WARREN BUFFETT:ORANG TERPELAJAR MISKIN2……ORANG BISNIS CERDAS FINANSIAL

Apakah betul bahwa Orang Terpelajar banyak yang MISKIN? Apakah betul orang bisnis cerdas finansial? Mungkin benar, mungkin salah. Tetapi secara umum mungkin benar kata Warren Buffett bahwa Orang Terdidik, Terpelajar banyak yang ‘gak punya duit, nong hadong hepeng kata orang Batak, dak punyo piti kata orang Minang, dak katik duit’ kata orang Jambi dan Palembang: banyak hutang, gali lobang timbun lobang nyanyi Rhoma Irama. Sementara orang bisnis banyak yang kaya, milyarder, akeh duit e kata orang Jawa, katir fuluuus kata orang Arab. Opung Luhut Binsar Panjaitan, tidak sekolah tinggi, kabarnya sudah punya 16 Perusahaan dan itupun belum terasa cukup? Kabarnya banyak Taipan di Indonesia punya ribuan hektar lahan sawit di Sumatera dan Kalimantan, Boss Sinar Mas kabarnya juga memiliki hampir semua Kawasan BSD (Bumi Serpong Damai) di Jakarta Barat. Mereka pingin kaya di dunia. Sementara para sarjana, Profesor, Doctor, MA, MBA, MH, apalagi S. Ag hidup sederhana, duit hanya cukup dari bulan ke bulan. Mereka merindukan kaya di sorga. Apa ia? Syukurlah nanti bila masuk sorga, kalau masuk neraka?

Berikut adalah percikan pemikiran Warren Buffett (lahir tahun 1930), seorang milyarder Amerika terkenal, punya perusahaan asuransi ternama di Omaha, USA. Dia juga Direktur Utama Berkshire Hathaway, orang ketiga terkaya di dunia menurut Forbes 2015, tetapi katanya ia tetap saja punya rumah tua, mobil tua, jajan kentang goreng dibungkus kertas dari McDonald, sehingga orang melihatnya tetap sebagai orang sederhana. Dikatakan bahwa Buffett mulanya adalah seorang miskin, hidup pas2 an, tetapi dia punya cara untuk MEROBAH HIDUP. Coba anda dengarkan ada 10 perbedaan sikap antara orang terpelajar dan orang bisnis yang menyebabkan mereka yang sekolah tinggi tetap miskin dan pebisnis meningkat jadi kaya raya. Sumber data ini hanya penulis ambil dari YouTube, berjudul ‘10 Brutal Truths: Why Educated People stay Poor’. Saya sengaja menuliskannya dengan pendekatan binary (mempertentangkan antara dua posisi) dan sengaja menambahkan komentar sesuai tradisi sosial-ekonomi di Indonesia. Semoga tulisan ini menjadi inspirasi bagi anda, khususnya adik2 muda yang ingin jadi orang kaya dan tulisan ini juga menjadi kritik bagi anda yang hidup pas2 an. Terlepas dari anda setuju atau tidak setuju, tulisan ini mohon dianggap sebagai teman pendamping anda di saat minum kopi. Jangan marah pada saya bila memang anda adalah sarjana yang miskin, mirip saya! Tetapi saya ‘GR’ merasa KAYA di Jakarta ketika suatu kali adik saya menunjuk dari atas Monas. Dia bilang: ‘Bang, Bang, Itu tanah Tanah Abang? Iya jawab saya.

Sekarang mari kita diskusikan. Pertama, kata Buffett, orang terpelajar diajar bagaimana cara MENCARI duit, bukan diajar bagaimana cara MENGEMBANGKAN duit. Diajarkan bagaimana cara mendapat nilai bagus, jadi juara kelas, cepat lulus, bukan diajar bagaimana cara cepat kaya, cara memutar duit, cara investasi modal.

Kedua, orang terpelajar biasanya suka HIDUP dengan Status sosial yang ‘wah’. Mobil bagus (mungkin masih nyicil di leasing), rumah bagus (mungkin masih kredit di bank), sepatu mengkilat, penampilan yang lebih utama, SK tergadai di bank. Sementara Orang bisnis mengutamakan pengembangan duit, menghindari kredit konsumtif.

Ketiga, orang terpelajar TAKUT GAGAL dalam usaha…sementara orang bisnis BERANI COBA, berani ambil resiko, yang ditakuti orang bisnis bukan gagal tetapi takut dak pernah mencoba. Orang terdidik takut salah, Orang Bisnis suka belajar dari kesalahan.

Keempat, orang terpelajar sangat yakin dengan title, banyak berteori, segalanya pakai konsultan, study lapangan, studi kelayakan, fit and proper test…sedangkan Orang bisnis punya pengalaman lapangan, tidak hanyut dalam teori, cepat mengejar peluang, berani adu nasib, ‘Time is Money’, sementara anak muda yang terpelajar ‘No time for Love’.

Kelima, orang terpelajar lebih fokus pada income (pendapatan) untuk dibelanjakan, untuk dihabiskan, umur panjang rezeki ditakar…sementara focus orang bisnis bukan pada income tapi pada worth (kekayaan) untuk dijaga, diperbanyak, diinvestasikan.

Keenam, orang terpelajar suka nunggu arahan lebih dulu, nunggu bila sudah merasa siap, analisanya membinasakannya, waktu terus berlalu, mereka terbiasa learning by thinking…sedangkan orang bisnis selalu ngintip peluang, terbiasa dengan learning by doing.

Ketujuh, orang terpelajar percaya pada mitos: good title good rupiah, …orang bisnis adalah orang yang mementingkan investments, dividen, site bisnis, dan lainnya.

Kedelapan, orang terpelajar suka dengar nasehat orang lain, lebih percaya pada konsultan, sementara orang bisnis suka terjun langsung, percaya diri sendiri, percaya pada hitung2an sendiri. Nasehat orang lain adalah nomor dua.

Kesembilan, orang terpelajar compound interest, banyak yang ingin kaya mendadak, tanam hari ini panen hari ini, tak sabar, punya apple hari ini langsung dimakan habis hari ini. Orang bisnis juga percaya compound interest, tetapi mereka invest untuk jangka panjang, percaya hari esok akan lebih baik, ingin buah applenya berlipat ganda di masa depan.

Terakhir, orang terpelajar diajarkan cara berpikir mengikuti cara berpikir orang banyak. Sementara orang bisnis mengutamakan bagaimana cara berpikir, to challenge questions, suka beda dengan crowd… orang bisnis bukan benci orang banyak tetapi TIDAK suka pada cara berpikir orang banyak.

Kesimpulan dari nasehat Buffett: 10 kiat di atas nampaknya rangkuman dari pengalaman hidup Buffett. Sebagai empiricist, Buffett melihat pendidikan tinggi, sekolah ke mana2 hingga ke luar negeri, title hebat2, cuma bisa mengajari kita belajar hidup dalam system, bukan mengajari kita jadi kaya raya. Sekolah tinggi2 tidak menjamin jadi kaya raya. Inti pesannya, mulailah invest walaupun sedikit, walaupun sudah usia tua, sudah pensiun, boleh jadi dalam 20-30 tahun kedepan hidup anda akan BEROBAH. Yang patut disesalkan dalam hidup bukan kehilangan duit katanya, tetapi tak pernah mencoba mengembangkan duit. Miskin bukan karena anda kurang terpelajar tetapi karena anda TAK cukup cerdik merobah nasib anda. Demikian kira2 kritik Buffett.

Significance of Issue (Hikmah). Pilih Terdidik atau kaya raya? ‘ Emangnye gua pikirin? kata orang Betawi. Bila tidak dipikirkan, lalu bagaimana KIAT kita sebagai PNS yang memang terdidik? Belilah sesuatu atas dasar KEBUTUHAN jangan berdasarkan rasa SENANG. Duit habis karena kebutuhan biasanya tidak disesali, tetapi duit habis untuk membeli yang disenangi, biasanya nyesal akhirnya. Duit habis untuk beli Pertalite adalah wajar, tetapi duit habis untuk modifikasi motor akhirnya nyesal. Sebagai orang terdidik, mungkin perlu diseret sedikit cara berpikir kita dari kebiasaan konsumtif kepada produktif. Dari pada beli mobil eloklah beli tanah. Belilah mobil yang lebih murah, beli tunai, dari pada nyicil bertahun2 di leasing, sisa duitnya untuk beli tanah. Mobil baru akan cepat usang, ketinggalan model, harganya cepat merosot pada saat kredit leasing belum lunas, sementara harga tanah akan melonjak naik. Sewalah rumah di bawah dari kemampuan anda, jangan yang melebihi kemampuan. Hiduplah tenang sesuai isi kantong, jangan hidup ingin dipuji orang. Tapi realitanya hidup di Timur lebih sosial, sementara hidup di Barat lebih individualistic. Ide ekonomi Buffett mungkin akan lebih cocok untuk masyarakat Barat. Di negeri ‘Konoha’ kiat untuk cepat kaya raya ialah ‘dekat dengan pejabat’: Kiat Oligarki ini yang tak terpikirkan oleh Buffett meskipun dia orang bisnis kaya raya, dia bukan orang terdidik yang tahu segalanya.

Sarjana Muslim diajarkan: haasibu qabla an tuhasabuu…(hitung2lah amalan anda sebelum anda dihitung di akhirat), yang disuruh hitung adalah non-materil, mereka tidak disuruh menghitung2 berapa peningkatan investasi materiil bulan ini. Hidup di dunia, bayangan di akhirat. Hidup di alam nyata, bayangan di alam baqa. Habis Ramadhan kembali ke fitrah, bersih segala dosa, tetapi juga bersih isi kantong karena mudik lebaran. Jual tanah bukan untuk investasi hari esok tetapi untuk naik haji. Pulang dari Mekkah dapat gelar Haji Miskin.

Memang di kota2 besar sudah banyak anak2 muda Muslim pintar Crypto tetapi Crypto masih kontroversial. Dengan hanya duduk di rumah di depan laptop dan memperhatikan perkembangan saham, biaya rumah tangga sudah bisa di atasi. Semakin besar jumlah invest semakin besar peluang untuk jadi milyarder. Crypto boleh jadi ‘pintu gerbang’ bagi orang2 terdidik untuk jadi kaya raya. Nadiem Makarim pernah menunjukkan cara cepat kaya raya di Medsos tetapi dia langsung ‘ditelpon’ agar stop oleh …..

Boleh jadi Buffett benar, boleh jadi juga kurang benar. Sebab tidak semua orang akan sependapat dengannya. Ada orang lebih memilih hidup tenang dari pada hidup kaya raya. Dasar berpikirnya ialah hidup ke dunia bukan untuk mengumpulkan harta tetapi untuk buat belanja di dunia dan ke akhirat. Duit memang perlu tetapi duit bukan segalanya. Warren Buffett sudah milyarder tetapi hidup sederhana katanya, mobil tua, rumah usang, jajan di McD, busana usang, lantas….hartanya yang banyak untuk siapa? Buffett mirip kuda penerjang bukit, umur dan tenaganya untuk mengumpulkan harta bukan untuk menikmati harta. Tetapi bukankah dia menikmati hartanya dengan caranya sendiri? Boleh jadi anda setuju dengan Buffett, dan boleh jadi anda kurang/tak setuju sama sekali dengan Buffett. Tulisan ini hanya menemani anda minum kopi. Sudah habiskah kopi anda kini? Sekarang anda pilih yang mana: Kaya raya atau Terpelajar? Bila keduanya diharapkan berhimpun dalam diri kita mungkin mustahil, sebab otak kita tak mampu menggabungkan sekaligus konsentrasi untuk ‘baca buku’ dengan ‘baca pembukuan’. Mungkin Hotman Paris bisa. Buffett benar to some extent, tapi coba tanya kiyai : Bagaimana ‘mendamaikan’antara cara berpikir Buffett dengan ayat Innallah laa yughayyiru ma bi qawmin hatta yughayyiru maa bi anfusihim (Allah tidak akan merobah nasib seseorang hingga yang bersangkutan mau merobahnya sendiri). Mungkinkah interpretasi ayat tersebut selama ini lebih mengarah kepada menjadi Terdidik dari pada menjadi kaya? Wallahu a’lam!

*Silakan Share