Oleh; Amhar Rasyid
Jambi, 6 Des 2024
Assalamu’alaikum wr,wb pembaca budiman di mana saja berada.
Tulisan ringan berikut akan sangat berkesan membacanya bagi anda yang pernah sekolah/kuliah dulu sekitar tahun 1970an di Yogya dan sekarang sudah pensiun atau sudah lama sekali tak melihat Yogya. Saya akan coba menyajikan dengan narasi sederhana agar enak dibaca dan tidak filosofis sebagaimana tulisan saya yang lainnya, yang membuat ‘kerut kening’ membacanya. Abang2, ayuk2 dan teman2 sebangku sekolah dulu di Yogya yang sekarang sudah istirahat di hari tua masing2, mari kita buka lembaran cerita baru dari kota Gudeg. Kisah berikut bersifat nostalgia dalam melihat kekinian Yogya. Silahkan baca bila tidak sibuk, tetapi jangan ‘berlinang air mata’.
Dalam tulisan berikut saya tidak akan mengupas masalah administrasi politik kenegaraan, tetapi lebih mengerucut pada Istimewanya keistimewaan Yogyakarta dalam berbagai aspek. Bagi saya, Yogyakarta menjadi istimewa lebih bersifat kualitatif imaginatif-psikologis dari pada kalkulasi administrasi politis. Maka pertanyaannya seberapa jauh istimewanya kota kenangan tersebut? Apa yang terasa istimewa? Bagaimana perbedaan Yogya dulu dan sekarang? Bagaimana pula pelayanan sector public? Mari kita mulai!
Pertama, Daerah Istimewa dalam kamus politik diartikan sebagai daerah yang mempunyai aturan khusus yang berbeda dari daerah2 lainnya di Indonesia. Sejauh yang saya ketahui ada 5 daerah yang tergolong istimewa: Yogyakarta, Aceh, Daerah Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat, dan DKI (Jakarta). Mengapa daerah2 tersebut mendapat hak istimewa? Sebab menurut UU No. 22/1948 tentang system pemerintahan daerah bahwa daerah2 yang telah memiliki aturan pemerintahan sendiri pra kemerdekaan, maka ia kini mendapat hak istimewa. Yogyakarta dikatakan telah memerintah daerahnya sendiri sejak yahun 1755. Jadi status istimewa diberikan oleh negara karena menghormati hak asal usul (sui generis) dan history dari daerah tersebut pra kemerdekaan. Status Istimewa diberikan, katanya, untuk menghormati hak-hak khusus masyarakat setempat, menjaga keberagaman, serta memperkokoh integrasi nasional. Dalam istilah saya, daerah Istimewa adalah daerah2 yang dapat dan boleh dianggap sebagai Abang/Ayuknya bagi daerah2 lain dalam satu keluarga NKRI. Bila anda protes, Palembang dengan Kerajaan Sriwijayanya juga sudah lama mengatur negeri ini sebelum Kemerdekaan, mengapa tidak diberi hak istimewa? Sumatera Barat juga mengenal hak2 rakyat : tanah pusako tinggi dan pusako rendah..mengapa tidak menjadi daerah istimewa? Saya tak tahu jawabannya.
Kedua, ada tulisan di dinding toko yang menggelitik di sudut pasar Malioboro terbaca oleh saya, bunyinya begini: ‘Setiap sudut kota ini mengandung kenangan bagi siapa saja yang pernah tinggal di Yogyakarta’. Ini kalimat indah, sangat menyentuh memori, membangkitkan kenangan manis di masa lalu, terutama bagi anda yang dulu suka mencari ‘sudut’ (berduaan). Ini sangat menyentuh abang2, ayuk2 yang dulu pernah menjadi siswa/mahasiswa di Yogya dan sekarang sudah pada menjadi pejabat, pengusaha, politikus, budayawan, atau lainnya tersebar di berbagai pelosok Indonesia dan di luar negeri bahkan ada yang sudah sampai ke liang kubur. Saya di Yogya dalam beberapa tahun terakhir ini sudah keliling Yogya, mulai dari Malioboro, belakang Kraton (Krapyak), Bantul, Imogiri, Pantai Selatan, Kaliurang di Utara, Prambanan di Timur, Kalasan, desa2 kecil di tengah sawah saya jelajahi naik motor sendirian/rental. Bilamana ditemui banyak ibuk2 membeli gudeg, sayapun ikut beli. Apa sih beda citarasanya dengan gudeg di tempat lain? Apa sih yang diomongkan orang2 sekitar? Waktu sampai di Imogiri (Pantai selatan), saya istirahat di warung, saya tanya pada pemilik warung apakah Sri Sultan pernah berkunjung ke sini? Dia jawab, hanya nanti setelah mangkat. Seumur hidup tak akan melihat Pemakaman Imogiri. Artinya, Sri Sultan tak pernah mengucapkan: Assalamu’alaikum ‘ala ahlid diyaar…wa nahnu insyaallahu bikum lahiqun! Begitulah masih kuatnya mitos di era modern.
Ketiga, Transportasi sudah jauh lebih maju. Bis kota Trans Yogya AC melayani hampir tepat waktu, lancar, ramah dan murah, setiap halte ada petugas yang mengurusi penumpang, pembayaran sudah boleh dengan QRIS atau Kartu Electronic di dekat sopir. Andong dan becak masih diizinkan beroperasi di Malioboro. Kereta api, bis dan pesawat nampak lancar keluar masuk DIY. Gojek, Grab dan kendaraan sewaan/rental semua tersedia. Selain transportasi hotel2 mewah bertebaran mulai dari Malioboro, Jl. Solo, jl Kaliurang bahkan puluhan Red Dorzz hingga luar kota. Pemukiman penduduk berkembang arah Utara dan Selatan, Timur dan Barat. Banyak sawah ditimbun dan perkampungan jadi pemukiman baru. Yogya yang sudah modern bertambah istimewa. Meskipun Yogya sudah modern, yang tak pernah pindah dari Pantai Selatan, tak pernah selesai kuliah di Yogya dibandingkan dengan anda, adalah Nyi Roro Kidul.
Keempat, Sikap rakyat jelata nampak sedikit lebih agak ‘keras’ dibandingkan dengan kondisi pergaulan sosial di tahun 1970an. Keras dalam arti lebih tegas, lebih tinggi suara dalam berkata, lebih kritis berpikir, lebih ketat dalam perhitungan harga barang, tetapi tetap menjaga kesopanan tata krama sejauh yang saya temui di berbagai tempat. Tidak asal ‘nrimo’ sebagaimana sikap kebanyakan orang Yogya di tahun 70an. Sebagai lelucon, pernah di waktu Sekaten tahun 1974, seorang mahasiswa UGM asal Batak menawar becak pada malam hari, kami yang dengar pada ketawa. Mas, piro ning Alun? tanya si Ucok ini tegas. Sekeeeet (Rp 50) kata Mas Becak lemah lembut. Si Ucok yang baru belajar b. Jawa menawar: Gimana kalau Swidak? Swidak=Rp 60 rupanya. Ucok tidak tahu dia menawar malah lebih mahal. Dia bahkan tidak tahu arti Swidak= sejatine wis wayahi tindak’ (sudah saatnya menghadap Tuhan). Ucok..Ucok..mungkin sekarang Ucok (swidak) sudah pensiun dari Mahkamah Agung RI.
Kelima, peraturan dan pengelola. Aturan Stasiun kereta api Nampak sangat ketat ‘melebihi Eropa’. Pernah saya minta izin masuk stasiun Yogya mau berangkat malam ke Jakarta naik kereta api hanya jadwal masuk kurang 1 menit sebagaimana tertera di tiket, petugas stasiun langsung melarang saya masuk, tunggu di luar. Dengan sabar dan berpangku tangan saya patuhi dalam 1 menit, dan kemudian saya dibolehkan masuk. Saya salut dengan aturan tersebut sudah melebihi aturan stasiun Gare du Nord di Paris yang tidak seketat itu saya alami. Kota Yogya sekarang sudah dikelilingi oleh jalan lingkar luar, toko2 dan rumah penduduk sudah ‘berkembang pesat’ hingga luar kota. Wonosari dan Bantul sudah jauh berkembang. Yang menjadi masalah aktual akhir2 ini ialah masalah sampah di Yogya yang sempat disidak oleh Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol, bahkan mengancam akan membawa kasus tersebut ke jalur hukum sesuai Undang2 No. 18 tahun 2008. Akibatnya Gubernur DIY (Ngarsa Dalem) dan Pj. Walikota (Sugeng Purwanto) merasa tak enak kena tegur. Gubernur DIY yang dulunya Raja Jawa sekarang menurut Undang2 ya harus hormat, patuh pada Menteri dan pada Wakil Presiden yang masih muda belia (Gibran Rakabuming).
Keenam, Akademik memang menonjol sejak dahulu. Universitas Gadjah Mada, UIN Yogya, Universitas Islam Indonesia (UII), UAD (Universitas Ahmad Dahlan), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), UNU (Milik NU) dan lainnya nampak maju. Sebagai anak Sumatera yang lama bersekolah di Yogya, nulai dari Sekolah Menengah PHIN (Pendidikan Hakim Islam Negeri 1975-1977) dan berulang lagi hingga beberapa tahun terakhir ini untuk menyelesaikan S3 setelah kuliah di Timur Tengah dan di Canada, saya merasa sangat berkesan dengan dunia pendidikan di Yogya. Terasa dampak dunia akademik pada lingkungan dan sikap masyarakat sekitar. Terasa di tengah masyarakat sikap saling menghargai, jujur dalam transaksi, sopan, ramah, menghargai waktu, dan hemat dalam ekonomi. Hemat dalam sikap, bukan hemat dalam arti harga barang yang sudah terpengaruh oleh inflasi, semua sudah pada mahal di Yogya.
Ketujuh, harga barang, makanan dan sewa kendaraan. Dibandingkan dengan harga tahun 1970an, hampir semua barang melonjak harganya hampir 1000 x lipat. Teh manis dulu Rp 5,-(1 gelas) sekarang Rp 5.000.- Makan di warung dulu Rp 25,- (1 piring) sekarang Rp 20.000,- Sewa becak dulu dari Terban (Jl. Kaliurang) ke Kraton Rp 50,- sekarang sudah Rp 35.000,- Bis kota (Trans Yogya sekarang dari Malioboro ke UIN di Jl. Solo tarifnya Rp 3.500,- (transit di dekat SGM/Kusuma Negara). Gudeg 1 porsi dengan lauk ayam sekarang sudah Rp 15.000,- di belakang Kraton. Ronde/Jahe panas sekarang Rp 10.000/porsi. Uang kuliah S3 saya di UIN Sunan Kalijaga Rp 7.000.000/semester, sementara di UIN Aceh hanya Rp 2.000.000/khusus perpanjangan waktu. Hanya saja Uang Ujian Terbuka di UIN Yogya lebih murah cuma Rp 15.000.000,- sedangkan di UIN Aceh 2x lipat yaitu Rp 30.000.000.- Kenapa perbandingannya dengan Aceh? Kenapa tidak saya buat di Jambi? Ya biar polar kutubnya Utara-Selatan. Memang semua sudah pada mahal di Yogya, maka pikirkanlah biaya hidup anak2 anda bila mau melanjutkan studinya di Yogya.
Kedelapan, apa yang istimewa di UIN Yogya? Kampusnya tertata rapi, gedung2 kuliah bersih, speda motor mahasiswa diparkir rapi, security berjaga terus, kuliah di berbagai fakultas berjalan lancar. Khutbah Jum’at pakai Bahasa Arab dan Inggeris sudah sejak lama bergantian. Saya pernah beberapa kali ke fakultas Syari’ah untuk mencari Profesor minta tanda tangan. Pernah jumpa Dr. Hamim Ilyas yang tepat janji. Pernah jumpa pula Prof. Syamsul Anwar yang terkenal itu, Dia nampak sederhana, suatu kali tegak berdiri di depan ruangan pintu kelas, mahasiswa disuruhnya duluan masuk kelas dan memanggil kawan2nya, sementara Prof. Syamsul menyandang ransel di punggungnya gaya anak muda, gaya Gibran. Istimewanya, S1 di UIN Yogya masih mendapat kulih dari guru besar, tetapi di UIN Jambi di masa saya mengajar, banyak guru besar dan Doktor ‘hijrah’ ke Pascasarjana, ada apa ya? Kenapa S1 sudah jarang diajari? Sebenarnya dulu nama ‘Guru Besar’ muncul karena adanya ‘guru kecil’, dan guru2 kecil adanya di S1. Guru Besar sebenarnya dibesarkan oleh S1dengan honor kecil juga. Sementara di pascasarjana itu mungkin ‘madu lebah’nya yang kental dan besar. Kenapa kau tinggalkan kami…..hai para GB Jambi?
Yang lebih aneh lagi, di internal fakultas Syariah UIN Yogya sendiri kenapa ada juga terdapat Program S2, S3? Apa bedanya dengan S2 dan S3 di Fakultas Pascasarjana dalam kampus yang sama? Saya belum tahu jawabannya. Syukurlah pada hari Kamis kemaren, di saat tulisan ini hampir selesai, datang penjelasan dari Prof. Sahiron (Direktur Pascasarjana UIN SUKA) bahwa S2 dan S3 di internal Fak. Syari’ah UIN SUKA adalah linier dengan jenjang S1, sementara S2 dan S3 di Pascasarjananya interdisipliner atau multi disipliner. Anda mau pilih S2 dan S3 di fakultas apa di kampus UIN yang sama? Artinya, anda jangan heran nanti, bila ternyata dijumpai ijazah mahasiswa S2 dan S3 UIN Yogya yang tamat pada tahun yang sama, tetapi ditanda tangani oleh Dekan yang berbeda, meski Rektornya sama. Bagaimana nanti bila ada alumninya jodohan? Sang suami S3 Pascasarjana, si isteri S3 Syari’ah padahal almamater mereka berdua ya sama, anak cucunya ‘bengong’. S3 itu kan sudah Doktor Filsafat (Ph.D), merangkum ‘pohon ilmu’, mana ada pohon disiplin ilmu2 yang bersifat linier? Educational Policy sometimes terasa aneh. Memang mata kuliahnya di Fakultas Syari’ah linier, tetapi output keilmuan Ph.Dnya mustahil linier? Bagi saya nampak seakan paradoks dengan paradigma integrasi-interkoneksi. Itulah contoh bukti istimewa dalam daerah istimewa.
Malioboro sudah padat ramai, tetapi turis asing agak jarang terlihat dibandingkan dengan tahun2 70an. Jl Malioboro biasa ditutup untuk kendaraan umum khusus pada hari libur,weekend, banyak wisatawan, banyak pameran music, sampai ada rumah hantu. Pasar Bringharjo makin ramai. Hanya beberapa bis kota dan andong yang masih dibolehkan lewat, sebab jalan2 penuh ramai sekali. Kendaraan anda, bila di Yogya, tidak akan diperbolehkan masuk lewat jalan ke Malioboro di hari libur, meskipun sekarang anda sudah kaya dan (mantan) pejabat. Mall, hotel2 dan supermarket, serta toko2 batik berjejeran sepanjang jalan Malioboro. Namun Jl. Mangkubumi, sebelum rel kereta api dari arah Tugu, masih kurang ramai dibandingkan dengan Malioboro. Semua kendaraan dari arah Mangkubumi tidak diperbolehkan langsung melintasi rel, tetapi harus berbelok ke arah Timur sebelum masuk ke Malioboro atau mau terus ke Kridosono dan Lempuyangan. Pasar Kembang masih ada. Pijat tradisional di emperan Malioboro mulai menjamur bagi pejalan kaki yang kecapekan. Stasiun Lempuyangan semakin bagus, ramai penumpang, bukan sekedar kereta barang lagi. Apa yang aneh di Yogya? Saya suka riset sana sini, tanya orang sana sini, ternyata hotel baru, Hotel capsule Rosalyne di deretan Jl. Malioboro milik orang Padang beristerikan orang Palembang, dan hotel tersebut sudah banyak di sekitar Malioboro. Sementara orang Padang yang jualan nasi dan batik lebih banyak lagi. Lebih aneh lagi, dari pengamatan saya yang hobby dagang, pedagang Yogya kurang kreatif bila dibandingkan dengan usahawan di Bandung misalnya. Bila ada yang jual batik, ya batiiiik semua. Bila ada yang jualan Bakpia, yaa Bakpia semua. Tidak variative, kurang innovative.
Menurut imaginasi saya, ya karena Yogya kota Budaya, mengapa tidak dicoba pamerkan produk batik dari daerah2 lain (dalam Mall misalnya), agar terlihat keunikan dan cita rasa seni bagi turis asing. Berbagai batik Nusantara sebaiknya ditampilkan dengan segala bentuk unik kesenian daerah masing2, dihadirkan tari2an (live) daerah agar turis ‘melongo’ melihatnya. Ditampilkan batik Palembang, pakaian Minang, Jambi, Minahasa, Batak, Aceh, Maluku dan bila dibolehkan tampil juga orang asli Irian berKoteka. Wah malah..menarik menurut saya, semua dikurung dalam Mall serba AC, dilengkapi dengn voucher belanja dan Food Court. Kenapa tidak ada ide semacam itu? Kenapa dibiarkan dollar lewat saja dan kartu Visa dari turis mancanegara pergi tanpa transaksi? Padahal saya tanya pada seseorang di belakang Ramai Mall di Malioboro/ dekat Jl, Dagen sewa Mall itu ada yang mencapai 1.3 M. Pingin rasanya saya buka usaha di Yogya, tetapi waktu sudah kasip (time is due), nampaknya Malaikat maut tentu akan lebih suka baca2 usia saya (yang lahir di Pekan Baru 1957) ….malaikat tentu tidak ditugaskan Tuhan membaca tahun disertasi saya (2024). Bila kita sudah meninggal, Yogya yang istimewa akan hancur kata al-Qur’an: Idzaa zulzilatil ardhu zilzalahaa…wa akhrojatil ardhu atsqalahaa…wa qaalal insanu maa lahaa? (apabila bumi digoncang dg dahsyat, bumi memuntahkan isi kandungan perutnya, lalu manusia bertanya: Mengapa bumi menjadi begini?) Syllogisme Aristoteles juga memperkuat al-Qur’an: ‘Di hari kiamat bumi akan rata, Yogya di atas bumi, maka Yogya juga akan rata’. Yogya yang istimewa nanti juga akan sirna…bye..bye Yogya.
Ya, sudah terlalu panjang tulisan Jum’at ini, mungkin sudah banyak tissue yang jadi basah karena air mata bagi sebagian pembaca. Itulah Yogya dulu dan kini. Kesimpulannya, hidup itu indah, Yogya itu istimewa, dan kita semua adalah orang2 yang beruntung…….beruntung pernah menimba ilmu di kota Gudeg. Terimakasih pada almamater, terimakasih pada guru, walaupun sekarang sudah ada guru yang lebih muda usianya dari pada usia saya. Kini hanya tinggal kenangan manis kita di hari tua. Kenangan manis sisa dari masa muda. Kenangan yang tak sempat diceritakan pada semua orang. Kenangan indah masa2 di sekolah dalam lagu Chrisye. Sekian, Mohon pamit, maaf bila ada kata2 yang salah, wasssalam. Amhar Rasyid.