Oleh: Amhar Rasyid
Jambi, 10 July 2026
Assalamu’alaikum wr.wb. Bapak2/Ibuk2/Adik2 semua, baik yang Muslim maupun non-Muslim, dimana saja berada. Semoga kita sehat selalu. Di tengah kondisi ekonomi rakyat Indonesia yang semakin lemah saat ini dan banyak aturan Pemerintah yang terasa memberatkan bagi kehidupan ekonomi rakyat, kita umat Islam tetap rutin beribadah. Tetapi tahukah anda bahwa dalam rutinitas beribadah juga banyak aturan yang diwariskan, selain telah diatur di dalam al-Qur’an dan Hadis, juga diatur oleh para ulama terdahulu sehingga ajaran Islam itu padat (full). Dalam hukum Islam, warisan ajaran Syafi’iyah telah mengatur cara ibadah kita. Dalam bidang teologi (Ilmu Kalam) ajaran Asy’ariyah telah mengatur tata cara ber‘aqidah kita. Dan dalam bidang tasawwuf, ajaran Imam al-Ghazali juga telah mengatur pengendalian jiwa kita. Dalam tulisan Jum’at ini, saya focus hanya pada ajaran teologi saja namun sedikit agak panjang.
Teologi Asy’ariyah yang mengatur bidang keyakinan kita biasanya terlihat ajarannya antara lain dalam ceramah2 Agama dan ucapan orang awam. Dalam ceramah agama di masjid, langgar, pengajian arisan di kantor2 dan lainnya nampak penceramah mengutip ayat dan Hadis dan diterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia, tetapi terjemahannya selalu ‘diletakkan’ posisinya di bawah pemikiran akal semata. Maksudnya terjemahannya selalu lebih membenarkan bunyi teks ayat atau Hadis dari pada kebenaran akal/ratio semata. Demikian pula kata2 orang awam, anda tentu sering mendengar: Banyak anak banyak rezeki, Tuhan sudah menentukan nasib kita…maka terima sajalah..karena Tuhan lebih tahu dari manusia. Ini contoh ajaran teologi Asy’ariyah. Apakah anda termasuk yang mengikutinya?
Sebenarnya ceramah2 agama yang sering kita dengar sekarang telah ditunggangi oleh semacam teologi (cara berpikir keagamaan) tertentu namanya teologi Asy’ariyah. Bila penceramah, da’i, ustaz berceramah ‘menyimpang/berbeda’ dari teologi itu, nanti mata ulama2 besar, MUI, Kemenag dan sebagainya akan ‘melotot’ kepada penceramah tersebut. Maka Penceramah mirip dengan sopir bis yang membawa banyak penumpang, salah satu penumpangnya adalah anda. Route bisnya sudah dipersiapkan oleh agen perjalanan sebelum berangkat. Agen itu adalah organisasi keislaman tempat anda bernaung sekarang. Bisnya kita umpamakan teologi Asy’ariyah: inilah bis yang direkomendasikan terutama oleh NU. Bila demikian, pertanyaannya ialah: Apa sebetulnya yang terjadi saat anda mendengar ceramah agama? Apa contoh persoalan klasik yang ada dalam teologi Asy’ariyah dan bagaimana hubungannya dengan persoalan bangsa saat ini? Apakah teologi Asy’ariyah itu sudah harus dipersegar? Dipersegar dengan apa? Ini yang akan saya bahas. Tujuan saya di sini ialah untuk menjelaskan sehingga membuat anda sadar bahwa di balik ceramah2 agama yang kita dengar sebenarnya ada teologi yang mengarahkannya. Pembahasan ini dibagi kepada beberapa paragraph, dengan memakai ‘kaca mata’ Prof. Muhammad Arkoun, sebelum sampai kepada kesimpulan, mudah2an anda suka membacanya.
Pertama, ada apa dengan ceramah agama? Ceramah agama sudah umum kita adakan di mesjid2, langgar, kantor2, rumah2, arisan2 bulanan, pengajian ibuk2 dan lainnya. Kita bahkan sering mengundang penceramah dari luar kota, dari luar wilayah di mana kita tak melihat sikapnya sehari2. Saya kagum ada ceramah2 pernah diadakan di hotel, jamaahnya ibuk2 elite, berduit, iyuran mahal, plus ada therapi pengobatan dan penceramahnya entah dari sudut mana domisilinya, yang penting diundang dari Jakarta. Ceramah agama sudah menjadi kebutuhan rohaniah kita. Kita menyebutnya dengan ‘Siraman Rohani’ tapi kita tak sadar bahwa teologi Asy’ariyah menjadi landasan berpikirnya. Landasan berpikir itulah yang mewarnai isi ceramah para ustaz nantinya. Landasan berpikir teologis yang dulu kontroversial.
Pernah dahulu dalam sejarah Islam di sekitar Timur Tengah timbul perselihan paham antara dua aliran besar: 1. Aliran Asy’ariyah yang meyakini bahwa teologi memang harus selalu bersandar kepada Iman, tetapi posisi ratio/akal sehat harus tunduk pada bunyi ayat dan Hadis. Bila pengertian ayat dan Hadis belum bisa diterima oleh akal sehat, maka akal sehat harus menunggu hingga sampai akal membenarkannya. Akal jangan sampai menundukkan bunyi ayat dan Hadis. 2. Sementara itu ada pula aliran yang berpendapat bahwa Ayat dan Hadis itu datang hanya untuk memperkuat akal saja. kata mereka, seandainya tidakpun diutus Nabi Muhammad toh kita juga bisa mengetahui yang baik dan buruk. Pendapat ini ditolak oleh Asy’ariyah dan ceramah agama tetap focus untuk memperkokoh ‘aqidah umat.
Kedua, memang dalam ceramah agama, sebenarnya sedang berlangsung ‘penguatan iman’, ‘penguatan ‘aqidah,‘penguatan keyakinan beragama’ yang kita yakini isinya sebagai jalan lurus ke sorga dan terhindar dari neraka, bahagia di dunia dan di akhirat. Penceramah mengutip ayat, membaca Hadis sementara jama’ah sudah menyediakan ‘semacam piring’ untuk menampung semua isi ceramah. Ditampung dengan penuh keyakinan 100%. Dengan hati tulus ikhlas terbuka, kuping dipasang untuk mendengar ajaran agama yang diyakini ‘Mutlak Benar’. Tetapi apa sebenarnya yang sedang berlangsung? Yang sedang berlangsung antara jama’ah dan penceramah ialah terjalinnya kesesuaian penjelasan teologis dan anda sebagai jamaah diharapkan menerimanya. Apa itu teology? Teology ialah ilmu yang bersifat menjelaskan ajaran2 agama yang berlandaskan keimanan. Ia dijelaskan dengan bermodalkan iman dan pengetahuan serta pengalaman penceramah, ustaz, buya, khatib, dalam kehidupan sehari2. Masalah Akhirat, Azab Kubur, Bidadari, Neraka, Sorga, adalah persoalan yang berkaitan dengan keyakinan, tak bisa dipahami dengan otak saja, tetapi wajib dipercayai adanya, lalu dijelaskan ‘Masalah Akhirat’ itu oleh penceramah dengan pengalamannya dan pengalaman kita sehari2, disesuaikan dengan cara berpikir kita yang empirik. Empirik artinya sesuai dengan pengalaman berdasarkan panca indera. Misalnya kata Bidadari selalu dipahami sebagai Wanita cantik…ya cantik menurut gambaran yang ada dalam kepala orang yang membayangkannya. Bila penceramahnya orang Afrika, boleh jadi Bidadarinya Hitam, dan bila penceramahnya orang China, boleh jadi bidadarinya putih. Ini namanya penjelasan teologis, atau disebut juga dengan Ilmu Kalam: kita memahami alam ghaib sesuai dengan alam dunia. Dalam teologi Asy’ariyah diantaranya dulu ada sekitar 7 poin krusial yang sering diperdebatkan: masalah Allah dan Sifat2Nya, Kebebasan Dalam Bertindak, Akal dan Wahyu sebagai kriteria Baik dan Buruk, Bantahan terhadap Qadimnya al-Qur’an, Melihat Allah di Akhirat nanti, dan tentang Keadilan/Kedudukan orang yang Berdosa. Berikut saya akan bahas sedikit tentang konsep Baik dan Buruk saja.
Apa itu BAIK dan BURUK? Sesuatu dikatakan BAIK, ya karena Syari’at telah menetapkannya. Dan sesuatu dikatakan BURUK, kata Asy’ariyah, karena Syari’at Islam juga telah menetapkannya. Akal (ratio) harus tunduk. Akal manusia diyakini lemah. Sementara golongan yang menantangnya mengatakan BAIK dan BURUK itu bisa ditentukan oleh akal. Syari’at datang sebagai rahmat Allah untuk memperkokoh kebenaran akal. Itulah jasa Nabi Muhammad kata mereka. Contoh Hadis Nabi bahwa kita disuruh membuang duri di tengah jalan. Menurut aliran anti Asy’ariyah, akal juga tahu itu bahwa itu BAIK, meskipun tidak diutus Nabi Muhammad. Lalu timbul persoalan modern: Punya anak banyak itu disarankan oleh Hadis Nabi kata Asy’ariyah. Lalu kata golongan yang berbeda dengan Asy’ariyah: Hadis itu harus dipikir ulang sesuai zaman modern, akal sehat kita harus berfungsi. Banyak resikonya bila punya anak banyak, terutama di Indonesia di zaman modern, kata mereka. Ini contoh persoalan teologis antara dua kubu pemahaman yang berbeda. Dalam perselisihan teologis yang kadang2 muncul itu, lalu teologi Asy’ariyah nampak bagaikan ‘Oli mobil yang sudah lama gak diganti’ dan penceramah kadang2 tak paham atau takut berbeda paham. Penceramah2 tak berani berpikir menurut kebenaran akal semata (posisi no. 1) sambil meletakkan posisi ayat/Hadis no.2.
Ketiga, dalam penjelasan teologis itu rupanya ada persoalan lagi. Penceramah menjelaskan alam akhirat tetapi dia belum pernah ke akhirat. Dia berceramah berdasarkan ayat dan Hadis, bukan berdasarkan buku dongeng atau Tambo. Ayat itu bersifat suci, dan Hadis itu bersifat sahih/benar. Apa yang dibacanya dari ayat dan Hadis lalu kemudian ditafsirkannya. Penafsirannya tentu sangat tergantung atas latar belakang pendidikan dan pengetahuannya. Seorang penceramah kondang, kiyai, buya, tentu isi ceramahnya akan berbeda kedalamannya dengan penceramah lokal yang baru mulai naik podium. Seorang penceramah tua akan berbeda luas pengalaman/pengetahuannya dengan penceramah muda. Seorang penceramah tamatan Tsanawiyah tentu akan berbeda isi ceramahnya dengan penceramah jebolan pendidikan tinggi…itu biasanya. Maka penjelasan teologis, terkait hal2 ghaib, yang disampaikan oleh penceramah tergantung atas pengetahuannya, sementara kita sebagai jama’ah selalu siap menadahkan ‘piring’ untuk menampung isi ceramah, bahkan kadang2 sambil mengangguk2. Maka sekarang nampak boleh jadi ayat dan Hadisnya sama yang dikutip oleh penceramah tetapi penjelasannya beda2 namun semuanya, saat menafsirkan ayat dan Hadis, tetap meletakkan posisi ratio di bawah teks/ayat/matan Hadis sesuai ajaran Asy’ariyah. Ya penceramah itu mirip sopir bis, dia harus melalui jalan yang sudah diizinkan oleh agen perjalanan. Dan posisi kita? Kita adalah penumpang….kadang2 ‘tertidur’ di atas bis.
Keempat, sebenarnya ada lagi persoalan yang lebih-lebih rumit. Teologi Asy’ariyah adalah paham keyakinan dalam beragama, yaitu ajaran ilmu kalam yang disusun dulu pada abad 3-4 H atau sekitar abad ke 10 M oleh Imam Abul Hasan al-Asy’ari. Beliau berasal dari Bashrah (Iraq sekarang) dulu ajarannya pernah ditolak oleh ulama2 Asy’ariyah sendiri, dilarang oleh Pemerintah di sekitar Timur Tengah, terutama apa yang diajarkan oleh muridnya yang bernama Imam al-Baqillani tentang teori al-Kasb. Penganut Asy’ariyah pernah dulu dikejar, dibunuh, dimusuhi, hanya sekarang kita di Indonesia, khususnya, telah aman meyakini teologi Asy’ariyah. Bila dulu Asy’ariyah dilarang, dan sekarang dibolehkan dan diajarkan secara resmi terutama di Indonesia, ada apa sebenarnya? Anda pikirkanlah itu. Boleh jadi dalam kehidupan beragama kita ada yang berkuasa, ada otoritas, ada ulama dan organisasi yang menjaganya. Bagaimana metode teologi Asy’ariyah? Ajarannya membuat perimbangan antara rational dan literal: artinya teologi Asy’ariyah tidak terlalu mengutamakan kekuatan akal di atas segalanya, dan tidak pula terlalu kaku secara harfiyah dalam memahami ayat2 dan Hadis. Apa ajaran teologi yang tak direstui? Namanya antara lain teologi Mu’tazilah. Teologi ini lebih mendahulukan kebenaran akal (ratio) dari pada kebenaran tekstual, maka ia ditolak. Jadi isi ceramah2 agama di langgar dan di masjid2 sekarang sebenarnya ajaran agama yang telah mendapat izin ‘STEMPEL’ oleh penguasa dan oleh para ulama dengan organisasinya untuk diajarkan di tengah masyarakat, terutama oleh sesepuh NU, anda jangan kaget. ‘Aqidah anda digiring ke suatu titik teologi untunglah ada saja isi ajarannya yang membela kepentingan rakyat.
Anda ingin contoh? Sekarang Pemerintah lagi banyaknya menerapkan aturan pajak. Ekonomi rakyat lagi susah dan praktek korupsi nampak tak terkendalikan. Maka NU yang menganut teologi Asy’ariyah, yang berprinsip seimbang dalam memahami ayat dan Hadis dengan akal (ratio) maka terdengar ulamanya berkata bahwa bila korupsi tak mampu juga diberantas oleh Pemerintah, maka NU akan menganjurkan warganya untuk tidak membayar pajak, demikian dikutip oleh Mahfud MD yang saya dengar. Jadi ulama NU mengambil perimbangan antara bunyi ayat dan akal. Di satu sisi mereka tahu bahwa ada ayat tertulis: Athi’ullaha wa athi’ur Rasul, wa Ulil Amri min kum (Patuhilah Allah dan Rasul serta Pemerintah). Ini bunyi ayat secara literal, tetapi nampaknya ada ulama NU yang berteologi Asy’ariyah melihat secara logis dan empiric ketidak mampuan Pemerintah dalam memberantas korupsi, sehingga posisi akalnya ‘diseimbangkan’ dengan bunyi ayat. Kepatuhan kepada Ulil Amri ‘dipersoalkan’. Ini contoh teologi Asy’ariyah dan kita rakyat kecil dibelanya karena sudah berat membayar aneka pajak: BBM naik, Gas naik, bahkan iyuran kebersihan/sampah lingkungan juga dipungut lagi walaupun sudah dibayar lunas pada saat kita membayar PDAM.
Kelima, apakah ada teologi Islam lain yang diakui oleh para ulama Sunni sedunia? Ada, namanya teologi yang diajarkan oleh Abu Manshur al-Maturidi. Beliau lahir di Samarkand, Uzbekistan tahun 853 M dan wafat tahun 944 M. Ajaran teologinya sekarang banyak dianut di daerah selatan Russia termasuk di Turki dimana mazhab hukum (fiqh)nya adalah Hanafiyah. Bersama dengan teologi Asy’ariyah, ajaran al-Maturidi juga diakui diterima dalam Sunni, NU juga mengakuinya. Kenapa pilihan ulama2 Indonesia jatuh pada Asy’ariyah ketimbang al-Maturidiyah? Sebab dirasa ajaran teologi Asy’ariyah lebih mendukung fiqh Syafi’iyah yang umum diterapkan di Indonesia. Kata orang teologi Asy’ariyah lebih fatalis (menyerah pada nasib) ketimbang dari pada al-Maturidiyah yang lebih rational. Apakah mungkin nasib bangsa Indonesia ini akan lebih cepat maju bila yang dianut teologi al-Maturidiyah? Saya no comment. Bagaimanapun juga, penceramah2 kita tetap lebih setia kepada Asy’ariyah daripada al-Maturidiyah dimana dalam ceramah agama isu2 perdebatan teologis klasik seringkali juga diungkit kembali, mungkin untuk menunjukkan bahwa NU adalah pewaris Ahlus Sunnah eksklusif.
Lalu bagaimana dengan Muhammadiyah? Organisasi ini agak bebas. Muhammadiyah tak terlalu mengikatkan diri khusus dengan teologi atau mazhab hukum fiqh tertentu. Pendapat2 Imam masa lampau tetap dihargai tetapi tak terlalu mengikat. Pendapat Imam2 masa lalu itu ibarat Oli mobil, boleh ditukar bila telah usang. Aqidah Islamnya tetap, tetapi penafsiran atas Islam boleh berobah, yang penting Islam tetap segar dan bersemangat untuk maju. Bukan hanya maju di Indonesia saja, tetapi maju ke level internasional. Muhammadiyah menamakannya dengan Islam Berkemajuan. Bagi Muhammadiyah lebih baik menfokuskan organisasi ini kepada isu2 strategis yang effektif guna memperbaiki kondisi umat Islam umumnya dari pada terus ‘bersilat lidah’ tentang persoalan teologis. (Lihat buku Fauzan Saleh, Teologi Pembaruan, Yogya: Suara Muhammadiyah, 2020), p. 110. Singkat kata, posisi ratio bagi Muhammdiyah tetap di bawah wahyu terutama dalam bidang ‘aqidah dan ibadah. Artinya apabila akal tak mampu sepenuhnya memahami maksud ayat dan Hadis di bidang ‘aqidah dan ibadah, maka akal harus tunduk pada bunyi leterlijknya. Bagaimana dalam bidang mu’amalat? Bagaimana sikap Muhammadiyah terhadap pemberantasan korupsi oleh Pemerintah? Anda baca sendirilah di Google dan di Majalah Suara Muhammadiyah.
Keenam, ini yang sangat serius. Bagi sebagian Profesor yang merisaukan persoalan keIslaman, persoalan teologi ini menjadi agenda intelektual, mereka seakan melihat ibarat persoalan ‘Oli Mobil yang Tak Pernah Diganti’. Bukan agama Islam yang akan diganti, tetapi cara memikirkan, cara memahami, cara berteologi dalam hidup beragama. Menurut mereka, ulama2 terdahulu berpikir sesuai kebutuhan zamannya dan pemikiran mereka tertulis dalam banyak kitab2 klasik, dan ulama2 sekarang seharusnya berpikir sesuai kebutuhan zaman sekarang pula, maka jangan asal diikuti apa yang tertulis. Artinya cara berpikir keagamaan itu seharusnya diperbarui. ‘Oli mobilnya harus diganti’.
Ini contoh nyata di zaman modern. Kadang2 ajaran teologi Asy’ariyah itu terpaksa berhadapan dengan program Pemerintah, misalnya program Keluarga Berencana (KB). Dalam teologi Asy’ariyah yang anda dengar di masjid2 dianjurkan punya anak banyak, jangan khawatir punya anak, sebab rezeki setiap hamba kata Ustaz sudah dijamin oleh Allah. Dan orang awam lalu ngomong : ‘Banyak anak banyak rezeki’. Sementara Pemerintah sesuai akal sehat (ratio), melalui BKKBN, ingin agar jumlah penduduk Indonesia semakin sedikit, karena jumlah penduduk yang banyak sangat berpengaruh pada sulitnya mencari lapangan pekerjaan, tingginya belanja negara (solar dan Pertalite harus disubsidi, obat2 di Rumah Sakit dan Puskesmas harus disubsidi, Naik Haji harus antre sekian tahun, apalagi MBG harus trilyunan rupiah sesuai dengan membengkaknya jumlah siswa SD hingga SMA), dan akhirnya ini semua berpengaruh pada melemahnya nilai Rupiah. Logis kan? Sementara ceramah agama masih saja ada yang menyerukan ‘Perbanyaklah anak, kata Ustaz, karena Nabi nanti akan gembira di akhirat bila umatnya banyak’. Biarkanlah umat Islam itu banyak di Indonesia, karena itu semua sudah KETENTUAN Tuhan, kita harus pasrah menerimanya, kata isi ceramah yang beraliran Asy’ariyah dan anda ‘mengangguk gembira’ mendengarnya. Akibatnya isteri anda hamil lagi…satu anak makan MBG di sekolah, satu anak dalam buayan, satu digendong dan satu lagi masih dalam perut isteri…ini akibat teologi Asy’ariyah yang anda anut. Ini contoh kendala kita antara teologi Asy’ariyah dan program Pemerintah, dan bila ia dianggap sebagai masalah, maka sekarang teologi kita perlu ditela’ah ulang dengan sosiologi (ilmu tentang prilaku masyarakat) antara lain menurut Prof. Arkoun. Bagaimana menurut anda?
Bagaimana penjelasannya? Prof. Muhammad Arkoun, guru besar pemikiran Islam dari Marokko mengusulkan agar bangunan ilmu2 keislaman klasik seperti teologi Asy’ariyah yang sering kita dengar dalam ceramah2 ini di’perbarui’, dibuat yang lebih segar, agar Islam semakin maju. Kenapa kita tak pernah lagi memperbarui ajaran yang sudah lama, cara berpikir lama, sementara peradaban dunia telah maju pesat. Ibarat mobil, Prof. Arkoun ingin ‘Oli’nya ditukar, bukan mesin mobilnya yang diganti. Oli ditukar, diganti dengan yang baru agar mesin mobil lebih bertenaga, jangan lembek, lesu. Dengan apa ditukar ‘olinya’? Saran Prof. Arkoun ialah agar ilmu2 modern seperti sosiologi, antropologi, psikologi, hermeneutic bisa digunakan untuk memperbarui ‘Oli’ mobil teologi kita. Ilmu2 semacam itu dulu di zaman Imam al-Asy’ari belum ada. Lalu bagaimana cara kerjanya Arkoun? Dia berusaha ‘memotret ulang’ cara kerja ulama2 klasik dalam usaha mereka dulu menyusun teologi dan lainnya. Dengan cara seperti itu nanti akan terlihat unsur2 dan factor kesejarahan apa saja yang dulu yang telah ikut terlibat dalam penyusunan naskah2 klasik (teologis) tersebut. (Lihat tulisan M. Amin Abdullah, ‘Arkoun dan Kritik Nalar Islam’ dalam buku Membaca al-Qur’an Bersama Muhammed Arkoun, Johan H. Meuleman ed., Yogya: LKiS, 2012), p. 4 dan 19. Singkatnya, para pemikir Islam mempertanyakan apakah rumusan teologi Asy’ariyah di masa dulu itu telah betul2 mewakili isi ajaran al-Qur’an dan Hadis seutuhnya? Di Rumah Makan Padang, Gulai ikan terasa enak karena bumbu dan metode menggulainya. Bumbu dan cara menggulai itulah yang ingin diselidiki kembali oleh Arkoun sekarang. Sementara ceramah agama enak saja menghidangkan ‘gulai ikan’ dan anda menikmatinya…apalagi dihidangkan oleh Ustaz Somad, Zainuddin MZ, Das’ad Latif, Tuti Alawiyah, Buya Hamka dan da’i2 kondang lainnya.
Pemikiran Prof. Arkoun ini yang jarang diketahui oleh para penceramah, apalagi adik2 yang masih muda. Mereka berceramah umumnya mengikuti jejak kakek2, Mbah2, Buya2 yang sudah umum terdengar dari waktu ke waktu, dari masjid ke masjid, yang mana ‘Oli’ mobilnya sudah usang. Sekarang anda bisa melihat perbedaan ‘kegelisahan’ ulama dan ‘kegelisahan’ ahli pikir Islam. Ulama biasanya gelisah bila datang pemikiran baru, mereka ingin ajaran teologi yang sudah ada ya tetap begitu saja, sebab hidup beragama baginya adalah ‘ketenangan batin umat’ dan mungkin juga ‘ketenangan posisi mereka’ sebagai Pewaris Nabi. Sementara para ahli pikir, ingin agar ‘Oli’ mobil ditukar terus setelah mobil menempuh jarak ribuan km, sebab beragama bagi ahli pikir keislaman adalah ‘dinamika’ (gerak terus), jangan jumud/beku/stagnant. Artinya para ahli pikir modern ingin membawa Islam ke level internasional, dimana Islam dan peradaban modern saling bersinergi, bekerja sama demi kemajuan umat, bukan umat Islam saja, tetapi demi kemaslahatan umat sedunia. Memasukkan ilmu2 modern seperti disebutkan di atas untuk memikir ulang teologi Asy’ariyah saya sebut ‘Mengganti Oli Mobil’.
Kesimpulan. Jadi ajaran agama kita telah penuh dengan berbagai pemahaman dari cara berpikir masa lalu. Ibarat sungai yang mengalir, ajaran Islam dari zaman Nabi itu semula cair, encer, tetapi lama kelamaan ada yang membeku, bergumpal2 di tengah sungai. Dan anda hanyut di’gulung’ dalam gumpalan air sungai yang membeku itu, anda tak mampu keluar. Itulah perumpamaan teologi yang selalu diajarkan dalam ceramah2 agama. Sekarang cara kita berwudhu’ telah di’format’ oleh ajaran Syafi’iyah, cuci rambut cukup 3 helai rambut depan saja. Cara kita meyakini ajaran agama, juga telah di’format oleh ajaran teologi Asy’ariyah yang mana akal sehat harus tunduk pada bunyi ayat dan Hadis. Bahkan cara kita solat subuh yang selalu membaca qunut, telah di’format’ oleh NU. Semuanya mereka mengatakan ajaran itu dari al-Qur’an dan Hadis. Bagaimana dengan Muhammadiyah? Bagi Muhammdiyah memang semua perbedaan pendapat itu dihormati. Hanya saja dalam hal Iman, ‘aqidah, dan ibadah bunyi ayat dan Hadis sangat diutamakan dari pada peran akal. Tetapi dalam hal duniawi (mu’amalat) peran akal boleh lebih diutamakan dari bunyi ayat dan Hadis. Anehnya, Putusan Tarjih Muhammadiyah tentang KB ternyata masih cenderung Asy’ariyah. Anjuran Nabi dalam Hadis yang menyuruh memperbanyak anak, menurut Muhammadiyah, perlu terus dilestarikan? (Lihat buku Fathurrahman Djamil, Metode Ijtihad Majlis Tarjih Muhammadiyah, Jakarta: Logos, 1995), p. 83. Ber KB boleh2 saja asal ada kesepakatan suami-isteri. Tetapi konsep Childfree (bersepakat untuk tidak punya anak sama sekali) ditantang keras oleh Muhammadiyah.
Sekali lagi saya ulangi, ajaran agama kita sudah ‘diformat’ resmi. Diformat artinya dijadikan ajaran resmi. Sekarang terserah anda. Saya hanya membantu menjelaskannya kepada anda sejauh yang saya ketahui. Apa resikonya bila kita tak mengikuti ‘format’ itu pak Amhar? Apakah kita nanti tidak masuk sorga? Masuk sorga atau tidak itu adalah urusan Allah. Tetapi ajaran yang di’format’ itu ada sesepuhnya/ulama2 besarnya, ada organisasinya yang mempertahankan. Bagaimana caranya agar kita beribadah persis seperti Rasul menjalankannya? Ya hiduplah di zaman Rasul agar bisa melihat, mendengar dan bertanya secara langsung kepada Rasul. Bila kita hidup di akhir zaman, ya beginilah keadaannya. Yang penting anda harus sadar bahwa ada ‘KEKUATAN” yang membelenggu anda dalam air sungai yang sedang mengalir deras. Anda terkurung dalam kekuatan besar itu diputar oleh derasnya air sungai, namanya teologi Asy’ariyah, dan anda tak mampu lepas darinya. Akhir kata, sebenarnya saya ingin membantu anda, tetapi membantu dengan cara memperkenalkan ide2 baru yang lebih ilmiah, lebih berisi ilmu pengetahuan, agar anda tidak ‘tertidur’ disaat menumpang mobil tua tanpa tukar Oli. Mobil tua, tanpa pernah tukar oli, boleh jadi akan mogok di jalan raya. Mudah2an anda tidak tertidur lagi waktu mendengar ceramah dan isteri anda hamil terus.
Sekian dulu Bapak2/Ibuk2 dan Adik2 semua, maaf terlalu panjang, terimakasih telah membaca. Wassalam, Amhar Rasyid, Jambi.