DARI PIALA DUNIA HINGGA KAMPUS : FILOSOFI ‘NASI TUMPENG’

Oleh; Amhar RasyidJambi, 31 July 2026

Assalamu’alaikum wr,wb Bapak2/Ibuk2 dan Adik2 semua di mana saja berada, baik Muslim maupun non-Muslim. Salam Bahagia. Mungkin anda heran membaca judul di atas, tetapi judul itu sebenarnya ingin mengetuk hati dan pemikiran kita bersama. Begini penjelasannya. Pernahkah anda membayangkan bagaimana sepak bola dunia tanpa ada Sportifitas? Dalam pertandingan sepak bola, termasuk sepak bola piala dunia yang baru saja usai, sebenarnya ada Sportifitas, kejujuran, kebenaran yang diidolakan bersama oleh semua pemain, wasit, penonton bahkan organisasi FIFA. Pada sportifitas kita semua bersepakat, pada pelanggaran sportifitas kita semua tidak bersepakat. Lalu apa masalahnya? Sportifitas itu, menurut saya, adalah bagian ujung kecil dari ajaran agama yang tertanam dalam sanubari manusia yang kemudian seolah di’potong’ bagian atasnya, mirip memotong nasi tumpeng, diambil sekedar diperlukan, kemudian sportifitas itu dimasukkan ke dunia sepak bola, sehingga FIFA berhasil meraup keuntungan jutaan dollar dari penjualan tiket, sponsor2 dan siaran televisi. Ujung atas nasi tumpeng itulah yang dikomersialisasikan. Bagaimana bagian bawah nasi tumpeng? Tersisalah kejujuran, keihklasan yang diajarkan oleh para ustaz, da’i dan tokoh2 umat untuk…………..orang awam seperti kita. Adapun di dunia perguruan tinggi, di kampus2, kualitas penelitian mayoritas para dosen, menurut saya, nampaknya belum juga banyak mencontoh filosofi ‘ ujung nasi tumpeng’. Kata Google, penelitian keagamaan di Indonesia umumnya monoton dan apologetic. Akibatnya hasil penelitian keagamaan kita kurang mempunyai daya ‘jual’ di level global. Tulisan berikut akan mendiskusikan masalah tersebut dengan sekuat kemampuan saya. To the best I can do. Maka pertanyaannya ialah bagaimana hakikat ‘nasi tumpeng’ di piala dunia, di ranah teologi dan bagaimana pula di dunia kampus? Apa benang merah yang terlihat di sana? Dengan segala kerendahan hati tulisan ini lebih ditujukan khususnya kepada adik2 yunior yang sedang sibuk menulis penelitian dan selalu memikirkan tugas2 yang harus memenuhi kriteria scopus dan Web of Science. Maaf sifat diskusi berikut sangat akademik. Pembahasan dibagi kepada beberapa paragraph, sesingkat mungkin, tetapi inspiratif dengan menggunakan pendekatan filosofis.Pertama, apa itu ‘nasi tumpeng’ dan bagaimana kaitannya dengan sportifitas? Dalam tradisi Jawa, nasi tumpeng adalah tumpukan nasi berwarna kuning menyerupai kerucut, lancip ujung atasnya, dan biasanya digunakan untuk sesajian dan acara2 resmi. Bila ada acara2 tertentu, ujung lancip nasi tumpeng dipotong oleh seseorang yang dihormati untuk dimakannya atau diberikan kepada orang lain. Lalu bagian nasi tumpeng yang di lapisan bawah? Itu untuk anda dan untuk saya karena kita ‘kasta’ orang awam. Selanjutnya saya melihat pada nasi tumpeng, lapisan atas mirip dengan sportifitas di dunia sepak bola dan lapisan bawah adalah lapisan kejujuran, lapisan keikhlasan sebagaimana yang diajarkan oleh agama2, tetapi ia untuk konsumsi khalayak ramai. Ini dikotomi sederhana. Bila sportifitas tidak diambil dari ajaran agama, lalu dari mana? Dari filsafat moral Kant? Immanuel Kant itu belakangan lahirnya dari agama2 dunia.Kedua, di satu segi sportifitas di dunia olah raga diyakini asal usulnya adalah nilai2 religius yang di’potong’, diambil sekedar diperlukan oleh FIFA lalu kemudian dikomersialisasikan, dan diperdagangkan lewat adu sepak bola dunia untuk meraup untung (pragmatic/profit-oriented/capitalistic). Sportifitas itu dibela oleh pluit wasit di tengah lapangan. Lambang hukuman akibat tidak sportif biasanya kartu kuning dan kartu merah. Di segi lain para da’i, pastor, biksu, menceramahi umat masing2 dengan anjuran untuk selalu berbuat kejujuran, keihklasan, tetapi non-profit, nirlaba di dunia, karena imbalan dari kejujuran selalu dijanjikan nanti tunggu di akhirat. Nasib umat memang dipenuhi dengan pengharapan2, aneka siksa di neraka dan rahmat di sorga (non-pragmatik/non-profit oriented/teologik). Menurut pak Amhar, apa salah satu nilai religius yang mungkin bisa dipromosikan pada dataran global? Kalimatun Sawa’ (Surah Ali Imran 64). Saya yakin reinterpretasi yang futuristic bisa dirumuskan dari ayat tersebut oleh para pemikir Muslim bersama tokoh2 agama lain. Dari diskusi ini nampak beda isi otak FIFA dan isi dada Tokoh2 Agama. FIFA berhaluan pragmatic, tokoh2 agama berhaluan teologik. Itulah yang terjadi pada Piala Dunia dan ceramah2 agama. Kita disuguhi konsumsi keduanya lalu bagaimana pula di dunia kampus?Ketiga, lebih jauh nampaknya filosofi ujung ‘nasi tumpeng’ juga kurang dinikmati di dunia kampus. Menurut saya banyak hasil tulisan ilmiah dan hasil penelitian di jurnal2 ilmiah belum punya ‘nilai jual’ di level internasional. Entah kenapa? Mungkin para peneliti didesak oleh singkatnya waktu dan banyaknya tugas ditambah lagi tugas rutin birokratis, selain metode penelitiannya dipertanyakan dan modal financial mungkin juga kurang mendukung. Sementara otak mereka memerlukan ketenangan, keseriusan untuk berpikir ilmiah, berpikir mendalam dan innovatif di samping kendala bahasa asing. Hasilnya? Ya dikarbit. Dalam keadaan serba terburu2 seperti itu, saya lalu teringat apa yang dikatakan oleh Prof. Muntholib (Guru Besar/Peneliti senior di UIN Jambi), bahwa objek penelitian kita sebaiknya mengandung unsur kebaruan (novelty), sesuatu yang belum ada orang lain yang menggarapnya sebelumnya, serta mempunyai daya ‘jual’ di dunia internasional. Apa contohnya? Ambillah contohnya membuat sepeda. Janganlah kita terus menerus (monoton) mengulangi membuat sepeda, sebab itu akan sama saja dengan apa yang sudah dibuat orang2 terdahulu, tetapi coba buat ‘lonceng sepeda’ model terbaru, futuristic dan marketable, sehingga ada novelty. Dengan cara begitu para peneliti luar negeri akan kagum, dan tertarik mendengar, membaca dan bahkan membahas sesuatu yang baru (something different). Jadi bila penelitian ilmiah itu dimisalkan dengan ujung ‘nasi tumpeng’, pikirkanlah untuk memasukkan ke dalamnya unsur2 yang akan membuat objek penelitian itu market-oriented di pasaran internasional, mencontoh Sportifitas oleh FIFA. Menurut Google, unsur2 penelitian internasional diantaranya harus memakai bahasa resmi PBB, memiliki keragaman penulis dan editor dari manca negara, juga kepatuhan pada kaidah ilmiah global. Sementara ide2 menarik untuk diteliti diantaranya terkait transisi energi hijau, AI dalam dunia pendidikan, dan ketahanan rantai pasok global. Di antara kelemahan penelitian keagamaan di Indonesia, juga kata Google, ialah monoton dan apologetic. Monoton artinya ‘mengulangi membuat sepeda tanpa ada novelty’. Sedangkan apologetic artinya membela ‘aqidah sendiri, benar sendiri, Truth-Claim. Di sini saya teringat nasehat Prof. Rasyidi dalam bukunya Filsafat Agama, dalam bahasa saya, yaitu bila kita ingin objektif dan ilmiah dalam membahas masalah keislaman, letakkan buat sementara teologi kita di ‘seberang sungai’, di saat2 kita menulis, meneliti dan berpikir ilmiah, lalu kemudian jemput lagi. Sikap ini penting bagi adik2 peneliti dari UIN. Bagaimana langkah teknis cara memotong ‘ujung nasi tumpeng’ dalam hal2 ini saya tak tahu. Yang saya tahu hanya Rektor NTU (Nanyang Technological University) di Singapore sengaja disewa dari Swedia (Bertil Andersson) untuk membuat universitasnya punya kaliber dunia demi mendongkrak prestasi riset, dan ia berhasil.Namun saya akui cara pandang saya ini mungkin cenderung eksistensialis. Dalam eksistensialisme Jean Paul Sartre, ‘esensi tidak mendahului eksistensi’. Artinya sportifitas sebagai esensi, dipancung dari nilai2 kejujuran religious, ia tidak mendahului eksistensi sepak bola dunia. Ia dimasukkan belakangan. Maka pertandingan sepak bola dunia yang anda tonton sesungguhnya adalah ajang eksistensial baru yang muncul jauh belakangan sesudah adanya umat beragama, lalu dimasukkan kemudian sportifitas ke dalamnya, sehingga FIFA menjadi ‘etre pour soi’ (ia ada untuk dirinya sendiri). Oleh sebab itu FIFA yang eksistensialis bebas untuk menentukan jati dirinya di gelanggang sepak bola internasional, dengan mottonya: tanpa campur tangan pihak III. Lebih jauh di dalam ajang sepak bola ada resiko. Menurut Gita Wirjawan, resiko tergolong kepada known unknown. Artinya resiko bisa diukur, diprediksi, dikuantifikasi, sehingga ia disukai oleh modal. Bila saya kaitkan dengan sepak bola dunia, FIFA menanam modal besar untuk Piala Dunia. Memang bola bundar yang menggelinding di tengah lapangan, dalam bingkai sportifitas di mana emosi penonton seluruh dunia sedang mengawal sportifitas, tetapi jangan lupa sebagian mereka bahkan rela merogoh kocek untuk membeli tiket mahal. Yang menonton sepak bola dunia bukan anak muda saja tetapi juga kiyai, pastor, biksu, pejabat negara dan lainnya. Begitulah cara berpikir FIFA yang eksistensialis menurut saya, ia ibarat memotong ‘nasi tumpeng’, mungkin banyak orang tidak tahu termasuk anda. Silahkan anda koreksi pendapat saya! Hingga di sini saya terpaksa mengakhiri tulisan ini demi memenuhi tuntutan pembaca2 setia.Kesimpulannya ada ‘benang merah’ samar2 yang membentang antara dunia sepak bola, teologi dan penelitian akademik: cara berpikir kualitatif dan kuantitatif. Di ajang sepak bola dunia, sportifitas sudah menjadi known unknown, terukur dan dapat di price. Sementara pada penelitian akademik dan dunia teologik, nilai2 kejujuran masih pada taraf unknown unknown. Maksudnya belum terukur, belum bisa dikuantifikasi secara eksplisit seperti dalam sportifitas. Maka sekarang dengan mencontoh kepada FIFA, berpikirlah global, ilmiah dan market-oriented. Itulah salah satu cara untuk maju baik dunia kampus maupun dunia agama. Sedikit tetapi bernas. Secuil tetapi bermakna dan marketable. Mirip FIFA, KFC hanya menjual dada dan paha ayam, mereka tidak menjual ceker dan usus ayam seperti di warung Tegal. Coca cola awalnya hanya berasal dari setetes obat di farmasi, lalu kemudian dipasarkan menjadi minuman berskala dunia. Teh Kayu Aro (Kerinci, Jambi) yang sangat istimewa, besar2 bulirnya, jumlahnya hanya sedikit, tetapi untuk konsumsi para bangsawan, milyarder, konglomerat, pejabat negara.…serbuk tehnya ya untuk kita rakyat jelata tetapi sayang serbuk itupun belum pula sempat dikonsumsi oleh anak2 MBG. Sekarang ceramah2 tentang kejujuran dan keihklasan oleh para da’i, pastor, biksu, mayoritas dikonsumsi oleh umat di lapisan bawah, kurang meyentuh para pejabat negara dan koruptor di Konoha, bergema keras di rumah2 ibadah tetapi tidak bergema di Konferensi Tingkat Tinggi dan Forum2 Internasional. Apa yang salah? Di saat pemimpin2 dunia bicara isu Global Warming (Pemanasan Global), doa kita di masjid masih terdengar dibatasi ‘lil Muslimina khosssoh’(untuk orang2 Islam saja), lalu bagaimana kita mau jadi Khalifatullah fil Ardhi? Selain sportifitas di dunia olah raga, orang sekarang malah bicara tentang Code etik. Bukankah sportifitas dan Code etik itu aturan2 pragmatik yang disarikan dari nilai2 luhur religious? Maka saatnya kita berpikir ulang, apa yang salah dalam cara berpikir kita di dunia kampus? Apa yang kurang berskala global dalam cara berpikir keagamaan kita? FIFA melihat ke dunia yang futuristik, agama2 melihat ke akhirat sementara para peneliti akademik kurang berorientasi ‘market-oriented’ dalam geliat epistemologiknya. Apakah memang harus begitu?Sekian dulu Bapak2/Ibuk2 dan adik2 terhormat semuanya. Terimakasih telah membaca. Maaf mungkin agak susah memahami bahasanya bagi sebagian pembaca. Salam, Amhar Rasyid, Jambi.

*Silakan Share