Oleh : Amhar Rasyid
Jambi, 3 April 2026
Assalamu’alaikum wr,wb Bapak2/Ibuk2 dan Adik2 kawula muda generasi bangsa baik Muslim maupun non-Muslim di mana saja berada. Memang banyak tempat wisata indah di dunia: Grand Canyon di Colorado, Gunung Everest tertinggi di dunia, Hawaii, Bali, Harau di kampung saya Payakumbuh dan lainnya, tetapi di deretan Bukit Barisan ada pula rupanya suatu dusun unik yang sayang bila anda tak kunjungi, namanya desa Jangkat. Jangkat adalah sebuah desa di ujung Barat Daya Provinsi Jambi berbatasan dengan Prov. Bengkulu. Ia adalah salah satu kecamatan di Kab. Merangin, Provinsi Jambi. Tidak cukup rasanya bila suatu saat anda berwisata ke Jambi bila tidak mengunjungi desa Jangkat: udaranya dingin, hamparan kaki pegunungan menghijau dan mempesona. Mungkin bagi sebagian penduduk Jambi nama Jangkat identic dengan ‘kolot’, ‘udik’ karena ia terletak jauh dari kota Jambi dan dulu transportasi daratnya antara lain kuda beban.
Namun dalam tulisan berikut bukan wisata alam yang akan lebih utama untuk dibicarakan tetapi secercah pemikiran yang terpantik dari uniknya alam Jangkat dan relevansinya dengan cara berpikir manusia di alam modern terutama di bidang keagamaan. Desa alam Jangkat, dalam tulisan ini,hanya sebagai pemantik pemikiran dari mana saya mengajak anda merenung. berfilsafat agak sejenak usai lebaran meskipun perang Iran melawan Amerika-Israel masih terus berlanjut. Pertanyaannya ialah: Apa dan bagaimana indahnya alam desa jangkat? Apa yang unik di sana? Dan apa pelajaran yang mungkin bisa ditarik dari diskusi kita dari aspek kagamaan dan budaya? Bahan diskusi saya ambil dari hasil wawancara dengan beberapa putra daerah, interview dengan beberapa responden lokal serta bertanya pada ‘Mbah’ Google.
Pertama, indahnya Desa Jangkat. Wisata alam dan agrowisata. Jangkat adalah desa indah, tersembunyi letaknya dikelilingi oleh TNKS (Taman Nasional Kerinci Seblat), dengan jarak sekitar 234 (Ji Sam Soe) km dari kota Jambi. Banyak tempat menginap seperti homestay dengan tarif kamar sekitar Rp 250.000/malam. Berkendara mobil pribadi dari Bangko (kota di jalan lintas Sumatera antara Jambi dan Jangkat) bisa memakan waktu sekitar 2 jam agar sampai di Jangkat. Jalan raya menuju Jangkat dari kota Bangko pada umumnya sudah diaspal, mulus dengan hutan sepanjang jalan dan jurang, tidak begitu lebar tetapi banyak tikungan dan tanjakan curam. SPBU utama tidak ada dijumpai, kecuali penjual minyak Pertalite eceran. Lokasinya aman dari preman, tempat parkir bagus, tarif parkir murah, dan masyarakat lokal ramah2. Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Jambi sudah beberapa kali diadakan di sana, dan telah banyak penduduk asli yang menyelesaikan kesarjanaannya di kota Jambi. Dikatakan juga bahwa di Muara Madras (ibu kota Kecamatan Jangkat) terdapat sebuah masjid tua yang mana tiang utamanya (1 buah) terbuat dari kayu hutan super besar bagian bawah tiang, perlu jangkauan 4 orang dewasa saling berpegangan tangan untuk melingkarinya. Kata Mahyuzar, dulu untuk menarik kayu tersebut dari hutan dibutuhkan waktu 3 bulan. Ini mungkin mirip orang2 Mesir kuno membangun Pyramid. Juga di tempat saya menginap di desa Danau Pauh, tiang rumah Homestay terdiri dari tiang kayu hutan yang pasti tidak akan anda jumpai di kota2 besar, namanya kayu Asal. Tiang kayu panjang 6 meter tanpa sambung, lebar 20 x 20 cm, kata sdr. Mastori (Pemilik Homestay) harga lokal sekarang 1 tiang = Rp 1.000.000 diantar ke rumah oleh penjual dari hutan. Bayangkan, katanya, di hutan 1 pohon besar untuk kayu tersebut bisa dibagi, digergaji, untuk membangun 1 rumah (sekitar 8-10 tiang) dengan panjang 6 m: alangkah besarnya pohoooon. Kami di Jambipun tidak punya akses lagi untuk kayu2 hutan bermutu seperti itu. Itulah alam hutan Jangkat.
Mistik juga masih ada. Pernahkah anda mendengar nama dusun Serampas? Penduduk desa menyebutnya Serampeh yang terkenal notorious karena katanya dulu disana tempat khusus sangat terisolir di ujung negeri untuk menuntut segala macam ilmu sihir, hingga sangat terkenal sampai ke Sumatera Barat. Seorang putra daerah Jangkat bernama Dr. Mahyuzar Rahman (Dosen UIN Jambi) mengatakan bahwa dulu sekitar tahun 1964 Bung Karno ingin berobat ke Jangkat dengan mengirim utusan yang membawa surat dari BK di bawah pimpinan seorang komanadan Bernama Pak Giwang, dan Dr. Mahyuzar mengaku pernah melihat copy surat tersebut katanya. Dalam dugaan saya, apakah Bung Karno mau berobat ke Sarampeh atau mau menuntut ilmu mistik, atau ilmu penakluk wanita? Entahlah. Sekarang penduduk desa Serampeh, kata Mahyuzar, sudah semakin maju, semakin menyadari arti penting pendidikan. Namun sayangnya dari Serampeh belum ada juga jalan raya atau jalan sepeda motor yang menembus ke Provinsi Bengkulu walaupun keduanya sudah dekat berseberangan sebab dibatasi oleh alam hutan lebat yang masih ‘angker’.
Kedua, uniknya alam Jangkat. Selain gunung Masurai, banyak juga terdapat danau2 kecil seperti danau Pauh yang berbahaya untuk direnangi sebab kedalamannya bisa mencapai 40-60m kata Mastori, kamudian ada Danau Kecil, Danau Tinggi, dan Danau Dipati Empat (danau terbesar), ada air danau yang sangat jernih sehingga nampak jelas ikan2 berenang di jauh kedalamannya, ada telaga biru, dan air terjun Sigerincing. Hasil alam utamanya kayu manis, kopi, beras, kentang dan sayur mayur. Mungkin anda tak akan berani mandi sore apalagi mandi pagi di Jangkat sebab dinginnya air bak mandi akan membuat jantung di dada anda gemetaran.
Bagaimana dengan status kepemilikan tanah? Dari hasil wawancara saya dengan pemilik homestay (Mastori), lokasi yang dimilikinya saat ini tidak dibeli tetapi diperuntukkan oleh tetua adat untuk satu perumahan. Bila ada keluarga baru yang ingin mendirikan rumah/homestay pula, maka tetuo adat juga akan mempertimbangkannya. Artinya tanah tidak diperjual belikan, apalagi dijual kepada non penduduk lokal. Masyarakatnya masih sangat komunal. Masyarakat juga belum dikenakan aturan IMB (Izin Mendirikan Bangunan) bahkan belum dikenai PBB (Pajak Bumi dan Bangunan). Saya menduga bila system seperti ini berlanjut atas pembagian tanah di sekitar danau (lokasi wisata) maka ia rentan konflik di masa depan. BPN (Badan Pertanahan Nasional) harus segera turun tangan untuk mengaturnya.
Terakhir, apa pelajaran yang bisa dipetik dari cerita desa Jangkat? Ini yang lebih penting. Sebagai insan akademis, sepatutnya kita bertanya dalam hati: apa beda antara arti ‘hidup’ dan arti ‘kehidupan’? Hidup, menurut saya, utamanya adalah pemenuhan sandang pangan dan papan. Ia masih pada taraf pemenuhan bagian bawah perut dari ‘udel’. Sementara ‘Kehidupan’ lebih bermakna kualitatif substansial. Kehidupan menyangkut makna hidup, pengembangan wawasan, pendidikan, cara bergaul yang lebih urban, rational, butuh sport dan hiburan, wisata, medis, kosmetik, shopping dan oraganisasi. Jadi arti Kehidupan lebih kompleks, lebih bermakna dari pada sekedar pemenuhan bagian bawah perut saja.
Kemudian pada pembahasan selanjutnya saya juga berpikir bagaimana sebaiknya cara ‘menggelitik’ kerangka pikir mahasiswa dari pedesaan agar mereka usai kuliah lebih berwawasan dibandingkan dengan penduduk lokal? Dan terakhir, secara religious-filosofis, apa dan bagaimana manusia sebagai subjek membuat differensiasi dengan realitas? Dalam buku bagus berjudul Seni dan Kondisi Post-Human karangan Prof. Bambang Sugiharto (Yogya: Kanisius, 2024), p.24 yang mengutip filosuf Jacques Derrida dari dalam tulisannya disebutkan bahwa yang memberikan identitas pada manusia sebagai subjek adalah efek dari jejak differensial, yaitu jejak dari aneka interaksi manusia dengan realitas. Lihat, ‘Speech and Phenomena” dalam Derrida Reader, ed., Peggy Kamuf, (New York: Columbia Univ, 1991),26-27.
Nah, ini sulit untuk dijelaskan dari desa Jangkat. Tadi sudah dijelaskan bahwa ada perbedaan antara arti kata ‘hidup’ dan ‘kehidupan’. Bila dibahas lebih lanjut, kata ‘kehidupan’ harus dilihat dari perspektif bagaimana manusia memaknai dirinya sebagai subjek. Bila Derrida yang kita pedomani, maka identitas manusia adalah efek dari jejak differensial. Artinya, untuk masyarakat Jangkat yang masih system komunal nampaknya efek differensial belum nampak begitu disadari: realitas alam dan diri sebagai subjek masih menyatu. Langgam dan irama alam seolah ‘membawahi’ subjek manusia. Pembagian tanah perumahan oleh para sesepuh adat sebagai otoritas masih ‘diluar’ system peraturan pertanahan. Sementara masyarakat perkotaan umumnya yang semakin individualis, effek jejak differensial bagi mereka sudah semakin kentara. Realitas urban dalam arti kehidupan kota telah menyebabkan differensiasi semakin intens. Banyak individu sudah menyadari konsekwensi hukum atas dirinya, hak2 individu dalam sitem pertanahan, hak2 berpolitik yang semakin individualistic dibandingkan dengan masyarakat pedesaan yang umumnya masih paternalistic. Arti hidup sebagai manusia di pedesaan, terutama di Jangkat, masih berfokus pada apa yang disebut Plato dengan epithumetikon (nafsu/Hasrat): ia masih banyak berfokus pada ‘bagian bawah perut’. Dalam studi filsafat Plato diketahui adanya 3 strata sosial: Yang paling bawah, yang menengah Thumeidos (semangat/emosi) dan yang paling atas adalah Logistikon (Rasio/akal). Yang paling bawah hanya tahu makan, minum, dan sex (bagian perut bawah), sementara yang bagian tengah (emosi) telah menyadari arti penting harga diri sehingga mau menjadi tentara, bela negara, kesatria. Dan yang paling tinggi adalah mereka yang telah berfilsafat, bijak memikirkan hakikat dirinya, dalam bahasa Derrida di atas: telah meyadari efek jejak differensial antara dirinya dengan realitas.
Sampai di sini, sebagai kesimpulan dan hikmah yang bisa dipetik, lalu kita bertanya bagaimana sebaiknya sikap dosen dan sikap ulama dalam mendidik mahasiswa dan umat dalam membantu Pemerintah bagi peningkatan SDM (Sumber Daya Manusia)?
Usulan saya: dalam ruangan kuliah, dosen jangan lagi mengindoktrinasi kebenaran, sehingga mahasiswa belum diarahkan untuk berpikir mandiri. Dosen sebaiknya bertindak sebagai ‘penggelitik’ cara berpikir mahasiswa, bukan sebagai pemberi doktrin. Sebab ilmu pengetahuan yang diajarkan dosen pada hakikatnya bukanlah KEBENARAN itu sendiri tetapi HASIL tangkapannnya atas kebenaran. Hasil sementara. Besok atau di masa depan Hasil tangkapan si dosen akan berobah lagi, jauh lebih mendalam ilmunya, jauh lebih bijak dalam memberi kuliah. Hasil tangkapan pengetahuan oleh dosen bisa disebut dengan Horizon dalam istilah Gadamer, maka sebaiknya Horizon dosen didialogkan dengan Horizon2 mahasiswa sehingga terjadi Peleburan keduanya. Dosen diharapkan bertanya kepada mahasiswa: menurut kamu bagaimana? Menurut kamu bagaimana? Pupuk rasa berbeda per individu, pupuk pemahaman yang berbeda dengan mahasiswa2 tentang suatu materi kuliah yang diberikan! Artinya kuliah yang diberikan lebih bersifat ‘pemantik’ cara berpikir mahasiswa dan dosen, dan mahasiswa harus dibiarkan berpikir kreatif, meskipun pendapatnya berbeda dengan dosen, berbeda untuk dirinya sendiri dalam fase2 selanjutnya, agar terwujud apa yang dikatakan oleh Derrida di atas: mahasiwa sebagai subjek akan lebih menyadari dirinya sebagai efek dari jejak differensial baik realitas yang ditemui dalam kampus maupun yang di luar kampus terutama di kampung halamannya seperti Jangkat. Mahasiswa yang berjumlah katakanlah 40 orang diharapkan akan mampu mendefenisikan dirinya sendiri2, merenungkan materi2 perkuliahan yang akan berguna bagi peningkatan kulitas berpikirnya, kualitas horizonnya. Singkat kata, dosen adalah orang yang berusaha menggelitik cara berpikir mahasiswa agar meningkat dari kesadaran Epitumethikon hingga suatu saat bisa mencapai Logistikon. Bila dosen hanya 1 orang dalam ruang kuliah, maka dari 1 akan menjadi 40 interpretasi yang saling berbeda-beda atas materi kuliah yang sama. Dengan cara kuliah seperti ini, mahasiswa di masa depan akan jaya. Itu kiat kita untuk membangun negara, hasil renungan saya dari danau Pauh Jangkat.
Dalam sebuah YouTube pernah saya lihat seorang Profesor hukum di Harvard mengusir mahasiwinya yang sedang duduk terpisah dari teman2nya dalam kelas sebelum kuliah dimulai. Sambil menunjuk dengan jarinya, Profesor itu bertanya: ‘Eh you..what is your name? Get out! I say, get out! katanya. Mahasiswi cantik itu heran. Seisi ruangan menjadi heran pada sikap Profesor tersebut. Apa yang salah dengan mahasiswi itu? Kenapa dia tiba2 diusir? Lalu sang Profesor bertanya pada mahasiswa2 yang masih ada dalam kelas: Kalian lihat saya sudah mengusir seorang teman kelas kalian, kenapa kalian diam saja? Kenapa tak ada kalian yang protes? Apakah itu adil? Kalau begitu apa itu Keadilan? tanyanya. Dia membangkitkan cara berpikir mahasiswa rupanya. Mahasiswa diajaknya berdiskusi, diajaknya bertukar pikiran, diajaknya untuk menyalahkan dosen. Sebetulnya bukan menyalahkan dosen, tetapi mempersoalkan pemahaman mahasiwa tentang konsep keadilan. Begitulah kiat salah seorang dosen di Universitas Harvard, Universitas terkenal dan termahal di dunia dimana Obama pernah kuliah. Anda, dosen2 muda, bagaimana kiat anda mengajar hukum Islam?
Dari pinggir danau di Jangkat saya juga semakin berkontemplasi: bagaimana sebaiknya sikap umat terhadap isi ceramah2 agama oleh pemuka agama? Sikap yang saya rekomendasikan untuk umat ialah anggaplah ceramah agama itu seumpama sebuah korek api yang menyala. Penceramah atau khatib atau kiyai memngeluarkan korek api dari dalam kantongnya, dihidupkannya, dan menyala. Tetapi umat jangan membakar kambing dengan api korek tersebut, umat harus menjadikan api ustaz, api kiyai sebagai sumber api dari mana umat harus menyalakan api unggun sendiri hingga api membesar kemudian baru membakar kambingnya. Artinya apa? Anda sebagai umat, janganlah mengangguk saja bila mendengar ceramah, menerima totalitas kebenaran yang disampaikan oleh penceramah, tetapi jadikan isi cermahanya sebagai sumber pemahaman agama anda untuk lebih ditafsirkan dan dimaknai agar ajaran agama lebih berkualitas untuk hidup pribadi anda. Jadi tafsir isi ceramah agama, atau isi khutbah diserahkan pada diri anda sendiri: bagaimana penafsiran dan pelaksanaannya dalam hidup agar efek jejak differensial semakin kentara bagi diri anda sebagai individu. Apa yang terjadi di tengah umat selama ini, dalam penilaian saya, isi ceramah Ustaz adalah kalimat final, Shirotol mustaqim, umat tak boleh menyimpang darinya. Memang benar begitu, tetapi itu dalam hal ‘aqidah, bukan dalam hal mu’amalat (seluk beluk duniawi terkait realitas). Setiap mendengar ceramah agama, atau khutbah, coba pilah mana aspek aqidah dan mana aspek mu’amalat untuk menghadapi urusan duniawi. Setelah mendengar aspek duniawi dalam ceramahnya, lalu kita buat tafsiran dalam diri: kita tanya diri sendiri, aku dapat apa dari ustaz ini? Bagaimana agar ajarannya berguna dalam kehidupan agar kehidupan bergamaku lebih bermakna selanjutnya. Jadi bukan isi ceramah agama itu sebagai AKHIR kebenaran, tetapi sebagai AWAL untuk memikirkan kebenaran di bidang mu’malat (mundane affairs). Bila hadirin berjumlah 400 orang dalam satu ceramah agama, misalnya, maka api ustaz yang 1 akan menjadi 400 api2 unggun…semua akan membakar kambing2 dengan caranya sendiri2. Apakah ceramah2 ustaz itu Kebenaran dalam arti filsafat? Ceramah2 agama biasanya menyampaikan kebenaran transcendental Absolut dari dalam Kitab Suci, tetapi penafsirannya oleh banyak da’i merupakan Kebenaran relative. Kebenaran relative akan semakain bagus dan meluas bila didialogkan antar 2 pihak, dua arah, bukan satu arah saja. singkat kata, isi ceramah2 agama harus kita pilah antara Kebenaran Absolut dan kebenaran relative.
Sebab Kebenaran, kata Gadamer, bukanlah sebuah benda yang terpisah dari diri kita (seumpama bola) tetapi ia adalah hasil tangkapan manusia atas kebenaran. Kebenaran bukan relative, tetapi hasil tangkapannya oleh kita yang bersifat relative. Maka Pemahaman (Understanding/Verstehen) atas kebenaran bukan dipahami dalam kepala (cognitive), tetapi setelah ia dipraktekkan, diwujudkan di alam nyata. Jadi Pemahaman atas Kebenaran itu berlangsung di dalam diri kita, bukan hanya di dalam kepala kita. Maka pemahaman anda atas kebenaran tentang cerita desa Jangkat bukan hanya dengan membaca tulisan WA dari Amhar, tetapi anda harus terjun langsung ke Jangkat: alami sendiri. Bila dikaitkan dengan kehidupan religious, isi ceramah2 agama harus anda terapkan dalam alam nyata bukan hanya dengan menganggukkan kepala di dalam masjid. Dengan cara begini kehidupan beragama akan semakin jaya. Mu’az bin Jabal tatkala hendak diutus oleh Nabi ke Yaman direkomendasikan Nabi untuk berijtihad bila tidak dijumpai nash dan Sunnah. Artinya kenyataan di lapangan (tanah Yaman) akan membuktikan Pemahaman Mu’az yang sebenarnya atas Kebenaran Qur’ani dan Sunnah Nabi yang tak mungkin konflik. Bila terasa ada konflik maka ada 2 kemungkinan: apakah salah dalam memahami ayat atau salah dalam menilai situasi. Ini yang jarang dipahami orang dari balik kisah Mu’az. Maka Pemahaman atas Kebenaran itu ada di Lapangan dan dari efek jejak membuat differensiasi dengan realitas di lapangan, kata Derrida, manusia semakin menyadari dirinya sebagai subjek. Da’i berceramah dari masjid2, perkuat ‘aqidah dan ibadah dan jama’ah mengangguk di dalam masjid2, tanpa diwujudkan isi ceramah mu’amalatnya di lapangan apalagi banyak aspek mu’amalat modern yang bersifat digital dimana algorithma elektronik jarang dipahami oleh para da’i: disitulah akar permasalahan ajaran Islam kurang membumi. Perlu dijelaskan bahwa Algorithma elektronik ialah serangkaian instruksi logis dan sistematis untuk memproses data, melakukan perhitungan dan menyelesaikan masalah secara otomatis yang ada dalam berbagai perangkat computer atau HP kita semua. Sekian kontemplasi saya dari alam Jangkat yang indah. Hebat desa Jangkat. Dari Jangkat kita sudahi berfilsafat.
Bapak2/Ibuk2 dan Adik2 semua, banyak inspirasi dari alam Jangkat, mudah2an suatu saat anda sempat berwisata kesana sekalian berfilsafat. Itulah sekedar kontemplasi saya, mudah2 an anda tidak pusing membacanya. Saya mengirimkan cerita ini ke dalam HP anda bukan pula untuk diikuti tetapi untuk direnungkan menjadi suatu pemikiran yang lebih bagus dari ide saya ini, sebab dari hasil Peleburan Cakrawala antar kitalah diskusi ini akan semakin berkualitas. Terimakasih telah membaca. Wassalam, Amhar Rasyid, Jambi.