Oleh : Amhar Rasyid
Jambi, 26 Desember 2025
Assalamu’alaikum wr,wb Bapak2/Ibuk2/Adik2 para pemuda bangsa baik Muslim maupun non-Muslim yang saya hormati. Berkat kemajuan teknologi AI (Artificial intelligence), potongan2 gambar masa silam dapat dirakit dan diceritakan ulang se akan2 peristiwa masa lalu hidup kembali. Kali ini saya ingin mengajak anda membaca kisah pelayaran sebuah kapal Belanda bernama Jan Pieters Zoon Coen yang bertolak dari Pelabuhan Amsterdam menuju Pelabuhan Belawan di Sumatera Utara pada tahun 1921. Ini bukan fiksi. Kisah pelayaran kapal ini saya rasa bagus untuk disimak, menarik untuk diingat kembali dan berguna bagi adik2 kawula muda untuk memahami bagaimana gelombang kedatangan Kolonialis Belanda ke tanah air kita. Dalam pelayaran tersebut juga terselip nasib menyedihkan nasib beberapa nenek moyang kita yang dijadikan sebagai ‘jongos’ pelayan kapal. Dimana harga diri bangsa kita? Bagaimana kisah kedatangan orang2 Eropa tersebut bila dilihat dalam pandangan tokoh intelektual seperti Edward Said? Memang benar yang dikatakan sejarawan Taufik Abdullah, sejarah bukan hanya data masa lampau, tetapi ia juga hasil interpretasi, rekonstruksi oleh sejarawan agar ia bermakna bagi kehidupan hari ini. Karena kisah ini penulis ambil dari YouTube terkait arsip kuno (Failure Channel) yang langka dijumpai, maka data2 historis penulis hadirkan dalam narasi nostalgia agar tidak membosankan saat anda baca. Selamat bernostalgia di akhir tahun 2025!
Dari Pelabuhan Amsterdam, demikian kisah bermula, berlayarlah kapal dagang ternama Jan Pieters Zoon Coen milik Nederlandse Maschappij, sebuah kapal besar yang membawa lebih 1000 penumpang berlayar menuju tanah harapan di Hindia Belanda bernama pelabuhan Belawan (Sumatera Utara). Pelayaran dari Eropa tersebut dikabarkan bisa memakan waktu lebih dari 1 (satu) bulan tergantung cuaca di laut dan rute perjalanan. Kapal tersebut masih menggunakan tenaga uap. Artinya ia masih menggunakan batu bara sebagai bahan bakar. Ada beberapa kapal Belanda lainnya yang disebutkan dalam gambar tersebut antaranya kapal Jakatra? Milik Rotterdam Lloyd dan kapal Amsterdam Maschappij, tetapi menurut saya, hanya Hamka yang mengurai kisah kasih di atas kapal Van der Wijck. Menurut data sejarah (realite), kapal Van der Wijck memang betul2 ada, ia tenggelam tgl 20 Oktober 1936 di utara pantai Brondong, Lamongan, Jawa Timur, bukan di laut utara Jakarta. Berbeda dengan kapal Coen yang membawa gelombang kedatangan orang2 Eropa ke tanah air kita, kapal Van der Wijck tidak membawa Hayati yang mengalami kapal karam dalam pelayarannya ke Padang dari Batavia….itu khayalan Hamka.
Kapal Pieters Coen tersebut dikatakan terdiri atas beberapa ruang. Ruang paling atas digunakan untuk penumpang berkelas: pejabat2 tinggi Belanda, teknisi2 perusahaan, pedagang2 besar beserta anak isteri mereka. Ruang kelas deck bawah digunakan untuk penumpang biasa yang ingin pergi ke tanah jajahan di Hindia Timur untuk melihat peluang2 bisnis baru, para tentara, dan para kelasi kapal. Istimewanya, di dalam kapal sudah ada berjejer kamar2 tidur, ruang medis, ruang percetakan, ruang makan, ruang hiburan, olah raga dan ruang untuk bersantai. Di dalam kapal ini sudah nampak strata kelas yang mencerminkan kehidupan sosial di darat. Dalam foto di YouTube tersebut sudah terlihat kecanggihan dapur kapal yang sangat bersih, rapi dengan segala peralatan modern di waktu itu. Misalnya cara mencuci piring sudah menggunakan alat elektronik di mana puluhan piring2 dimasukkan, direndam dan diangkat sekaligus dari dalam sink berbusa sabun tanpa dipegang dengan tangan satu persatu. Saya juga melihat alat2 olah raga, gym, sudah menggunakan bubble, sepeda listerik, dan lainnya.
Dari Amsterdam, kapal tersebut mula2 singgah di Pelabuhan Southampton (Inggeris) untuk menambah penumpang dan mengisi logistic. Di sini terlihat banyak kapal2 besar yang singgah, untuk bongkar muat, sebelum berlayar ke Afrika, Amerika dan Asia. Anda bisa membayangkan betapa kuatnya Kerajaan Inggeris saat itu. Setelah lama berlayar arah selatan Inggeris, terlihat dalam pelayarannya Pulau White yang terletak paling selatan Inggeris, kemudian kapal Coen terus menuju ke selatan melewati Selat Gibraltar, nampak pula dari jauh pemandangan kota kecil Tarifa, Spanyol, yang dikatakan terletak paling selatan daratan Eropa. Setelah beberapa hari megarungi Laut Tengah, kapal tersebut harus mampir di Port Said (Mesir).Port Said adalah pintu masuk awal ke dunia Timur. Di sini semua keperluan logistic dibeli lagi ke darat, batu bara ditambah, air tawar diisi ulang, dan inspeksi administratif dilakukan sebab kapal akan memasuki Terusan Suez. Para pekerjanya nampak orang2 Mesir dan Sudan (hitam2) sibuk mengangkut batu bara dari luar kapal, lalu memasukkannnya ke lobang corong besar agar batu bara tersebut disimpan di lambung kapal sebelum digunakan. Karena Terusan Suez telah dibuka (1869), hemat biaya, ringkas rute pelayaran, maka kapal2 Eropa tidak lagi melalui Tanjung Pengharapan di Selatan Benua Afrika untuk menuju Asia Tenggara.
Di Port Said, para penumpang diizinkan pula untuk naik ke darat, mungkin untuk beberapa hari, sebab di Port Said tersebut di dalam foto terlihat Hotel2 transit bagi para penumpang, pasar2 tradisional yang menjual souvenir antik Mesir. Juga nampak hiburan di darat, sebuah sunglap, yang dipamerkan oleh pesulap Belanda ternama yaitu Madame Marie dan Meneer Baron. Para penontonnya terlihat orang2 Mesir bertopi merah tinggi (tarbus ala Turki), berbaju Arab, banyak yang berkumis panjang, juga diramaikan oleh anak2. Dikatakan juga di Port Said terdapat banyak orang2 Italia, Afrika hitam, Eropa, Arab dan Yunani. Saya pribadi pernah pergi ke Port Said (1980?) naik bis dari Cairo, suhu kotanya agak panas dan bebas bea cukai.
Sebagian anak2 Mesir ada yang melompat ke laut mengumpulkan uang recehan yang dilempar dari kapal oleh penumpang. Dari aksi mengumpulkan recehan ini, anda bisa membayangkan kini betapa jurang perbedaan status sosial telah berlangsung lama antara orang Barat dan orang Timur. Dari foto2 kapal Coen, anda juga dapat membayangkan bagaimana dulu nenek moyang kita berlayar ke tanah suci dengan kapal laut, pergi beribadah ke Mekah dan Medinah di mana banyak pelayan2 berkulit hitam dari Afrika, dan beberapa ulama kita sempat bermukim lama di tanah suci menuntut ilmu. Bagi anda yang pernah membaca buku Azyumardi Azra, Jaringan Ulama, tentu dapat membayangkan situasi sosio-religius yang diceritakan oleh buku tersebut, dibantu oleh kisah film kapal Coen ini, walaupun Azra tidak mengalami situasi religius di lapangan. Azra hanya merekonstruksi ulang sejarah dari Columbia University di New York. Maka kita harus membedakan kini dalam bukunya antara Sejarah Realite (fakta) dan Sejarah Ecrire (opini) kata para ahli. Sebagai generasi muda, anda dituntut untuk mempertanyakan Sejarah Ecrire. Kelemahan dalam film pelayaran kapal Coen jarang menyinggung aspek religious tetapi hanya aspek sosio-budaya.
Setelah bertolak dari Port Said, kapal Coen berlayar lagi beberapa hari dan akhirnya singgah di Colombo (Srilanka). Di sini juga dibeli berbagai keperluan logistic, pengisian batu bara, air tawar dan lainnya. Dari Colombo kemudian kapal Coen berlayar lagi beberapa hari menuju Pelabuhan Sabang (Aceh). Ini sudah memasuki laut perairan Sumatera. Dari Sabang, kapal Coen kemudian melanjutkan rute terakhirnya ke pelabuhan Belawan (Medan). Di Belawan inilah semua penumpang turun, dan banyak diantara mereka menuju kota Medan dan ke perkebunan2. Habis waktu, katanya, sebulan lebih.
Selain Belawan dan Medan disebutkan pula adanya tempat istirahat para pejabat kolonialis Belanda yaitu Prapat. Prapat adalah kota kecil yang indah jauh dari kota Medan, udaranya dingin, pemandangan hijau menatap ke Danau Toba yang luas. Di sana banyak didirikan rumah2 tempat istirahat dan wisata/liburan petinggi Belanda dari Medan. Artinya, kolonialis Belanda bekerja menguras keringat dengan pribumi di lahan2 panas (perkebunan, tambang, pabrik, kantor) kemudian Belanda istirahat ke daerah2 kawasan dingin misalnya dari Batavia dan Bandung ke Puncak dan Ciater, dari Surabaya dan Malang ke Batu, dari Medan ke Prapat. Itulah gambaran kehidupan sosial budaya kolonialis Belanda saat dulu. Pelayaran kapal Coen bolak-balik memperbanyak jumlah kolonialis dan orang Belanda lainnya ke tanah air kita dimana nasib nenek moyang kita tetap menjadi jongos. Kata ‘Jongos’ mulanya berarti pelayan rumah tangga colonial Belanda, jongos berbeda dengan Abdi Dalem.
Apa yang nampak dari cerita di atas? Pertama, Kekuasaan politik kolonialisme di dunia internasional saat itu mirip gunung2 dan daratan. Ada posisi yang terlalu tinggi seperti Inggeris, Belanda, Spanyol, Perancis, Postugis, sementara mayoritas negara2 di Timur pada posisi yang sangat rendah mirip lembah2: rendah, diinjak, dieksploitasi hasil buminya, diratakan tanahnya (dengan alat2 berat bila perlu), misalnya Mesir, India, Iran, dan Indonesia. Sekarang kondisi tanahnya telah berobah, rata, Barat dan Timur sejajar akibat bangkitnya nasionalisme dan keinginan untuk merdeka. Bagaimanapun juga Edward Said pernah mengatakan; ..whatever good or bad values were imputed to the Orient appeared to be functions of some highly specialized Western interest in the Orient.(Orientalism, p. 206). (Apapun bentuk nilai baik-buruk yang ditempelkan pada Timur nampak kegunaannya sejauh ia terkait kepentingan Barat terhadap Timur).
Kedua, dari gambar itu juga terlihat secara sosio-kultural nenek moyang kita memang ‘terhina’. Mereka diperlakukan sebagai geladak kapal, tukang cuci piring, angkut batu bara ke dalam kapal, dan tentunya dihardik, dimarahi, dicaci, disepak, bahkan nyawanya mudah untuk dilenyapkan. Makan dari sisa2 makanan Belanda, mungkin juga daging babi dan alcohol susah dielakkan, tidur di deck kapal yang panas, sempit/sumpek dan penuh bau2 tak sedap. Tiada perlawanan. Dan saya yakin mereka jarang/tidak pernah solat sebab selalu diawasi Belanda. Itulah nasib nenek moyang kita: nenek moyang anda dan nenek moyang saya yang mana sekarang jasad mereka semua telah ditelan bumi, arwahnya telah kembali kepada Allah.
Bila ditarik kesimpulan, maka kita melihat apa yang dikatakan oleh Edward Said dalam bukunya ‘They can’t represent themselves, they must be represented’ mengutip kata2 bijak Karl Marx. (Orang yang tak mampu mengurusi dirinya sendiri, maka ia harus diurus). Nenek moyang kita diurusi oleh Barat, kata mereka demi memajukan peradaban anak negeri. Indonesia memang telah dimerdekakan tahun 1945, tetapi kultur budaya kita warisan colonial nampaknya memang susah di ‘merdekakan’. Pelayaran kapal Pieters Zoon Coen yang bolak balik datang ke Hindia Belanda bukan hanya membawa gelombang pendatang tetapi juga gelombang cara pandang: cara pandang Barat atas Timur. Kenangan indah kapal Coen adalah kenangan sejarah, dari mana kita tahu? Ya berkat bantuan Artificial Intelligence. Bagaimana cara kerja teknologi AI saya tak pandai menjelaskannya.
Significance of Issue (Hikmah). Pertama, nampaknya ada sisi positif Kolonialis bagi kita. Belanda mewariskan cara berbudaya yang lebih rapi, teratur, bersih, hygenis, rational, tepat waktu. Walaupun kita sudah merdeka, sumbangan positif ini sulit dibudidayakan. Saya pernah 6 bulan bekerja di kantor Belanda di Den Haag (1979): kantornya tertata rapi, bersih, birokrasi lancar, efisien. Restoran bagi pegawai Belanda terletak di lantai 7: bersih, indah, harum, rapi, Belanda pakai jas dan dasi, ceweknya tinggi2, rambut pirang, mata biru, susah dicari tandingannya dengan artis2 kita. Pernah saya lihat ada bawahan yang dipanggil bos untuk menghadap, sambil duduk di kursi, kedua kaki anak buahnya naik ke atas meja ke depan dada bos…..biasa saja: dia bukan kurang ajar. Dia bangga dengan keahliannya karena dia bukan pegawai titipan. Kapan lagi kita ‘merdeka di tempat kerja’, bangga dengan keahlian (skill) bukan bangga dengan title.
Kedua, mengapa daerah Tapanuli mayoritas Kristen? Implisit dalam kisah di atas bahwa Kolonialis Belanda membonceng zending Kristen. Dalam perkebunan2 milik Belanda didirikan banyak gereja, masyarakat lokal dikristenisasikan, pendeta2 dan penginjil dikirim terus dari Belanda. Artinya, Kristen di tanah Batak bukan datang dari Vatican di Roma (Katholik) tetapi dari Belanda, oleh sebab itu Gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) wajar menjadi pengikut tradisi Lutheran. Semua dilakukan kolonialis Belanda termasuk Kristenisasi, mengutip Edward Said di atas, katanya untuk menjadikan anak pribumi lebih beradab dan berbudaya. Dari kondisi geografis tanah Batak yang terisolir tersebut, sejarawan lalu mengatakan bahwa Islam dari Aceh menyeberang ke Sumatera Barat, karena menghindari Tapanuli yang telah luas dikristenisasikan dalam berbagai perkebunan (kopi, teh, sawit, rosela, kina, tebu, rempah2,dan karet). Itulah sebabnya banyak saudara2 kita di tanah Batak memeluk Kristen hingga hari ini. Mereka menjadi Kristen karena Belanda. Bila dikatakan bahwa Kristen dibawa oleh Belanda ke tanah Batak mungkin sulit dibantah, tetapi bila dikatakan HKBP betul2 beraliran Lutheran saya dak bisa beri komentar, sebab ia mulanya dikembangkan dalam perkebunan2. Lutheran Eropa dikembangkan dalam lingkungan masyarakat agraris? Di segi lain, bila dikatakan bahwa Syaikh Burhanuddin (Ulakan) yang membawa Islam di jalur pesisir Barat ke tanah Minang dari gurunya Abdurrauf Singkel di Aceh pada abad ke 16, artinya perkebunan di Sumatera Utara, mengutip pendapat sejarawan, sudah berlangsung lama sebelum kedatangan kapal Jan Pieters Zoon Coen (1921). Tentu sebelum kapal Coen sudah banyak kapal2 Belanda lainnya berlabuh di Belawan, hanya saja YouTube tiba2 memunculkan kisah kapal Jan Pieters Zoon Coen dan saya tertarik untuk mengulasnya. Sejauhmana kebenarannya kita serahkan pada komentar para Guru Besar. Menariknya dalam Google dikatakan kata ‘perkebunan’ dalam bahasa Belanda disebut plantage/landbouw, maka petani Minang hingga kini menyebut pupuk pertanian dengan nama Pupuak Lambaw.
Terakhir, kisah pelayaran kapal Coen ini, berkat AI, mungkin sangat membantu secara hermeneutis atas pemahaman teks (teks dalam arti gambar2 foto). Sebab gerak gambar dalam foto sangat inspiratif untuk memaknai dinamika hidup zaman itu. Gerak gambar lebih banyak bercerita, lebih hidup lebih dinamis dari pada teks, sebab mata kita akan cepat tertuju, kata TOEFL, kepada apa2 yang bergerak, sementara teks pasif sehingga proses understanding agak sulit. Hal ini mengingat understanding dalam arti Verstehen bagi Gadamer harus berupa ‘event’ (kejadian dalam diri yang betul2 dialami). Berkat AI, foto2 lama menjadi bergerak, ia bahkan bercerita sebagian dengan body language…hasilnya? understanding menjadi mudah. Bagaimana menurut pendapat para Guru Besar yang terhormat?
Demikianlah Bapak2/Ibuk2 dan adik2 semua nostalgia dalam sejarah pelayaran kolonialis. Terimakasih telah membaca. Mohon maaf bila ada kata2 yang salah, pamit, Amhar Rasyid, Jambi.
SAMPAI JUMPA TAHUN 2026!