MEMBERI NYAWA PADA KATA

Oleh; Amhar Rasyid
Jambi, 30 Okt 2026

Assalamu’alaikum wr,wb Bapak2/Ibuk2 dan Adik2 semua di mana saja berada, baik Muslim maupun non-Muslim. Salam Bahagia! Bagus judul tulisan di atas. Saya memperolehnya dari YouTube dimana Prof. Bambang Sugiharto (Guru Besar Filsafat di Univ. Parahayangan, Bandung) memberikan kuliah berjudul Memberi Nyawa pada Kata. Karena tertarik, sekarang saya ulangi lagi mendiskusikannya dengan menambahkan beberapa ulasan sesuai dengan jangkauan horizon pengetahuan saya. Apa yang dimaksud dengan KATA? Apa yang dimaksud dengan memberi nyawa? Apa contohnya? Apa gunanya untuk diketahui? Dan yang paling penting ialah bagaimana ia berbeda dengan nasehat2 religius? Mari kita diskusikan!

Kata adalah rangkaian huruf2 yang belum bernyawa. Dan huruf itu adalah lambang yang disepakati bersama. A, B, C, D atau Alif, Ba, Ta..adalah contoh dari huruf2, lambang2, kode2, yang telah disepakati di dalam tradisi tetapi ia belum dirangkai. Bila huruf2 dirangkai, maka ia menjadi kata, tetapi apakah KATA sudah mampu menunjukkan pengalaman terdalam? Ini persoalan. Maka diskusi kita sekarang ialah bukan tentang merangkai huruf2 tetapi tentang merangkai kata2 yang belum bernyawa. Dikatakan ‘bernyawa’ bila kata2 itu dirasa cocok merepresentasikan pengalaman terdalam anak manusia. Misalnya dalam adagium hukum Latin disebutkan “Jurare eat deum in testem vocare “. (Bersumpah itu adalah memanggil Tuhan untuk menjadi saksi). Kita sebagai orang beragama tahu arti bersumpah, tetapi kadang2 kurang menyadari, kurang ‘ngeh’ bahwa ketika bersumpah sebenarnya kita sedang memanggil Tuhan untuk hadir di samping kita demi menyaksikan kebenaran/kesesuaian antara ucapan di mulut dan kejadian di lapangan. Sebab bagi Gadamer, ‘kebenaran’ empiric memang ditemui di lapangan, oleh sebab itu ‘kata2’ baginya adalah milik situasi. Seandainya pejabat2 Indonesia yang Berketuhanan Yang Maha Esa kemudian terlibat korupsi betul2 menyadari dari semula bahwa Tuhan HADIR pada waktu dia bersumpah, maka KPK tidak akan repot.

Perlu diketahui bahwa Psikologi menjelaskan bahwa manusia sebetulnya punya suara batin, kata hati, bisikan qalbu, atau ‘dhamir’ dalam bahasa Arab. Suara hati berbeda dengan suara mulut. Suara mulut bisa diputar karena lidah memang tak bertulang. Tetapi suara hati adalah keadaan yang TAK mampu siapapun mengingkarinya. Suara hati dalam psikologi terkait dengan konsep hati nurani (Conscience), suara batin (Inner Speech/Inner Monologue), serta intuisi yang menuntun kesadaran moral dan keputusan yang kita buat. Suara hati, Logique du Coeur kata Pascal dan juga mengutip Google, adalah kemampuan bawah sadar yang menjembatani insting dan rationalitas guna memberikan rasa tahu terhadap sesuatu keputusan tanpa pikir panjang. Karena tanpa pikir panjang, kadang2 suara hati lupa bahwa apa yang sedang dialaminya sebenarnya sudah ada dalam dirinya, namun ia masih berupa kata2 yang belum bernyawa. Agar kata dapat bernyawa, maka kata2 disusun, dirangkai untuk mengungkapkan pengalaman batin manusia terdalam. Dan pengalaman yang dalam biasanya berjalin berkelindan dengan liku2 kehidupan yang pelik, rumit, ruwet. Memberi nyawa pada kata sebenarnya mencantolkan kata2 pada rahasia liku2 pengalaman terdalam yang ruwet. Maka bahasa hati yang figurative menggunakan kata2 menjadi figur2 atau imaji2. Indahnya untaian kata2 bukan karena indahnya pengalaman tetapi karena pandai memilih untaian kata2 dalam menyambungkan pengalaman diri sendiri dengan pengalaman orang lain. Bahasa hati, kata orang, adalah cerminan dari kematangan pengalaman, pengalaman yang telah ‘digojlok dan digodok’ oleh seribu satu urusan duniawi.

Saya ingat di waktu Sekolah Dasar, ingat diajari oleh guru berhitung, maka saya tahu tentang ilmu baru. Ia bertolak dari ketidak tahuan sama sekali. Misalnya, 8×8 = 64. Ini dinamakan dengan Kecerdasan Cognitif, Intelligence Quotient, IQ (Isi Otak).

Adakalanya saya dan anda juga dinasehati uleh ulama, oleh kiyai, maka kita menjadi sadar dari kelupaan, dari kelalaian dalam hidup beragama. Misalnya, kata kiyai, Marilah kita semakin mendekatkan diri kepada Allah, semakin taat beribadat, semakin insaf dari kejahatan dan keonaran. Ini sifatnya mengajak, menasehati dengan cara ber ulang2 agar kita cerdas dalam hidup beragama. Boleh jadi dalam ceramah agama tidak ada pengetahuan yang betul2 baru, tetapi ajarannya diulangi dan diulangi terus. Ini dinamakan dengan Kecerdasan Sipiritual, Spiritual Quotient (SQ).

Bahkan kita juga sibuk dalam hidup, kita pernah mengalami banyak hal tetapi pengalaman semacam itu tersembunyi di balik kesadaran. Ia tak begitu disadari, padahal pengalaman semacam itu ada tetapi kita tidak ‘ngeh’, belum menggugah kesadaran kita. Secara cognitive memang sudah pintar, luas pengetahuan, tahu banyak hal, cekatan dalam berpikir, namun kadangkala banyak di antara kita belum mampu menguasai diri dalam pergaulan sosial. Bila disadari dan dipraktekkan dalam kehidupan, maka kita menjalankan Emotional Quotient (EQ). sebab bagian yang mendasar dalam Kecerdasan Emosional ialah kemampuan untuk mengenali, memahami emosi yang dirasakan oleh diri sendiri dan emosi orang lain. Karena ada gap antara kecerdasan cognitive dan kecerdasan emosional, ada celah yang tak terlihat menurut saya, lalu orang bijak Memberi Nyawa pada Kata. Misalnya beberapa contoh kalimat di bawah ini.

  1. Memaafkan Orang Lain adalah Membebaskan Diri Kita dari PENJARA yang Kita Buat Sendiri.

Memang demikian secara IQ dan EQ. Buktinya bila kita marah pada orang lain, kita terkurung. Kita terkurung oleh emosi kita sendiri. Mirip dengan orang yang terkurung dalam kain sarung, kepala dan badannya tertutup kain sarung, dia mengamuk marah2, dia terpenjara. Maka bila dibukakan kain sarung tersebut, dia bebas, nafasnya lega. Jadi memaafkan itu mirip membuka sarung yang menutup diri kita yang membuat sesak nafas. Orang Bijak telah berhasil, bukan membebaskan kita dari marah, tetapi menyusun kata2 untuk melukiskan keadaan terpenjara semacam itu, dan bila kita baca kata2nya, kita semakin sadar bahwa memang begitulah adanya. Kita terbantu meskipun cerdas dalam pengetahuan dan pergaulan. Jadi Kecerdasan Cognitif dan Kecerdasan Emosional se olah ‘dibangunkan’ dari tidurnya oleh kata2 bijaksana di saat nasehat2 agama masih bercerita tentang alam sorga dan neraka.

  1. ‘Cinta itu Peta Menuju Misteri Ilahi, dan Cinta itu adalah Orang Asing dengan Bahasa yang Tak Mudah Dimengerti’.

Ini rangkaian kata2 indah dari Jalaluddin ar-Rumi (ulama Persia) menurut Prof. Bambang. Dari susunan kata2nya yang diberi nyawa tersirat betapa ar-Rumi piawai membahasakan pengalaman batinnya, dan orang lain belum tentu bisa. Kata Peta menyiratkan Itinerari (rencana perjalanan jauh), dan bagi ar-Rumi perjalanan jauh adalah perjalanan menuju tempat di mana berjumpa dengan misteri Allah. Namun harus diingat bahwa kata Peta di sini sebenarnya Cinta…cinta yang berucap dengan bahasa yang tak mudah dimengerti. Sangat personalized. Namun menurut hemat saya bahwa suatu rangkaian kata bila diucapkan maka unsur psikologisnya akan hilang. Artinya, ketika ar-Rumi memberi nyawa pada kata, sebenarnya dia masih menyembunyikan pengalaman pribadi yang tak mampu diungkapkan dengan kata2, dia sedang mengalami bahasa ‘cinta’ yang tak mudah dimengerti. Ibarat berjalan satu rombongan bersama dengan ar-Rumi di tengah padang pasir di waktu malam, tiba2 dia menyenter ke depan terlihat jalan jauh ber kelok2, lalu kemudian dimatikannya senter tersebut, jalan jadi gelap…akhirnya setiap orang berjalan sendiri2 dalam kegelapan, tidak lagi melihat teman di kiri kanan….entah sampai di tujuan entah tidak, entah kandas di tengah jalan…itulah kiasan Peta perjalanan cinta menuju misteri Ilahi menurut versi saya.

  1. Terakhir, sebagian kita tak kunjung merasa puas, mungkin bukan karena sifat tamak dan rakus saja, tetapi karena memang PRASYARAT untuk puas itu sendiri tidak kita punyai. Ini gubahan saya, tetapi apakah saya mampu memberi nyawa pada kata? Coba kita periksa. Ada seorang Pejabat Tinggi Negara yang mengangkat dua anak kandungnya sendiri jadi bawahannya. Jabatan Publik diperlakukannya mirip dengan perusahaan milik pribadi. Sangat nepotis. Lalu suara2 terutama di Medsos bermunculan mengeritiknya. Orang mengeritik bukan karena ingin menduduki posisi jabatan anak2nya, tetapi karena ada rasa suara batin di mana keadilan sosial terganggu. Terganggu karena di luar kantornya orang banyak yang menganggur, mereka juga pintar IQ dan EQ tetapi posisi jabatan public dikuasai oleh seorang Bapak yang bukan tamak dan rakus saja, tetapi karena Prasyarat untuk merasa puas memang tidak ada dalam dirinya. Buktinya, kedua putranya, dalam istilah yang lebih politis, akhirnya memilih untuk mengundurkan diri setelah dikritik oleh orang lain. Ini menurut saya karena Bapaknya tidak punya Prasyarat untuk merasa puas. Lalu apa kata2 bernyawanya? Entahlah saya tak mampu merangkainya, maka eloklah saya pindah membicarakan dakwah agama.

Bila dibedah lebih dalam, kira2 di mana letak beda Kata Bernyawa dengan nasehat2 agama? Kata yang diberi nyawa nampaknya menyasar audiens yang lebih selektif, kontemplatif. Kata2 bijak akan berkomunikasi dengan ‘konsumen’ tertentu yang mampu berpikir mendalam, merenung, tenang dan suka pada hal2 yang bijak (ia agak bersifat esoteric). Karena bijaksana adalah sikap yang ingin mempertanyakan apa di balik apa? Sementara dakwah agama nampaknya menyasar secara umum, semua lapisan pendengar, mulai dari orang awam hingga pejabat. (Ia bersifat eksoteric). Lagi pula dakwah agama bersifat hitam-putih, bicara nahy-mungkar, dosa dan pahala, sorga atau neraka. Ini namanya hitam-putih, sebab bahasanya tegas dan pasti dalam keyakinan. Jadi antara Kata Bernyawa dan dakwah agama sama tujuannya pada penyadaran diri manusia tetapi berbeda ‘jalannya’. Dakwah agama seakan memilih ‘jalan tol’, sementara Kata Bernyawa memilih jalan ber liku2.

Dari diskusi di atas saya berkesimpulan bahwa Kata2 Bernyawa ibarat mutiara yang terjepit di rongga bebatuan. Bila dipecahkan rongga batu itu oleh orang yang bijak, maka kita akan tercengang melihatnya. Kita tercengang karena saban hari batu itu kita injak tetapi tidak ‘ngeh’ ada Mutiara terselip. Sehingga suatu hari datang orang bijak memberitahu bahwa di bawah kaki kita ada ‘mutiara’, itulah akhir cerita dari…. Memberi Nyawa Pada Kata.

Demikianlah Bapak2, Ibuk2 dan Adik2 semuanya, terimakasih telah membaca tulisan saya, semoga ada gunanya. Wassalam, Amhar Rasyid, Jambi.

*Silakan Share