Oleh: Agus setiyono
( Jambi )
Di tengah derasnya arus kapitalisme dan mahalnya harga kopi kekinian, hadiah dua lembar uang merah senilai dua ratus ribu rupiah mungkin terasa biasa saja. Namun, sebagaimana filosofi hadiah yang tak selalu terletak pada nominal, justru momen dan sosok pemberi lah yang menjadikannya luar biasa. Dalam konteks ini, ketika hadiah itu datang dari sosok seperti Buya Anwar Abbas—salah satu Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah—uang tersebut seketika bermetamorfosis menjadi simbol karisma, kehangatan, dan tentu saja, satire lembut yang menyentil kesadaran kita semua.
Buya Anwar Abbas dikenal luas bukan hanya karena posisinya yang strategis dalam struktur organisasi Muhammadiyah, tapi juga karena persona beliau yang unik: penuh semangat dalam aktivitas dakwah, ringan dalam menyisipkan humor, tapi tak segan menyampaikan kritik yang tajam dan menusuk. Ia adalah contoh dari tokoh yang mampu menjaga keseimbangan antara kehangatan sosial dan ketegasan intelektual. Kadang tertawa renyah, kadang membuat jantung penguasa berdegup lebih cepat.
Pada kunjungan beliau ke Jambi baru-baru ini, dalam rangka Workshop Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah, keunikan karakter Buya kembali menampakkan dirinya. Di tengah sesi yang biasanya penuh narasi lingkungan, regulasi, dan tumpukan slide presentasi, Buya justru membuat suasana mencair dengan “kuis ringan”. Bukan ujian masuk perguruan tinggi atau seleksi CPNS, pertanyaan-pertanyaan Buya lebih sederhana dari beban hidup kaum urban. Namun, siapa yang mampu menjawab dengan cepat dan tepat, berhak menerima hadiah yang nilainya tidak cukup untuk membeli sepatu bermerek, tapi cukup untuk membayar makan siang dua orang—dan lebih dari itu, menjadi cerita yang akan dikenang.
Beberapa peserta beruntung pun menerima “kepingan merah” dari tangan langsung Buya. Satu-dua orang tampak tersenyum kaku—mungkin malu, mungkin bahagia, mungkin bingung apakah uang itu akan dibingkai atau dibelanjakan. Tapi satu hal yang pasti: kehadiran Buya tak pernah gagal menciptakan kejutan, bahkan dalam ruang yang serius sekalipun.
Acara tersebut turut dihadiri oleh Ketua MLH PP Muhammadiyah, Bapak Azrul Tanjung, serta Sekretaris, Saudara Jihadul Mubarok. Sejumlah narasumber dari kalangan nasional, termasuk dari Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) dan pemangku kepentingan lokal, juga turut mengisi forum. Beberapa Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jambi pun tampak hadir dan ikut membersamai jalannya acara, menunjukkan dukungan penuh terhadap inisiatif lingkungan yang diusung oleh PP Muhammadiyah.
Namun, di antara semua rangkaian yang penting dan berbobot, hadiah 200 ribu dari Buya tampaknya akan tetap menjadi highlight tersendiri.
Ada yang bilang, “Hadiah kecil dari orang besar, akan tetap terasa megah.” Dan tampaknya adagium ini menemukan pembuktiannya dalam sosok Buya Anwar Abbas. Di balik candaannya yang ringan, ada nilai-nilai yang dalam; di balik hadiah yang tampak sederhana, ada semangat memberi dan menghibur, yang hari ini mulai langka di tengah budaya formalitas tanpa jiwa.
Semoga Buya tetap sehat, tetap lucu, tetap tegas, dan tetap menjadi pengingat bahwa dalam kesederhanaan ada kekuatan yang kadang tak terduga.