WISUDA UIN YOGYA: MENOLEH KE BELAKANG, MENATAP KE DEPAN

Jum’at ini kita membicarakan tentang Wisuda S1, S2 dan S3 di UIN Yogyakarta yg telah berlangsung pada hari Selasa 11 Nov 2025 di Kampusnya sendiri: Meriah, Ceria, dan penuh makna. Apanya yg meriah? Bagaimana cerianya? Dan apa pula maknanya? Karena saya juga ikut wisuda S3 bersama adik2 lainnya, maka ada secuil cerita yg akan saya hidangkan. Silahkan ikuti kisah berikut meskipun saya tahu anda sibuk. Adik2 yg muda belia Muslim dan non Muslim akan mendapat info berharga dg membacanya , sebab Alfamidi dan Alfamart rupanya ikut memberi bantuan pendidikan pd mahasiswa2 UIN khususnya di Yogya dan ada pula wisudawan yg juga sebagai Pastor Katholik dari Ambon. Pastor Kristen? Here we go!

Pertama, apa arti kata Wisuda? Kata ‘Wisudha’ menurut Google berasal dari bhs Jawa yg berarti akhir dari suatu tahap. Sementara dalam bhs Latin ia berarti ‘memulai” (ad incipiendum). Maka kita pahami arti wisuda sebagai akhir suatu tahap jenjang pendidikan dan juga awal untuk memulai karir baru. WIsuda di UIN Yogya tgl 11 Nov kemaren berlangsung sangat meriah. Di hari pagi Selasa yg cerah, kampus dibanjiri mungkin lebih dari 1000 orang wisudawan, wisudawati, para orang tua mereka, sanak saudara, teman karib, pedagang bunga, pedagang asongan, fotografer, dan bagi saya sendiri didampingi oleh anak kandung dan menantu yg jauh2 datang dari Serpong/ Jakarta. Tercatat jumlah wisudawan wisudawati saat ini semuanya 663 orang. S2 dari pascasarjana saja sebanyak 109 orang dan S3nya sebanyak 17 orang + S3 dari Fak. Tarbiyah 5 orang. Jadi ada 2 jenis Doktor di UIN Yogya: Doktor lulusan Pascasarjana dan Doktor lulusan F. Tarbiyah meskipun ijazahnya ditandatangani oleh Rektor yg sama. Kenapa begitu? Entahlah. Anda para orang tua tentu juga pernah menghadiri wisuda anak2 anda, pernah diselimuti rasa bahagia punya anak yg telah selesai kuliah, meskipun dia belum punya jodoh. Kali ini UIN Yogya mengusung motto: Empowering Knowledge, Shaping the Future (Memberdayakan Pengetahuan, Membentuk Masa Depan). Ada yg memplesetkan kata Shaping dg Shopping (berbelanja), namun bagi saya bukan diplesetkan tapi dirobah terjemahannya kepada Menoleh Kebelakang, Menatap Kedepan. Menoleh k belakang, sebab saya wisudawan yg sudah pensiun dari dosen UIN Jambi th 2022 sementara adik2 wisudawan yg lain sebagian menatap ke masa depan yg masih diselimuti tanda tanya, belum ada kepastian lowongan kerja. Wisuda adalah fase mengakhiri tahapan jenjang pendidikan dan sekaligus memulai karir baru.

Wisudawan/Wisudawati adalah sarjana2 pada jenjang S1, S2 dan S3. Sebagaimana diketahui lulusan S1 diharapkan memiliki pengembangan keilmuan di bidangnya, sedangkan lulusan S2 diharapkan sudah menguasai teori2, dan lulusan S3 diharuskan sudah menguasai filsafat ilmu dan menemukan sesuatu yg BARU (NOVELTY) dalam disertasinya. Bila menoleh k belakang, beberapa lulusan S3, setelah saya wawancarai, banyak yg telah menelan pengalaman pahit dan susah menyelesaikan disertasinya, apalagi bila tinggal di daerah jauh2 dari almamater. Diantaranya karena sibuk rutinitas keseharian, kerja kantor, masalah rumah tangga, dan berbagai kegiatan sosial di tengah masyarakat. Pemikiran mereka harus dibagi dua antara berpikir keilmuan sesuai tuntutan akademik dan bersikap pragmatik-birokratik bagi yg bekerja di instansi milik Pemerintah: tugas mereka tak pernah habis, waktu terus berjalan, rezeki duit semakin menggoda tapi si rupiah tak pernah cukup, akibatnya disertasi terbengkalai tahun demi tahun. Maka disadari untuk menyelesaikan S3 itu memang SUSAH, kecuali bagi mereka yg mengupahkan disertasinya, S3 hanya demi gelar. Saya tidak mau begitu, bagaimana dengan anda?

Apa pesan Rektor? Prof. Noorhaidi sbg Rektor mengatakan dalam pidatonya bahwa para wisudawan wisudawati UIN Yogya hendaklah mencontoh Zohran Mamdani Walikota New York terpilih, seorang Muslim pertama yg berhasil menjadi pemimpin kota terbesar di dunia. Zohran, katanya, punya jiwa suka perobahan, suka tindakan nyata, tidak mau hanya jadi penonton, tirulah Zohran katanya. Alumni UIN Yogya seharusnya menjadi pribadi2 yg hebat, kritis, adaptif, humanis, dan setia pd almamater. Alumni UIN Yogya, kata Rektor, juga harus selalu berada di garis terdepan untuk prikemanusiaan. Perempuan juga harus maju. Berbuatlah, katanya, walaupun tidak ada orang yg melihat!

Kedua, yang lebih menarik rupanya ada seorang wisudawan S2 UIN Yogya, cumlaude, dia berasal dari Ambon yg berstatus sebagai Pastor Katholik, dalam bahasa Jawa dipanggil dg sapaan hormat sebagai Romo, namanya Joseph Ell. NIM 23200011028. Dalam acara Pelepasan di Aula Pascasarjana dia sempat berpidato menyampaikan rasa terimakasihnya kpd para dosen, Guru Besar dan kepada para staff. Dia gembira, senang, sudah dapat menimba ilmu di kampus Islam yg dikatakannya paling inti setelah mendapat restu dari Vatikan. Memang sebelumnya di pagi hari pada acara Wisuda di gedung Multipurpose UIN Yogya sudah dikatakan juga tentang keberadaan wisudawan Kristen , sebagai bukti bahwa UIN Yogya adalah kampus yg inklusif, kampus terbuka, kampus yg mau bersahabat dg non Muslim. Mungkin di UIN lain juga telah ada mahasiswanya yg non Muslim. Sekolah2 Muhammadiyah di Kawasan lndonesia Timur memang telah banyak menerima siswa2 non Muslim. Bagaimana jika nanti ada non Muslim yg mau masuk pesantren? Mungkin juga sudah ada. Dari fenomena semacam itu kita melihat bahwa isi kitab2 klasik yg mengajarkan eksklusivitas (tertutup) sudah mulai bergeser. Pendapat lmam2 dan ulama klasik yg cenderung menutup diri mulai dirobah. Sekarang adik2 pemuda Islam dimana saja ketahuilah bahwa kita dg non Muslim itu dianjurkan hidup bersaudara, jangan lagi me”najis’kan orang lain. Bagimu Agamamu, Bagiku Agamaku, demikian kata ayat al-Quran, saling menghormati keyakinan masing2. Bergaul dg teman beda agama itu INDAH, kita saling menampakkan hati yg bersih. Itulah cara pandang modern para pemimpin agama di dunia sekarang, kita diharapkan tidak lagi mengungkit cerita berdarah perang masa silam. Hari ini dan hari esok jangan lagi dikotori oleh sejarah gelap masa silam! Shaping the Future. Kita (bentuk masa depan) bersama…bagus sekali motto UIN ini.

Ketiga, rupanya BAZIS di tingkat pusat telah memberikan dana untuk membiayai kuliah beberapa karyawannya yang menjadi mhs S2 di UIN Yogya. Pada waktu acara pelepasan di gedung Pascasarjana nampak hadir para pucuk pimpinan BAZIS dari Jakarta khususnya Prof. Dr. KH Noor Achmad MA beserta jajarannya. Mereka gembira dengan selesainya beberapa karyawannya meraih gelar S2 dan telah diwisuda.

Terakhir. Rupanya juga telah banyak perusahaan2 dan badan usaha yg ikut berkontribusi dalam mendanai wisudawan/wisudawati UIN Yogya, sebagai wujud tanggung jawab sosialnya terkait CSR (Corporate Social Responsibility). Sejauh yg saya kumpulkan informasi waktu acara wisuda kemaren, Alfamidi, Alfamart, Perusahaan Batu Bara di Kalimantan telah ikut menyumbang dana. Tentu banyak juga perusahaan2 lain yg juga ikut berperan, dan mungkin juga telah ada di universitas2 lain termasuk universitas dimana anda berada saat ini. Tapi untuk saudara2 kita wisudawan/wisudawati di Sumatera Barat mungkin mereka tidak mendapatkannya sebab Alfamart tidak ada izinnya beroperasi di sana. Sumatera Barat, negeri saya, masih eksklusif, masih menutup diri, mungkin karena beberapa pertimbangan sosial ekonomi oleh Kepala Daerahnya. Ide Zohran Mamdani belum bisa hidup di Ranah Minang. Anyway,
let history tells then.

Kesimpulan. Tulisan saya di atas telah menceritakan wisuda UIN Yogya yg semakin mengarah kpd inklusivitas (terbuka). Pastor Katholik dapat menyelesaikan S2nya, BAZIS pusat telah meluaskan makna Asnaf terkait ayat al-Quran S. At- Tawbah 60. Alfamidi, Alfamart telah mengulurkan tangannya membantu biaya kuliah mhsw2 UIN, maka nampaklah sekarang Dunia Sudah Saling Bersahabat, bahu membahu to shape the future. Pandangan masa lampau yg mengurung diri sendiri, yg memandang orang lain sebagai ‘najis’ sudah ditinggalkan. Bye..bye permusuhan masa lampau, mari kita tatap masa depan yg lebih cerah. Tuhan kita sama2 Allah, hanya cara memahaminya yg berbeda-beda sesuai yg diwariskan oleh penafsiran nenek moyang. Bila kita masih mewarisi cara berpikir keagamaan nenek moyang itu yg ada dalam Kitab2 klasik, eksklusif, tertutup, benci pada non Muslim, maka akan susah bagi kita untuk Shaping the Future.

Significance of lssue (Hikmah).

  1. Kisah terkait Wisuda di atas sebenarnya adalah BUAH HERMENEUTIKA, bukan buah Tafsir. Bila kita membaca kitab2 klasik seperti al-Qur’an, Hadis, Sirah Nabawiyah, dan Kitab2 Kuning dg Hermeneutik, maka Pesan Awal yg ada dalam teks akan semakin menyingkapkan dirinya karena kita berdialog dg teks. Tetapi bila kita membacanya dengan Tafsir, maka Ide Pesan Utama dalam teks klasik sangat rentan ditundukkan dg pendapat pribadi karena tidak berdialog dg teks. Penafsir Muhammadiyah, Penafsir NU, penafsir Salafiyin masing2 menafsir dg arahan/ideologi organisasinya. Mereka terikat. Bila terikat, maka yg terjadi adalah penafsirannya cenderung agak eksklusif (menutup diri) bukan lnklusif (membuka diri). Oleh sebab itu Kebenaran rational -empiric dalam teks klasik akan lebih cocok digali dengan hermeneutik, sementara kebenaran ‘aqidah dari dalam teks akan lebih tepat digali dg ‘lrfani. ‘Irfani cenderung bersifat personal, sedangkan hermeneutik cenderung bersifat komunal, ia mencari mutual understanding. Empowering Knowledge, Shaping the Future itu pada hakekatnya memprasyaratkan hermeneutika bukan tafsir. Sebab kata ‘ masa depan’ sebenarnya menyembunyikan kata ‘masa lampau’. Untuk membentuk masa depan harus bermodalkan kebenaran (Truth) dari dalam tradisi masing2. Bagaimanapun juga titik temunya untuk hidup bersama ‘to shape the future’ adalah Understanding (Verstehen). Ini yg saya maksud dg hermeneutik sbg prasyarat. Selanjutnya silahkan anda baca tulisan2 Prof. Amin Abdullah (UIN Yogya) dan Prof. Komaruddin Hidayat (UlN Jkt)!
  2. Hidup Rukun Umat Beragama, bagi saya, mirip berdesak-desakan ketika mau masuk gedung theater: orang lain terdorong, tersikut, tersenggol. Ketika sudah masuk ruangan theater, ya duduklah dg tenang, sudahi kekesalan, mulailah saling bertegur sapa, saling melempar senyum. Jangan lg mempersoalkan kejadian tadi saat berdesak-desakan di pintu masuk, menyalahkan satu sama lain, kalau begitu terus kapan lagi kita mau menonton film? Kapan lagi mau hidup damai untuk memperbaiki dunia? Itulah kiasan hidup rukun beragama bagi saya. Mudah2an adik2 para remaja menyetujuinya.

Demikianlah pembaca terhormat semuanya. Maaf bila ada kata2 yg salah, tulisan ini memang kurang rapi sebab diketik dalam perjalanan tanpa laptop. Wassalam, pamit, Amhar Rasyid, Jambi.

*Silakan Share