ANDA PILIH YANG MANA: HIDUP SUKSES ATAU HIDUP BERMAKNA ?

Oleh: Amhar Rasyid
Jambi, 18 Sept 2026

Assalamu’alaikum Bapak2/Ibuk2 dan Adik2 semua, baik Muslim mapun non-Muslim, di mana saja berada. Salam sehat. Tulisan saya pada pertengahan September ini mungkin akan menyentuh kesadaran anda, akan menyentuh sanubari terdalam jika anda baca di saat tenang dan pikiran cerah. Tahukah anda, terutama adik2 muda, bahwa dr. Syaraf (neurolog) mengatakan bahwa hampir 90% dari keputusan kita setiap saat dibuat tanpa pertimbangan yang betul2 dipikirkan. Mungkin itulah sebabnya kita kurang mengalami hidup yang BERMAKNA sebagaimana akan dibahas berikut ini. Artinya keputusan keseharian kita dibuat secara spontan, misalnya bila kita hendak memakai baju, kita biasanya memakainya tanpa pikir panjang tidak seperti mau ujian/test. Maka tulisan ini ingin mencoba mengetuk hati dan pikiran anda tetapi dengan menggunakan bahasa sederhana dan penuh hormat pada anda. Berikut kutipan 3 paragraf dari Reel (Fitur Video Pendek) di FaceBook oleh Prof. Bambang Sugiharto (Guru Besar Filsafat di Universitas Parahyangan, Bandung). Ia berupa untaian kata2 yang saya kira sangat bijak dan relevan dengan kondisi kita. Saya kutip Reel tersebut kata demi kata, dikomentari sebisa mungkin, dicarikan relevansinya dengan kondisi kekinian, dan kemudian saya sajikan pada anda. Apa isi pesannya? Seolah hidup kita hari demi hari, dari muda hingga tua begini bagaikan hidup yang menyedihkan, hidup yang dilalui tanpa disadari apa sebenarnya yang kita butuhkan? Kita sibuk mencari harta tetapi hampa makna. Kita sibuk mencari cinta tetapi berkahir kecewa. Kita mengejar karir, tetapi iapun cepat berakhir. Yang lebih parah lagi, kita sibuk berdoa tetapi
prilaku dalam hidup tak sesuai isi doa. Iqra’ Kitabak! (Bacalah Kitab Sucimu). Mari kita mulai!

Prof. Bambang mulai berfilsafat dengan bahasa yg menegasi: Filsafat itu tak ada gunanya, spekulasi teori yang tak meninginjak bumi, pekerjaan orang2 frustasi, menu canggih yang tak ada makanannya. Tapi sebenarnya yang lebih tak ada gunanya dan menyedihkan, orang yang sibuk bekerja tanpa tau apa sebenarnya yang ia butuhkan dan rindukan. Lebih menyedihkan orang yang tak bisa melihat kemungkinan lain selain kenyataan yang di jalaninya tanpa pilihan. Filsafat melatih kita berani mempersoalkan apa yang sesungguhnya yang kita butuhkan dan kita rindukan. Apa tujuan hidup dan kerja, mana yang lebih penting: hidup sukses atau hidup yang bermakna?

Kalimat di atas sangat mendalam maknanya. Filsafat itu tak ada gunanya, menyedihkan kata orang yang mengejek. Lalu Prof. Bambang menangkisnya: Yang lebih menyedihkan ialah orang yang terus bekerja siang malam tetapi tak sadar apa sesungguhnya yang ia cari. Mirip semut2 membuat sarang. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi orang yang tak mampu melihat kemungkinan lain, peluang lain, hidupnya seakan berjalan di tempat, matanya mirip dengan mata kuda sado, ditutup kiri kanan dan dipaksa oleh tuannya terus melihat ke depan. Hidupnya penuh pasrah pada nasib. Yang terjadi biarlah terjadi…ka baa juoooooo lai..kata orang Minang. Mo gimana lagi…kata orang Betawi.

Diulangi orang bilang filsafat itu tak ada gunanya. Ini anggapan orang yang sinis, sebab filsafat itu mikir dan mikir, sesuatu yang sudah dianggap benar malah dipikir lagi. Contoh, memasang bendera warna merah bagian atas dan warna putih di bagian bawah: itu diyakini oleh bangsa Indonesia sebagai kebenaran meskipun Kitab Suci tak menyebutnya. Tetapi mengapa ia diyakini sebagai kebenaran? Ini dipikir lagi dengan cara berfilsafat. Tetapi ada orang tak suka filsafat, lalu bekerja dan bekerja, pergi pagi pulang sore, hidup dari bulan ke bulan, sebetulnya tak disadari apa yang ia butuhkan dan rindukan? Butuh duit? Itu kan alat tukar berbentuk kertas bertuliskan angka2. Yuval Noah Harari menyebut duit itu sebagai hasil dari Fictional Entity oleh manusia (Homo Sapiens).Yang sebetulnya anda rindukan itu dapat uang atau dapat nikmat dari membelanjakan uang? Mati2an cari uang, lalu kemudian anda tukarkan pada orang. Uang hanya singgah sebentar. Pada hakekatnya uang telah ditukar dengan umur anda. Umur ditukar dengan sandang, pangan, papan dari hari ke hari, dalam bentuk materi, dari bulan ke bulan merindukan sukses tapi sukses tersebut masih dalam bayang2. Kadang2 hidup dijalani tanpa ada pilihan, keterpaksaan. Ini sungguh menyedihkan. Maka Filsafat mengajak anda sadar diri apa sebetulnya yang anda butuhkan dan rindukan? Mana yang lebih elok: Hidup sukses atau Hidup bermakna? Hidup bermakna, menurut Google, ialah kehidupan yang bernilai, mempunyai tujuan hidup yang jelas, berdampak positif bagi diri sendiri, juga bagi sesama manusia dan bagi alam sekitar. Syair ar-Rumi: Kemaren aku pintar, jadi aku ingin mengubah dunia. Hari ini aku bijak, jadi aku mengubah diriku sendiri. Syair Hamka: Jika hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Jika bekerja sekedar bekerja, kera juga bekerja. Maka hidup yang sejati ialah disaat kita mampu meninggalkan warisan kebaikan dan kontribusi nyata, bukan sekedar numpang lewat untuk hidup di dunia.

Diulangi lagi…Filsafat itu tak ada gunanya, spekulasi teori yang tak meninginjak bumi, pekerjaan orang2 frustasi, menu canggih yang tak ada makanannya. Tapi sebenarnya yang lebih tak ada gunanya dan menyedihkan orang yang sibuk bekerja tanpa tau apa sebenarnya yang ia butuhkan dan rindukan. Lebih menyedihkan orang yang tak bisa melihat kemungkinan lain selain kenyataan yang di jalaninya tanpa pilihan. Filsafat melatih kita berani mempersoalkan apa yang sesungguhnya kita butuhkan dan kita rindukan. Apa tujuan hidup dan kerja, mana yang lebih penting: hidup sukses atau hidup yang bermakna?

Filsafat itu tak ada gunanya? Seorang Presiden demi jabatan berani berkarir dengan ijazah palsu dan dia sukses tetapi dihina. Menjabat jadi Presiden adalah kesuksesan, tetapi bermuslihat dengan ijazah palsu adalah kerja hampa makna. Sukses tapi tak bermakna. Pilih hidup sukses atau hidup yang bermakna? Seorang Jampidsus sukses menumpuk 74 batang emas dan uang ratusan milyar rupiah tanpa berfilsafat dan dia terbilang sukses tetapi meringkuk dipenjara, lalu kita bertanya: Mana yang lebih penting hidup sukses (sesaat) atau hidup bermakna (lama)? Ternyata banyak harta tidak berbanding lurus dengan hidup bermakna. Hidup sukses biasanya diukur orang dengan kecukupan material dan pangkat, tetapi hidup bermakna yang terasa bahagia, kata orang2 bijak, ialah tatkala kondisi pikiran kita sinkron dengan kondisi emosi dan kondisi spiritual kita. Hidup sukses glamour dipuji orang, ia tersembur keluar diri, tetapi hidup bermakna tak butuh pujian orang. Ia redup ke dalam diri. Koq tahu? Ya filsafat memberi tahu. Filsafat banyak gunanya, ia bukan teori yang tak menginjak bumi, filsafat bukan pekerjaan orang2 frustasi dan filsafat juga bukan menu canggih yang tak ada makanannya. Maka sungguh menyedihkan orang2 yang terus bekerja tanpa sadar apa sebetulnya yang ia butuhkan dan rindukan. Kalau bekerja sekedar bekerja, kata Hamka, monyet di hutan juga bekerja. Bahkan yang lebih menyedihkan ialah orang2 yang tak mampu melihat kemungkinan lain yang lebih baik, ia menatap beban hidup ibarat kuda menatap jalan raya ke depan dengan mata tertutup. Maka sekarang mulailah menanyai diri anda sendiri, terutama adik2 muda: apa sebetulnya yang anda butuhkan dan rindukan? Tentukan hari ini: HIDUP SUKSES atau HIDUP BERMAKNA?

Lagi…lagi diulangi…buat terakhir kali…Kata orang: Filsafat itu tak ada gunanya, ia merupakan spekulasi teori yang tak meninginjak bumi, ia cuma pekerjaan orang2 frustasi, menu canggih yang tak ada makanannya. Tapi sebenarnya yang lebih tak ada gunanya dan menyedihkan, kata Prof. Bambang Sugiharto, ialah orang yang sibuk bekerja tanpa tau apa sebenarnya yang ia butuhkan dan rindukan. Bahkan yang lebih menyedihkan ialah orang yang tak bisa melihat kemungkinan lain selain kenyataan yang di jalaninya dalam hidup tanpa pilihan. Maka filsafat datang untuk melatih kita berani untuk mempersoalkan apa2 yang sesungguhnya kita butuhkan dan kita rindukan. Apa tujuan kita dalam hidup dan bekerja, mana yang lebih penting bagi kita: hidup sukses atau hidup yang bermakna?

Banyak orang sukses jadi pejabat tetapi sekarang menghuni Penjara Cipinang dan Sukamiskin. Banyak orang berjaya punya gedung mewah, mobil mewah tetapi dia selalu dikejar oleh kredit, sehingga tidurnyapun kalah nyenyak dengan tidur kucing. Banyak orang sukses di rantau menjadi kaya raya, tetapi tidak harmonis dengan sanak saudara. Pertanyaannya: pilih sukses atau pilih hidup bermakna? Ya bermakna menurut takaran kita masing2. Kenapa bermakna itu penting? Sebab segala yang materi akan luluh hancur menjadi non-materi. Yang kuantitas akan hancur menjadi kualitas. Butir2 nasi memang dikunyah dan dimakan tetapi akhirnya menjadi carbohidrat yang bermakna pada energy. Anda berhasil sekolah tinggi2, karier melejit, posisi semakin kuat, rekening semakin gendut, tetapi apa ujung2nya? Ya happiness, glory and wealthy…ini semua pada hakikatnya adalah kualitas bukan kuantitas. Demikian pula ajaran agama: Wal akhirotu khairun wa abqa (Akhirat itu lebih baik dan lebih kekal) dari pada kehidupan duniawi yang penuh materi.

Lalu apa kuncinya untuk hidup bermakna pak Amhar? Saya tak pandai memberikan ‘kunci’ tetapi hanya menunjukkan kamar2 (bagi makna) yang terkunci. Kata Hamka: Bahagia itu ada di dalam DADA kita masing2, bukalah! Kata Kiyai: Hidup itu bukan tentang siapa yang paling sukses, tetapi siapa yang paling banyak BERSYUKUR atas kenyataan.

Sekianlah Bapak2/Ibuk2 dan adik2 pembaca setia. Terimakasih telah membaca tulisan saya. Amhar Rasyid, Jambi.

*Silakan Share