DEMAM PIALA DUNIA: AGAMA, SPORTIFITAS DAN POLITIK

Oleh: Amhar RasyidJambi, 24 july 2026

Assalamu’alaikum wr,wb Bapak2/Ibuk2/Adik2 yang terhormat semuanya, baik Muslim maupun non-Muslim, di mana saja berada. Semoga kita sehat2 selalu. Pertandingan sepak bola dunia baru saja berakhir, Spanyol Juara I dan Argentina Juara II. Anda gembira, saya juga ikut gembira, buktinya saya ikut pula menulisnya sebagai bacaan ringan penjalin silaturrahmi antara kita. Di balik kegembiraan kita dan semua orang ternyata ada dalam Piala Dunia sisi semangat religious yang juga menarik untuk kita bicarakan, dan juga politik, sekurangnya dari perspektif saya. Memang prinsip utama FIFA adalah netralitas politik, fair play dan non-intervensi pihak III, tetapi kenyataan di lapangan oleh beberapa pemain tak lepas dari politik. Maka pertanyaannya ialah apa korelasi/hubungan antara Dunia Sepak Bola dengan semangat beragama serta politik? Apa pelajaran yang bisa dipetik dari diskusi Piala Dunia ini terkait nasib bangsa kita? Tujuan saya ialah agar para pembaca fans sepak bola lintas usia, lintas agama, memahami korelasi antara semangat agamis dan sportiftas olah raga dengan mengambil sample hanya pada dua bintang sepakbola terkenal yaitu Messi dan Yamal. Saya tahu banyak tokoh masyarakat, pejabat dan mungkin termasuk anda sendiri sangat mencintai pertandingan sepak bola. Prof. Quraysh Shihab kata Najwa Shihab selalu membeli tv baru, ganti yang lama, setiap akan menonton piala dunia. Yang aneh di Jerman, kata teman saya, seorang suami yang sedang menonton sepak bola dimana kesebelasan favoritnya sedang berlaga, bisa mengucapkan cerai bila channel tv diganti oleh isterinya sendiri. Mudah2an tetangga anda tidak sampai mengucapkan talak 3 hanya karena bola. Let’s focus!Pertama, ternyata ada korelasi antara agama dan olah raga. Walaupun hanya bola bundar yang disepak kian kemari, tetapi para pemain menjunjung tinggi kejujuran, ini dinamai dengan sportifitas. Bintang sepak bola Lionel Messi adalah seorang Kristen (Katholik) dan Lamine Yamal seorang Muslim tetapi di dalam permainan mereka dengan lawan2nya nampak sportifitas yang dihormati bersama. Sportifitas itu dibawa masuk ke tengah lapangan, dipraktekkan, diamalkan kata agama. Yamal dengan rendah hati mendatangi dan menyalami Messi yang kalah, dan Messi juga sportif menerima kekalahannya. Agama Islam dan Kristen itu sepakat dalam kebaikan, kejujuran, sportifitas, hanya saja berbeda, antara lain, karena ‘aqidah/Iman dan institusi. Bila dalam Islam haram berjudi/bertaruh terkait dunia sepak bola, dalam Kristen saya tak tahu. Meskipun Yamal bayi pernah dimandikan dan digendong oleh Messi 19 tahun yang lalu, kata fotografer Joan Monfort, tetapi sportifitas yang mereka praktekkan bersama di lapangan sudah jauh lebih tua usianya dari pada usia Messi dan Yamal. Jadi sportifitas sebaiknya kita lihat sebagai ajaran yang immanent (tetap tertanam) dalam ajaran agama. Sportifitas biasanya dipraktekkan dalam dunia olah raga, kejujuran di dunia nyata. Sportifitas menggema di Piala Dunia, tetapi Kejujuran nampak ‘bangkrut’ di kalangan banyak pejabat kita. Sportifitas mengandung semangat global dan menguntungkan banyak orang, sementara ketidak jujuran biasanya bersifat individual dan mau menang sendiri. Sportifitas diawasi dengan pluit wasit di lapangan, sementara imbalan Kejujuran menunggu Hisab di Hari Kemudian. Jadi sportifitas sangat bersifat eksistensial. Sayang sekali dunia agama tidak lazim menyebut istilah sportifitas.Kedua, Yamal tak mau bersalaman dengan Trump? Saat penyerahan Trophy Piala Dunia seberat 6 kg emas, bintang sepak bola Spanyol Yamal, nampak bagi saya, tak mau bersalaman dengan Presiden Amerika. Ini tentu nampak juga di televisi, disorot oleh camera wartawan. Ada apa? Saya melihat sekurangnya ada 3 unsur dalam diri Yamal: ibarat pyramid, lapisan paling bawah adalah religius, lapisan tengah ada sportifitas, dan pada lapisan ketiga ada politik. Maksudnya ada 3 lapisan: Islam, Piala Dunia dan Palestina. Saat Yamal di hadapan Trump, di tengah lapangan, ‘api’ politiknya tak kunjung padam, tetapi Yamal tidak ‘teroris’ Siapa tahu tanpa membawa senjata tajam, Yamal bisa menampar pipi Trump, atau mencekik lehernya, atau ‘nonjok’ kedua mata Trump dengan jari2nya karena keduanya sudah sangat berdekatan secara fisik. Sportifitas dalam diri Yamal berperan sebagai ‘penengah’ (antara agama dan politik) sehingga dia tidak melakukan terror. Jadi sportifitas di dunia olah raga nampaknya bisa juga mereduksi ekstrimisme, sekaligus menguatkan nilai2 Islami di mata dunia: Yamal nampak berdoa di lapangan dengan kedua tangannya, bahkan berdoa saat selebrasi setelah gol, merangkul neneknya usai pertandingan dan mencium ibu kandungnya (Sheila Ebana). Fenomena ini muncul, menurut saya, karena pengaruh ajaran Qur’an dan Hadis pada diri Yamal berkebangsaan Spanyol, dan orang2 Spanyol sejak lama sudah tak asing lagi dengan Islam (apapun artinya bagi mereka). Nampak sekali nilai2 Islami dibawa masuk ke lapangan Piala Dunia oleh Yamal. Bagaimanapun juga Yamal yang Muslim dan Messi yang Kristen itu sepakat pada sportifitas walaupun Kristen tetap pada Trinitas. Bedanya, bagi Yamal sportifitas rentan bercampur dengan politik untuk Palestina, bagi Messi nampaknya sportifitas biasa saja baik di Piala Dunia maupun di Argentina. Saatnya mulai kini adik2 muda mencontoh sportifitas mereka. Bilamana bertanding sepak bola jagalah sportifitas, dan bilamana menjadi pejabat jagalah kejujuran. Kesimpulan. Sportifitas pada Piala Dunia yang didasari nilai2 religius telah berjasa besar pada peradaban dunia. Yang merusak peradaban dunia adalah ketidak jujuran yang mengejar keuntungan pribadi, yang tidak memikirkan keuntungan bersama, keindahan bersama, kehidupan bersama. Bila kejujuran lebih tua usianya dari pada sportifitas, mungkinkah praktek kejujuran yang religious itu direformulasi ulang agar ia lebih eksistensial? Sekali lagi ibarat lapisan pyramid: agama pada lapisan dasar, sportifitas di tengah dan politik di puncaknya. Di dunia sepak bola internasional, sportifitas telah mewarnai politik, tetapi di level nasional Indonesia, kejujuran yang berbasis religius kurang berdampak pada politik, saat kampanye calon pejabatnya memakai serban dan kopiah. Banyak Omon…Omon…Ini pelajaran bagi kita.Sekian dulu Bapak2/Ibuk2 dan Adik2 harapan bangsa. Saya juga harus sportif membuat tulisan dengan singkat saja. Ke depan, di zaman adik2, pertahankanlah sportifitas dalam dunia olah raga dan bersikap jujur di dunia politik. Sekian. Terimakasih telah membaca tulisan saya, Amhar Rasyid, Jambi.

*Silakan Share