TRADISI LEBARAN IDUL FITRI DI BEBERAPA TEMPAT


Oleh: Amhar Rasyid
Jambi, Jum’at 20 Maret 2026

Assalamu’alaikum wr,wb
Bapak2 Ibuk2/Adik2 semuanya baik Muslim maupun non-Muslim di mana saja berada. Selamat Idul Fitri 2026 M. Rasanya sudah ‘kental’ hubungan silaturrahmi antara kita karena tulisan saya tiap Jum’at mampir di layar HP anda semua. Senang hati saya dan terimaksih bila anda terus membacanya. Banyak aspek sosial religius kaum Muslimin terkait Idul Fitri yang enak untuk dibaca dan direnungkan. Karena kehidupan kita sudah saling terkait, maka ada baiknya dibicarakan agak beberapa alinea. Toko2 milik Cina biasanya sepi pembeli di hari raya umat Islam, sedikit orang yang berbelanja karena pada mudik, bahkan Jakarta juga sepi, tetapi sebaliknya orang2 Islam juga merasa sepi bilamana datang hari raya Cina (Imlek) karena banyak toko2 yang tutup. Senang bilamana datang bulan Ramadhan, orang2 Cina banyak yang mengatakan gembira sebab banyak pilihan menu di sore hari dijual sepanjang jalan. Maka sekarang ternyata kita hidup bersama, kita damai bersama, kita nikmati bersama, saling membutuhkan dan jauhi mempertajam perbedaan, kecuali perbedaan kuliner! Ada apa dengan kuliner kita di hari raya Idul Fitri? Tulisan Jum’at ini berkisar tentang apa saja keunikan kuliner dan budaya tiap2 daerah, istimewa nanti ada satu bagian tentang kuliner Iran. Dan apa hikmah yang dapat diambil dari bacaan ini? Akan bertambah enak dibaca tulisan ini nanti bila saya coba menganalisanya dari kaca mata sosiolog Peter L. Berger. Bahannya saya olah dari Google dan dari hasil berupa angket singkat, jawaban yang diberikan oleh beberapa putera daerah misalnya Prof. Mahfud MD (Madura), Prof. Hasbi (Aceh), Ustaz Limsiana (bukan putra asli Lombok katanya), Dr. Maulana (Betawi), Dr. Mahli (Rektor/Ketua PAW STKIP Sungai Penuh, Kerinci), Pak Syahrit Tanzil SH tetangga saya, dan putri kandung saya (Lenggogeni) yang sudah sejak bayi betah hidup di Bandung (hampir 40 tahun). Bila ada kesalahan informasi tentang kuliner dan budaya di bawah ini, mohon maaf karena Google bicara begitu pada saya. Let’s get started!

Di Betawi. 1.Nyorog. Ini adalah tradisi mengantarkan makanan kepada orang tua atau sesepuh dalam bentuk rantangan. Kata Dr. Maulana ada Tape Uli, Dodol Betawi, Kue Akar Kelapa, Roti Buaya, Kolang Kaling dan Rengginang, Ketupat Sayur serta kue Kembang Goyang.

  1. Acara Andilan artinya menyembelih kerbau bersama dengan cara patungan (kolektif) dan ada juga tradisi silaturrahmi keliling rumah tetangga selama 7 hari berturut-turut.

Di Aceh. 1. Meugang artinya makan daging bersama ramai-ramai dalam rangka menyambut datangnya bulan Ramadhan dan Idul Fitri.

  1. Peusijuek yaitu ritual tepung tawar guna memohon keselamatan kelahiran, pernikahan, pindah rumah atau berangkat haji. Acara ini biasanya dengan memercikkan air kepada objek yang diberkati yang telah berisi daun pandan, jeruk purut dan beras kunyit.
  2. Yang saya tanyakan pada Prof. Hasbi ialah tentang Kenduri Jeurat (Makan di Kuburan) saat Idul Fitri. Katanya di Aceh memang masih ada tradisi Kenduri Jeurat. Anak2 dan cucu berziarah ke kuburan orang tuanya, mereka berdoa di kuburan tetapi kadang2 makan2nya sudah di rumah katanya, biasanya berkumpul makan bersama untuk satu keluarga besar dari keturunan1 kakek atau 1 nenek.

Di Minangkabau. 1. Pulang Basamo. Tahun ini nampaknya ada donatur yang mampu menyiapkan beberapa bis untuk Pulang Kampung Bersama dari Jakarta-Sumbar gratis. 2. Merendang. Ini adalah membuat rendang Minang dari daging sapi atau daging kerbau, dulu rendang bisa tahan lama hingga ber bulan2 tak basi. 3. Malamang yaitu membuat lemang ketan putih/hitam, dimasukkan beras ketan ke dalam potongan bambu2 panjang sekitar 1m, dicampur santan, garam dan bumbu2 lain, dibalut bagian dalam bamboo dengan daun pisang muda, lalu ditegakkan banyak2 berjejer miring mirip susunan senapan AK47 militer dan dibakar lama2 hingga batang bambunya menghitam. Bila sudah matang, biasanya kepala lemangnya agak terasa lebih asin. Lemang yang sangat terkenal di Minangkabau ialah Lemang buatan desa Limo Kaum, Pagaruyung, Batusangkar. Silahkan dicicip kapan2 kesana! Akan lebih enak bila anda membayangkan Amhar ketika mencicipinya.

Di Jambi. 1. Makan Basamo (di atas nampan di masjid ramai2). 2. Mengantar makanan ke rumah kerabat. Di Kerinci (Provinsi paling Barat) ada kuliner Dendeng Batokok (setumpuk dendeng bakar panas, minyak dagingnya meleleh, lezaaat sekali), kata Dr. Mahli, biasanya disantap dengan Beras Payo (Beras super lezat, harum), dan Teh Kayoe Aro (yang terkenal sejak zaman Belanda). Lezatnya Dendeng Batokok dan Beras Payo juga dikelilingi oleh suasana lereng Gunung Kerinci yang indah dan hawa sejuk pegunungan. Lebaran di Kerinci sambil menyantap Dendeng Batokok bisa lupa anak mertua kata anak muda.

Di Palembang saat Idul Fitri, kata Pak Syahrit Tanzil SH, Notaris, ada ketupat kuah Anam, ada Burgo yang lezat..lemak niaaan. Untuk jenis jajanan ada Kue Kojo dan Kue Bolu Maksuba…hebat2 makanan uwong kito galoooo….apakah anda di Indonesia Timur sudah tahu bahwa orang Palembang biasa memakan Kapal Selam? Elok mereka dibawa ke Selat Hormuz Iran untuk ‘mengunyah’ kapal selam Amerika.

Di Bandung, kata anak saya Lenggo, ada kuliner Idul Fitri dengan Opor Ayam dan Ati kentang Balado serta Pepes Soekarno? Hebat juga namanya, kenapa tidak Pepes Inggit? Yang di dapur kan Buk Inggit? Orang Bandung mungkin lupa nasehat Bung Karno ya? Jasmerah (Jangan lupakan sejarah).

Di Makassar. 1. Hidangan Burasa yaitu olahan beras dan santan, ada juga coto, dan sop saudara. Khusus untuk Burasa (baca Burasak) sudah diantarkan beberapa potong ke rumah saya kemaren oleh seorang gadis Bugis. Enak rasanya.

  1. ada juga Massiara yaitu acara mengunjungi keluarga, kerabat dan tetangga untuk saling bermaaf-maafan. Acara ini nampaknya sudah umum di mana2.

Di Yogya.1. Grebek Syawal diadakan pada pagi Idul Fitri. Grebek adalah upacara kraton yang mengusung beramai-ramai tumpukan hasil bumi dan benda2 lain yang telah dihiasi dengan adat Jawa mulai berangkat dari Kraton hingga Mesjid Kauman. Grebek Syawal berbeda dengan Grebek Besar. Grebek Besar diadakan beberapa hari setelah Idul Fitri, di sini arak2 makanannya jauh lebih besar tumpukannya bersamaan dengan benda2 simbolik lainnya.

  1. Ngabekten yaitu sungkem Abdi Dalem kepada Sultan selama bulan suci Ramadhan dan Idul Fitri. Ada yang mengatakan ia dilakukan pada hari pertama dan kedua setelah ldul Fitri. Ngabekten kata Google sudah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya non-fisik pada tahun 2008. Ngabekten dilakukan oleh seluruh keluarga Kraton dengan cara mempersembahkan sungkem (menyembah) kepada Sultan dan kepada seluruh anggota Kraton. Ngabekten biasanya dilakukan di ruang khusus dalam Kraton yang dinamai dengan ruangan Sri Manganti (yang diyakini sebagai acara warisan pusaka dan kramat) di dalam ruangan tersebut terdapat beberapa benda pusaka, keris dan lainnya.
  2. Kirab budaya. Ini adalah bagian dari Grebek Syawal untuk merayakan berakhirnya puasa Ramadhan.
  3. ada juga acara Padusan artinya mandi suci sehari sebelum Idul Fitri. Ini biasanya dilakukan di lokasi yang dianggap punya nilai sejarah dan keindahan alam seperti Pantai Parang Tritis, Umbul Ponggok dan Gunung Kidul, atau di telaga dan mata air yang dianggap suci.

Di Madura. 1.dikenal pula istilah Toron yang berarti mudik (Lebaran).

  1. Akosar artinya membersihkan makam2 sebelum Idul Fitri karena nanti akan ada ziarah dan tabur bunga pandan di pagi hari lebaran di atas makam keluarga.
  2. Ampau (Ang Pao/China) yaitu berbagi amplop lebaran. Ang dari bahasa Hokkian artinya merah, dan Pau = amplop. Jadi Angpao artinya amplop merah biasanya berisi duit dibagikan kepada anak2 di hari Lebaran kata Mahfud MD.
  3. Tellasan Topak, ini agak aneh, sebab ia merupakan ketupat lebaran tetapi disajikan, bukan pada awal hari Idul Fitri tetapi pada hari ke 8 Syawal, setelah menunaikan puasa sunat 6 hari. Khusus pada Tellasan Topak biasanya bersisi menu ketupat, kare ayam, kare kambing atau lodeh manisa. Saat lebaran, di meja makan tidak dihidangkan ketupat tetapi nasi putih dan lauk pauk.

Menurut Prof. Mahfud MD, setelah saya konfirmasi, ternyata sekarang masih ada tradisi Ter-Ater yaitu acara mengantarkan nasi ke tetangga2, tetapi bukan pada Idul Fitri melainkan pada saat Maulid Nabi, juga pada saat memperingati meninggalnya Husein bin Ali bin Abi Thalib pada 10 Muharram, dan juga pada bulan Safar mirip di Iran. Pada acara Mauludan yang dibawa ialah nasi dan dimakan bersama di mesjid2, sedangkan pada 10 Muharram yang terjadi ialah saling mengantar bubur kepada tetangga tetapi warna buburnya Merah-Putih. Ada unsur nasionalismenya. Uniknya, mengutip Mahfud, di hari raya Idul Fitri orang pada keliling rumah tetangga, saling datang mengunjungi setiap keluarga, gonta ganti balas membalas, naik ke rumah, mampir, bersalaman dan harus makan nasi, artinya bila anda tidak sudi makan nasi meskipun sudah kenyang akan dianggap menghina si tuan rumah.

Saya di Payakumbuh juga dulu waktu kecil pernah mengalami saat Idul Fitri harus makan di setiap rumah. Seringkali karena sudah ‘gendut perut saya’ kekenyangan akhirnya saya sembunyi2/ngumpet berjalan di belakang gerombolan teman2 bila mau lewat dan lari kencang (dulu belum ada sepeda motor) biar jangan dipanggil mampir oleh tuan rumah, sebab bila ketahuan tangan saya boleh jadi ditariknya untuk mampir terutama oleh keluarga perempuan dari pihak Bapak (disebut Induk Bako). Di Minang yang bukan sistem patrilineal, makan di rumah Induk Bako sangat diidolakan, sebab disebut2 akan dijadikan calon menantu. Maka orang Minang sering menyebut: ‘Makan nasi Induk Bako cepat besar’.

Di NTT. 1. Saat Idul Fitri ada tradisi Kaleso yaitu nasi bumbu yang dibungkus daun kelapa atau daun pandan berbentuk lonjong (lancip).

  1. Manuk Gak Ikut (ayam bumbu kelapa). Ayam Beloma: ayam yang dipotong2 dimasukkan ke dalam bamboo dan dibakar yang terdapat di Pulau Adonara dan Flores. Juga ada Ikan Lawar.
  2. Jagung Bose (Jagung dimasak dengan santan dengan kacang tanah, atau dengan kacang hijau atau dengan tolo).
  3. Manggulu (Kue pisang Sumba) biasanya terbuat dari pisang kepok sebagai dodol atau camilan.
  4. Jagung Titi (di Flores, Lembata, Solor dan Alor). Dinamakan Titi karena jagungnya disangrai lalu ditumbuk (dititi) di atas batu hingga pipih dan renyah.
  5. Sei Sapi (Kupang). Ini adalah daging sapi beraroma asap (smokey) disajikan dengan sambal daun lu’at, jeruk nipis, yang pedas asam, plus tumis daun singkong atau daun/bunga papaya serta nasi hangat. Itulah sebagian cerita kuliner Nusantara di saat Idul Fitri. Sedaaap.

Sekarang tiba saatnya kita membicarakan kuliner di Iran. Ini bukan di Irian tetapi negara Iran. Iran istimewa disebut di sini karena ia unik saat ini sedang berperang. Usai solat Ied, biasanya keluarga Muslim Iran menikmati sarapan ringan berupa kurma, teh, dan makanan manis2 sebelum memulai makanan besar. Di antara makanan lezatnya bernama:

  1. Sholeh Zaard yaitu Pudding Saffron. Apa itu Saffron? Saffron dalam bahasa Arab disebut Za’faran (artinya kuning). Al-Qur’an juga menyebut ‘baqaratun shafra’ (Sapi kuning emas) al-Baqarah ayat 69. Saffron adalah jenis rempah termahal di dunia yang diambil dari putik bunga Crocus Sativus. Apa itu Crocus Sativus? Dalam bahasa Indonesia disebut dengan bunga kuma-kuma (bunga pacar) dari ordo Asparagales. Saffron sangat mahal karena cara memanennya rumit pakai manual (tangan), menguras tenaga, menguras waktu, dan bila telah letih petani Iran hanya mendapat 1 gram Saffron yang berisi kira2 150 bunga kecil2. Rumit sekali. Asal Saffron kata Google dulu dari alam bebas di pulau Creta di Yunani. Sejarah botani menyebutkan bahwa Saffron dicatat dalam Naskah Botani pada abad ke 7 SM atas perintah Ashurbanipal: Raja kerajaan Asyur (668 SM-c.627 SM) dengan istananya bernama Ninive. Hingga saat ini Saffron disebut sebagai obat yang mampu menyembuhkan lebih dari 90 macam penyakit. Rasanya sedikit pahit tetapi harum. Saffron mengandung crocin yang menyebabkan masakan nantinya akan menjadi kuning keemasan. Cleopatra menggunakannya untuk campuran bak mandi. Ahli medis Mesir menggunakannya untuk semua jenis penyakit gastrointestinal. Boleh jadi sekarang Saffron banyak digunakan untuk Parfum2 dari Paris: Hermes, Gucci, YSL, Paco Rabanne, Christian Dior, dan lainnya.
  2. Zoolbia-Bamiyeh yaitu dua jenis kue syrup, manisan tradisional Iran yang disajikan selama Ramadhan. Zoolbia berbentuk adonan goreng melingkar, sedangkan Bamiyeh berbentuk lonjong, keduanya direndam dalam syrup gula rasa Saffron atau rasa air mawar.
  3. Nasi bumbu biasanya Chelo Kabab. Jujeh Kabab (ayam), Kabab Barg (domba/sapi)
  4. Orang Iran biasanya berbagi Nazri (Nasi) kepada fakir miskin dan para tetangga untuk memperkuat solidaritas di Hari Raya mirip di Indonesia.
    Meskipun kuliner mereka lezat2, namun kita tetap berdoa agar rakyat Iran yang sedang Idul Fitri saat ini tidak diterjang senjata Amerika dan Israel!

Sekarang kita coba menganalisa tulisan di atas. Sosiolog Peter L. Berger dalam bukunya The Sacred Canopy menjelaskan tentang Unsur2 Teori Sosiologi Agama. Katanya realitas sosial dibentuk oleh manusia melalui interaksi kontinyu, terus menerus secara dialektis melalui 3 tahap: ekternalisasi, objektivasi dan internalisasi. Terkait penjelasan tersebut memang nampak oleh saya realitas idul fitri dibentuk oleh umat Islam di berbagai belahan bumi secara terus menerus tiap tahun pasca dan selama Ramadhan melalui proses:

  1. Eksternalisasi (manusia menciptakan realitas, dimana individu mengekspresikan diri, bertindak dan menciptakan makna2 baru berdasarkan pemahaman subjektif mereka ke dalam dunia sosial) contoh; Pulang Basamo (Minang), Toron (Madura). Makna Pulang Basamo atau Toron atau Mudik, selain memperteguh silaturrahmi, nampak mencerminkan sifat2 ‘orang kota pulang ke desa’. Mereka barangkali selama Ramadhan ada yang jarang berpuasa di kota besar tetapi setibanya di kampung solat hari raya berkilauan dan bangga menyalami orang kampung yang mungkin lebih alim, lebih taat dalam beribadat daripada mereka: fenomena ini pernah dikritik oleh seorang khatib dalam khotbah Ied di Payakumbuh (kampung saya). Khatib bertanya dari atas podium:’ Apakah saudara2 yang pulang kampung, mudik, kini sudah melaksanakan puasa Ramadhan di rantau sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi?, atau hanya sekedar berhura2 pulang kampung usai Ramadhan?’ Tanyai diri saudara! Tanyai hati sanubari saudara! kata Khatib. Ini contoh eksternalisasi.
  2. Internalisasi dimana manusia mempelajari/menghayati realitas, mereka menyerap kembali nilai2 dan norma agama yang telah diobjektivasi ke dalam kesadaran subjektif mereka. Contoh: acara Grebek dan Ngabekten di Yogya tentu juga hal ini ikut menginternalisasi feodalistik: ada kesadaran wong cilik tatkala berhadapan dengan Sultan. Di sini realitas berupa perpaduan antara nilai2 budaya lokal dan Islam. Islam diserap oleh budaya lokal, bukan Islam yang menyerap.
  3. Objektivasi (realitas menjadi objektif/melembaga) maksudnya proses dimana produk budaya sebagai hasil eksternalisasi misalnya nilai2, ritual dan norma agama dipandang sebagai realitas objektif yang seolah-olah mandiri dan mengikat: agama tidak lagi dirasakan, menurut Berger, sebagai buatan manusia tetapi sebagai ‘langit suci’. Misalnya, menurut saya, Akosar (Madura) dan Peusijuek (Aceh).

Walau bagaimanapun juga, sekali Nabi Muhammad saw mensyari’atkan berpuasa Ramadhan dan diakhiri dengan 1 Syawal, maka trilyunan dollar habis dikonsumsi dalam bentuk makanan dan minuman umat Islam sedunia, trilyiunan dollar bahan bakar habis untuk mudik, triliyunan dollar habis untuk biaya penyelenggaraan Idul Fitri. Dahsyat sekali dampak ekonomi oleh 1 ajaran Nabi, bagaimana bila banyak? Tetapi disitu pulalah besarnya ajaran seorang tokoh agama: ajarannya diyakini, dipraktekkan, dilestarikan oleh umat sepanjang hayat in whatever cost. Yang belum dapat saya terima dari Berger ialah agama dipandang sebagai usaha manusia yang dengannya cosmos disucikan. Dengan kata lain, agama adalah cosmisasi dalam mode suci. Barangkali tepatnya teori Berger kita letakkan bukan pada agama sebagai aqidah (normative value) tetapi agama sebagai institusi dan budaya (historical Islam). Menurut anda bagaimana?

Dapat disimpulkan dari paparan di atas bahwa hidangan lezat di hari raya idul Fitri serta budaya kita telah bercampur aduk. Telah terjadi akulturasi yang signifikan dari unsur2 luar Nusantara. Di Madura ada unsur2 Syi’ah sejauh terkait memperingati kematian Husein, tetapi pada acara mengantar bubur terdapat unsur nasionalisme (merah-putih). Di Yogya warisan system Kasta Hindu nampaknya sangat berpengaruh, sehingga kita mewarisi unsur2 feodalistik yang ‘kurang menguntungkan’ bagi kehidupan demokrasi, birokrasi dan kepartaian di Indonesia. Buktinya masih banyak suara partai politik adalah suara Ketua partai: seharusnya mewakili suara simpatisan partai. Persoalannya bagi kita ialah bagaimana cara kita sebagai dosen akan mengajari dan membudayakan mahasiswa di kampus untuk berpikir merdeka, demokratis dan anti-feodal? Mari kita pikirkan bersama!

Significance of Issue (Hikmah).

  1. Purifikasi (Pemurnian) ajaran Islam oleh Muhammadiyah nampak memang masih memerlukan jalan panjang karena dari segi perayaan Idul Fitri saja sudah sekian banyak terjadi proses akulturasi yang berurat berakar hingga ‘grass-root’. Implisit di dalamnya Purifikasi harus dilihat dengan optimis bukan akan cepat tuntas tetapi proses never ending.
  2. Rupanya ada juga jenis rempah yang lebih mahal dari rempah2 di Nusantara seperti Merica, Pala, Ketumbar, Cengkeh, Kayu Manis, Kapulaga. Saffron di Iran malah termahal di dunia, bisa mencapai ratusan juta rupiah/kg, ia dinamai juga dengan ‘emas merah’, ia mahal karena cara memanennya sangat rumit, dan petani Iran hanya bisa memperoleh 1 pon Saffron kering dari 80 ribu bunga yang dipetik dengan tangan. Oleh karena itu harganya, kata Google, pernah mencapai $ 5.291/kg. Bila kurs dollar sekarang mencapai Rp 17.000 maka harga Saffron hampir mencapai Rp 90.000.000/kg (Sembilan puluh juta hanya 1 kg?) ini jauh tak sebanding dengan rempah2 Nusantara terutama dengan Kayu Manis dari Kerinci yang terbukti juga telah membuat kaya banyak orang2 Kerinci meskipun harganya jauh di bawah Saffron. Di pasaran harga Kayu Manis sekitar Rp 45.000-Rp 100/kg. Tentang Saffron selanjutnya, silahkan anda baca buku The History of Saffron and Its Cultural Significance: A Journey Through Time and Tradition oleh Joseph Rosenblatt. Dari paparan di atas, sekarang terbukti makanan rakyat Iran dicampur Saffron (mahal dan bergengsi), sementara makanan Presiden Amerika Donald Trump dicampur Babi kecuali bagi Netanyahu bilamana dia taat beragama (sebab babi haram dalam agama Yahudi sebagaimana tertulis dalam Taurat kitab Imamat 11:7-8).
  3. Kenapa VOC tak tertarik pada Saffron Iran dulu, sementara kapal dagangnya lalu lalang di sana? Kenapa mereka jauh2 berlayar ke Pulau Banda dan Maluku mencari rempah2? Mungkin karena di Iran sejak dulu sudah dikuasai oleh Inggeris, maka Belanda minggir. Bila Inggeris telah lama menjajah Iran, artinya mereka sudah tahu sifat2 dan watak orang Iran (keras, ulet dan taqiyah) ditambah dengan rumitnya kondisi geografis Iran. Maka wajar Inggeris sekarang menolak membantu Amerika untuk menyerang Iran, sementara Donald Trump tak tahu: dia menyamakannya dengan Iraq dan Venezuela.

Demikianlah cerita panjang kita di saat Idul Fitri ini. Terimakasih telah membaca tulisan saya pada Bapak2/Ibuk2 dan Adik2 muda, dan terimakasih juga pada semua nara Sumber tulisan ini. Selamat Lebaran. Maaf lahir Bathin, wassalam, Amhar Rasyid, Jambi.

*Silakan Share