Oleh: Amhar Rasyid
Dusun Jangkat, Jambi, Jum’at 27 Maret 2026
Assalamu’alaikum wr,wb. Bapak2/Ibuk2 dan Adik2 kawula muda baik Muslim maupun non-Muslim di mana saja berada. Apa kabar anda? Bila anda sedang sakit saat ini saya berdoa agar cepat sembuh. Bila anda sedang gembira saat ini, saya ikut gembira dengan pula. Bila anda kini sedang sedih, saya juga ikut bersedih. Namun bila rekening anda kosong usai lebaran maka saya ‘angkat tangan’ tak bisa bantu. Maaf sedikit bercanda.
Jumat ini saya menulis di suatu desa sekitar Gunung Kerinci, lokasi dingin di pinggir danau kecil yg indah dekat perbatasan Provinsi Bengkulu, jauhnya sekitar 500km dari kota Jambi. Kendatipun jauh, saya tetap mempersembahkan tulisan pd anda semua. Tulisan berikut berupa ulasan dan komentar saya atas Presentasi Yuval Noah Harari (Prof. Sejarah di Israel) yang mengatakan bahwa Banyak Info bisa Menyesatkan. Apa iya? Padahal dalam tradisi epistemologi lslam klasik, banyak sumber info tentang suatu Hadis malah dapat memperkuat ‘kesahihannya’ sebab ia diklassifikan sebagai Hadis yg banyak perawi. Lalu bagaimana sebenarnya maksud Yuval tentang banyak info yg menyesatkan tersebut? Lihat YouTube Yuval Noah Harari: Why Advanced Societies Fall for Mass Delusions? Apa pelajaran yg bisa dipetik darinya? Untuk memperkuat argumen Yuval berikut diberikan beberapa penjelasan dan contoh2 empiric dan ditambah dengan komentar dari saya pribadi agar lebih ‘renyah digoreng’ di dalam ‘dapur’ pasca lebaran. Mari kita mulai.
Tahukah anda tanya Yuval: Foto/gambar manusia apa yg termahal di dunia saat ini? Jawabannya ialah gambar Yesus katanya. Entah berapa juta dollar dihabiskan biaya untuk melukis, membuat patung Yesus di seluruh gereja, di gedung2 dan tempat2 lain di seantero dunia (di Baradero, Argentina ada patung Yesus besar dan di Indonesia Timur juga ada, bahkan juga ada di dalam gereja2 di Eropa dan di Amerika Latin) namun tak satupun patung2 tersebut yang menyerupai asli postur wajah dan badan Yesus, katanya dg yakin, sebab foto dan gambar itu dibuat berdasarkan info yang tak jelas (dari kata orang, kata al-Kitab, kata ini, kata itu) ia tidak didasarkan atas kesaksian seseorang yang betul2 telah melihat dengan mata kepala sendiri tentang sosok postur tubuh Yesus yg sebenarnya. Apakah anda yakin Yeusus persis seperti yang anda lihat seperti tergantung di gereja? tanya Yuval. Nobody knows exactly. Banyak info seperti di atas ini menyesatkan kata Yuval (Yahudi).
Atas dasar argument Yuval di atas, saya lalu membuat analisa berikut. Memang adakalanya banyak info simpang siur membuat kita sulit percaya kebenarannya. Contoh, Mass media kontemporer mengatakan baik di Timur maupun di Barat dimana Presiden Amerika Trump telah menyatakan bahwa tentera Iran telah bertekuk lutut, jenderal2nya telah banyak yang mati, senjata2 militernya telah dilumpuhkan, tetapi ternyata Trump masih memohon bantuan kpd Nato dan negara2 lain spt Jepang dan China untuk membantunya memerangi Iran agar Selat Hormuz bisa terbuka agar bisa dilalui oleh kapal2 tanker. Jadi banyak info2 keluar dari mulut Trump itu menyesatkan.
Lalu bagaimana supaya info itu tidak menyesatkan? Kata Yuval ada beberapa cara: 1. Harus dengan biaya tinggi. 2. Harus centralized. 3. Harus ada Order.
Begini penjelasannya. Kita memerlukan biaya tinggi untuk mendapatkan info yang lebih akurat, katanya, dg cara mendirikan Lembaga2 Riset yang Credible, menyewa tenaga2 ahli riset yang professional, memiliki perangkat lunak dan perangkat keras yang berbiaya tinggi, memerlukan modal dan biaya untuk menyelenggarakannya, peneliti juga memerlukan biaya hotel untuk menginap di suatu tempat, memerlukan makan untuk konsumsinya selama riset, biaya transportasi pesawat, taxi, mobil carteran dan ojek untuk datang ke lokasi2 penelitian atau perpustakaan, memerlukan izin penelitian dari otoritas setempat,…semua ini hanya untuk mendapatkan sekeping ‘TRUTH’ yang akurat dari Info2 yang berserakan. Biayanya betul2 tinggiiiii!
Juga diperlukan centralized. Kelemahan negara2 dg sistem demokratis, kata Yuval, terlalu banyak simpang siur sumber kebenarannya. Di Amerika Serikat kebenaran bukan terpusat di tangan Trump seorang, tetapi kebenaran juga ada di tangan Senat, di tangan CIA, di tangan FBI, di tangan ekonom. Di tangan para banker sehingga info terkait suatu kebenaran itu berserakan, tidak centralized. Lain halnya di Soviet. Info semuanya terpusat pada Kremlin, di Tangan Presiden Putin. Ia dapat dipercaya oleh orang banyak orang2 Russia, dipercaya oleh dunia internasional. Hanya saja resikonya, kata Yuval, kemampuan AI sekarang ini dan masa yg akan datang akan jauh melebihi kemampuan Putin dalam menguasai info. Maka Perang Dunia akan rentan terjadi sebab sedikit saja kesalahan AI dalam menafsirkan data yang dimilikinya, yg centraluzed pd AI, maka keputusan yang akan dibuat manusia akan lain. Oleh sebab itu, bagi Yuval, kepanjangan AI bukan Artificial Intelligence (Kecerdasan Buatan) tetapi Alien Intelligence (Kecerdasan (makhluk) Aneh).
ORDER. Kata Yuval, untuk mendapatkan info yang jauh lebih benar ialah harus ada Order (Tatanan/aturan). Negara atau lkelompok masyarakat harus mempunyai aturan yang jelas dan ketat agar info tidak bersilweran di tengah masyarakat, sebab banyak sekali hoax di mass media, sehingga Info yang akurat telah tenggelam di tengah sampah2 info yang berserakan, karena apa? Ya karena tidak adanya Order katanya.
Dari paparan di atas ternyata INFO akan lebih benar bila ia berada di satu TITIK PUSAT/Centraluzed. Buktinya, info berseliweran di bumi tetapi info yang berpusat di satelit di angkasa lebih akurat kebenarannya misalnya tentang isi rekening anda, tentang data ilmiah dan lainnya. Kita akan lebih percaya data perbankan sebagaimana yang tersimpan dalam satelit. Sementara data2 dan info2 keagamaan oleh Ustaz, Buya, Pendeta, Bikshu, adalah info2 yang bayak bersileweran di permukaan bumi, tetapi info yang diimani sangat akurat hanyalah 1 yaitu : ALLAH. Itulah satu2nya pusat data ‘Satelit’ sebagai pusat data paling akurat di seluruh jagad raya bila Kemahatahuan Allah dikiaskan cara memahamiNya dari kacamata ilmiah. Dg metafor semacam ini, centralitas transendental didasarkan atas argumentasi kosmologis.
Demikianlah beberapa kepingan dari informasi pengetahuan Yuval Noah Harari. Apakah anda setuju dengannya? Kalau ditanya pd saya maka saya akan pikir2 dulu, kecuali apa2 yang telah saya pikirkan sendiri, timbang2 sendiri, renungkan sendiri, setelah saya bawa solat tahajud sendiri memohon hidayah kepada Allah, dan setelah itu baru saya percaya diri sendiri. Fa idza ‘azamta fa tawakkal ‘ala Allah.
Apa pelajaran yang bisa dipetik dari uraian di atas? Penetapan awal Ramadhan dan 1 Syawal oleh NU dan Muhammadiyah itu, bila dilihat dari perpsepektif Yuval ini, apakah juga bisa rentan untuk menyesatkan? Banyak umat lslam Indonesia sering bingung apakah akan ikut Muhammadiyah yang beridul Fitri tahun ini tanggal 20 Maret 2026 (Jum’at)? Tetapi penetapan tgl tsb sebetulnya berdasarkan info yang diyakini akurat oleh Muhammadiyah dan sumber infonya centralized. Pakar2 Muhammadiyah menetapkan tanggal tersebut berdasarkan kekuatan pengetahuannya yang dinamakan dengan llmu Hisab yang diperkuat dengan bantuan alat2 teknologi modern, namun pakar ilmu hisab Muhammadiyah tidak melihat bulan secara fisik dengan mata kepala secara haqiqiyah, tetapi berdasarkan ilmu astronomi modern dg bantuan teknologi canggih di dalamnya terdapat algoritma buatan manusia. Apa itu algoritma astronomi? Menurut Google, ia adalah sekumpulan rumus matematis plus metode komputasi yg digunakan utk memprediksi letak, gerak, dan fenomena benda2 langit secara lebih akurat. Ia berbasis Haqiqi bit Tadqiq dg menggunakan alat program canggih seperti yg dinamai dg Python. Jadi sumber infonya centralized.
Lain halnya dengan NU yg melihat bulan dengan mata telanjang (rukyah) plus dibantu dengan telescope. Infonya berserakan dari berbagai titik lokasi dari hasil meneropong sebuah planet bulan dari berbagai penjuru Nusantara. Sumber infonya High Cost. Gus Baha, ulama NU terkenal, malah mengeritik metode NU ini. Katanya, Hisab itu utamanya milik orang2 NU. Oleh karena itu bila kita anti hisab = anti NU katanya. Kita di pesantren2 memang diajarkan ilmu hisab ujarnya. Coba dipikir, Bila 1 derajat dalam ilmu Hisab bisa diperhitungkan, kenapa 1 hari tak bisa diperhitungkan oleh ulama2 NU? tanyanya. Bila ulama2 NU memerlukan rukyah setiap sebelum masuk puasa Ramadhan atau 1 syawal, kenapa mereka tak memerlukan rukyah sebelum tiap akan mendirikan solat 5 waktu, kenapa ulama2 NU tidak konsisten pakai hisab? Ini kata Gus Baha yaàa…bukan kata Amhar ya. Wallahu a’lam…bagus juga untuk direnungkan dg kepala dingin oleh generasi muda semuanya. Di YouTube banyak dijumpai komentar2 bahwa Rukyah NU itu sarat politisasi dan proyek isasi…mudah2an berita tersebut tidak benar…ingat…banyak info itu menyesatkan kata Yuval.
Demikianlah Bapak2 /Ibuk2/Adik2 semua. Terimakasih telah membaca tulisan saya. Wassalam, Amhar Rasyid, Jambi.