamka adalah ulama kami dari Sunni. Syi’ah dikatakannya menyimpang dari ajaran Sunni, Syi’ah katanya memiliki doktrin Taqiyah yang politis, melaksanakan pemujaan kuburan, melegalkan nikah mut’ah (sementara). Tetapi diakui oleh Hamka bahwa taqyah adalah doktrin yang kuat. Dengan taqiyah, Syi’ah banyak sekali punya rahasia2 tersembunyi, dan akan disadari musuh bilamana ia telah terjadi. Di masa hidup Buya Hamka sebagai ulama besar di internal umat Islam Indonesia pernah terjadi pertentangan antara kelompok Sunni dan Syi’ah, maka Muhammadiyah dalam Tanfidz Keputusan Muhammadiyah ke 47 menegaskan bahwa untuk meredakan pertentangan perbedaan internal umat Islam maka diserukan agar diadakan dialog. Tujuan dialog untuk membangun persamaan, membangun sikap saling mengerti, saling menghargai atas perbedaan masing2. Di sini saya melihat kontribusi positif Muhammadiyah untuk perdamaian dunia, untuk melihat Islam dengan scope yang lebih luas, jangan lagi terjebak dengan pikiran picik warisan sejarah masa lalu, yaitu beda Sunni-Syi’ah, yang mengganjal persatuan umat hari ini kendatipun berbeda teologi. Ajakan yang bersifat eksistensialis. Muhammadiyah menyebutnya dengan Islam yang Berkemajuan (Wawasan Kebangsaaan dan Kemanusian Universal : Kosmopolitanisme Islam).

Lalu apa pelajaran yang bisa dipetik dari diskusi kita tentang Syi’ah? Menurut saya, mungkin doktrin taqiyah inilah yang TAK mampu diantasipasi oleh Amerika dan Israel sekarang, kecuali setelah rudal balistik Iran meluluh lantakan bumi Israel dan pangkalan2 militer AS di Teluk. Taqiyah ini jelas tidak ada pada Nicolas Maduro di Venezuela sehingga dia mudah ditangkap oleh Amerika. Dengan taqiyah pula ranjau2 laut mungkin sekarang telah dipasang di pedalaman Selat Hormuz yang siap diledakkan kapan saja sehingga akan mengguncang ekonomi dunia akibat fatalnya beroperasi kapal2 tanker pembawa minyak ke berbagai penjuru dunia. Boleh jadi mudik lebaran kita akan terganggu bila Selat Hormuz ditutup oleh Iran. Bukan kita yang akan melintasi Selat Hormuz tetapi Pertalite akan langka di SPBU.

Lebih jauh kita dapat melihat dampak perbedaan teologi Sunni dan Syi’ah. Bagi Syi’ah teologi sudah menjiwai politik. Sementara politik Sunni lebih akomodatif, politik Syi’ah nampak lebih agresif. Negara2 Arab seperti Saudi, Qathar, Uni Emirat, Kuwait, Bahrain, Syria, Mesir yang mayoritas Sunni nampak lebih akomodatif dan terbukti mau menerima kerjasama dengan Amerika dengan membolehkan kawasannya dijadikan pangkalan militer Amerika. Bagi Syi’ah? Sorry. No way Trump…’Fuck you’ kata Iran sebab mereka punya doktrin Taqiyah. Bagi Indonesia? Indonesia juga Sunni. Presiden Prabowo dikatakan malah mau disuruh oleh Trump untuk memegang map miliknya. Dia mau pula membayar uang iuran untuk Board of Peace…entahlah saya bukan politikus…tetapi nampaknya Presiden kita juga akomodatif meskipun katanya Politik Luar Negeri kita Bebas dan Aktif. Apakah karena Prabowo juga Sunni? Mungkin bukan Sunni tetapi ‘Sunyi’ dan tidak ‘Taqiyah’ di Hambalang.

Demikianlah tulisan saya Jumat ini sedikit nyenggol politik yang bukan hobby saya tetapi sekedar menyesuaikan dengan Medsos kontemporer. Mudah2 an anda tertarik membacanya. Terimakasih. Wassalam, Amhar Rasyid, Jambi.

*Silakan Share