BUYA HAMKA DAN KIYAI LOHOT: 2 BADAN 1 HATI


Oleh: Amhar Rasyid
Jakarta, 11 September 2026

Assalamu’alaikum Bapak2/Ibuk2 dan adik2 semua, pembaca setia tulisan saya setiap Jum’at di mana saja berada. Semoga kita sehat2 saja. Dengan meninggalnya kiyai Lohot Hasibuan di Jambi tgl 2 September 2026 lalu, hati saya dan hati umat Islam di Jambi sangat sedih, ribuan warga Jambi mengantarkan jenazahnya ke pemakaman, ia meninggalkan luka yang mendalam. Bagaimanapun juga diakui bahwa Kiyai Lohot hanyalah ulama lokal, berbeda dengan Buya Hamka sebagai ulama internasional. Kiyai Lohot telah mengabdikan hidupnya untuk berdakwah dari utara Sumatera ke daerah selatan Sumatera, yaitu Jambi sekitarnya. Sementara Buya Hamka adalah ulama besar yang punya nama ‘beken’ mulai dari dunia sastra, politik, hingga dunia dakwah. Membandingkan keduanya tentu tidaklah suatu keharusan, tetapi jasa kedua ulama tersebut sempat singgah di hati umat, sempat mengetuk sanubari kita yang terdalam, apapun cara dan metodenya. Justru di balik jasa kedua ulama tersebut ada sisi2 positif yang perlu kita renungi untuk diambil hikmahnya. Apa sisi yang sangat mengesankan dari Kiyai Lohot dan dari Buya Hamka bagi saya pribadi? Di bawah ini akan saya ulangi menuliskan apa2 yang sangat berkesan dalam hidup saya dari kenangan kedua ulama tersebut. Ia akan sangat berguna khususnya bagi adik2 muda sebagai contoh tauladan yang baik. Bagi saudara saya non-Muslim, maaf tulisan berikut agak berbau dakwah Islamiyah tetapi kiat menulisnya saya tiru penulis2 terkenal dunia: Naguib Mahfouz peraih Nobel dari Mesir dan Leo Tolstoy dari Russia. Mari kita mulai!

Ada beberapa untaian lirik lagu Minang yang sangat menyentuh hati untuk mengenang kematian Buya Hamka yang dinyanyikan oleh Zalmon, judul lagunya Salamaik Jalan Buya, ciptaan Agus Taher, sekarang bisa anda dengar di YouTube di HP anda tapi jangan menangis ya:” Selamat Jalan Buya…Ndak mungkin bungo tumbuah di Minang, bialah kambang di rantau urang……..samaso Buya bacarito, manangih nan mudo2,…. Baransua luruih Bengkok Salamoko…salamaik jalan oo Buya ooooo”. Ini lagu sangat menyentuh hati. Penyanyi Zalmon melantunkannya dengan nada indah hingga tak terasa air mata berlinang bagi yang mendengarnya. Tetapi anda yang bukan orang Minang, apakah mengerti dengan lirik lagu tersebut? Ini terjemahannya “ Selamat jalan Buya….jika tak mungkin bunga (ulama terkenal) tumbuh di Minang, biarlah ia tumbuh di rantau orang (di luar Minangkabau)….Bila Buya berdakwah, menangis anak2 muda, maka berangsur baik kelakuan buruk selama ini..selamat jalan oo Buya ooo”. Pintar sekali Zalmon cara menyampaikannya karena penuh sindiran (satire) dan penuh makna, tetapi anak muda Minang yang disasarnya tak merasa tersinggung. Bila anda tersinggung, itu berarti anda telah mempunyai perasaan orang Minang sebelum menjadi orang Minang.

Memang Kiyai Lohot tidak setenar Buya Hamka tetapi harum namanya bagaikan harumnya sekuntum bunga. Orang awam mengenalnya, pejabat Daerah Jambi menghormatinya, Ibuk2 pengajian mengaguminya, mahasiswa IAIN mengenangnya. Tatkala bunga itu layu dan jatuh ke tanah, ia dikuburkan orang, lalu tanah Jambi menangis, sebab entah kapan lagi sosok ulama sehebat Lohot akan lahir. Lahir entah dari bumi mana, entah dari suku apa. Yang penting dia tetap melantunkan ajaran Nabi Muhammad meskipun perlu dipurifikasi (dimurnikan) oleh Muhammadiyah. Kiyai Lohot itu memang ulama NU tetapi dia pandai merekat hati orang Jambi mirip dengan cara Buya Hamka, maka isteri Kiyai Lohotpun pernah bersekolah di sekolah Muhammadiyah di Jambi. Kata Mahfud MD, Muhammadiyah dan NU itu bagaikan sepasang sandal, selalu dipakai keduanya.

Apakah anda pernah berjumpa muka dengan Buya Hamka? Saya pernah jumpa 1x waktu solat tarawih di Kampus Univ. Gajah Mada Yogyakarta tahun 1976-1977? Anda mungkin belum lahir. Waktu itu saya masih duduk di SLA di Yogya nama sekolahnya PHIN. Tiba2 masuk ke dalam masjid kampus UGM Buya Hamka, mesjidnya penuh sesak, Buya turun dari mobil. Karena Buya Hamka sudah tua, susah berjalan, maka dipegang tangan kiri-kanannya oleh beberapa kakak2 mahasiswa hingga beliau duduk di saf barisan paling depan. Saya berusaha keras untuk dapat bersalaman dengan Buya Hamka walaupun telah diusir oleh Panitia, dan saya berebut duduk dengan ribuan mahasiswa UGM persis di belakang safnya dan berhasil. Sejauh ingatan saya beliau tidak menjadi Imam solat malam itu, hanya berceramah, tetapi Buya duduk di barisan paling depan dan saya di barisan kedua. Mata saya selalu mengintip gerak-geriknya dari belakang, bagaimana cara takbir, cara sujud dan cara zikir. Yang paling saya ingat ialah cara Buya Hamka berzikir dengan meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya di atas pahanya sambil duduk miring bersimpuh pakai sarung, pakai jas hitam, serban putih dan peci hitam. Diulangi, tangan kanannya diletakkan di atas tangan kirinya sambil membaca zikir subhanallah 33x, alhamdulillah 33x, dan Allahu Akbar 33x pula. Itu betul2 membekas dalam ingatan saya karena dilihat langsung dengan mata kepala sendiri, hingga kini selalu saya contoh dalam solat cara berzikir seperti itu. Itu warisan tak ternilai dari Buya Hamka. Membaca zikir hanya dalam hati, berbisik kepada Ilahi Rabbi, Hamka tidak zikir berjemaah dengan suara keras. Apakah anda ingin pula mencontohnya? Silahkan adik2 muda!

Lalu apa pula kenangan pak Amhar dengan Kiyai Lohot yang paling mengesankan? Sebagaimana sudah saya ceritakan dalam tulisan In Memoriam: Kiyai Lohot tanggal 4 September 2026 yang lalu, suatu kali saya diutus oleh IAIN Jambi bersama Kiyai Lohot ke Desa Lubuk Jering, Kec. Pauh, Kab. Sarolangun untuk mengantar mahasiswa KKN, mungkin sekitar tahun 1988-1989? Kami berdua berboncengan naik sepeda motor tua milik Kiyai Lohot sejauh 4 jam perjalanan naik motor. Tiba2 di tengah jalan, di bawah panas terik dalam perjalanan di daerah Ness, dihentikannya speda motornya dan saya heran. Tiba2 dikeluarkannya amplop putih dari kantong bajunya, dia bilang :”Kita bagi duit ini dulu…katanya” dengan logat Bataknya. Saya heran, kenapa saya yang masih pegawai baru di IAIN ini, masih kecil, masih ingusan, diberi pula duit oleh atasan? Saya tidak minta, dan saya sangat terharu, tetes air mata saya duduk di belakang motor sambil bonceng. Bensin motor dia pula yang beli, makan di Pauh dia pula yang bayar. Kiyai Lohot betul2 polos, hingga kini kenangan itu tak terlupakan….memang tak terlupakan sama dengan kenangan pada Buya Hamka: keduanya sangat membekas dalam memory saya. Yaa Allah limpahkanlah rahmat pada kedua ulama ini dan jadikan adik2 muda yang membaca tulisan saya ini mengikuti jejaknya. Bila Tuhan menjadikan adik2 ini orang yang saleh di kemudian hari, jangan lupa pula mengirim bacaan al-Fatihah untuk pak Amhar jika saya telah meninggal nanti ya.

Kini saya ingin bertanya pada anda dari lubuk hati yang paling dalam, seandainya Malin Kundang sempat bersujud di kaki ibunya berkat dakwah Hamka dan Lohot, apakah anda mau pula bertaubat dari dosa2 anda? Seandainya anak gunung Krakatau tidak meletus di akhir 2026 ini, apakah anda akan tetap tak mau datang solat ke masjid walaupun 1 x seumur hidup? Hidup ini sebentar, mungkin kira2 70 tahun lalu meninggal, jasa Hamka dan Kiyai Lohot akan percuma bila anda lupa jati diri. Maka tulisan saya Jum’at depan, sudah saya tulis, yaitu akan mempertanyakan “Mana yang lebih baik hidup kaya tanpa tau arah atau hidup yang bermakna?” Maka janganlah hidup dengan penuh ketakutan sebab kata Naguib Mahfouz: “Ketakutan tidak bisa mencegah kematian, ia hanya mencegah kita untuk menikmati hidup”.

Kini Kiyai Lohot telah pergi buat selamanya. Tanah Jambi menangis, Sidempuan melambaikan tangan dari jauh di utara, air Sungai Batanghari memandikan mayatnya, Gunung Kerinci menjaga kuburannya, UIN Jambi mengenangnya dan orang Jambi meratapinya. Memang Kiyai Lohot orang Batak, tetapi orang Jambi menjadikannya lebih dari saudara, orang Jambi membanggakannya, bukan karena dia kaya, bukan karena dia punya takhta, tetapi karena dia punya jasa yang sangat menyentuh di dada. Bila Lohot bercerita, berangsur baik orang2 Jambi dan sekitarnya. Sama dengan Buya Hamka, bila Buya bercerita, berangsur ‘lurus’ apa yang ‘bengkok’ selama ini. Selamat jalan dua ulama. Mudah2an kami merobah kelakuan buruk kami sepeninggal anda!

Di penghujung cerita ini, ibarat kebun bunga yang indah, Lohot datang dari Mandailing ke Jambi untuk bertanam ulang dan menyiram bunga2 agar tumbuh dan berkembang walaupun di kebun kecil, meneruskan dakwah Hamka yang telah lebih dulu ‘berdakwah’ di kebun yang luas, ingin ‘menyiangi’ rumput2 dan duri yang tumbuh di sela2 bunga2 dalam kebun itu, agar kebun bunga berskala nasional itu indah bagaikan indahnya tempat solat Rasul, di Raudhah di Mesjid Madinah, bersih dari Tachayul, Bid’ah dan Churafat. Maka dakwah Hamka dan Lohot sebenarnya seirama, satu hati, satu tujuan meski dua badan, beda zaman. Setelah ditinggal oleh Lohot, kebun bunga itu sekarang jadi milik kita, maka mari kita siram bersama dengan air Sungai Batanghari, jangan disiram dengan darah dan air mata. Selamat jalan Kiyai Lohot. Terimakasih atas jasa2mu. Dalam bahasa Batak Mandailing disebut:”Inda na lupa hami di sude jasa2mu ,,,,,,,,,Lohot.” Kok tahu bahasa Batak? Pak Amhar ngutip ‘Opung’ Google ya? Ya, tak satu jalan ke Roma. Sebagai penutup, ini ada pantun orang Jambi.

Boneka robot membeli selasih,
Selasih dibawa ke Telanaipura,
Kepada Lohot kita berterima kasih,
Agar diingat anak muda.

Manis rasanya buah duku,
Dipetik anak di kota Jambi,
Segala jasamu wahai guruku,
Terukir indah di dalam hati.

Dari Kualanamu pergi merantau,
Sepucuk Jambi Sembilan Lurah,
Walaupun NU mekar memukau,
Sahabat seNabi dengan Muhammadiyah

Sekian dulu Bapak2/Ibuk2 dan adik2 semuanya, terimakasih telah membaca tulisan saya. Mohon maaf, wassalam, Amhar Rasyid, Jambi.

*Silakan Share