MBS Ahmad Dahlan Sungai Gelam: Aset Persyarikatan yang Menanti Kebesaran


Oleh: Agus setiyono

Di sebuah sudut Sungai Gelam, Kabupeten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, berdirilah Muhammadiyah Boarding School (MBS) Ahmad Dahlan. Sebuah lembaga pendidikan yang sesungguhnya bukan sekadar tempat belajar, tetapi ladang penggodokan kader, kawah candradimuka bagi anak-anak bangsa yang bercita-cita besar meski hidup mereka kerap dililit kesederhanaan.

Ironisnya, aset berharga ini justru seperti mutiara yang tertutup debu. Ia ada, nyata, tetapi tak cukup berkilau di mata warga Persyarikatan. Seakan-akan MBS Ahmad Dahlan adalah anak kandung Muhammadiyah yang dititipkan, namun luput dari perhatian orang tuanya sendiri.

Aset yang “Terabaikan”

PWM Jambi sejatinya telah memiliki permata: sebuah boarding school yang namanya menyandang Ahmad Dahlan. Namun sayang, permata ini seperti ditaruh di sudut laci, tidak dipoles, tidak dipamerkan, bahkan kadang terlupakan. Padahal, kita semua tahu— di sinilah tempat yang seharusnya melahirkan generasi penerus dakwah berkemajuan.

Beberapa anak-anak—yang kebanyakan yatim dan dhuafa, datang dari luar kota dengan mata berbinar, menaruh harap untuk mendapat pendidikan sebagaimana anak-anak lain. Mereka tidak minta disuguhi kemewahan, hanya ingin kehangatan perhatian dan dukungan agar dapat belajar dan tumbuh dalam suasana bermartabat. Namun apa yang mereka dapati? Fasilitas yang seadanya, perhatian yang seringkali datang hanya sebagai sambil lalu.

Strategis, Tapi Mengapa Sepi Perhatian?

Letaknya sangat strategis, sangat layak dijadikan pusat kaderisasi. Dari sinilah bisa lahir kader-kader ulama, intelektual, dan pemimpin bangsa yang bernafaskan nilai-nilai Muhammadiyah. Tapi betapa miris jika tempat strategis ini hanya dijadikan semacam monumen “kepemilikan aset” tanpa keseriusan membesarkannya.

Bukankah KH. Ahmad Dahlan pernah mengingatkan bahwa pendidikan adalah jalan peradaban? Lalu mengapa lembaga yang menyandang namanya justru dibiarkan berjalan terseok-seok?

Provokasi untuk Warga Persyarikatan

Wahai warga Persyarikatan, mari kita jujur: sering kali kita lebih sibuk berbangga dengan angka-angka aset Muhammadiyah di seluruh Nusantara, tetapi lupa menyentuh denyut kehidupan di balik aset itu. MBS Ahmad Dahlan Sungai Gelam bukan sekadar papan nama atau sekadar titik di daftar panjang milik organisasi, tetapi rumah masa depan yang menunggu untuk dibesarkan.

Jika kita tidak mau mengurusnya, maka kita sedang membiarkan anak-anak yatim dan dhuafa itu menanggung luka karena merasa “dilahirkan” oleh Persyarikatan, tetapi tidak pernah dipeluk olehnya.

Ajakan untuk Membesarkan

Saatnya warga Muhammadiyah berhenti berbangga dengan sejarah, tetapi mulai menulis sejarah baru. Mari jadikan MBS Ahmad Dahlan Sungai Gelam sebagai pusat keunggulan pendidikan, tempat lahirnya kader-kader unggul yang bukan hanya cerdas akal, tetapi juga lembut hati dan kokoh iman.

Membesarkan sekolah ini bukan semata soal biaya, tetapi soal cinta. Cinta kepada anak-anak yatim, cinta kepada ilmu, cinta kepada Persyarikatan, dan cinta kepada masa depan umat.

Karena pada akhirnya, apa artinya kita berteriak tentang “Islam Berkemajuan” jika kita tak mampu memajukan lembaga yang ada di pelupuk mata kita sendiri?
*) Penggiat dakwah Online Jambi

*Silakan Share