PUASA dan ‘IEDUL FITRI: REALITA dan IDOLA


Oleh: Amhar Rasyid
Bandung, Jum’at 4 April 2025

Assalamu’alaikum wr,wb pembaca terhormat,

‘Ada anak bertanya pada Bapaknya, untuk apa ber-lapar2 puasa’, itu cuplikan nyanyi lawas Bimbo yang dulu hits di masanya. Cuplikan nyanyi itu bagus untuk dijadikan tema, sebab ada gunanya bagi generasi muda yang setia membaca tulisan saya ini. Saya tidak berceramah agama di sini, tetapi hanya ‘menggelitik’ tradisi berpuasa kita dengan tujuan agar pada Ramadhan tahun depan akan semakin berkualitas ibadah puasa kita dan generasi muda Indonesia semakin ta’at. Mari kita mulai.

Pertama, umpamanya saya bertanya pada anak saya yang pulang dari sekolah. Apa pelajaran agama kamu tadi di sekolah Nak? Tentang puasa katanya. Apa kata pak guru tentang defenisi puasa? Puasa ialah menahan makan dan minum dan segala yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hingga tenggelamnya matahari. Bagus saya bilang. Siapa yang menyuruh berpuasa? Tuhan jawabnya sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. Apakah kamu tahan ber-lapar2 puasa? Ya wajib katanya, bila tidak puasa nanti masuk neraka. Bagus sekali saya bilang.

Lalu saya berpikir sendiri, mungkin tema ini lebih baik saya persembahkan kepada anda yang terhormat yang se dang membaca tuisan saya ini. Tanya jawab di atas namanya pemahaman agama secara normative. Persoalannya, kapan pelajaran secara normative tersebut akan berdampak pada akhlaq generasi muda di negeri ini? Umumnya umat Muslim di negeri ini semua bermodalkan pemahaman puasa seperti itu. Puasa orang puasa kita, lebaran orang lebaran kita, mudik orang mudik kita, lalu yang berbekas apanya? Sekarang giliran Bapak yang bertanya pada gurunya ‘Buat apa mengajari anak saya ber-lapar2 puasa, jika prilakunya biasa2 saja?

Bukan belum diterangkan, tetapi belum dipraktekkan pada siswa apa hubungan berpuasa dengan prilaku keseharian. Praktek, praktek. Yang terasa kurang dalam sekolah kita nampaknya antara ajaran dan praktek masih menggantung (ada gap antara Idola dan Realita). Kita tahu, anak2 TK di Jepang sejak usia dini sudah diajarkan/dipraktekkan di sekolahnya cara membuang popok dan sampah ke tempat yang telah tersedia. Praktek-praktek. Sementara persoalan bagi generasi muda kita, mungkin, di sekolah guru hanya mengajar secara normative, mengulang tradisi, dan setiba di rumah, lingkungan keluarga juga belum menampakkan hubungan resiprokal antara ibadah puasa dengan prilaku keseharian.

Pada strata sosial menengah ke bawah, dampak puasa pada prilaku keseharian mereka mungkin lebih ruwet lagi. Ada orang tuanya/saudaranya yang masih ‘kucing2an berpuasa’, pulang sekolah si anak sibuk bermain HP dan tertidur hingga beduk berbunyi, gossip masih nyentil ke sana kemari. Habis solat Isya di langgar, ceramah 7 menit oeh Ustaz rutin dilakukan, lagi2 isi ceramahnya cuma normative. Dalam istilah Prof. Amin Abdullah isi ceramahnya cuma qira’ah mutakarrirah (repetitive). Ruwet, sungguh ruwet persoalan sosiologi keagamaan di tengah masyarakat kita.

Kedua, ruwetnya persoalan sosiologis semacam itu b erjalin berkelindan pula dengan tradisi. Tradisi di sini artinya cara berpikir (way of thinking) yang diwarisi secara tidak sadar dari generasi terdahulu. Bila ditanya seorang murid siapa yang nyuruh puasa? Jawabnya Tuhan, nyatanya bukankah ibu bapanya dan gurunya yang menyuruh berpuasa? Seandainya Ibu dan Bapaknya tidak menyuruh berpuasa, tidak makan sahur, tidak dibangunkan, entahlah. Itu yang saya maksud dengan tradisi. Tradisi ber-lapar2 puasa. Kita hanya mengulang ajaran puasa sebagaimana telah terdengar dari banyak mulut, bukan bagaimana membentuk jati diri karena berpuasa. Berpuasa masih pada sebatas mulut, belum action. Sementara Imam a-Syathibi berpendapat bahwa tujuan hukum harus dilihat, bukan pada causa efficient, tetapi pada causa finalis (bukan pada cara, tetapi pada tujuan akhir). Oleh sebab itu tujuan berpuasa harus dilihat bukan hanya pada riuhnya ceramah2 ustaz dan ramainya tarawih di masjid2, tetapi pada prilaku umat di lapangan: tarawih bersama, tertib di jalan raya, tidak tawuran, buang sampah pada tempatnya, toko2 aman ditinggal tanpa tuan waktu solat, tertib antri di mana2, air sungai jadi bening, Pemerintah pro rakyat, judi Online diberangus, wanita berbusana menutup aurat, non- Muslim dihormati, ancaman hukuman dalam KUHP betul2 dilaksanakan bukan dipotong. Ini semua bertalian dengan amal ibadah puasa Ramadhan.

Maka untuk action, menurut saya, mungkin perlu keterlibatan aparat desa yang direkomendasikan oleh Pemda dan Pemerintah Pusat (Kemenag). Anjuran Nabi agar bersedekah makanan pada tetangga misalnya, sebagaimana sering diulangi oleh para penceramah, ketua Rt dan Rw, menurut saya, perlu terlibat ‘memerintahkan’ warganya untuk merealisasikannya di lapangan, sejauh tidak menyangkut politik praktis, untuk membantu kiyai dan penceramah supaya jangan hanya mengulangi tradisi. Umara’ ‘memerintahkan’ ya ½ paksa, sebab kesadaran hukum masyarakat kita masih rendah. Apalagi di sekitar Rt, terdapat golongan ekonomi ‘the have’ atau pejabat, atau public figure, di mana nyanyi Bimbo di atas perlu direnungi: Buat apa ber- lapar2 puasa (bagi mereka)? Rumahnya berpagar tinggi, mobil mewah berderet di garasi, anjingnya galak, satpamnya lebih galak dari anjingnya, penghuninya tidak bertegur sapa dan tidak menyedekahkan makanan pada tetangga, kalaupun berkirim sedekah makanan, pembantu yang mengantarkannya, usai tarawih nongkrong di café-café, aduh…ini benar2 fenomena baru Ramadhan in town. Bila anak2 mereka ditanya pulang sekolah, siapa yang memerintahkan kita berpuasa? Tetap Allah jawabnya. Ternyata jawaban anak2 ‘the have’ dan ‘the have not’ sama saja, sebab pemahaman agama bagi mereka hanya normative. Oleh sebab itu, ulama dan umara dituntut untuk bekerja sama agar nilai2 Islami itu membumi. Mungkin itu suatu alternatif pada dataran pilihan yang paling sederhana bagi saya. Bila anda setuju dengan ide saya ini, silahkan ajukan ide yang lebih bagus. Demikian diskusi singkat kita tentang puasa.

Sekarang usai puasa kita berhari raya, selamat Iedul Fitri berkumandang dari |Online hingga Offline, mulai dari Hp hingga bertemu muka, berkunjung ke rumah sanak saudara, mulai dari kota hingga desa. Maka tradisi Mudik menjadi bagian tak terpisahkan dari Iedul Fitri. Yang disuruh oleh Nabi hanya sebatas ber-maaf2an, menyambung Silaturrahmi, tetapi karena umat berjauhan domisili, maka timbullah fenomena mudik. Ini persoalan lagi bagi umara.S

Ustaz bilang: perkokoh silaturrahmi. Karena umat yang diceramahi itu adalah orang Timur, maka rasa sanak saudara silaturrahmi itu akan semakin terasa ya dengan berjumpa muka. Nampak muka tanda masih bernyawa, hilang muka, orang saling bertanya. Bila Ustaz menyuruh ‘perkokoh silaturrahmi’, akibatnya Umara yang ketar ketir ngurusi THR dan transportasi. Yang masih tanda tanya bagi saya, mudik itu apakah memang memperkokoh silaturrahmi atau lebih pada ‘temu kangen’ sesama orang kampung halaman? Orang Minang di Rantau lalu mengadakan acara Pulang Basamo. Setiba di kampung masing2, senang jumpa sanak saudara, teman2 lama, alam Minang yang menawan, tetapi ada juga mungkin nostalgia lama, tak terkecuali mengurusi masalah harta warisan pasca wafatnya kedua orang tua, meskipun orang Minangkabau dikenal materilineal. Ini dampak mudik bagi kami golongan strata sosial menengah, bagi golongan pejabat dan golngan ‘the have’ entahlah, sebab saya tak punya pengalaman dalam hal itu. Ini tema riset yang bagus, adik2 yang mau membuat penelitian, silahkan!

Terakhir, pada Ramadhan tahun depan semoga ada peningkatan hendaknya. Biarlah selama ini, puasa orang puasa kita, lebaran orang lebaran kita, mudik orang mudik kita, ke depan sebaiknya ‘jangan ikut2an’ orang banyak. Menjadilah diri sendiri! Puasa Ramadhan tahun depan dan selanjutnya harus berupa peningkatan kualitas diri, bukan terpukau oleh kuantitas pahala saja. Memang berpuasa adalah menahan makan dan minum dan segala yang membatalkan puasa, dari…..hingga…tetapi itu pengertian orang awam, masih dangkal, masih terpukau dengan angka2 jumlah banyak, masih eksoterik namanya. Pada hakekatnya, jumah hitung2an pahala dan dosa, itu adalah gaya bahasa orang awam. Mereka yang lebih tinggi inteektualnya, kulaitas lebih penting dari kuantitas. Secuil emas bagi inteektual lebih berharga dari pada pasir sebesar gunung.Yang kita inginkan agar puasa kita ke depan puasa esoteric. Puasa yang menggembleng budi daya prilaku, mampu beradaptasi dengan zaman modern, yang semakin menyadarkan hubungan diri sendiri dengan |Allah Yang Maha Kuasa.

Mengutip ide Prof. Fazlur Rahman, hubungan antara perorangan dengan Allah, mirip dengan setumpuk sobekan kertas2 halus yang dietakkan di atas meja kemudian ditarik oleh magnet ke atas, semakin mendekati ke orbitnya…racikan kertas itupun lalu mengangkat diri, berpisah dengan kertas2 lain di bawahnya, maksudnya berbeda dengan tradisi, berbeda dengan orang2 kebanyakan dalam cara memahami dan menunaikan puasa. Berbeda dalam arti ‘menjadi diri sendiri’ dalam cara beribadah kepada Allah. Puasa yang telah menjadi darah daging sendiri, puasa yang telah menyeinap hingga ke tulang sum-sum dalam tubuh sendiri. Puasa yang tak mampu diancam lagi dengan senjata, bom nuklir atau neraka. Dalam istilah filsafat Heidegger, orang ini telah berobah dari das Man menjadi das Sein. Puasa das Sein adalah mencontoh puasa para Wali Allah, sedangkan puasa das Man adalah puasa ikut2an orang banyak, puasa karena tradisi: Bila ditanya ‘Kapan puasa? Ikut Pemerintah aja! Bagaimana jika Pemerintah bilang tak usah puasa? Tanyailah diri anda sendiri! Bila berpuasa sudah das Sein, sudah tak ikut2an, ini akan berdampak mengurangi paternalistik pada partai politik, pada sikap ABS (Asal Bapak Senang) di birokrasi, bahkan pada kehidupan demokrasi di negara kita. Ayo kita mulai!

Sebagai penutup saya juga teringat lagu nostalgia dari Basofi Soedirman (Mantan Gubernur Jawa Timur 1993-1998), selain lagu Bimbo di awal tulisan ini. Biarlah Bimbo yang memulai, Basofi yang mengakhiri.

Lirik ‘plesetan’ lagunya begini:
‘Tidak semua laki-laki….mau PUASA dengan cara mu. Contohnya akuuuuuu, mau puasa BEDA dari mu.
Tapi mengapa …..engkau masih raguuuu…(dengan cara puasaKU)’.

Demikianlah pembaca budiman di mana saja berada, mohon maaf bila ada kata2 yang salah. Selamat Iedul Fitri, Maaf lahir dan bathin pada semua anda yang rutin membaca tulisan saya tiap Jum’at. Wassalam, Pamit, Amhar Rasyid, Jambi.

*Silakan Share