ANTUM NU…..KAMI MUHAMMADIYAH….SAYA ISLAM SAJA: Lalu POSISI ANDA DI MANA?

Oleh: Amhar Rasyid
Yogya-Madiun: 24 April 2026

Assalamu’alaikum wr,wb. Bapak2/Ibuk2 dan Adik2 kawula muda harapan bangsa baik Muslim maupun non-Muslim di mana saja berada. Sebagaimana diketahui, ada sekurangnya dua organisasi keislaman yang besar di Indonesia yaitu NU dan Muhammadiyah, masing2 punya banyak pengikut, salah satu di antaranya mungkin ANDA yang sedang membaca tulisan saya ini. Selamat menjadi pengikut organisasi pilihan anda. Tetapi ada suatu hal yang lebih penting untuk dipikirkan dari pada sekedar menjadi anggota organisasi yaitu KESADARAN DIRI. Sadari dan ketahui posisi anda dalam organisasi tersebut, mengapa menjadi anggota setia, apa tujuan organisasi anda, kemana arah organisasi anda, apa nilai plusnya menjadi anggota NU atau menjadi anggota Muhammadiyah? Ini perlu dipertanyakan dalam diri anda, terutama adik2 Generasi Muda agar kehidupan beragama di Indonesia lebih maju ke depannya dalam kemandirian. Ini penting!

Tulisan berikut bukan untuk mempromosikan NU atau Muhammadiyah tetapi lebih kepada usaha menyadarkan warga Indonesia, terutama generasi muda, mempertanyakan apa gunanya menjadi anggota NU atau menjadi anggota Muhammadiyah: jangan ikut2an orang lain tanpa alasan sehingga Indonesia lambat maju dalam kemandirian. Dengan menggunakan pendekatan pragmatic (membebaskan anda untuk memilih), saya akan mendiskusikan tulisan berikut dari segi ilmu pengetahuan dan filsafat tetapi setelah tamat membaca ini anda jangan menjadi semakin bingung, anda boleh keluar dari organisasi kesayangan anda: saya yakin anda tidak akan berdosa di akhirat dan tidak akan diancam dengan hukuman pidana di dunia. Aman koq. Mari kita mulai!

Pertama, sejarah organisasi dan cita2nya. NU didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari tahun 1926 di Surabaya, sementara Muhammadiyah didirikan oleh KH Ahmad Dahlan di Yogyakarta tahun 1912 (lebih awal 14 tahun). Karena Muhammadiyah lebih tua usianya dari NU, maka kita dahulukan menyebutnya untuk selanjutnya. Mahfud MD menyebut Muhammadiyah dan NU ibarat sepasang sendal: yang selalu berdampingan dalam melangkah. Tujuan Muhammadiyah ialah ingin agar terwujud masyarakat Islam yang se benar2nya. NU juga ingin menegakkan ajaran Islam menurut ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah yang moderat, toleran dan seimbang dalam kehidupan bermasyarakat. Jadi keduanya ingin agar umat Islam Indonesia khususnya menjadi Muslim yang sejati. Lalu bagaimana dengan tujuan anda? Apa tujuan anda menjadi anggota Muhammadiyah atau anggota NU? Apakah anda ingin menduduki jabatan dalam organisasi tersebut, atau mencari nafkah, atau ingin memajukan organisasi yang anda cintai, atau ikut2 saja tak tahu arah? Kalau pak Amhar? Saya lebih cenderung…nantilah saya jawab di ujung tulisan ini.

Kedua, secara filosofis Muhammadiyah dan NU pada hakikatnya, menurut saya, ibarat dua Kapal Besar yang berlayar utamanya di perairan Nusantara, di bawah bendera Merah Putih, ‘berpagar’ Pancasila, sambil menawarkan ‘menu’ makanan ciri khas masing2 di atas kapal kepada anda. Apa ‘menu’ kapal Muhammadiyah? Di antaranya anda ditawari untuk kembali kepada ajaran Islam yang betul2 murni sebagaimana Rasul saw dulu pernah mengamalkannya, kata orang Muhammadiyah, dengan berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah. Contohnya? Nabi tidak selalu membaca qunut dalam solat subuh, maka kita sebaiknya juga tidak selalu. Lalu apa ‘menu’ di atas kapal NU? Anda ditawari, antara lain, untuk mengamalkan ajaran2 Islam sesuai dengan yang telah dicontohkan oleh ulama2 klasik karena mereka pantas, menurut ulama2 NU, untuk menjadi panutan kita. Contohnya? Ulama klasik ada yang membolehkan minta doakan untuk orang yang telah meninggal tetapi dengan cara minta bantuan ulama atau kiyai sebagai perantara (ini namanya tawassul). Pilihan pak Amhar? No comment.

Ketiga, bila difilsafati lebih dalam, anda menjadi warga Muhammadiyah atau warga NU boleh jadi karena mengikuti orang tua, atau terlahir di lingkungan yang kental dengan organisasi tersebut, atau ingin mencari jabatan/kursi, atau ingin mengabdikan diri untuk kejayaan organisasi tersebut. Perlu diketahui bahwa KH Ahmad Dahlan dulu berpesan kepada warga Muhammadiyah: Hidup2lah dg Muhammadiyah tetapi jangan mencari hidup dalam Muhammadiyah. Artinya jangan dijadikan Muhammadiyah hanya sebagai ‘Sapi Perah’ untuk diambil air susunya. Di segi lain, bila naik ‘kapal’ Muhammadiyah, anda tak boleh berpolitik praktis di atasnya, bila ingin aktif berpolitik praktis silahkan atas nama pribadi di luar organisasi, asalkan jangan membawa nama Muhammadiyah. Contoh Amin Rais. Bagaimana kalau di atas ‘kapal’ NU? Boleh berpolitik praktis, boleh membawa nama NU untuk berjuang secara politis di panggung politik nasional. Contohnya? Muhaimin Iskandar. Apakah kader Muhammadiyah tak berambisi menduduki posisi penting dalam negara, seperti menjadi gubernur, menjadi Menteri bahkan untuk menjadi presiden? Tentu saja berambisi, itu sifat manusiawi. Bagi NU? Posisi2 penting semacam itu sangat diincar agar kehidupan politik bisa lebih dikuasai katanya. Maka banyak kader NU aktif menjadi Menteri, Dirjen, gubernur dan bupati bahkan kursi Rektor UIN pun diperebutkan, maka sangat beruntung NU bila Menteri Agama dari kalangan NU. Apakah orang Muhammadiyah ‘iri’ dengan banyaknya jabatan politis dipegang oleh kader NU? No comment.

Keempat, lalu bagaimana bila direnungkan secara filosofis tentang posisi diri anda? Sebetulnya anda adalah ORANG BEBAS. Tak ada keharusan untuk mengikuti Muhammadiyah atau ikut NU, anda bebas menentukan diri anda. Nabi Muhammad saw juga dulu tidak ikut Muhammadiyah dan tidak pula NU. Lalu kenapa sebagian anda fanatic sangat dengan Muhammadiyah atau dengan NU, se akan2 ajaran agama dalam organisasi tersebut sudah mutlak benar. Sikap semacam itu perlu dipertanyakan. Anak muda harus bisa membedakan antara Islam normatif dan lslam institusional. Islam normatif itu utamanya terdapat dalam al-Quran secara qath’i sementara lslam institusional adalah lslam yg telah melembaga, punya pengurus, punya ideologi. Ajaran keislaman dalam institusi dapat diibaratkan dengan ‘menu2’ yang ada di atas kapal Muhammadiyah dan NU. Contoh, di dalam Muhammadiyah dikenal sebuah kitab berjudul Himpunan PutusanTarjih Muhammadiyah (HPT) yang berisi berbagai ajaran (menu) Muhammadiyah tentang ‘aqidah, ibadah dan mu’amalat: kitab itu biasa disebut sebagai Kitab Fikih Muhammadiyah. Namun sayangnya ada saja warga Muhammadiyah yang sampai meyakini bahwa semua ajaran dalam Kitab HPT itu sudah mutlak benar: selain itu dianggap salah. Seharusnya jangan bersikap seperti itu. HPT adalah hasil ijtihad para ulama Muhammadiyah dalam batas2 kemampuannya dalam kurun waktu dan tempat tertentu, maka tentu saja ada sisi lemahnya. Ajaran2 tersebut kemudian melembaga/ terinstitusi. Ini yg saya sebut dengan lslam lnstitusional. Lalu apa kitab Fikih NU? NU berpegang kepada ajaran fikih 4 mazhab: Malikiyah, Hanafiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah. Jadi pegangannya luas, tetapi metode utamanya tidak langsung kepada al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang tertulis melainkan kepada pendapat2 ulama2 klasik dalam sejarah lslam sebagai panutan dan akhirnya ajaran lslam ala NU juga melembaga. Itulah lslam institusional NU. Ia punya pengurus, punya khiththah, punya Banser, dll. Hingga di sini kita perlu semakin merenung tentang kedua lslam institusional ini, sebab mayoritas umat lslam lndonesia tak menyadari bahwa mereka ‘terkurung’ dalam lslam institusional. lbarat terkurung dalam rumah tetapi tak berani keluar agak sebentar. Kata penyair WS Rendra : Cobalah sekali2 anda keluar rumah, lalu lihat rumah anda tersebut, niscaya bolong2nya akan kelihatan’. Artinya kelemahan organisasi2 anda akan terlihat bila anda ‘keluar sebentar’.

Ayo merenung lebih dalam, lebih filosofis! Kita perlu mengulangi pertanyaan mendasar: bagaimana caranya agar umat Islam Indonesia semakin maju dalam berpikir keagamaan? Sadarilah bahwa anda terlahir ke bumi Indonesia ini sebagai orang yg bebas. Tetapi setelah anda tumbuh dewasa berbagai ‘ikatan’ terasa membelenggu, terutama ikatan lslam institusional. Anda merasa takut bila tak ikut Muhammadiyah atau tak ikut NU, bila datang bulan Ramadhan dan ditanya orang kapan mulai puasa? Anda berdalih menjawabnya : menunggu pengumuman dari Pemerintah kata anda. Pada hakekatnya anda bukan ikut Pemerintah tetapi ikut NU sebab Menteri Agama saat ini dari NU. Artinya ibadah puasa Ramadhan anda, khususnya tahun ini, telah dipengaruhi oleh politik. Di dalam politik terdapat kekuasaan. Dan dalam kekuasaan ada ‘vested interest’. Katanya NU menetapkan awal puasa setelah melihat hilal. Iya, tetapi mereka melihat hilal sejauh daya tangkap pandangan mata ulama2 mereka. Apakah yang dilihat itu betul2 hakikat hilal? Dalam filsafat dikatakan bahwa apa yang kita lihat selalu dipengaruhi oleh sinar. Misalnya langit kelihatan biru. Ia sebenarnya bukanlah biru tetapi batas pandangan kita yang membuat ia berwarna biru karena pengaruh sinar dan udara yang menjadi perantara antara mata kita dan objek yang dilihat. Tidak yakin? Ini buktinya. Suatu kali saya dari arah Bukittinggi melihat Danau Maninjau dari ketinggian jarak sekitar 10 km di Kawasan Kelok 44 di Sumatera Barat, danaunya terlihat biru, cantik, menawan. Rupanya setelah ½ jam nyetir mobil saya sampai turun ke pinggir Danau tersebut ternyata warna airnya biasa2 saja, ada yang keruh, sampah2 dan daun2 banyak menumpuk di pinggir danau bahkan ada yang kotor berlumpur, tidak seindah ketika ia dipandang dari kejauhan. Artinya pandangan dari jarak jauh atas suatu objek fisik itu ‘kurang pas’, kurang objektif, perlu dipertanyakan akurasinya.

Terlepas dari bukti empiric semacam itu, memang ada Hadis Nabi yang menyuruh Shumu li ru’yatihi wafthiru li ru’yatihi (Mulailah kamu berpuasa bila telah melihatnya ( hilal) dan beriftharlah bila telah melihatnya: hilal). Iya, benar Hadis itu. Itu Hadis Nabi yang diikuti oleh NU tetapi tidak diikuti oleh Muhammadiyah. Kenapa? Mari kita diskusikan secara filosofis dengan membuat perumpamaan yang logis dan empiric. Anggaplah Nabi ibarat seorang ibu yang berkata pada anaknya (NU): hati2 di jalan raya, banyak kendaraan, harap berjalan tetap di sebelah kiri ya Nak! NU patuh dan mengikuti kata2 ibu tersebut: ia selalu berjalan di sebelah kiri. Tetapi anak ibu yang bernama si Muhammadiyah bukan tidak patuh pada ibu, tetapi dia tahu bahwa Google lebih bisa diandalkan dalam perjalanan untuk memberi petunjuk karena ia adalah hasil teknologi canggih yang dapat menuntun arah. Dalam hal ini Muhammadiyah lalu lebih mengikuti petunjuk Google dari pada kata2 ibu yang jauh dari anaknya. Itulah perumpamaannya: NU selalu patuh dengan Nabi dengan cara meneropong Hilal, sementara Muhammadiyah mengandalkan Hisab dengan bantuan teknologi modern dan canggih. Maka terbelahlah umat lslam ketika hendak memulai awal puasa Ramadhan, karena apa? Bukan karena lslam normatif, tetapi karena lslam institusi. Ya lslam institusi. Nah, Sekarang terserah pilihan anda: apakah akan tetap ikut kata2 ibu dalam perjalanan seperti NU atau memakai Google yang ada dalam HP anda, seperti Muhammadiyah, karena teknologi menolong menjelaskan tingkat akurasi. Oleh sebab itu, sebagai generasi muda, akan lebih bijak anda dalam bersikap bila bukan Hasil Kebenaran suatu pendapat yg anda pegangi erat2, tetapi bagaimana cara orang sampai pada suatu kebenaran tersebut, itu yg lebih penting. CARAnya. METODEnya. Bila Caranya yg kita pahami, maka dampak pikiran orang akan luar biasa atas cara berpikir kita. Orang awam melihat kepada HASIL, sedangkan anda sebagai sarjana harus melihat kepada CARA. Dalam CARA terdapat KERANGKA PIKIR. Contohlah lran. Iran setelah menembak pesawat canggih F15 milik Amerika lalu dibawanya rongsokan pesawat itu ke dalam laboratorium. Untuk apa? Untuk mengintip KERANGKA PIKIR yg ada dalam rongsokan pesawat tersebut. Kerangka Pikir itu yg dipelajari, diselediki, untuk dikuasai. Ini yg jauh lebih penting.

Apakah ada tokoh2 yang TAK ikut aktif di Muhammadiyah dan NU? Ada banyak. Prof. Quraysh Shihab tak jelas apakah dia Muhammadiyah atau NU. AA Gym juga demikian. Dia netral saja. Prof. Harun Nasution di masa hidupnya juga seorang intelektual Muslim yang bebas. Juga alm. Prof. Minhaji (mantan Rektor UIN Yogya). Dari beberapa contoh di tas nampak bahwa semakin intelektual seseorang tokoh, semakin inklusif cara berpikirnya. Mereka tidak terkurung dalam satu organisasi tertentu, dan tidak ingin menduduki posisi jabatan di dalam suatu organisasi keislaman. Apakah karena luasnya cakrawala berpikir akan membuat kita semakin ‘netral’ dalam berorganisasi? Menurut saya ‘boleh jadi iya’. Sebab semakin luas ilmu kita semakin nampak plus-minusnya hidup bila dikungkung oleh suatu organisasi, sebab setiap organisasi punya ideologi dan punya cita2 yang ingin dicapainya. Ini agak menghambat untuk berpikir bebas ilmiah dan terbuka. Ibarat berlayar, filsafat dan kedalaman ilmu pengetahuan akan membantu anda melihat lebih jauh ke seberang lautan, sementara mayoritas kita hanya tahu menumpang kapal, makan, minum, tidur dan……mati…..dalam kapal. Itulah perumpamaan kehidupan kita dalam berorganisasi keagamaan. Dalam konsep filsafat Heidegger, sikap kebanyakan kita masih pada taraf das Man ( orang awam) belum mencapai level das Sein ( manusia sejati). Anda pilih posisi yang mana? Apakah pada tahun depan anda mulai berpuasa Ramadhan masih ikut Pemerintah? Yang dimaksud dengan Pemerintah itu sebenarnya Menteri Agama bukan? Presiden Prabowo tidak mengerti cara menentukan awal Ramadhan.

Menurut Clifford Geertz, ibarat sarang burung di atas pohon, dimana burung bertelur, menetas, beranak, bercucu, masyarakatpun demikian pula, ia membuat organisasi2. norma2 kemasyarakatan, dan nilai2 budaya yang diwariskan turun temurun oleh nenek moyang kepada anak cucu mereka. Nilai2 dan budaya diwariskan, dijaga, dihormati bersama….anehnya setelah dewasa banyak anak2 cucu merasa sungkan bila hendak meloncat keluar dari sarang bikinan nenek moyang tersebut: mereka tidak berani, takut kualat. Anda tentu bukan type salah seorang dari anak cucu tersebut bukan? Renungkanlah! Maka jangan lagi ikut2an orang banyak dalam berpikir dan bersikap, apalagi anda sudah menjadi sarjana, tundukkan kepala, pegang dada, ..loncat! Fa idza ‘azamta fa tawakkal ‘ala llah. Qur’an, S. Ali Imran 159. (Bila kamu sudah bertekad bulat, maka berserah diri sajalah kepada Allah). Din Syamsuddin (putra Lombok) mengaku dari kecil dididik oleh institusi NU…lalu dia ‘meloncat’. Kenapa dia ‘meloncat’? Sebab dia membebaskan Kerangka Pikirnya dari ‘warisan yang membelenggu’. Dengan mencontoh cara Din saya yakin generasi muda Indonesia akan semakin banyak berpikiran mandiri dan akhirnya maju.

Sekianlah Bapak2/Ibuk2 dan Adik2 semuanya. Terimaksih telah membaca tulisan saya, jangan marah ya. Wassalam, Amhar Rasyid, Salam dari Madiun-Yogya.

*Silakan Share