Oleh: Amhar Rasyid
Jambi, Jum’at 16 Januari 2026
Assalamu’alaikum wr,wb Bapak2/Ibuk2/Adik2 kawula muda harapan bangsa, Jum’at ini mari kita berfilsafat tentang mu’amalat, urusan duniawi, maaf ini bukan terkait urusan ‘aqidah atau ibadah. Nampaknya sering kita keliru di saat membaca teks, membaca Kitab Kuning, membaca Ayat (mu’amalat) atau ketika membaca Hadis (mu’amalat). Biasanya apa yang tertulis, apa yang kita baca kata perkata, kalimat perkalimat, lalu kita percaya itulah KEBENARAN yang sebenarnya. Itu boleh jadi KELIRU! Kenapa keliru?
Pertama, izinkan saya bertanya pada anda2 yang terhormat: Mana yang lebih dahulu KELAHIRAN bayi atau PEMBERIAN NAMA pada bayi? Biasanya orang tua memberikan nama setelah melihat jenis kelamin bayi, iya kan? Artinya, bila NAMA bayi itu sekarang kita sebut sebagai teks (tulisan), maka Kebenaran tentang jenis kelamin (laki2/pr) jelas mendahului munculnya NAMA bayi (teks). Setelah lahir lalu bayi diberi nama. Jadi nama itu hanya symbol. Nama Abdullah symbol laki2, dan nama Siti symbol perempuan, mengikuti jenis kelamin (data factual). Apakah betul seorang Menteri dalam Kabinet Prabowo bernama Bahlil ‘Lahadalia’ itu laki2 karena mirip nama perempuan? Coba aja cek sendiri kalau berani!
Sekarang kita melangkah lebih dalam tentang ayat pertama Iqra’. Iqra’ bismi rabbikal ladzi KHALAQ. Kata KHALAQA itu adalah fi’il madhi (past tense), bukan yakhluqu (fi’il mudori’/present). Artinya telah ada KEBENARAN sebelum turun wahyu. Jadi kedatangan Malaikat Jibril di Gua Hira’ adalah menyuruh Rasul menyebut nama sesuatu KEBENARAN yang SUDAH BETUL2 ADA terjadi sebelum turunnya wahyu. Apakah anda setuju? Bila anda melihat foto anda, cantik, ganteng…tetapi cantik dan ganteng itu pada hakekatnya adalah saat dijepret oleh kamera dulu, bukan pada saat anda melihat foto sekarang. Bila demikian, semua buku2 di perpustakaan, dalam almari dan di atas meja anda sekarang, tesis, disertasi, artikel, majalah, jurnal, karya ilmiah yang berbentuk tulisan2, itu semuanya adalah teks, symbol, usianya muda, ia adalah rekaman jejak kebenaran di masa lalu yang pernah ada. Kebenaran itu jelas ada (entah di mana) tetapi bukan di dalam teks tersebut, boleh jadi kebenarannya bukan di saat dibaca tetapi telah lewat. Maka kini anda akan keliru bila tulisan (teks), apa2 yang tertulis, dianggap sebagai kebenaran…ia bukan kebenaran tetapi REKAMAN atas kebenaran, ia hanya symbol. Bila anda setuju dengan saya, kenapa anda yakin dan malah ‘ngotot’ ketika mengutip pendapat para ahli, para ulama besar, para Imam Mazhab dalam skripsi, dalam tesis dan ketika memberikan ceramah agama dengan mengatakan teks (mu’amalat) sebagai Kebenaran? Yang sangat menggelikan ketika anda mempresentasikan hasil penelitian sambil mengatakan ITULAH KEBENARAN sesungguhnya sesuai data di lapangan. Data di lapangan? Penelitian itu kan sudah lewat, data sudah berobah, koq masih ngotot? Misalnya anda katakan bahwa jumlah penduduk desa 1000 jiwa, tetapi usai penelitian anda manusia kan ada yang lahir dan mati? Coba renungkan! Ini filsafat. Ini serius. Ini persoalan hermeneutic.
Kedua, bila anda setuju dengan saya dengan argument di atas, maka diskusi kita berlanjut kepada DIMANA KEBENARAN itu BERSEMBUNYI sekarang? Kebenaran tentang nama bayi bisa langsung dicek di lapangan, dicari dimana bayi tersebut. Tetapi bagaimana dengan Kebenaran matan Hadis? Hadis adalah rekaman tertulis atas SUNNAH NABI kata Fazlur Rahman (Guru Besar pemikiran Islam di Universitas Chicago, gurunya Amien Rais). Sunnah Nabi adalah contoh praktek langsung oleh Nabi setelah menerima wahyu, dan Nabi masih hidup. Sunnah adalah penjelas atas al-Qur’an (Juklak=Petunjuk Pelaksanaan). Sunnah dialami sendiri oleh Nabi, sedangkan Hadis diriwayatkan/dilaporkan orang sesudah Sunnah lama berlalu, lama sesudah Nabi wafat. Jadi Sunnah lebih tua usianya dari pada Hadis. Hadis dikumpulkan pada abad ke II Hijrah, Nabi tidak pernah melihat kitab Shahih Bukhari, Shohih Muslim. Jadi KEBENARAN bukan dalam matan Hadis tetapi dalam PRAKTEK LANGSUNG oleh Nabi selama beliau hidup. Bila telah wafat Nabi, putus Sunnah kata Fazlur Rahman. Maka untuk mengecek kebenaran Hadis bukan dengan Mushtholah Hadis, tetapi dengan kesesuaiannya dengan SUNNAH, sebab Sunnah ibarat bayi (wujudnya ada) dan Hadis ibarat nama bayi, hanya simbol (yang muncul kemudian setelah wujud SUNNAH lenyap). Oleh sebab itu Kebenaran (mu’amalat) sejatinya digali, dicontoh dari dalam Sunnah bukan di dalam Hadis. Sunnah (orisinil dari Nabi baik qawliyah, fi’liyah, maupun taqririyah), Hadis (rekaman tertulis atas Sunnah). Bila terbukti tidak ada SUNNAH? maka Hadis dikatakan Palsu. Maka Akhlaqul Karimah Nabi jelas tak mampu dilukiskan 100% oleh matan Hadis. Jadi bila anda ingin mengintip KEBENARAN, intiplah di dalam Sunnah Nabi. Tidak pernah ulama menyebut Sunnah Palsu, cuma ada Hadis Palsu. Bagaimana mungkin Sunnah bisa palsu? Ia dipraktekkan langsung oleh Nabi, ia betul2 empiric (dialami), sementara Hadis ditulis jauh belakangan sesudah Nabi wafat, ia KOSONG empiric.
Dari diskusi di atas dapat disimpulkan bahwa semua teks, matan Hadis, transkrip kuno, Surat Cinta adalah REKAMAN atas kebenaran yang pernah ada. Yang BENAR adalah yang ada dalam PERISTIWA itu sendiri, bukan di dalam teks. Seiring dengan berlalunya waktu, tidak selamanya teks itu mewakili kebenaran (mu’amalat). Hati2lah bila mengutip pendapat ahli, pendapat Imam, isi buku dan lainnya. Kebenaran tentang pengalaman Nabi seharusnya kita ambil dari Sunnah bukan dari Hadis. Hadis itu ibarat NAMA bayi, rekaman, bukan data sesungguhnya yang sesuai dengan Jenis Kelamin bayi itu sendiri. Ini hermeneutic, milik non-Muslim mulanya, tetapi rasanya sekarang akan berguna juga bagi kita. Maka pandangan orang lain boleh jadi akan berguna bagi kita untuk melihat persoalan kita sendiri kata Prof. Taufik Abdullah (sejarawan terkenal). Diulangi, Hermeneutik itu awalnya milik orang lain tetapi ia perlu bagi kita untuk mempertajam cara melihat persoalan kegamaan kita, jangan2 kita sudah ketinggalan (expired) dengan metode Tafsir? Sebab metode Tafsir itu percaya dengan REKAMAN atas kebenaran, dengan Qola wa Qila…bukan dengan KEBENARAN awal itu sendiri: yaitu KEBENARAN (mu’amalat) yang sungguh2 terjadi di lapangan (sesuai fakta). Ibarat mencari air sungai yang lebih jernih, maka seharusnya air dicari ke hulu. Air Sungai Batang Hari yang lebih jernih harus ditelusuri ke Danau Kerinci bukan di kota Jambi. Filosuf menyebut kajian kita ini Ontologis: (seeking the Truth that had instigated the birth of the texts).
Significance of Issue (Hikmah). Nah sekarang, kenapa anda sebagai mahasiswa tidak bertanya kepada dosen anda: Bagaimana Bapak/Ibuk dosen tahu bahwa isi buku kuliah atau diktat yang sedang diajarkan sudah mencerminkan Kebenaran awal sebelum bahan kuliah itu ditulis? Mungkin diktat kuliah itu sudah kadaluarsa, kebenaran tekstualnya sudah ‘mutung’. Kenapa jawaban ujian mahasiswa dicek kesesuaiannya oleh dosen dengan teks REKAMAN kebenaran ilmu di masa lalu, bukan diukur dengan fakta KEBENARAN itu sendiri? Mahasiswa disuguhi dosen dengan ilmu yang sudah dikunyah orang, sudah ditulis belakangan, tetapi bukankah dosen juga disuguhi dulu seperti itu waktu mereka menjad mahasiswa? Yang lebih menyedihkan, dosen mengajarkan ilmu2 yang dulu didapatnya di bangku kuliah sekian tahun yang lalu. Kapan kita bisa ‘minum air yang lebih jernih?’ Dosen menyuguhkan barang kunyahan, lalu tugas mereka selesai…mahasiswa mengkonsumsi makanan kunyahan, lalu nilai mahasiswa keluar…jadi dimana Character Building? Mungkin masalah kita mendidik mahasiswa bukan dengan KEBENARAN yang DIALAMI, DIHAYATI tetapi masih dengan KEBENARAN TEKSTUAL. Misalnya mata kuliah Pendidikan anti-Korupsi di kuliah itu tidak empiric, dosen2nya boleh jadi tidak pernah ‘Menghindari’ korupsi, tidak pernah ditangkap KPK, lalu mahasiwa hanya diajarkan simbol2? Karena tidak empiric, maka akibatnya, ‘Guru kencing berdiri murid kencing berlari’.
Lebih jauh, kenapa anda sangat berpegang teguh pada pendapat para Imam Mazhab dalam Kitab Kuning? Kebenaran awal yang diketahui oleh para Imam itu pasti ada, kata2 Imam tersebut muncul belakangan. Isi kitab Kuning bukanlah KEBENARAN itu sendiri tetapi ia adalah rekaman/refleksi kebenaran yang sempat dituliskan oleh para Imam di masa lalu, sebatas kemampuannya, sebatas ilmunya, sebatas daya ingatnya. Mereka manusia yang punya keterbatasan, iya kan? Ini pertanyaan hermeneutis bagi adik2 warga NU. Dan bagi Muhammadiyah, kenapa matan Hadis, rekaman atas kebenaran, yang dipilih yang paling arjah sebagai hujjah? Bukankah sebelum Hadis ditulis sudah ada SUNNAH NABI bila Muhammadiyah ingin mencari yang betul2 murni ke hulu? Proyek Tafsir al-Qur’an oleh Muhammadiyah sekarang dapat diduga banyak berpedoman pada REKAMAN2 atas KEBENARAN (mu’amalat). Rekaman Kebenaran semacam itu disebut Kebenaran Ontis (pengembangan lanjutan) menurut filsafat Heidegger. Akhirnya hati kecil saya bertanya: Entah kapan masanya kita akan mempunyai Tafsir Existensial yaitu Tafsir Pra Ontis? Bagi anda yang non-Muslim (Kristiani) silahkan pikirkan isi ajaran al-Kitab anda: apakah isi Injil dan isi khotbah Pastor tentang Kehidupan adalah Kebenaran (factual) yang sesungguhnya atau hanya rekaman atas kebenaran masa lalu? Wallahu a’lam.
Sekian. Terimakasih Ibu2/Bapak2/ dan adik2 semuanya atas kesediaannya membaca tulisan saya ini. Mohon maaf bila ada kesalahan. Pamit, Amhar Rasyid, Jambi.