Kerinci, 30 November 2025— Aroma ketidakadilan kembali mencuat dalam pelaksanaan Bupati Cup Kerinci 2025. Tim PS Semurup yang sebelumnya telah memastikan satu tiket ke semifinal setelah mengalahkan Song Song Barat (Siulak Gedang), kini justru dipaksa menghadapi keputusan kontroversial dari panitia turnamen.
Beberapa hari setelah kemenangan resmi PS Semurup di lapangan, muncul protes dari pihak Song Song Barat terkait keikutsertaan pemain PS Semurup, Pino Ramanda (No.7). Yang membuat publik bingung adalah: protes ini muncul setelah pertandingan usai, setelah hasil ditetapkan, dan tanpa surat protes resmi pada hari pertandingan sebagaimana diatur dalam regulasi turnamen.
Namun di luar dugaan, panitia bukan hanya menerima protes yang terlambat tersebut, tetapi bahkan mengeluarkan keputusan yang dinilai paling kontroversial sepanjang gelaran turnamen ini berlangsung.
Keputusan Panitia yang Dinilai Tidak Adil
Melalui surat keputusan bernomor 039/BC/XI/2025, panitia memerintahkan pertandingan ulang antara PS Semurup dan Song Song Barat, serta melarang pemain Pino Ramanda tampil selama turnamen berlangsung.
Lebih ironis lagi, panitia menyatakan bahwa kedua tim “sama-sama diuntungkan dan dirugikan”, sebuah alasan yang dinilai tidak masuk akal dan tidak memiliki dasar regulasi yang jelas.
“Kami sudah menang sah. Skor sudah ditetapkan. Tidak ada protes saat pertandingan. Tapi beberapa hari kemudian, tiba-tiba kami diminta tanding ulang. Ini bukan lagi soal regulasi, tapi soal keadilan yang diinjak-injak,” ujar salah satu pemain PS Semurup yang enggan disebutkan namanya.
Melihat rangkaian keputusan yang dinilai berat sebelah, tidak transparan, dan mengabaikan prosedur baku, PS Semurup akhirnya mengeluarkan Pernyataan Resmi Pengunduran Diri dari turnamen Bupati Cup Kerinci.
Dalam pernyataan tersebut, PS Semurup menyebut bahwa:
Panitia mengambil keputusan tanpa dasar regulasi yang jelas.
Tidak ada surat protes resmi dari Song Song Barat saat hari pertandingan.
Tidak ada klarifikasi yang diminta kepada PS Semurup sebelum keputusan dikeluarkan.
Keputusan ini merusak asas keadilan, sportivitas, serta profesionalisme sepak bola Kerinci.
“Kami tidak melihat adanya ruang bagi tim kami untuk mendapatkan perlakuan yang setara. Demi menjaga martabat tim, kami memilih mundur.”
Pertanyaan Besar untuk PSSI Kerinci
Kisruh ini memunculkan sejumlah pertanyaan tajam:
Mengapa protes yang telat dan tidak sesuai aturan tetap diproses?
Mengapa panitia tidak menghargai hasil pertandingan yang sudah berjalan sportif?
Mengapa panitia membuat keputusan sepihak tanpa klarifikasi ke tim yang dituduh?
Ke mana PSSI Kerinci ketika terjadi dugaan ketidakadilan yang mencoreng wajah kompetisi daerah?
Diamnya PSSI Kerinci dalam polemik ini semakin memperkuat dugaan publik bahwa ada tekanan, intervensi, atau kepentingan tertentu yang bermain dalam pengambilan keputusan.
Catatan Kelam Bupati Cup Kerinci 2025
Pengunduran diri PS Semurup adalah sinyal keras bahwa ada masalah serius dalam tata kelola turnamen. Keputusan panitia bukan hanya merugikan PS Semurup, tetapi juga merusak kepercayaan masyarakat terhadap kompetisi sepak bola lokal.
Jika ketidakadilan seperti ini dibiarkan, maka Bupati Cup bukan lagi ajang sportivitas, tapi hanya panggung kepentingan. hari ini mungkin PS semurup yang terkena perlakuan tidak adil, tapi, untuk kedepannya akan ada tim tim lain yang akan menjadi korban, ketika hal ini terus dibiarkan terjadi.
PS Semurup mungkin mundur, tetapi pertanyaan soal keadilan di Bupati Cup Kerinci tetap harus dijawab.