HATI YANG tak TERTUNDUKKAN: ESCAPE FROM MOGADISHU


Oleh: Amhar Rasyid
Jambi, Jum’at : 28-3-2025

Assalamu’alaikum wr,wb.
Bpk2/Ibuk2/Adik2 pembaca setia, Jum’at ini kita akan bercerita tentang film Korea yang banyak disenangi orang, baik di Korea sendiri maupun di manca negara. Ini bukan film percintaan remaja Korea, tetapi film Perang Saudara di Somalia. Lokasi filmnya juga bukan di Korea tetapi di Afrika, shooting film dilakukan di Marokko tetapi locusnya di Mogadishu (Ibu Kota negara Somalia). Filmnya bagus, banyak sekali review (ulasan) terhadapnya bahkan dari orang Barat sendiri, saya telah menontonnya di tvN hingga terharu, dan anda bisa pula nontonnya sekarang di Netflix, mana tau nanti hati anda akan tersentuh oleh cerita sedihnya. Ujung Film itu akan berakhir dengan 4 kata: ‘hati manusia tak tertundukkan’.

Escape From Mogadishu artinya Keluar (Selamat) dari Mogadishu. Dua orang Duta Besar (Korea Utara dan Korea Selatan) beserta rombongan mereka masing2, yang telah mengalami derita bersama di tengah kecamuk perang, sehidup semati di negeri orang, akhirnya berhasil menyelamatkan diri dengan selamat ke negara tetangganya Kenya, mereka lalu disambut oleh rombongan petinggi Kedubes masing2 di Bandara Kenya, tetapi disitulah hati tersentuh, di saat berpisah menuju bis masing2 yang menjemput mereka, kendati sedikit takut namun berusaha juga melirik di balik mata sipit Korea mereka, nampak sekali hati kedua Duta Besar ‘tak tertundukkan’ karena derita telah sama2 dialami bersama. Derita di medan perang, senasib sepenanggungan, hidup atau mati di ujung senjata pemberontak Somalia. Akhirnya bisikan hati di balik pengalaman pahit membuat mereka bersatu secara manusiawi, meskipun Korea Utara dan Korea Selatan tetap musuh bebuyutan.

Bila sedemikian menariknya cerita (scenario) filmnya, elok kita buat beberapa pertanyaan lebih dulu. Bagaimana alur cerita film Korea ini sehingga ia begitu menarik? Apa pesan moral yang ingin disampaikan oleh film tersebut? Selain pesan moral, apa lagi yang bisa dipetik untuk kita? Bagaimana bila film itu dilihat dari segi filsafat dan ajaran agama Islam? Ini saja pertanyaan yang nampaknya perlu dijawab, agar tulisan saya ini jangan terlalu panjang, karena banyak pembaca setia yang mengusulkan agar diperingkas.

Mari kita mulai. Negara Somalia yang berpenduduk mayoritas Muslim Hitam dilanda Perang Saudara di awal tahun 1990an. Presiden yang berkuasa saat itu bernama Siad Barre dianggap sebagai diktator dan dituduh korupsi, maka ia ingin digulingkan oleh kelompok Pemberontak pimpinan komandan militer Muhammed Farrah Aidid. Akibatnya situasi Somalia menjadi kacau, senapan, granat, bom, meletus di mana2, anak2 kecilpun seusia siswa SD memanggul senjata, tentara pro Pemerintah nampak tak kuasa menjaga stabilitas dalam negeri, orang pada ketakutan, ditembaki seenaknya, pemberontak bersorak2, gedung2 pada hancur, jalan2 diblokir oleh kelompok bersenjata dengan mobil2 melintang, toko2 dijarah, air kran tidak ada, listrik mati, persediaan makanan menipis, hubungan telpon putus, mayat bergelimpangan di jalan2, tetapi solat di masjid2 berjamaah tetap dilaksanakan hingga berjubel ke pinggir jalan raya dan senapan2 ditaruh dekat sajadah. Usai melaksanakan solat seperti itu, rasanya ukhuwah Islamiyah tidak ada lagi, misi Rasul Muhammad saw jadi sirna, ajaran al-Qur’an terinjak2. Kita boleh bertanya: Bukankah mereka mengakhiri solat dengan bacaan Assalamu’alaikum? Lalu apa tujuan bacaan Assalu’alaikum di akhir solat? (Selamat atas kamu: menoleh ke kanan, Selamat atas kamu: menoleh ke kiri). Siapa yang dimaksud mereka agar selamat? Menangis hati saya melihat orang Islam solat tak tahu arti yang dibacanya, termasuk Imam. Usai membaca Assalamu’alaikum…senjata laras panjang meletus lagi…orang sipil ditembaki tanpa diadili. Bacaan solat kita umumnya masih sebatas di mulut. Tanyai diri anda juga!

Lantas apa hubungan film tersebut dengan negara Korea? Korea Utara dan Korea Selatan adalah dua negara di Asia Timur yang terletak jauh ribuan kilomoter dari Somalia. Tapi mereka belum mendapat kursi perwakilan negaranya di markas PBB di New York. Oleh sebab itu kedua negara ‘ginseng’ itu masing2 mengirim Duta Besarnya ke Somalia sekitar tahun 1980an guna berdiplomasi berebut untuk mendapatkan suara terbanyak dari negara2 Afrika, sebab mayoritas suara di PBB dikuasai oleh orang2 perwakilan Afrika kulit hitam. Hebat. Sutradaranya adalah Ryoo Seung-wan. Duta Besar Korea Utara bernama Rim yong-su yang diperankan oleh Jo in-sung. Sementara Duta Besar Korea Selatan bernama Han sin-seong yang dibintangi oleh artis ternama Kim Yoon-seok. Masing2 Dubes juga memiliki konselor dan Sekretaris: Konselor Korea Utara bernama Tae jun-Gi yang dibintangi oleh Koo Kyo-hwan. Sementara Sekretaris Korea Selatan bernama Gong Soo-chu yang dibintangi oleh Joung Man-sik. Lokasi kedua Kedutaan Korut dan Korsel di kota Mogadishu agak terpisah jauh. Para perempuan Korea di luar kedutaan nampak memakai kerudung mungkin karena takut dengan tentara pemberontak Somalia (makhluk Allah), mereka bukan karena takut pada Allah (Khalik). Apa yang TAK nampak oleh pak Amhar? Yang TIDAK nampak berkeliaran di dalam Kedutaan di sana oleh saya ialah babi dan ginseng (ah bercanda).

Lantas bagaimana cara mereka keluar dengan selamat (Escape) from Mogadishu? Duta Besar Korea Utara (Rim) berusaha kesana kemari mencari perlindungan di bawah hujan peluru. Kedutaan mereka pernah dimasuki pemberontak, perhiasan2 wanita dilucuti, jam tangan mewah, gelang emas, kalung, barang2 tv dan lainnya dirampok, pokoknya kacau, pekik histeris menyayat hati. Dubes Korea Utara ini mula2 pergi ke Kedutaan Mesir mencari pertolongan untuk keluar dari Mogadishu, karena hubungan baik diplomatic antara Korut dengan Mesir tetapi usahanya gagal. Kemudian Dubes Rim pergi lagi mencari bantuan ke Kedutaan China dan mobilnya dalam perjalanan dihujani dengan peluru, tetapi usahanya gagal lagi. Akhirnya habis upaya, terpaksa Dubes Rim datang ke Kedutaan Korea Selatan (musuh bebuyutan negaranya) sambil membawa beberapa perempuan dan 3-4 orang anak2. Mereka semua berdiri di luar kedutaan, ketakutan ditembak, sambil mengentuk pintu Kedutaan Korsel, memohon…..bantulah kami….lihat kami membawa Wanita2 dan anak2…lihatlah..kami tegak di halaman luar…..bantulah kami…tolong bukakan pintunya…tolonglaaaaaaaah.

Dari ruang atas Kedutaan, Duta Besar Korsel (Han) awalnya tak percaya melihat mereka di luar pagar, jangan2 nanti mereka berniat jahat di dalam Kedutaan kita katanya. Lama bernegosiasi keduanya dari balik pagar beton, Dubes Korsel (Han) akhirnya mengintip ke luar dari lobang pagar, ee nampak anak2 menggigil ketakutan, menangis, berjejer diapit oleh perempuan2 Korut, ada juga beberapa laki2 semua gemetar ketakutan, sementara tembakan terus meletus di sekitar kedutaan itu. Akhirnya setelah berdiskusi pihak Korsel dengan sesama warga internal Kedutaan, terbit juga iba hati Dubes Korsel (Han) tersebut, lalu diizinkanlah tamu2 dari Kedutaan Korut ini masuk, pintu gerbang Kedutaan Korselpun akhirnya dibuka dan serombongan orang pada berlarian masuk tetapi semuanya tetap digeledah badan2 mereka dan barang bawaannya karena memang kedua Korea saling curiga..……

Terus bagaimana lagi Pak Amhar? Para tetamu Korut ini dihidangkan makan, jamuan makan bersama, saling berhadap2an berjejer di meja panjang sambil duduk sekitar 40 orang. Dubes Korut (Rim) malu2 mau makan atau takut kalau diracun. Karena Dubes Korut ini mengidap sakit diabetes, Dubes Han (Korsel) memberikan insulin kepadanya. Tiba2 seorang anak perlu ke wc..eee rupanya air kran mati dan terpaksa tidak disiram, si ibuk tuan rumah (Korsel) pun marah2. Polisi penjaga Kedutaan Korsel pun minta uang jaga lebih banyak sebab jumlah orang yang dilindungi semakin bertambah, Dubes Korsel tak cukup duit, akhirnya Polisi keamanan itupun pada pergi meninggalkan Kedutaan Korsel. Situasi semakin tak terkendali, senapan tetap meletus di mana2, kedutaan Korsel ini juga tak luput kena tembak.

Akhirnya Dubes Korsel (Han) berinisiatif mencari bantuan ke Kedutaan Italy, sebab Italy dan Korea Selatan punya hubungan diplomatic. Setelah lama bernegosiasi, Dubes Italypun bersedia membantu mereka keluar Mogadishu tetapi dengan syarat jangan diikutkan rombongan Dubes Korut. Maka Dubes Korsel berdiplomasi menjawabnya setelah dibisiki sebelumnya oleh Kang dae-jin (intel Korsel), sambil mengatakan bahwa orang2 Korut itu telah membelot ke Korsel, mendengar hal itu Dubes Italy percaya dan akhirnya rombongan Dubes Korut tersebut dibolehkan ikut oleh Dubes Italy untuk Escape. Sorenya jam 4 semua sudah stand by di bandara Mogadishu, sebab pesawat militer dijanjikan akan datang menjemput mereka dan membawanya ke Kenya. Mendengar kebaikan hati Dubes Italy, Dubes Korsel dengan gembira pulang ke Kedutaannya menjemput semua rombongan termasuk pihak Korut dan mobil2 sedan mereka dilapisi buku2 penangkis tembakan. Di saat mengemasi barang bawaan, terdengarlah suara azan berkumandang, Dubes Korsel yang sudah paham kebiasaan orang Islam di Mogadishu langsung memerintahkan rombongan supaya cepat2 berangkat mumpung pemberontak lagi solat, aman situasi. Di saat pelarian rombongan tersebut, mata si pemberontak yang sedang solat melirik kepada mobil2 sedan Korea yang lewat tersebut, sementara senapan api mereka ditaruh di dekat sajadah di emperan masjid. Rombongan mobil Dubes Korea itu beberapa kali dihujani peluru, akhirnya mati kena tembak Konselor Korut (Tae jun-Gi) yang lagi nyetir, tetapi Kedua Dubes selamat, anak2 dan perempuan semua selamat..mereka semua berhasil naik pesawat militer. semua duduk di lantai beserta bule2, Dubes Korut (Rim) mengucapkan terimakasih kepada Dubes Korsel (Han). Maka tinggallah kota Mogadishu yang penuh derita. Bye…bye…

Ada yang lucu. Tatkala mobil Dubes Korsel (Han) ditembaki di dalam perjalanan arah ke Kedutaan Italy, seseorang mengeluarkan tongkat bendera putih ke arah tentera Pemerintah yang sedang berjaga di balik karung2 pasir, ee bendera putihnya nyangkut di dalam mobil, yang nongol keluar jendela mobil cuma tongkat kayunya saja, spontan mobil mereka ditembaki karena dikira oleh tentera keamanan, kayu itu adalah ujung senjata beneran yang nongol. Apakah ada yang mati? Sewajarnya mati karena dihujani peluru tajam bila Allah yang berkehendak, tetapi rupanya tidak mati karena dalam film ini Sutradara yang berkehendak. Malaikat maut tidak repot sebab ia film mainan, actingnya di buat2.

Akhir cerita, setelah mendarat di bandara Kenya…para rombongan penjemput Korut dan Korsel telah siap menunggu dengan pakaian resmi, pakai jas hitam berdasi. Sebelum turun, Dubes Korsel (Han) mengatur strategi dalam pesawat, agar rombongan Korut turun pesawat belakangan dari mereka, jangan beriringan turun, jangan sampai terlihat telah terjadi keakraban, jangan bersalam2an, jangan melambai, jangan saling melihat sebab ada banyak kamera wartawan di tangga pesawat. Setelah turun pesawat, pada waktu kedua Dubes akan naik tangga bis yang menjemput mereka di bandara, Dubes Korsel (Han) nampak agak tertegun, pelan2 melirik tipis juga dengan mata sipitnya kepada Dubes Korut (Rim)..begitu pula Dubes Korut (Rim)…hati2 melirik juga dengan mata sipitnya ke Dubes Korsel sambil berjalan pelan naik tangga bisnya…keduanya saling melirik, keduanya saling tersentuh, keduanya punya memory..seakan tak mau berpisah, seakan sudah satu perasaan, sama2 pernah dirundung peluru, sama2 dilanda derita di Somalia..untunglah nyawa sama2 panjang…seakan tak takut ketahuan oleh Presiden Korea Utara Kim Jong-un yang kejam dan otoriter. Kisah tinggal kisah, maka benar juga kata nenek: HATI MANUSIA MEMANG SULIT untuk DITAKLUKKAN.

Kesimpulan, filmnya bagus. Kok bisa Sutradara bikin film sebagus itu ya? Ada segi humanity dalam perang. Ada pertimbangan manusiawi meskipun Pemerintah Korea Utara dan Selatan musuh bebuyutan. Film itu berhasil menyuguhkan pesan moral ‘eloklah kita bersatu’. Sebenarnya yang membuat kita terpisah mungkin karena ego Pemerintah yang berkuasa, atau ada vested interest, atau ada kepentingan Barat di baliknya, dan rakyat mau bikin apa? Bila bantuan kemanusiaan oleh Dubes Korsel (Han) dalam film itu dilihat dari segi filsafat, mungkin Immanuel Kant akan mengingatkan kita pada konsep Imperative Categorynya, yang berbunyi: ‘Berbuatlah sesuatu, se akan2 apa yang diperbuat itu bisa menjadi hukum universal’. Maka membantu orang di mana saja, kapan saja, meskipun biasanya dianggap musuh, baik dalam perang atau damai, mungkin ini termasuk Imperative Category, dimana pesan moralnya akan berlaku universal. Silahkan anda baca buku Immanuel Kant ‘Critique of Practical Reason’.

Lalu apa pula kata ustaz? Ustaz mungkin akan bilang: Nabi Muhammad saw lebih dulu mempraktekkannya di abad ke 7 M dari pada Immanuel Kant memikirkannya di ujung abad ke 18 M. Kant menggali secara a priori. Nabi mempraktekkannya secara a posteriori. Nabi itu rahmatan lil ‘alamin (Rahmat bagi semesta alam), ajarannya selalu membawa berkah bagi semua anak manusia, lintas agama, lintas bangsa, lintas suku. Yang BUKAN rahmatan lil ‘alamin itu ialah umatnya, yang kadang2 mau menang sendiri, masih ada umatnya yang korupsi, minta upeti ganti THR, bahkan nembak 3 polisi di arena judi, apalagi tak mau pula berpuasa di bulan suci.

Filosuf Immanuel Kant berhasil memikirkan Imperative Category secara a priori sehingga filsafatnya dinamai filsafat transcendental, sementara Nabi Muhammad telah lebih dulu mencontohkan wujud kandungan Imperative semacam itu secara a posteriori. Yang perlu kita pikirkan kini ialah ‘Jembatan Panjang’ yang menghubungkan secara konseptual antara a priori Kant dan a posteriori oleh Nabi. Sebab dalam a posteriori Nabi, konsep Living Tradition (Sunnah) kemudian menjadi Written Tradition (Hadis) dalam dikotomi konseptual Fazlur Rahman. Imperative Category Kant seharusnya dilihat pada Living Sunnah, bukan pada Written Sunnah, menurut saya. Konsep Kant kemudian dibawa orang ke PBB, dan berhasil menginspirasi lahirnya Human Rights (HAM) kata Franz Magnes Suseno. Escape From Mogadishu adalah film yang berhasil mempertontonkan kurangnya informasi Sutradara atas a posteriori Nabi Muhammad saw. ‘Lack of informationnya’ terlihat pada sikap Pemberontak Somalia yang menginjak2 ajaran Nabinya di jalan2 kota dengan membawa senapan, membunuh orang2 tak berdosa. Itulah film. Itulah tantangan bagi sutradara Muslim dalam dunia perfilman. Mungkin ada baiknya sutradara Indonesia membuat pula film yang bisa mengetuk hati bangsa ini, padahal bahan2 ceritanya banyak….kenapa sutradara Korea bisa?

Terakhir, walaupun sudah terlalu panjang, izinkan pula saya mengusulkan ide kepada sutradara film ini (Ryoo seung-wan). Menurut saya, bila saya diajak ‘brain-storming’ pada pembuatan scenario, akan lebih sentimentil diplomatis bila rombongan Dubes Korut juga membawa seekor kucing Persia ( a pet) dalam pelariannya, digendong oleh seorang anak kecil. Di saat kedua rombongan telah turun pesawat di bandara Kenya, dimana kedua Dubes akan menaiki tangga bisnya, tiba2 lepas kucing gemuk yang cantik tersebut, ia punya kalung kain putih di lehernya (tanda ingin damai). Kucing itupun lari kencang, melompat-lompat di bandara, mengejar Dubes Korsel (Han), ia mengeong minta digendong, ingin ikuuut, sementara di balik kalung kain putih di lehernya masih terikat bendera Korut: apa kira2 nanti kata Presiden Korea Utara, misalnya: Kim Jong Un dan Presiden Korsel: Yoon Suk Yeo bila keduanya sempat menontonnya di tv? Menurut anda bagaimana? Menurut saya, sutradara film ini akan memberi saya ‘jempol’.

Apa Significance of Issuenya? Manusia bila dihadang oleh bencana dari luar, merasa terancam, mereka biasanya akan mudah bersatu. Hilang sifat egois, lupa kepentingan kelompok atau kepentingan pribadi atau ideologi negara seperti cerita film di atas. Maka Bung Karno dulu membuat slogan Ganyang Malaysia kata Kol. Arh. Benny Febrianto (anak kakak saya). Slogan tersebut hanya sekedar siasat untuk membuat bangsa Indonesia agar mudah disatukan di bawah ideologi NASAKOM, bukan untuk benar2 mengganyang tetangga serumpun Melayu…mana pernah Indonesia mengganyang Malaysia? Maka adik2 yunior sadarilah slogan tersebut waktu berdemo!

Demikianlah tulisan saya Jum’at ini dipersembahkan kepada Bpk2/Ibuk2 dan adik2 semua semoga sudi mengomentarinya. Terimakasih, mohon maaf bila ada kata2 yang salah. Selamat mengakhiri Puasa Ramadhan, Selamat Lebaran, Wassalam, pamit, Amhar Rasyid, Jambi.

*Silakan Share